
Brakkkkk
Suara itu berasal dari jendela yang terbuka akibat angin kencang yang berasal dari kepakkan sayap Rey. Rey masuk melalui lantai lima, dimana itu adalah tempat favoritnya saat merenung.
Sebuah tempat favorit yang akan selalu mengingatkannya pada Debora nya. Rey menghilangkan kedua sayap nya ke dalam lalu meletakkan Debora di atas ayunan panjang empuk yang biasanya ia pakai untuk berbaring sambil menatap langit malam.
Rey bersimpuh sejenak sambil memandangi wajah Debora nya. Beberapa helai surai putihnya ada yang menutupi wajahnya.
Rey mencoba menyingkirkan itu menyelipkan Surai-surai itu di antara sela telinga nya.
Sejenak Rey berpikir. Mungkin segelas matcha hangat boleh untuk menenangkan pikiran juga hatinya saat ini. Peperangan menguras banyak sekali tenaga.
Rey meninggalkan Debora seorang diri di atas sana. Ia menuju ke dapur untuk membuat segelas matcha.
Selang beberapa menit kemudian Debora mengerjapkan matanya. Gadis bersurai putih ini bangun membuka matanya.
Sepoi anginnya cukup kencang di iringi dengan beberapa debu yang berterbangan membuat dirinya sedikit terusik.
Debora mengubah posisinya menjadi duduk. Ia sedikit mengingat kembali perihal mengapa dirinya bisa berada disini.
Suara langkah kaki dengan aroma khas matcha membuatnya menoleh ke belakang. Tentu saja, pada akhirnya ia ingat bahwa beberapa jam lalu mereka sedang berada di kamar Noella menunggunya untuk bangun.
"Kau sudah bangun ya?" Tanya Rey lembut sambil memberikan satu gelas matcha lain untuknya.
Debora mengambil itu lalu Rey duduk di sampingnya.
"Istirahatlah, jika kau ingin sesuatu panggil aku ya! Aku akan melayani mu disini, lagi pula markas sedang sepi dan kita hanya berdua disini. Aku tau kau lelah!" Ucap Rey lagi sambil menyeruput minumannya.
"Iya, kau sendiri bagaimana lukamu?" Tanya Debora padanya.
Debora berpaling ke arah Rey memperhatikan wajahnya yang lebam. Goresan luka berdarah jelas masih ada disana. Asap regenerasi itu lambat itu membuktikan bahwa mana miliknya terkuras drastis.
"Regenerasi mu lambat, mau kah kau buatkan ramuan obatnya sebentar?" Tanya Debora menyentuh wajah Rey sambil memperhatikan keningnya.
"Hei kucing putih! Sekali-kali lihat dirimu juga. Kau tak perlu mengkhawatirkan aku disini, lihatlah kau pun juga masih terluka. Luka milikku bisa sembuh tanpa obat! Sedangkan dirimu tak bisa." Jelas Rey padanya.
Debora tersenyum mendengar itu. Ia kembali menjauhkan tangannya dari Rey. Lalu kembali bersandar dan menyeruput matchanya.
"Tadi Axcel datang!" Rey kembali bersuara disini menjelaskan apa yang terjadi selama Debora tertidur.
__ADS_1
"Lalu?" Tanya Debora.
"Axcel datang, dia bertanya padaku apa yang terjadi pada Harith sampai dia bisa gugur. Lantas aku mengatakan padanya bahwa ini karena kelalaianku. Tapi dia bilang padaku bahwa, ini di luar kemampuan ku dan dia. Dia juga mengatakan padaku bahwa, dia yang akan menjelaskan seluruh rincian kejadiannya pada Noella. Lalu dia menyuruhku pergi membawamu ke markas untuk istirahat katanya!"
Jelas Rey pada Debora. Adalah kehilangan terbesar bagi Rensuar. Rajanya mereka gugur begitu saja.
"Lalu siapa yang akan menggantikan Kaisar setelah ini Rey?" Tanya Debora padanya.
Dalam hatinya ia begitu takut bahwa Rey lah yang akan di pilih sebagai pengganti nya. Sebab Rey yang terkuat disini.
Debora sangat takut hal itu terjadi. Sebab Rey adalah maniak bunuh diri yang akan melakukan itu kapan pun dimana pun asalkan mampu menyelamatkan seluruh rekannya.
Debora tau dalam perang memang ada pengorbanan. Tetapi terkadang hatinya egois tak ingin kehilangan.
Apalagi kehilangan Rey yang sudah sangat ia sayangi. Tidak, Debora benar-benar tidak menginginkan itu.
"Kau!" Jawab Rey.
Sebuah jawaban yang membuat Debora tertegun. Ketika ia menoleh ke samping Rey menunduk, lalu tangan kanannya menggenggam tangan Debora.
"Tapi aku menolaknya! Aku tidak ingin melihatmu berada dalam bahaya besar. Jika menyangkut dirimu dan nyawamu maka aku akan egois, Debora. Kau sama pentingnya dengan Syena bagiku." Jelas Rey.
"Kenapa kau menghinaku?" Tanya Rey tak percaya menoleh ke arah nya.
