Indigo Evolution (Silver Alaska)

Indigo Evolution (Silver Alaska)
Berpas-pasan


__ADS_3

...Jika kamu ingin perubahan,ibarat seperti penyembuhan membutuhkan waktu...


...Tidak ada yang begitu menyakitkan bagi manusia...


...Selain adanya perubahan yang besar dan secara tiba-tiba...



Malam semakin larut, beberapa jam sudah berlalu jam tepat menunjukan pukul dua belas malam. Pesta dibawah telah usai tak ada manusia yang tersisa lagi disana bahkan dekorasi pesta pun hilang, dibersihkan sekejap oleh kemampuan sihir. Syena duduk tenang mematri area pesta, dari balik tudung jubah yang menyembunyikan wajahnya, dirinya menarik sudut bibirnya tersenyum seakan mengatakan waktunya sudah tepat saatnya bergerak. Syena menggerakan tangannya ke depan, jari-jari itu mengeluarkan cahaya keemasan.


"Abonoeraa Atrem Aveluska."


Clingggggggggg


Cahaya berwarna keemasan itu melahirkan dua dirinya yang baru. Mantra tingkat tinggi itu menyita jumlah mana cukup besar. Syena memerintahkan kloningnya melalui telepati, anggukan dari ketiganya membuat mereka menghilang bersamaan, mengisi posisi mereka masing-masing sesuai apa yang sudah direncanakan.


Wushhhhhhhhh


Satu ruangan didepannya membuat langkahnya terhenti, tepat diatas ruangan itu ada sebuah papan bertuliskan Headmaster bertemunya netranya dengan ruangan itu membuatnya tersenyum bahagia sekali rasanya, kalaupun ruangan data tak ditemukan ruangan kepala sekolah pun juga menyimpan banyak data siswanya bukan. Syena memejamkan matanya menarik kembali kloning miliknya, kloning itu berada ditempat yang berbeda dengannya.


Syuttthhhh



Dalam hitungan detik tiga kloning yang berpencar itu kembali menyatu dalam tubuhnya, Syena membuka matanya kembali tatkala bagian dari mantranya merasuk menyatu kembali dalam dirinya. Kali ini saatnya menjalankan misi yang dibebankan padanya.


Syena berdiri tepat dihadapan pintu itu, gagangnya terpaut dengan satu kunci berbentuk lingkaran, terbuat dari mantra berwarna ungu. Mengingat sesuatu mengenai mantra pembuka, sebenarnya sejak tadi dirinya membuntuti Rey juga Justice rapalan mantra pembuka terekam jelas dalam otaknya, seketika Syena mengarahkan telapak tangannya tepat diatas kunci mantra berbentuk lingkaran itu.


"Expertpatrionom!"


Glekkkkkkk


Rapalan mantra kesatuan pembuka kunci, membawa reaksi perlahan, gembok lingkaran itu memudar hilang perlahan. Syena membuka ruangan itu dengan mudah tatkala gembok itu telah hilang. Terlihat banyak sekali buku-buku disana, hanya ada tiga kursi dan meja, satu ditengah sedang dua berada tepat didepannya, dua meja lain itu saling berhadapan. Disana Syena membuat kloning dirinya lagi, sepertinya akan memakan cukup waktu untuk sekedar mencari manusia dan denah.



Dilain tempat empat orang manusia ini memilih berjalan kaki kembali ke Asrama. Menurut kalian siapa lagi mereka jika bukan Rey, Justice, Debora dan Riley. Berbeda dengan Mikhail yang lebih mementingkan kesehatan dirinya, memilih pulang lebih awal demi menjaga waktu tidurnya, empat orang manusia ini berjalan santai dibawah altar langit, menikmati tiap detik menit waktu dunia yang berjalan.


"Langit malamnya selalu indah, suguhan Tuhan luar biasa!"


Rey berucap meletakkan kedua tangannya dibelakang kepalanya, menopangnya. Debora memutar bola matanya tepat ke arah Rey yang berada disampingnya. Ada sesuatu dalam kalimat itu, Debora menemukan pilu dalam bola mata Rey. Hatinya mendadak peka sekali pada manusia ini, hatinya peduli sekali padanya. Mendengar itu Riley tersenyum, begitupun dengan Justice.


"Kehancuran ini kuharap akan segera menemui titik terangnya."


Ujar Riley menambahkan, mereka lelah menghadapi dunia mencekam ini. Layaknya berada dalam kukungan para penjajah, layaknya berada dalam sebuah kandang besar, ditakdirkan bebas oleh Tuhan namun dicekal oleh keadaan dunia.


"Pada saat-saat tergelap kita, kita harus fokus untuk melihat cahaya."


Kali ini Rey berucap lagi kalimatnya singkat, namun menyimpan segudang makna didalamnya. Ketiganya tersentuh mendengar itu bagai di tampar rasanya, kalimat itu menggambarkan keadaan bumi saat ini. Suasana mencekam dalam bola langit ini, tak ada usainya. Sudah sekitar lima bulan sejak Asteroid itu jatuh ke bumi membawa neraka itu kemari, memaksa tiap manusia yang bernafas menggiringnya menuju jalan mati mereka.


