Indigo Evolution (Silver Alaska)

Indigo Evolution (Silver Alaska)
Selubung Penghubung


__ADS_3

...Tak perlu bersusah payah membalas dendam, cukup maafkan setiap kesalahan...


...Karena memaafkan adalah pembalasan yang terbaik...


...Mentari tak pernah memilih siapa yang harus diberikan sinar...



_____________


.


.


Syena berusaha kabur dari kejaran mereka, Rey dan Justice terbang menyusuri hutan rimbun penghubung Rensuar dan Asrama. Batang-batang pohon disana cukup membuat mereka kewalahan.


"Berhenti kau penyusup!"


Ujar Justice seraya mengejar Syena, Rey masih memperhatikan penyusup berjubah itu dari belakang. Sama sekali tak ada penyerangan yang dilayangkan Rey untuk sosok itu, sekalipun Baron putih berada dalam genggamannya Rey hanya mengamati pergerakannya.


"Rey, mengapa kau tak segera menebasnya?"


Justice bertanya tepat pada Rey yang berada disampingnya. Namun Rey masih membiarkan netranya mengamati penyusup itu, mencoba mencari celah yang pas untuk menyerangnya, jika Baron ditebaskan disini maka kekuatan petirnya akan membakar hutan. Sedang dari bawah terlihat Debora berlari mengendalikan sulur-sulur cahaya miliknya untuk menarik kaki Syena, namun betapa gesitnya manusia ini menghindari serangan yang datang bertubi-tubi untuknya.


"Rey!!!"


Pekik Justice tatkala melihat sebentar lagi hutan yang mereka lewati akan segera habis. Tanpa sepatah katapun Rey melesat ke atas melompat, dan benar saja pergerakan Syena mudah dibaca mereka berdua sama-sama melompat ke atas.


Clashhhhhhhh


Tebasan pedang cahaya milik Rey ditangkis begitu saja seketika oleh sesuatu. Rey membelalakkan matanya melihat itu, darimana datangnya sekat tak kasat mata itu mengapa kekuatan pedangnya tak mampu menyentuhnya. Syena terus berlari menjauhi kawanan pengejarnya di belakang, Riley bersama dengan Noella yang mengendarai Khufra berdiri. Riley mulai membidik Syena dari atas sana, ia menyipitkan matanya sedang Noella dirinya fokus mengendalikan Khufra tunggangannya.


"Bingo!!!"


Ujar Riley seraya melepaskan tiga anak panah miliknya bersamaan, panah-panah penuh mantra itu datang melesat menuju ke arah Syena. Syena yang masih berlari itu tau, sebuah senjata sedang melesat ke arahnya sembari masih berlari Syena menggerakan tangannya mengeluarkan satu mantra.


"Abiogolio!"



Prangggggggggg


Satu sekat cahaya turun dari langit, itu berbentuk persegi panjang menjulang turun dari langit.


"Dia berbahaya Rey! Sepertinya dia seorang manusia bukan Iblis!"


Justice masih berlari sembari memaparkan argumennya pada Rey yang berada tepat disampingnya. Rey memicingkan matanya tatkala sosok itu berhenti berbalik menghadap mereka, serentak mereka berlima pun juga ikut berhenti. Lima orang itu melayang dilangit, mereka saling berhadapan sekarang.


"Siapa kau! Berhenti, buka tudungmu dan katakan apa tujuanmu?"


Tanya Noella, Debora memperhatikan tiap inci tubuh Syena. Mencoba mencari sesuatu barangkali ada satu petunjuk tentang manusia ini, datangnya darimana dan untuk apa ia kemari.


Syena tak menjawab itu, kembali tangannya ia gerakan melihat itu Rey beserta yang lain mempersiapkan diri mereka, barangkali serangan diluncurkan mereka sudah siap. Syena menunduk, tudung itu membuat wajahnya sulit di kenali, andai saja sepoian angin malam ini kuat, tersibaknya tudung itu pasti membuat Rey tercengang.


"Autrom, Abiogolio!"


Clashhhhhhhhh


Darrrrrrrrr


Darrrrrrrr


Syena mengangkat kedua tangannya ke arah langit, gemuruh petir itu bersaut-sautan, kilatan-kilatan cahaya itu mengiringi sekat persegi panjang itu turun dari langit sekat berwarna keemasan berpadu dengan petir-petir yang mengitarinya.


