
Sekitar tujuh puluh persen area bumi sudah menjadi kepemilikan manusia. Iblis mulai tersudut dan Rey semakin sibuk.
Kesibukan yang ia lakukan juga beraneka ragam. Melihat wilayah iblis yang tersudut Rey semakin gemar berkunjung ke area Iblis itu.
Ia kesana tanpa pasukan. Demi memuaskan hasrat membunuhnya ia rela datang dan terluka berkali-kali. Menurutnya asalkan iblis itu binasa, maka ia akan sangat lega. Dan luka tidak akan terasa sama sekali.
Demi memuaskan hasratnya beserta ketiga Baron membantai habis seluruh iblis lagi dan lagi.
Satu tahun silam berlalu, meninggalkan Rey yang selalu duduk di atas benteng. Baginya masalah ini harus cepat di selesaikan.
"Kesibukan ini semakin membakar hatiku!"
Rey berucap kepada ketiga Baron dalam domainnya. Setahun ini hanya mereka lah yang Rey ajak bicara.
Baginya tak ada yang mengerti hasratnya kecuali mereka. Para rekannya juga sama sekali tidak mengerti perihal dirinya.
"Kenapa Noella masih saja ingin berjalan secara perlahan. Iblis gila disana memang tidak bergerak selama ini. Entah ada apa dengan mereka disana! Apakah mereka lelah? Apakah mereka sudah kehabisan ide? Atau apakah mereka memang sengaja menunggu di hancurkan?"
Tanya Rey lagi dan lagi. Baron Putih dalam domain menunduk. Sejujurnya ia juga ingin segala hal di bumi ini usai. Tugas mereka usai dan mereka kembali ke angkasa.
"Mungkin yang berada disana sedang menyusun strategi balasan. Mereka diam bukan berarti menyerah. Kita hanya perlu waspada!" Jelas Baron Emas padanya.
"Sampai kapan? Jika mereka belum lenyap, maka kebebasan wilayah ini palsu artinya. Sebab jika musuh masih mengintai, maka tidak akan ada kata bebas ataupun aman."
"Kau benar! Tetapi serangan terburu-buru hanya akan menghasilkan banyak korban jiwa. Saat ini kau perlu menikmati ketenangan ini! Nikmati selagi masih ada!"
"Ha..."
Brukkk
Rey membaringkan tubuhnya di atas benteng. Langitnya masih cerah sekali warnanya. Beberapa burung berterbangan disana.
"Keindahan semacam ini harus selalu dijaga. Ketenangan semacam ini harus selalu ada." Jawab Rey pada mereka.
"Kau benar kakak!" Ucapan seseorang di sampingnya membuat Rey menoleh ke samping.
Rupanya itu Syena. Ia membawa bungkusan. Namun setelah mengatakan itu, Syena duduk di samping Rey.
Dari dalam bungkusan itu ia mengeluarkan roti manis kesukaannya. Syena semakin besar, ia tumbuh menjadi gadis dewasa yang bijak sekali.
"Syena, sedang apa kau kemari adik?" Tanya Rey padanya.
"Makan sambil memandangi langit adalah hal yang menyenangkan!" Jawab Syena tanpa menoleh.
Rey kemudian kembali memandangi langit. Syena sedikit mengingat perihal rapat tiga bulan lalu sebelum ini.
________
"Pada akhirnya wilayah-wilayah ini sudah kita kuasai. Mari kita kuasai lagi lebih banyak daripada ini." Ucap Rey ia menunjuk hologram peta yang ada di atas meja.
Noella diam mendengar itu begitupun dengan para petinggi lainnya. Sejenak Debora menatap lekat ke arah Rey.
"Kenapa kau menatapku semacam itu Debora?" Tanya Rey padanya.
Ambisius yang ada dalam diri seorang Rey Arlert memang bagus. Tetapi, jika manusia di forsir berperang terus menerus maka mereka akan mati kelelahan.
__ADS_1
"Kita bukan sepertimu Rey! Sudah sepuluh bulan kita berperang demi wilayah. Mungkin memang rekan kita yang gugur tidak sebanyak pada saat itu. Kita perlu istirahat! Durasi istirahat akan ditentukan oleh Nona Noella!" Jelas Debora.
