Indigo Evolution (Silver Alaska)

Indigo Evolution (Silver Alaska)
Memasuki Area Hitam


__ADS_3

Dingin, hawanya begitu dingin menusuk. Mereka sudah berada dekat di hadapan tentakel besar. Di sana Debora sama sekali tidak melihat adanya tanda merah itu.


"Serang!!!" teriak Debora melalui sihir gema.


Mendengar itu seluruh rekannya pun menyerang tentakel besar itu. Namun nyatanya, tentakel hitam itu kembali mengeluarkan banyak tentakel lain demi menangkis seluruh serangan dari rekan Rey.


Bunyi serangan itu sampai tepat di dalam. Rey dan Syena mampu mendengarkan suara pertempuran itu. Jika mereka hanya diam disini maka rekannya di sana dalam bahaya.


Baik Rey juga Syena keduanya sama-sama saling berpikir perihal bagaimana caranya keluar dari dalam sini. Syena melalui mata kirinya ia melihat sesuatu.


"Kakak!" pekik Syena ketika menangkap sesuatu melalui mata kirinya.


Rey menoleh ke arah adiknya. Kedua mata itu membulat menatap tepat ke depan. Namun ketika Rey mengarahkan netra miliknya ke depan disana tak ada apapun, hanya ada kegelapan.


"Itu," ucap Syena terbata-bata telunjuknya mengarah ke depan.


Aura ini benar-benar kuat Syena bahkan melihat kekuatan ini mengerikan.


"Kakak, kita harus pergi dari dalam sini!" ucap Syena ia berbalik ke arah Rey sambil tetap membulatkan kedua matanya.


"Ada apa Syena, mengapa kau ketakutan semacam ini?" tanya Rey padanya.


Bagi Syena tak ada waktu lagi untuk menjelaskan perihal apa yang ia lihat dalam mata kirinya. Syena menarik lengan jubah Rey menuntunnya untuk ikut bersamanya.


Melihat itu, Rey pun pasrah mengikuti kemana Syena akan membawanya. Rey merasakan betapa dinginnya tangan Syena.


Sembari pergi mengikutinya Rey sejak tadi menatapnya. Adiknya itu terlihat begitu ketakutan. Ya, benar sekali, Syena ketakutan disini. Sebab ada sesuatu yang berusaha menuju ke arah mereka mencapai mereka.


Aura itu Syena sangat mengenalinya. Aura sekuat itu hanya di miliki oleh Iblis kelas atas. Syena yakin bahkan salah satu iblis itu nanti adalah Barsh.


Akan menjadi sebuah kekalahan apabila ia bertemu dengan Barsh disini. Syena tak mau apabila terjadi sesuatu pada Rey di sini. Manusia yang sedang berdiri di samping Syena ini adalah kunci kebebasan dunia. Syena harus menjaganya.


"Hahahah... Syena, mau sampai kapan kau berlari? Tidakkah kau melihat kau berada dalam rumah mereka?"


gema suara tawa itu kembali Syena dengarkan. Lagi-lagi iblis sialan dalam mata kirinya tertawa memperolok dirinya dan keadaannya saat ini.


Sementara di luar Debora sedang berusaha menemukan titik kelemahannya. Tangkisan juga perlawanan berulang kali mereka lakukan. Namun tetap saja, tubuh intinya sama sekali tak mampu Debora temukan.


Sejenak Debora memberi aba-aba menjauh dari target musuh. Seluruh rekannya pun menuju ke arah benteng. Debora berada tepat di depan mereka. Netranya kembali mencari menatap secara jeli masalah yang ada di depannya.


Kemampuannya masih terhubung pada seluruh rekannya. Tiap apa yang Debora pikirkan mereka bisa melihatnya.


Hingga pada akhirnya Debora menarik satu kesimpulan. Sejak tadi, beberapa tentakel itu keluar dari arah atas. Berbeda dengan pada saat itu, ketika mereka datang untuk mengetahui titik lemahnya.


Hal itu membuat Debora mendongak ke atas. Kali ini ia yakin sekali bahwa titik lemahnya ada di area atas.

__ADS_1


"Tapi itu tinggi sekali Debora! Bahkan aku sama sekali tidak melihat ujungnya, kita juga tidak tau ada apa di atas sana!"


ucap Mikhail ketika melihat apa yang Debora pikirkan.


"Teman kita sedang dalam bahaya! Dan kau adalah pertahanan kami, jadi tolong jangan goyahkan tekad kalian untuk terbang ke atas sana. Sebab kunci kebebasan bumi sedang berada dalam bahaya di dalam kukungan ini!"


jelas Debora, Riley dan Justice mengangguk tentu saja mereka akan sangat antusias. Perihal kawannya adalah prioritas. Mikhail juga sama, namun ia juga memikirkan perihal apa saja yang nanti ada di atas sana.


"Baiklah, aku akan melindungi kalian!" ujar Mikhail pada seluruh rekannya.


Clashhhhhh


Pertahanan sihir besar itu mulai menyelimuti para rekannya. Dengan Debora yang berada di hadapan mereka, sihir mereka pun membawa tubuh mereka terbang ke atas.


Luar biasa, rupanya tentakel ini menjulang sangat tinggi. Sepanjang terbang menuju ke sana masih belum terlihat apapun.