Bommmmmmm


Sekat itu seakan menjadi perisai untuk Syena, Rey membulatkan matanya. Apa ini aliran ini cahaya dan Petir, juga abjad yang dipakai olehnya, sihir Abjad A. Penyihir tipe petarung sedang berada dihadapannya saat ini, Rey mengepalkan tangannya, genggamannya pada Baronnya menguat.



"Majulah Rey! Dia bukan anggota rakyat Rensuar, dia ancaman Rey!" Ujar Baron padanya melalui telepati.


"Apa yang kau katakan, bahkan identitasnya saja kita belum mengetahuinya secara pasti."


"Ide lebih berkuasa dari senjata. Kita tidak akan membiarkan musuh memiliki senjata, haruskah kita membiarkan mereka mempunyai gagasan-gagasan brilian. Lebih baik bersiap perang daripada berharap bahwa musuh tidak pernah datang."


"Kau diam saja dulu!"


Ujar Rey pada Baronnya, bukannya dirinya lebih diam disini hanya saja ia memperhatikan sekat itu. Satu sekat yang diciptakan oleh seorang musuh didepannya, itu mengikuti pergerakan tangannya yang artinya benda itu akan bergerak sesuai dengan keinginannya.


Debora mendekati Rey yang masih terdiam, disana ia mengatakan sesuatu lalu menghilang. Justice sedaritadi geram, bagaimana bisa tak ada perlawanan sama sekali dari rekannya, mereka lebih memilih diam.


"Rey, ada apa ini? Mengapa kalian memilih diam? Lantas apakah diam kalian akan menghancurkannya? Dia ancaman Rey!"

__ADS_1


Kesabaran miliknya habis rasanya, rasa geram itu memenuhi kedua tangannya menggenggam pedang Pembinasa miliknya dengan penuh amarah. Ketika Justice menembakan aliran Sihirnya.


"Gatsunmi Galileo!"


Amukan dari Justice mengirim sihirnya melesat mencoba menyerang sosok dibalik jubah itu.


Krassssssssssss



Rey membulatkan matanya begitupun Justice, Noella juga Riley yang berada disana. Kekuatan semacam apa itu, sekat itu menyerap seluruh sihir dari Justice seakan memakan mantra itu. Saat itu juga perubahan warna terjadi pada teng cahaya emas itu, tameng itu mengikuti warna dari mantra Justice.


"Arterna!"


Wushhhhhhhhhhhhhhh


Teriakan mantra itu mengamuk memecahkan tameng itu merubahnya menjadi hembusan angin yang sangat kencang, Syena terbatuk ini adalah sihir tingkat tinggi dimana mana miliknya akan habis seketika setelah menggunakan ini. Syena sengaja membuat serangan separah ini, dengan harapan angin menahan mereka,membutakan mereka sesaat lalu dengan ini Syena bisa kabur.



Serangan itu masih terpancar bahkan Riley juga Noella dibuat kewalahan atas datangnya serangan ini. Rey dan Justice bertahan dengan sihir mereka diatas, angin ini bahkan seperti mengukung mereka ditambah dengan cahayanya yang membuat mereka bahkan tak mampu menengok menemukan sosok berjubah itu.


Syena kabur dari sana, sihir miliknya itu akan bertahan sekitar lima menit disana cukup baginya untuk segera sampai ke Alaska dalam waktu lima menit.


Wushhhh


Dari bawah Debora mengikut pergerakan Syena. Tatkala Syena mempercepat langkahnya diudara, Debora mengarahkan Sulu cahaya memgarah melilit kaki Syena.


"Berhasil!"


Crashhhhhh


Sulur itu hancur begitu saja ketika hampir mendekati Syena, disana terlihat Barsh datang melindungi Syena. Debora terkejut atas kedatangannya, bagaimana bisa Iblis yang auranya sepekat ini tidak terdeteksi oleh para Musketeers, ini aneh sungguh aneh. Kecuali, jika dari datangnya dirinya masuk kemari, para Musketeers itu sudah dibunuh, itu akan mempermudahnya sampai ke Rensuar.


"Hah? Ini gila sungguh, apakah biadab ini memakan manusia dikota?"


Racau Debora, logikanya bekerja kalut memikirkan jutaan nyawa yang berada di kota. Jika Iblis ini masuk melalui jalur kota, maka dirinya akan melewati para manusia, yang artinya ada satu kemungkinan yaitu beberapa manusia yang bertatap muka secara langsung dengan Barsh, sudah mati. Tandanya malam ini entah berapa persen manusia didalam benteng ini, jiwanya lenyap.