Rey berseringai mendengar itu. Baginya menyerang iblis di saat-saat seperti ini adalah hal yang benar. Berhenti, artinya membiarkan mereka menghirup udara bebas juga memberikan kesempatan bagi mereka untuk berpikir merancang sesuatu yang jahat kembali.
"Jangan jadi pengecut!" Jawab Rey singkat.
Jawaban itu menohok hati Debora rasanya.
"Aku mementingkan pasukan kita! Kau mungkin memiliki regenerasi disini, tetapi kita tidak. Kita istimewa dengan sihir memang, tetapi sekali jantung kita di tusuk kita akan mati juga!" Jelas Debora padanya.
"Kau terlalu lemah Debora!" Ucap Rey.
Riley mulai geram rasanya disini. Ini sudah yang kedua kalinya Rey memakai Debora.
"Jika kami lemah, kami tidak akan mungkin mampu merebut banyak wilayah bersamamu!" Ucap Riley mengingatkan.
"Kalau begitu, rebut lagi! Jangan biarkan mereka bernafas sama seperti yang mereka lakukan pada kita. Kau tau, apa saja yang sudah kulihat ketika membunuh mereka? Tiap kali aku membunuh mereka, bayangan manusia di masa lalu, bagaimana mereka mati tergambar jelas dalam kepalaku. Mereka memohon tetapi tetap tidak di lepaskan. Mereka memenggal kepala-kepala itu layaknya memenggal buah! Jangan berhenti, Noella!" Ucap Rey beralih ke arah Noella kali ini, memprovokasi nya.
Rey berdiri kedua tangannya di letakkan di atas meja sedikit menggebraknya. Tatapannya mengarah tepat ke arah Noella, menatapnya serius.
Syena yang duduk berhadapan dengan Rey sejak tadi memperhatikan itu. Mata kirinya merasakan sesuatu. Sesuatu yang mengganjal disana.
Dendam atas nama suster wanita itu semakin besar disana. Dendam itu menuntut balasan. Dendam itu haus berperang dan merusak.
Dendam itu membutakan Rey sehingga ia berani menyakiti Debora yang ia cintai.
"Duduklah Rey!" Ucap Noella padanya.
Mendengar itu Rey terduduk kembali. Mikhail dan Justice hanya diam disana. Itu adalah hal yang jarang sekali terjadi.
Jelas Noella, Debora bernafas lega kali ini. Begitupun dengan seluruh rekannya yang lain.
"Baik!" Ucap seluruh orang yang hadir di rapat itu namun tidak dengan Rey.
Rey berdiri memberi hormat sedikit kepada Noella. Debora memperhatikan itu begitu juga dengan yang lain.
"Aku akan tetap menyerang Silver Alaska, tanpa kalian! Aku tidak peduli apa yang terjadi, tapi aku tidak akan membiarkan iblis itu tenang!" Jelas Rey kemudian bergegas pergi.
"Dendam itu buta kak!"
Ucapan Syena menghentikan Rey yang baru saja membuka pintu. Rey diam disana terpaku.
"Jangan pelihara itu!" Ucap Syena lagi.
Rey hanya diam lalu melanjutkan langkahnya kembali pergi dari sana. Debora dan Riley menatap ke arah Syena. Namun gadis itu dia hanya diam, lalu ia juga bergegas pergi dari sana.
"Sebenarnya apa yang terjadi padanya akhir-akhir ini. Semakin banyak peperangan yang ia lewati, rasanya itu seperti menumpuk dalam kepalanya lalu membuatnya gila!" Ucap Justice.
"Dia juga jarang berbicara pada kita sekarang! Entah ada apa dengan Rey saat ini?" Tambah Mikhail.
"Apa yang ada dalam hatinya, itu menyangkut apa yang dibicarakan Syena. Jika tidak dia tidak akan berhenti tadi!" Jelas Debora.
Hatinya masih sakit akibat perkataan yang Rey ucapkan. Selesainya rapat itu, hanya membuat Rey semakin menjauh dari mereka.
Ia akan lebih banyak menghabiskan waktunya di Land White saat malam. Lalu kembali ke kastil sihir untuk melatih pasukan. Rey seperti sedang menghindari rekan-rekan nya.
__ADS_1
__________
"Manusia itu tidak pernah puas ya?" Lirih Syena menatap ke arah langit.
