Indigo Evolution (Silver Alaska)

Indigo Evolution (Silver Alaska)
Senja yang Selalu Kutatap


__ADS_3

Semilir angin berhembus santai menerpa-nerpa Surai pirang Debora. Ia duduk bersandar di balik tubuhnya ada batu besar yang menopang tubuhnya.


Bola mata cantik itu sedang menatap ke depan. Beberapa menit lagi langit akan kehilangan cahayanya. Tiba-tiba anginnya berhembus cukup kencang, sedikit menerbangkan pasir pantai yang di bawa oleh kaki kecil anak-anak yang berlari.


Pasir itu masuk sedikit ke matanya, membuatnya terpejam memekik sebentar lalu mengucek kedua matanya. Terlihat Elvas dari kejauhan berlari menghampiri Debora, ketika tiba tepat di sampingnya dia bersimpuh meniup-niup kedua mata Debora yang kemasukan debu.


"Ini sudah hampir malam! Kau tak pulang?" tanya Elvas sembari meniup-niup kedua mata Debora.


Perlahan kedua bola mata cantik itu sudah cukup membaik. Dia menatap ke arah Elvas lalu tersenyum dan menggeleng pelan.


Hatinya masih ingin di sini, menatap matahari terbenam. Elvas membuang pelan nafasnya lalu ikut duduk di samping Debora.


"Sudah cukup lama ya! Sejak kejadian itu," ucap Elvas.


"Dia pasti kembali, kan?" tanya Debora memotong perkataan Elvas.


Debora menoleh ke samping begitu juga dengan Elvas. Kedua mata itu bertemu saling tatap satu sama lain. Elvas memperhatikan di sana masih ada satu harapan besar untuk Rey.


Hatinya cukup sakit melihat ini sungguh. Elvas juga mencintai Debora, selama lima tahun ini dia berusaha membantu Debora keluar dari dalam luka hatinya.


Baginya, manusia yang mati tidak akan mungkin kembali. Itu tidak mungkin, tapi, Debora masih saja belum mampu menerimanya. Memang dia menjalani kehidupannya dengan baik selama ini, sekalipun dalam hatinya perih.


Para rekannya, Justice dan Riley pun sudah berkeluarga mereka memiliki dua orang anak. Begitupun dengan Syena dan Mikhail, mereka juga sudah berkeluarga dan dikarunia lima orang anak.


Terkadang memang Elvas sering membayangkan. Bahwa Debora kelak pasti akan menerimanya. Namun nyatanya itu tidak mungkin. Sekalipun Rey pergi jauh tidur di atas langit sana. Debora di sini hatinya masih untuk Rey.


Pesan terakhir dari Rey selalu dia ingat. Di mana saat itu, Rey berkata kepada Elvas bahwa hanya Elvas saja yang pantas berada di samping Debora kelak. Sebab katanya, cintanya Elvas itu tulus.


"Aku tidak tau apakah akan ada keajaiban setelah ini Debora! Tapi, aku tidak pernah melihat orang mati hidup kembali, Debora! Cobalah untuk merelakan dia, ini sudah cukup lama!" ujar Elvas padanya.


Debora hanya meringkuk lalu menenggelamkan kepalanya di antara kakinya. Hatinya semakin sakit tiap kali ada yang mengatakan itu.

__ADS_1


Perih, dia sangat merindukan Rey. Dan dia masih tidak mampu menerima ini. Tuhan, baginya cukup kejam mempermainkannya. Setelah seluruh hal dalam hidupnya hilang, lalu dia menemukan satu pemuda yang kembali memekarkan bunga dalam hatinya.


Sejuk rasanya tiap kali berada di samping Pemuda itu. Pemuda yang mati di tangannya sambil kehilangan kepalanya.


Ini mengenaskan, dan dia selalu ingat dentingan pedang miliknya yang mengakhiri nyawa Rey. Ini perintah memang, dan setelah itu Debora merasa tertekan rasanya.


Perasaan sakit itu semakin membuatnya sesak, hingga menangis terisak. Melihat itu, Elvas hanya mampu mengusap-usap Surai milik Debora. Dia iba sungguh, tak tega rasanya melihat Debora terus terlarut dalam kesedihan.


____________


Di atas langit sana ketiga Guardian memejamkan matanya. Mereka sedang berdoa, sejak ketika masalah di bumi usai. Ketika sampai ke langit mereka tidak berbicara apapun. Mereka hanya duduk di atas singgasana mereka sambil memejamkan mata.


Harapan dalam hati mereka adalah, semoga Penguasa mendengar permintaan kecil mereka perihal Rey Arlert.


Bukan hanya para guardian saja yang meminta. Tetapi para penduduk langit juga memintanya. Mereka iba melihat nasib Rey, mereka juga iba melihat Debora yang terpuruk begitu lama selama ini.


