
...Semuanya akan terasa berat. Tapi berat bukan berarti tidak mungkin...
Lima hari usai kejadian di kota, Rey kembali menjalani aktivitasnya seperti biasanya. Para Iblis mulai beraksi lagi. Iblis-iblis itu mencoba menembus masuk kedalam benteng Rensuar.
Nyatanya saat ini keberadaan Rey Arlert di atas benteng ini adalah pantangan mereka. Hampir tiap hari, sekitar lima ribu Iblis rendahan dimusnahkan oleh Rey.
Hal itu menyebabkan minta iblis untuk memanjat juga membobol pertahanan Rensuar menipis. Mereka lebih memilih berlindung di area luar benteng Silver Alaska.
Terkadang Rey yang gelap mata mengejar mereka hingga tepat tiba didepan gerbang benteng Silver Alaska.
Untuk menjalankan tugas ini, Rey sama sekali tak bersama dengan rekannya. Sebab ini adalah salah satu tugas pilihan.
Ya, dalam Rensuar tugas atau misi dibagi menjadi dua hal. Yang pertama adalah tugas wajib berasal dari perintah Kaisar, jelas itu tidak bisa ditolak.
Sedangkan tugas kedua, berasal dari dinding misi pilihan. Dimana disana ada daftar misi-misi dengan gaji sesuai dengan pekerjaan yang mereka kerjakan. Bisa dibilang dinding misi ini memuat pekerjaan tambahan, bagi para Musketeers yang membutuhkan yang lebih.
Dan inilah Rey, sebenarnya bukan ambisinya pada uang hasil misi nya. Namun kekesalan dalam hatinya masih melimpah. Rey ingin lebih banyak menghajar Iblis-iblis ini.
Pekerjaan ini semakin membuat dirinya menggila. Rey juga menetapkan misi ini sebagai bahan percobaan pada sihir-sihir barunya. Beberapa kemampuan yang baru saja ia dapatkan.
Dengan ringannya, Rey mengayunkan sihir juga pedangnya ke arah para Iblis itu.
"Majulah kalian!!!" Teriak Rey.
Sejujurnya kegilaannya ini sudah tidak wajar rasanya. Debora yang kebetulan bertugas didekat area tempat Rey berada dibuat khawatir rasanya. Dibelakangnya juga ada Riley.
Beberapa hari yang lalu Riley mengatakan padanya perihal ke khawatirannya pada Rey. Apa yang ada dalam pikirannya dan Justice, Riley utarakan.
Semenjak saat itu, tiap malam tepat ketika acara makan malam mereka digelar. Rey selalu pulang ke rumah dengan muka letihnya.
Jari jemarinya dipenuhi luka, namun Debora kembali diingatkan perihal Rey Arlert saat ini bukan manusia biasa.
"Aku mengkhawatirkannya." Lirih Debora sambil menatap jauh Rey yang berdiri disana.
__ADS_1
"Aku mengerti apa yang kau rasakan. Katakan, sudah sejauh mana kau membeda perihal sejarah sihir?"
Tanya Riley pada Debora yang masih memperhatikan Rey yang memunggunginya.
"Aku mendapatkan beberapa buku dari topik kita. Mikhail juga sedang mencarinya di perpustakaan sihir. Sepertinya malam ini, kita akan membedanya! Kita akan lembur!" Jawab Debora sembari berseringai ke arah Riley.
"Debora, menurutmu bagaimana hasilnya? Apakah tubuh manusianya ini mampu menahan kekuatan guardian cukup lama?"
Tanya Riley, Debora menggelengkan kepalanya sambil tersenyum mendengar itu. Benar memang ada kemungkinan bahwa suatu saat tubuh manusia Rey akan hancur.
Tetapi Debora mencoba menepis segalanya. Fakta-fakta itu mulai bermunculan, namun Debora tetap percaya bahwa Arlert nya tidak mungkin mati atau dihancurkan oleh kekuatannya sendiri nantinya.
"Percayalah, itu tidak akan mungkin terjadi! Kau tau bukan, Rey berjuang sejauh ini. Bagaimana mungkin Tuhan tega membuatnya mati di akhir perjuangannya. Aku tidak berharap itu terjadi padanya, tetapi jika waktu mengatakan hal lain. Maka aku, mungkin akan sulit menerimanya."
Jelas Debora pada Riley disampingnya. Lawan bicaranya itu hanya tersenyum sambil menatapnya. Ketegaran dalam raut wajah itu jelas adanya. Namun Debora tetap optimis dengan kepercayaannya. Tak ada keraguan yang ada dalam dirinya.
"Baiklah, mari kita selesaikan misinya!" Ajak Debora.
Ia tak ingin berlama-lama diam disana sambil terus memperhatikan Rey. Mereka memiliki tugas masing-masing. Mereka juga akan berkumpul dalam satu waktu nantinya.