Setelah mengingat itu, ada hal yang ingin ia katakan pada Rey disini. Sebab datangnya ia kemari adalah untuk suatu alasan.
"Huh?" Rey terkejut ketika Syena bersuara.
"Kakak, sejauh apapun kita di sakiti. Tidak peduli bagaimana bentuknya, jangan sampai kekecewaan itu menguasai kita. Memang benar kita kesal akan itu, memang benar amarah datang menyelimuti. Tetapi jangan sampai, dendam itu terpelihara begitu lama. Sebab dia hanya akan menjadi penyakit yang menutup nurani juga mata kita." Jelas Syena.
Syena memberikan sepotong roti yang masih ada dalam bungkusannya. Rey terdiam, sejenak ia menatap ke arah bungkusan roti itu.
"Dunia sebenarnya manis tanpa adanya peperangan. Kehidupan itu manis jika kita memelihara hal-hal positif. Gairah membunuh iblis dalam hatimu juga aku rasakan. Aku berbeda, sama sepertimu! Tetapi kau harus ingat, tidak ada manusia yang mampu berdiri seorang diri menaklukan dunia. Segalanya butuh kemampuan sesama. Bumi ini, bukan hanya kita berdua saja yang tinggal. Tetapi juga mereka!"
Jelas Syena, telunjuknya mengarah ke arah Rensuar yang letaknya di belakang mereka. Kota itu semakin makmur akibat kejayaan ini. Rey menunduk, apa yang Syena katakan benar.
"Terimalah!" Ucap Syena lagi.
"Huh?" Rey mendongak menatap bungkusan yang masih tetap Syena sodorkan ke arahnya.
Lantas Rey menerimanya. Rey mengeluarkan roti dari dalam bungkusan itu. Bentuknya bulat dan mengembang.
Rey teringat pada makanan panti asuhan beberapa tahun lalu. Roti ini lah yang membuatnya bertaruh nyawa di toko roti sampai kehilangan adiknya.
Suster Agarwa biasanya akan memberikan Syena ini jika uang lebih miliknya masih mampu membeli roti kesukaan Syena.
Satu gigitan pertama membuat Rey terhenyak. Rasanya begitu lezat, dan ia benar-benar di ingatkan kembali pada momen itu.
Ketika dirinya, susternya dan Syena menikmati momen mereka dengan satu roti manis ditangan mereka. Menggigitnya menemani mereka bercengkerama selama berjam-jam sampai lupa waktu.
"Syena..." Lirih Rey menoleh ke samping.
"Adikku, apakah kau sudah mengingat segalanya?" Tanya Rey lagi, kali ini ia duduk.
Syena hanya diam menatapnya lalu kembali menatap ke depan. Syena menunjuk tepat ke arah Silver Alaska.
"Aku tidak bisa mengalahkan Barsh! Sebab jika aku mendekatinya, maka aku akan di kendalikan olehnya. Ingatan ku ada padanya! Jika dia kalah, maka aku akan ingat segalanya!" Ucap Syena.
"Aku akan mengalahkannya! Akan ku pastikan ingatanmu itu kembali lagi padamu!" Ucap Rey.
"Kau tidak akan bisa!" Jawab Syena.
"Kau meremehkan diriku Syena?" Tanya Rey padanya.
"Aku hanya akan percaya pada kekuatan manusia, yang percaya pada kekuatan seluruh rekannya. Bukan manusia yang egois merasa hebat sendiri dengan kekuatannya!" Ucap Syena.
Rey tau itu, Syena sedang berusaha membuatnya sadar. Bahwa apa yang Rey lakukan dalam rapat itu tidak benar. Lantas ia mengingat kembali perkataannya pada Debora. Benar sekali, itu adalah hal yang sangat menyakitkan.
"Debora..."
"Dia mencintaimu kak! Kalian berdua ini kenapa tidak meresmikan hubungan kalian saja?" Tanya Syena.
Ditatap langsung oleh adiknya membuat Rey berpaling dengan semu merah menghiasi wajahnya.
"Datang dan minta maaf lah! Seluruh rekanmu itu merindukanmu! Kau haus peperangan bukan? Durasi istirahat kita hanya tinggal satu bulan! Maka perbaiki hubunganmu dengan mereka agar penyerangan berjalan dengan baik!" Jelas Syena, ia pun berdiri lalu pergi dari sana.
__ADS_1