"Dipaksa dewasa oleh keadaan, kau bilang kita semua disini berasal dari benih kepahitan yang sama. Jangan terpuruk terlalu lama, sekalipun dunia sehancur ini. Dari kesamaan itu disinilah kita dikumpulkan untuk bersatu padu, menggapai satu tujuan yang sama."

__ADS_1


Ujar Debora, Rey menghentikan langkahnya netranya menunduk. Rembulan malam itu menyinarinya, Debora juga yang lain ikut berhenti Sepoi angin malam membawa sejuk itu menyelimuti diri mereka. Tak lama Rey mendongak menatap rembulan, hatinya sedang merindukan seseorang saat ini, ingin sekali segera menggapai orang itu membawanya pulang lalu merengkuhnya.


"Aku ingin menikmati hangatnya purnama sebentar boleh?"



Rey mengarahkan netranya tepat ke arah Debora saat ini, selaku ketua tim mereka, itulah mengapa Rey meminta izin padanya. Debora tersenyum lalu memberi anggukan pada Rey. Rey menarik pergelangan tangan Debora membawanya duduk disisi jembatan, hal serupa pun diikuti oleh Riley dan Justice. Sambil tetap menatap langit, entah sadar atau tidak telapak tangan itu masih menggenggam erat tangan Debora. Hangat, itulah yang Debora rasakan.


"Namun, tidak peduli seberapa banyak kejahatan yang terjadi, kupikir penting bagi semua orang untuk memahami bahwa ada lebih banyak terang daripada kegelapan."


Ujar Rey, Debora memperhatikan raut wajah Rey yang masih menatap langit seraya tersenyum. Tiap ucapan yang Rey ucapkan akan selalu mampu membakar, menampar, juga menyadarkan tiap hati mereka yang gundah ataupun ragu, bukan hanya unggul dalam pertarungan namun Rey juga unggul dalam hal petuah.



Mungkin ini yang dimaksud Riley mengenai Rey. Saat itu setelah pertemuan pertamanya dengan Rey, tepat di sesi adu kekuatan. Riley mengatakan, belajarlah sesuatu pada Rey. Saat ini rasanya hatinya terjebak kagum pada sosok lugu ini, sosok konyol yang sering berulah namun begitu bijak dalam memahami suasana.


Rey melepaskan tautan tangannya dari Debora, telapak tangan itu mengeluarkan sesuatu dari domainnya, sebuah topi rajut itu milik Syena. Debora memutar bola matanya ke arah Riley, namun Riley hanya tersenyum seakan mengatakan, biarkan, manusia itu sedang dalam fase merindukan adiknya.


"Ahhh ku harap Syena-ku tetap kuat disana!"


Rey berucap sambil menghirup aroma topi itu.


"Hah, jika abangnya seorang Musketeers liar semacammu, aku yakin tak ada Iblis yang berani menyentuhnya!"


Justice berucap sambil netranya tetap mematri langit, namun rungunya mendengarkan tiap apa yang Rey katakan, hatinya juga turut serta merasakan mengenai apa yang sedang memenuhi hati Rey.


"Bukan memar di tubuh yang sakit melainkan luka hati dan bekas luka di pikiran. Ah tapi jika kulakukan ini terus menerus aku akan terlarut dalam kepedihan."


Rey turun, kembali memijakkan kakinya saat ini.


"Aku mengantuk, mari pergi dari sini!"


Ujar Rey mendahului mereka, bukankah menyebalkan sekali manusia ini. Beberapa saat lalu ia begitu terpuruk, namun saat ini bahkan wajah-wajah frustasi miliknya tadi seakan lenyap begitu saja. Rekan yang menemaninya duduk menikmati juga mematri rembulan ia tinggalkan begitu saja, tak ada ucapan terima kasih terlontar dari Rey untuk mereka.


"Mengesalkan sekali manusia ini!"


Ujar Justice, namun tidak dengan Riley dan Debora mereka tak ambil pusing, sudah biasa Rey bersikap mengesalkan seperti itu.


"Hahaha, kau ini Istrinya tapi mengapa seperti baru saja kau tau Rey semenyebalkan ini Just?"


Justice menghela nafas mendengar itu, ia diam tak menjawab celotehan Riley.


_____________


"Meongggg!"


Noella dalam wujud kucingnya menjelajahi lorong Rensuar, kaki-kaki kecil berbulu itu menelusuri lorong-lorong Rensuar. Dirinya terkejut tatkala melihat ruangan milik Axcel terbuka pintunya. Kaki kecil berbulu itu masuk kesana, Noella terkejut melihat satu keberadaan disana ada seorang manusia berjubah, kepalanya tertutup, tangannya sibuk mencari-cari sesuatu dalam tumpukan berkas yang sudah tersusun rapi didalam rak. Noella memperhatikan sejenak jubah itu, itu jubah milih divisi Fortressia, jubah hijau milik divisi pertahanan, Elang Hitam. Satu divisi yang bertugas diantara tembok melindungi bahaya apapun yang akan masuk kedalam benteng, namun untuk apa seorang Musketeers pertahanan datang kemari.