"Hahaha... Kau pikir kau mengalahkan kami?"


Ujar Barsh geram menatap Debora yang berada dibawahnya. Waktu terus berjalan, sementara mantra milik Syena kian meredup disana. Rey pemilik mantra cahaya dan petir perlahan mampu melihat Debora dibawahnya tak jauh dari tempatnya.


Barsh mengayunkan pedangnya, pedang aura hitam itu melesat begitu saja ke arah Debora. Melihat itu Rey melesat dengan petir didalam kakinya.


Teriak Rey sambil menghunuskan pedangnya, Debora membulatkan matanya melihat Rey yang sudah berdiri tepat dihadapannya.


Krshhhhhhhhhhhh


Gesekan dua pedang luar biasa itu menyebabkan petir juga aura hitam saling bergelut mencoba mendominasi satu sama lain. Barsh menyeringai melihat itu, rupanya Rey masih hidup setelah pertarungannya bersama Iblis seratus juta jiwa.


"Ku rasa sudah cukup sampai disini pertunjukannya, Rey!"


Barsh berseringai sembari netra miliknya yang menyeramkan itu menatap tajam ke arah Rey. Rey dengan tatapan tajamnya juga menatap sosok itu.


"Guguk sialan! Aku tidak akan kalah lagi!!!"


Clashhhhhhhhh


Rey berteriak amarahnya meletup-letup, menciptakan satu kekuatan yang teramat besar dari dalam dirinya. Kulit tangannya mengelupas, tatkala dirinya melempar kembali pedang milik Barsh den Baronnya.


"Rey, kau jangan merusak fanamu! Ini diluar kemampuanmu Rey!"


Tutur Baron padanya, namun Rey tetap menyerap lagi dan lagi kekuatan Baron membuka satu persatu mantra tertinggi yang bahkan belum pernah ia rapalkan. Tangan itu berdarah, darahnya mengucur deras jatuh kebawah. Bersamaan dengan itu Barsh menangkap kembali pedangnya.


"Guguk Sialan! Mati kau!"


Dari belakang terlihat rombongan Riley, Noella dan Justice bersamaan menyerang Barsh. Namun lagi dan lagi, sekat tak kasat mata itu datang entah darimana asalnya. Barsh mengarahkan netranya tepat menatap ke arah rombongan yang baru saja menyerangnya.


"Ini bukan saatnya kita berperang! Akan lebih efisien ketika Medan perang sendiri pada waktunya mempertemukan kita!"


Clashhhhhhh


Barsh bersama dengan Syena menghilang setelah mengatakan hal itu pada Rey beserta teman-temannya.


"Rey!!! Musuhnya sudah tidak ada Rey!"


Debora mencoba menyadarkan Rey yang masih berkutat menggenggam pedangnya. Tangan-tangan itu masih mengucur, darah-darah itu tak ada hentinya keluar. Riley mencoba mendekati Rey saat itu namun petir mantra milik Rey malah berbalik menyerangnya, hampir saja Riley dibuat terluka karenanya jika Justice tak menariknya. Noella mencoba menghubungi Harith melalui telepati, namun tak kunjung mendapat jawaban.


"Hentikan dia, atau fananya akan menghabisinya!"


Ujar Noella, Debora membulatkan matanya. Apa-apaan ini, menjadi seorang Baron putih pun juga ada resiko. Rey adalah manusia yang akan bergerak rela mati untuk keluarganya juga temannya, jika terus seperti ini Rey akan terus membahayakan nyawanya. Debora berdiri dengan sisa tenaga yang masih ada ia bertekad mendekati Rey.


**Ceshhhhhhhhh

__ADS_1


Drttttttttttttttt**


Petir-petir yang keluar menyambar-nyambar siapa saja yang mendekat sama sekali tak dihiraukan oleh Debora. Sekuat tenaga sulur sihir miliknya berusaha menangkis seluruh serangan petir itu, langkahnya masih mantap mendekat lebih dekat lagi ke arah Rey.



"Debora, kau akan apa?"


Kalut rasanya hati Riley dibuatnya, bagaimanapun Rey yang belum sadar bisa saja membunuhnya. Debora mengulurkan tangannya mencoba menyentuh Rey.


Drttttttttt


Debora memekik menahan rasa sakit atas petir yang mengalir didalam tangannya. Debora sama sekali tak menjauhkan tangannya dari sana sekalipun tangan itu rasanya terbakar.


Greppppp


"Sadarlah Rey, Kumohon! Kumohon sadarlah!"