Baron Hitam mencoba memperingatkan kepada Rey perihal penggunaan kekuatan. Namun Rey rupanya hanya berseringai, baginya masih ada waktu sebelum matahari terbenam. Iblis dibawah masih berserakan, ia harus membabat habis seluruhnya.
"Lihatlah wajah-wajah sialan dibawah sana! Tidakkah kau muak melihatnya, masih ada banyak waktu untuk matahari terbenam. Dan mari kita leburkan seluruh iblis ini terus menerus! Sama seperti mereka yang mengambil kebebasan kami, maka hukumlah mereka sesuai dengan dosanya!"
Ucap Rey kembali menggunakan sihir Laronna. Bagian tulang dalam tangannya retak, namun Rey hanya meringis.
Ini adalah pelampiasan untuknya, ia tau ia mampu beregenerasi. Itulah sebabnya mengapa ia tak peduli. Ketiga Baron dalam domain saling menatap satu sama lain.
"Pemuda bodoh! Apakah kau ingin menghancurkan tubuhmu sebelum batas waktu kesepakatan? Jangan bodoh, perjalanan kita masih panjang! Dan kau jangan buat tubuhmu semakin melemah. Lawan mereka sewajarnya, jangan terlalu memaksakan dirimu. Kekuatan akan dengan sendirinya menyatu denganmu apabila usahamu santai tak gegabah."
Dandelion adalah salah satu sisi lain yang sering diam. Namun kali ini ia benar-benar menentang apa yang Rey lakukan. Sebab Dandelion pun juga ingin menyelamatkan bumi, mengembalikannya seperti semula.
Rey yang tersadar pun tersenyum, ia kembali memasukkan sihir pamungkasnya. Disana Rey bersimpuh menatap ke bawah dimana para Iblis disana benar-benar takut padanya.
Rey merasa lega dengan tatapan mereka. Sebab itu menandakan bahwa tak ada satupun Iblis rendahan yang akan berani masuk kedalam Rensuar.
__ADS_1
**Depppp
Depppp**
Suara langkah kaki berlari dari arah kiri tubuhnya. Sejenak Rey menoleh ke arahnya. Rupanya itu adalah adiknya, Syena. Gadis itu berlari menghampiri Rey yang bersimpuh disana.
"Kakak!" Panggilnya ketika berada tepat disamping Rey.
"Ada apa Syena?" Tanya Rey padanya.
"Aku melihatmu tiba-tiba bersimpuh! Apakah kakak baik-baik saja? Apakah para Iblis itu melukaimu?"
Pertanyaan demi pertanyaan Syena lontarkan. Pemuda ini memang masih baru masuk dalam hidupnya, namun entah mengapa Syena merasa bahwa sudah mengenalnya sangat lama.
"Adik, aku tak apa kau tenang saja! Aku hanya lelah, lagi pula aku sudah melawan banyak sekali iblis sialan itu dibawah. Apakah kau melihatnya?"
Ujar Rey ia menidurkan dirinya begitu saja ke atas benteng. Syena memperhatikan itu, ia masih bersimpuh menatap ke arah Rey.
"Mengapa kau menatapku semacam itu, Syena?" Tanya Rey sambil menatap ke arah langit-langit.
Namun Syena hanya menggeleng, ia menirukan apa yang Rey lakukan saat ini. Syena juga tertidur disebelahnya sambil menatap ke arah langit.
"Jauh di atas sana banyak jiwa-jiwa yang gugur! Dan aku masih menyesal rasanya, karena menjadi alasan bagian dari gugurnya mereka." Ucap Syena.
Rey tersenyum miring mendengar apa yang Syena katakan.
"Jika kau masih diizinkan berdiri memeluk kebenaran. Maka perjuangkan lah itu sampai kau mati! Jika kau pernah melakukan kesalahan, maka rubah lah dirimu lebih baik dimasa depan nanti. Sebab sudah kodrat manusia menjadi tempat letaknya dosa."
Lagi-lagi Syena dibuat takjub rasanya. Petuah seindah ini hanya Rey saja bukan yang mampu merangkainya. Syena menggerakan tangan kanannya ke atas lalu menunjuk tepat ke arah langit.
"Kakak Rey, adalah hal terhebat milik Rensuar! Aku akan bertarung disampingmu sampai aku mati, sebab kau adalah kakak laki-laki ku yang paling hebat. Aku baru saja mengenalmu, tapi kau sudah membuatku terpukau dengan petuah juga kekuatanmu."
Ujar Syena, Rey tersenyum mendengar itu. Kedua saudara itu di atas benteng, menatap lekat ke angkasa mematri tiap keagungan Tuhan yang luar biasa. Sebuah mahakarya diantara kukungan kegelapan.
...Impian tidak dapat terwujud dengan sendirinya, namun impian akan datang ketika kita berusaha untuk meraihnya...
__ADS_1