"Sebab kau memang bodoh! Maniak tak sayang nyawa, hobi bunuh diri. Bagaimana jika tadi kau benar-benar mati? Lalu kami akan kehilangan dirimu dan Harith juga. Dan kami pasti akan kalah, lalu tunduk pada iblis sialan itu dan mati. Sekali saja, pikirkan itu! Biarkan aku berpikir keras memahami strategi musuh, baru bertindaklah." Ucap Debora menjelaskan panjang dan lebar pada Rey.
Rey memahami segala ocehan itu adalah ungkapan bahwa Debora sangat takut kehilangan dirinya.
"Kucing putih, kau tenang saja! Aku tidak akan mati cepat!"
Rey berucap sambil berdiri lalu sedikit menunduk mencium singkat puncak kepala Debora lalu pergi dari sana.
Debora mematung diam tak mampu berbuat apapun saat itu. Namun ia juga terkejut atas apa yang sudah Rey lakukan.
Debaran dalam dadanya semakin kencang. Jantungnya serasa ingin melompat saja dari tempatnya.
Rey paham jika ia berlama-lama disana setelah melakukan hal itu maka sudah di pastikan Debora pasti akan merona malu.
Sedangkan jika Rey pergi dari sana setelah melakukan itu. Debora pasti akan sangat senang dan mungkin memaki Rey sebagai caranya menutupi perasaannya.
"Rey Gila!!!" Teriak Debora.
__ADS_1
Rey yang menuruni anak tangga sudah tau itu. Namun ia hanya terkekeh setelah mendengar itu. Saat ini ia berjalan masuk ke dalam kamarnya mengambil baju disana lalu masuk ke dalam kamar mandi.
Kembali pada Debora saat ini. Setelah puas memaki Rey ia kembali di ingatkan perihal kenyataan yang ia temukan dalam buku sejarah sihir bersama dengan seluruh rekannya.
Lantas Debora memandangi kedua telapak tangannya. Setetes air mata turun begitu saja. Kenyataan pahit itu masih ada sekalipun mereka dan dia disini berusaha menjaganya.
Namun ketika Profesor Agasha berkata pada mereka bahwa ramalan para Lapu-lapu pasti akan terjadi. Debora di buat sedih rasanya tiap kali mengingatnya.
"Ribuan kali aku mencoba membantumu dengan kemampuanku. Rupanya tidak akan merubah apapun perihal nasibmu. Kau nantinya juga pasti akan meninggalkanku." Lirih Debora sambil memandang langit.
Dalam hati ia berdoa semoga takdir bisa di ubah. Namun perihal jalannya masa depan ada pada Sang Penguasa. Manusia hanya mampu berjalan, berusaha dan menerima.
____________
Axcel masih setia menjaga Noella disana. Sudah beberapa jam lalu sejak Debora dan Rey pergi. Namun Noella masih belum membuka kedua matanya.
"Penguasa, mengapa bumi mampu merenggut seorang guardian. Leonin makhluk yang berbeda dengan mereka. Mengapa kekuatan kami tidak mampu digunakan semaksimal mungkin disini?"
Dalam hatinya Axcel mencoba bertanya pada Sang Penguasa. Sejujurnya terakhir kali kedua telinga besarnya mendengar Penguasa berbicara. Adalah ketika ia mengirim Harith ke bumi.
Penguasa masih kecewa sepertinya sampai enggan mengatakan padanya alasan di balik tak mampu seorang Leonin mengerahkan seluruh kekuatannya di bumi.
"Penguasa, apabila memang engkau masih kecewa pada kami. Maka aku berhak patuh atas segala tugas yang masih belum selesai. Kami tidak mampu menolak perihal perintah darimu Penguasa. Kami para penghuni galaksi akan terus berjuang membantu para manusia disini."
Ucap Axcel lagi dalam hatinya. Ia masih berharap Penguasa memberi penjelasan. Di sela-sela ucapan dalam hatinya itu. Axcel ketika membuka kedua matanya, ia tiba-tiba tak mampu.
Tubuhnya bergetar hebat merasakan satu kekuatan yang teramat sangat besar. Dan disana, ia kembali di buat bahagia rasanya. Gema suara besar yang menenangkan itu kembali.
"Bertarunglah setara dengan kehebatan manusia. Sebab jika kalian menggunakan kekuatan terbesar kalian disini, maka bumi nya pasti akan hancur. Maka bertarunglah seperti bertarungnya manusia. Perihal Harith dan bumi, sudah di takdirkan untuk menang. Kau tidak perlu khawatirkan itu."
Selesai nya ucapan itu membuat Axcel kembali mampu membuka matanya. Ketika saat ia terbangun bersamaan dengan itu Noella juga bangun.
"Penguasa?" Lirih Noella sambil menoleh ke samping melihat keberadaan Axcel disana.
"Nona Noella, Harith.."
Sebelum Axcel melanjutkan ucapannya Noella mengangguk. Hal itu membuat Axcel berhenti berucap.
"Penguasa sudah menjelaskan segalanya! Aku sudah tau semuanya!"
Jawab Noella, hatinya mungkin hancur dan dia kehilangan cintanya. Namun ketika Sang Penguasa mengatakan bahwa bumi dan manusia akan menang dan Harith akan kembali. Maka itu membuat Noella kembali bahagia rasanya.
__ADS_1