"Meonggg!"


Noella mencoba bersuara lagi saat ini tepat dibelakangnya, suara dari dirinya membuat manusia itu berhenti mencari. Ia berbalik kali ini, tatkala netranya melihat seekor kucing Syena hanya tersenyum. Berbeda dengan Syena yang santai saat melihatnya lalu kembali lagi mencari, Noella dibuat terhenyak karena pola yang berada tepat dmata kiri anak itu, mirip sekali dengan pola Pedang Baron. Merasa ada yang tak beres disini Noella merubah wujudnya menjadi seorang Elf kali ini.

__ADS_1


Syutthhhh


Tubuhnya berubah tepat menjadi seorang Elf saat ini. Syena membulatkan matanya tatkala melihat bayangan dibelakangnya yang semakin meninggi, merasa sosok kucing itu adalah jelmaan, sebelum tepat Noella bersuara Syena berbalik.


Wushhhh


Satu sabitan cahaya dari mantra miliknya mendorong Noella, terjatuh terhempas diantara sela-sela kedua rak. Melihat itu, Syena sepenuh tenaga dengan sihir miliknya berlari sekencang-kencangnya berusaha keluar melarikan diri dari kejaran Noella barangkali dirinya diikuti.


Syena akan menggunakan mantra terbang saat dirinya tepat berada ditanah lapang namun ia berpikir sejenak, jikalau ia menggunakan itu sedangkan disini masih ada beberapa Musketeers senior itu sangat beresiko untuknya, sangat menarik perhatian sekali.


Syena memusatkan sihirnya tepat pada kakinya, membuat dirinya semakin cepat berlari. Tatkala dirinya memasuki hutan didepannya terlihat empat orang manusia, terlambat rasanya untuk menghentikan laju kecepatannya, tabrakan tubuh mereka pun tak bisa dihindari.


Brukkkkkkk


Syena tersungkur jatuh kedepan namun beruntungnya, tudung miliknya masih setia menutup kepalanya. Syena menabrak rombongan Rey yang hendak kembali dalam Asrama mereka. Baik Riley dan Debora terkejut melihat itu, Rey yang jatuh tepat disampingnya berdiri, mata milik Syena kembali bercahaya Syena mencoba menutupi itu. Tatkala uluran tangan itu menawarkan bantuan, Syena langsung berdiri membenarkan jubahnya.


"Hei, kau tak ingin meminta maaf?"


Tanya Rey seraya memperhatikan Syena yang masih berjalan mengacuhkan mereka berempat, Justice naik pitam rasanya ada apa dengan manusia itu, jelas ia salah menabrak mereka namun sama sekali tak berbalik untuk sekedar minta maaf. Ketika dirinya hendak maju, Rey menahannya.


"Tenanglah, aku tak apa, lagi pula tak masalah. Mungkin dia sedang ada masalah, sudah biarkan saja!"


Ujar Rey seraya menahan tubuh Justice, disana ada sesuatu yang aneh menurut Rey. Bukankah divisi Fortressia sudah kembali lebih dulu tadi, Debora memperhatikan punggung manusia yang baru saja menabrak Rey itu. Rey memperhatikan Debora disampingnya, jeli mata itu seakan mencari sesuatu disana.


"Ada apa Debora?"


Jeli mata milik Debora teralih ketika Rey melempar sebuah pertanyaan. Benar, ada yang aneh disini manusia itu sepertinya bukan dari sini.


"Auranya aneh, Rey!"


Ujar Debora padanya, Rey kembali menatap manusia itu. Punggung manusia itu sudah terlalu jauh dari jangkauan matanya, bersamaan dengan itu dari belakang seorang Elf dengan Khufranya mengarah tepat ke arah mereka.


"Rey, dia penyusup!"


Teriak Noella yang semakin mendekat, mendengar itu Rey membulatkan matanya. Ketiga rekannya bersamaan mengeluarkan senjata mereka. Namun mengapa penyusupnya seorang manusia, jika sosok didepannya ini adalah Iblis mengapa begitu maju sekali ilmu mantranya sampai mampu merubah dirinya sebagai seorang manusia. Syena yang tau dirinya sedang diburu tanpa pikir panjang ia menggunakan mantra terbang miliknya. Melesat kelangit dengan sisa mana yang masih tersisa.


...Kau bisa menutup matamu dari hal-hal yang tidak ingin kau lihat....


...Tapi kau tak bisa menutup hatimu dari hal-hal yang tak ingin kaurasakan...


...



...


_________


Ensiklopedia :


Planet ini juga merupakan planet terbesar di Tata Surya. Jupiter merupakan raksasa gas dengan massa seperseribu massa Matahari dan dua setengah kali jumlah massa semua planet lain di Tata Surya. Jupiter adalah planet terbesar di tata surya kita. Memiliki diameter 142.984 km, planet ini juga disebut dengan 'bintang gagal'.

__ADS_1



__ADS_2