Debora memeluk tubuh penuh amarah itu, petir itu rasanya menusuk-nusuk tubuhnya namun Debora tetap bertahan dengan posisinya. Kedua pemilik surai putih itu saling berjuang sekarang, Rey yang berusaha untuk kembali juga Debora yang berusaha untuk membawa Rey kembali.


"Arghhhhhhhhhhhhhhh!!!"


Clashhhhhhhhhhh


Teriakan keras itu mengakhiri segalanya, membawa elemen petir itu kembali masuk kedalam tubuhnya. Seketika itu juga Rey terbatuk-batuk, Baron dalam genggamannya menghilang, kepalanya tertopang jatuh tepat dibahu seseorang, seseorang itu adalah Debora.


"Debora?"


Lirih Rey, namun tak ada jawaban. Rupanya Debora kehilangan kesadarannya setelah susah payah membuat Rey kembali. Disana Noella mengarahkan Khufra-nya ke arah mereka, Rey membaringkan tubuh lemah itu diatas Khufra, lalu menatap Noella seakan tatapan itu berkata maafkan aku.


"Tolong bawa Debora, Noella! Pastikan dia baik-baik saja!"


Ujar Rey, disana Noella mengangguk sejenak ia mendekati Rey menyentuh bahunya.


"Bahkan kau pun terluka Rey!" Ujarnya.


Namun Rey diam mendengar itu, ada sesuatu yang mengganggu pikirannya kali ini Riley juga Justice mendekati Rey.


"Ada apa Rey?"


Namun Rey menggeleng, sekilas netranya melirik Debora yang masih terpejam itu lalu kembali menatap Riley dan Justice.


"Tak apa, aku akan pergi ke Land White sebentar!"


Ujar Rey, Riley mengerutkan keningnya mendengar itu. Untuk apa selarut ini Rey pergi ke Land White.


"Tapi untuk.."


"Aku akan menemani Rey!"


Justice memotong ucapan Riley tatkala dirinya akan berprotes. Lega rasanya mendengar ucapan itu dari Justice, rasanya ia tak perlu khawatir sekarang.


"Kau dampingi saja Debora!"


Ujar Justice seraya menatap Riley, disana Riley mengangguk bersama dengan Noella mereka pergi meninggalkan Rey dan Justice berdua disana.


"Mengapa kau tidak ikut pergi juga, Just?"


"Berjalan dengan seorang sahabat di kegelapan lebih baik daripada berjalan sendirian dalam terang. Aku tau, banyak sampah berserakan dalam hatimu malam ini. Itulah mengapa aku tak pergi! Ceritakan segalanya padaku, mari kita pikul bersama semuanya, Rey!"


Rey tersentuh mendengar itu, rekan konyolnya sebaik ini rupanya. Pada akhirnya seluruh rekannya akan mengerti, juga paham bahwa nilai dari sebuah ikatan itu luar biasa.


"Istriku pengertian sekali!" Ujar Rey, Justice menatapnya jijik seketika.


"Terapi penyembuhan terbesar adalah persahabatan dan cinta. Tapi aku tidak mencintaimu, aku hanya menganggapmu sebagai keluargaku."


Jelas Justice, Rey tertawa mendengar itu. Lantas apa bedanya, bukankah dalam keluarga juga didasari cinta, ia tau Justice gengsi mengatakannya. Malam itu panjang rasanya, mereka berdua berjalan menuju Land White. Tangan yang tadinya berdarah itu, berkat Baron dalam tubuhnya mendadak mengeluarkan asap, luka-luka itu dibantu oleh Baron sembuh. Sembari berjalan luka dalam tangannya itu menutup perlahan.


...Pada diri sahabatku, aku menemukan diriku yang lain...


...Hal yang paling tidak terduga adalah hubungan dengan orang lain...


...Termasuk melakukan banyak hal baik dengan seorang sahabat...



_______


Ensiklopedia :


Saturnus adalah planet keenam dari Matahari dan merupakan planet terbesar kedua di Tata Surya setelah Jupiter. Saturnus juga merupakan sebuah raksasa gas yang memiliki radius rata-rata sekitar 9 kali radius rata-rata Bumi.


Tumbukan asteroid pada Bulan di Saturnus menyebabkan sisa-sisa dari material itu tertarik oleh gravitasi dan pada akhirnya membentuk cincin. Artinya, cincin planet Saturnus terbuat dari sisa-sisa material tumbukan asteroid.

__ADS_1



__ADS_2