Di atas langit sana kesedihan Debora tersampaikan. Dari dalam peti mati putih terbujur seorang pemuda. Banyak jasad di dalam peti yang terbuka di sana. Masing-masing dari mereka terpejam.


Salah satu jasad itu adalah Rey. Perlahan dia mulai membuka kedua matanya. Samar-samar, hanya putih dan beberapa sosok berjubah putih yang berlalu lalang.


Rey mengingat sesuatu ketika ia berkorban dalam peperangan. Lantas dia tersenyum kemudian, ingatannya berputar pada seorang gadis yang begitu dia cintai, Debora Defanny.


"Rey Arlert!" ucap gema suara menyerukan nama Rey.


Rey yang tak tau apapun hanya mampu diam. Bahkan dia tidak sanggup berucap. Bibirnya terkunci rapat tak mampu membalas sapaan itu.


Lalu Rey merasakan peti mati tempatnya berada bergerak. Entah, kemana peti itu akan dibawa. Pergerakan perlahan itu mulai melewati satu gerbang besar dengan bunga-bunga indah yang menghiasi sisinya.


"Rey Arlert! Atas permintaan yang diserukan dunia dan langit untukmu. Kau akan diberi kesempatan lagi menghirup udara dunia, bumi. Tetapi, pergantian atas itu adalah memorimu! Kembalilah tanpa memori layaknya seorang bayi yang baru saja lahir. Lalu kembalikan sendiri memori itu dan cobalah mengingat dan menemukannya!" ucap Gema suara itu kepada Rey.


Gemerlap cahaya semakin silau, membuat Rey pada akhirnya memejamkan kedua matanya tak sanggu melihat apa yang ada di hadapannya.

__ADS_1


Detik ketika telinganya mendengar suara pintu dibuka, membuat Rey kembali membuka kedua matanya. Dan saat ini, dia berada di dalam dapur seseorang sambil menghadap ke arah jendela.


Jendela itu langsung menghadap ke arah kebun. Pintu yang terbuka tadi adalah pintu ruang tamu, suara langkah kaki berjalan mendekati dapur.


Rey yang tidak mengingat apapun hanya terpaku diam menatap ke arah jendela. Netranya terpaku menatap kebun di sana.


Ketika pintu dapur terbuka, terlihat di sana Debora mematung lalu mundur perlahan. Dia terkejut melihat kehadiran orang lain di dalam rumahnya. Tangannya meraih pemukul baseball yang dia taruh di dekat pintu dapur untuk berjaga-jaga sebagai senjata untuk memukul para penjahat yang mungkin saja datang kemari.


"Siapa kau?" tanya Debora kepada Rey.


Namun Rey hanya diam. Ingatannya mungkin hilang, tapi ketika mendengar suara itu menerpa telinganya. Seketika membuat hatinya menghangat lalu membuat kedua matanya meneteskan air matanya.


Perlahan Rey mulai membalikkan tubuhnya menghadap ke arah Debora. Ketika wajah itu tepat menghadap ke arah Debora, tingkat baseball itu jatuh seketika.


Debora menatapnya sejenak dari ujung kaki sampai ke kembali lagi ke kepala Rey. Lantas setelah itu dia tersenyum bahagia, air mata kebahagian itu juga menetes begitu saja.


Perlahan Debora mendekati Rey. Dia berjalan pelan hingga sampai tepat di hadapannya. Debora menangkup wajah itu, wajah yang masih terpaku menatapnya.


"Aku tidak bermimpi kan, Rey?" tanya Debora kepadanya lalu memeluknya.


Disana Debora menangis sambil mencengkram baju Rey mencoba menyalurkan tiap rasa rindu yang hampir membunuhnya selama ini.


"Aku senang kau kembali, Rey!" ucap Debora lagi sambil masih menangis.


Rey sama sekali tak tau kenapa kedua tangannya di sini juga ikut terangkat membalas pelukan Debora di sana.


Ketika Debora melepaskan pelukan itu, dia kembali menatap ke arah Rey. Di sana barulah Rey melontarkan satu pertanyaan yang membuatnya juga ikut terkejut.


"Kau ini siapa?" tanya Rey kepadanya.


Awalnya Debora menganggap itu lelucon. Namun lama kelamaan nyatanya tidak, Rey benar-benar tidak mengenali perihal siapakah dia di sini. Bahkan Rey juga tidak tau dirinya sendiri.

__ADS_1


Debora yakin, ada sesuatu yang sudah terjadi terhadap Rey sebelum kemari. Biasanya dia akan menanyakan itu kepada Noella. Tetapi saat ini, Debora hanyalah manusia biasa. Masalah ini akan dia selesaikan sendiri.


Terlebih melihat keberadaan pemuda yang begitu dia cintai kembali di hadapannya, itu sudah lebih dari cukup untuknya.


__ADS_2