Kira-kira mereka menghabiskan sekitar lima belas menit untuk mencapai puncaknya. Setibanya disana mereka dibuat terkejut. Ada seseorang bertubuh besar dengan tanduk di atas kepalanya.


Seseorang itu sedang membelakanginya. Di hadapannya ada banyak sekali tentakel besar dengan mata besar yang menyala di ujungnya.


"Wah wah... tidak ku sangka aku akan berada dalam posisi ini!" ucap seseorang itu sambil mengusap tentakel-tentakel besar.


Ketika seseorang itu berbalik mereka mulai mencengkram kuat senjata mereka. Seseorang itu membuat mereka benar-benar tak percaya rasanya.


"Harith!!!" teriak mereka.


Kedua matanya memerah. Kuping besar itu hilang satu, di gantikan oleh tanduk hitam. Cakar-cakar panjang itu juga sangat mengerikan. Di tambah taring-taring yang semakin meruncing.


"Enghhh..." Debora tertunduk sungguh ia tak percaya akan melawan Harith di atas sini.


Tak hanya itu, beberapa rekannya juga terlihat tak percaya. Elvas mencoba menguatkan hatinya lalu ia berdiri di samping Debora.


"Tidak ada waktu untuk merenung! Debora, Arlert sedang dalam bahaya. Kehilangan dirinya maka artinya akan kehilangan kebebasan dunia!"


ucap Elvas ia bahkan menodongkan pedangnya ke arah Harith disana. Melihat itu Harith tersenyum.


"Dia Leonin, yang lebih tau perihal sihir daripada kita! Di tambah Rey tak ada di sini. Bisa saja kita mati di tangan Kaisar Harith saat ini!"


ucap salah seorang rekannya bergumam. Menggunakan segala kemungkinan pahit. Debora mengepalkan tangannya kuat lalu menatap ke depan. Mau tidak mau, Harith harus di lawan di sini.


"Kita tidak bisa mengalah dalam peperangan! Sebab tujuan utama kita datang dalam Medan pertempuran adalah untuk kemenangan!"


ucap Debora ia mulai mengambil ancang-ancang. Melihat itu seluruh rekannya mengikuti apa yang Debora pikirkan.


Seluruh rekannya di atas sana untuk pertama kalinya akan mengadu kemampuan sihir mereka dengan Harith.

__ADS_1


"Hahahaha... Lepaskan, ayo!!!"


teriak Harith, kedua tangannya di akhiri sihir. Kedua kubu itu sama-sama bergerak melawan satu sama lain.


Gempuran kekuatan Harith yang teramat sangat besar membuat mereka bersepuluh kewalahan.


"Gila, kekuatan ini besar sebesar kekuatan Arlert!" pekik Elvas.


Clashhhhh


"Hiahhhhh... hahahaha..." Harith tertawa semakin kencang, leonin itu menggila tiap kali meluncurkan satu serangannya.


Clashhhhh


Jlebbbbbb


"Huh?" lirih Debora ketika melihat panah milik Riley mengenai mata besar yang ada di balik tubuh Harith.


Ketika panah itu tertancap disana. Debora melihat satu celah bercahaya terbuka. Debora yakin itu adalah jalan masuknya.


Melihat itu Debora pun mundur ke belakang. Sebuah rencana mulai ia rancang. Kali ini mereka harus mampu masuk ke dalam kukungan ini. Sebab Rey dalam bahaya.


"Kau siap Riley?" tanya Debora pada Riley.


Riley tersenyum ia baru saja melihat rancangan rencana Debora.


"Aku selalu siap!" jawab Riley salah satu matanya mulai membidik.


Jutaan anak panah itu mengarah tepat ke arah mata-mata itu. Harith yang sedang sibuk melawan Justice juga Elvas disana, pandangannya teralih ketika melihat jutaan anak panah mengarah tepat ke arah mata merah yang sedang ia lindungi.


"Sial kalian!!!" teriak Harith sabitan petir miliknya membuat beberapa serangan Riley gagal.


Namun beruntung masih ada satu yang berhasil tertancap disana. Ketika lubang bercahaya itu muncul beberapa rekannya mulai masuk ke dalam termasuk Debora.


Darrrrrrr


"Arghhhhh!!!" Teriak mereka ketika terpental jauh dari lubang cahaya itu.


Namun, Debora berhasil masuk ke dalam. Hal itu membuat Riley juga beberapa temannya terpaku. Saat ini bagaimana rantai komando akan berjalan tanpa adanya Debora.


"Riley, kau tenang saja! Kau masih terhubung denganku, aku akan mencari Rey dan Syena. Juga memandu kalian dalam melawan Harith disana! Aku tidak akan membiarkan kalian semua mati disini!"


ucap Debora pada seluruh rekannya. Hari mereka tersentuh rasanya. Riley tidak pernah menyangka Debora akan menjadi pribadi sebaik ini.


Sambil menatap anak panahnya ia tersenyum, jika bukan karena Rey Arlert maka Debora tidak akan pernah menjadi pribadi semacam ini.

__ADS_1


"Mari berjuang untuk rekan kita!!!" teriak Riley memprovokasi.


Seluruh rekannya mengangguk lalu mereka berteriak mengarahkan senjata mereka ke arah Harith.


__ADS_2