
...Kita bersama-sama hadapi ini sampai semua berakhir, jangan pergi di tengah jalan...
...Saat semua dari kita spesial, kenapa harus takut ?...
____________
Kelam, ini sangat kelam aura hitam pekat menguar ke segala penjuru hutan ini. Hutan ini rimbun, pepohonan besar mengapit mereka bersepuluh. Inikah Silver Alaska, bahkan memijakkan kaki mereka kemari saja tubuh mereka diselimuti ketakutan. Dingin, disini dingin sekali bahkan untuk berucap pun asap keluar dari mulut kami. Tanahnya berwarna silver namun ini bukan salju, silver ini adalah abu.
Syuthhhhh
Baron putih sudah berada dalam genggaman Rey. Rey yang ceria pun ketika masuk pertama kemari, tubuhnya menggigil. Tak ada warna dalam sini, hanya ada hutan gelap, warna langit mendung, juga pepohonan yang berwarna silver.
"Apa kau pernah kemari Rey?"
Tanya Dion, mereka membentuk sebuah lingkaran. Barangkali bahaya datang mengancam, dari segala sisi mereka siap menghalaunya. Pertanyaan dari Dion sama sekali tak dijawab oleh Rey, tiap inci hutan ini Rey perhatikan. Mengapa suasannya sesunyi ini, lantas apakah yang dikatakan Axcel itu benar? Jika memang Iblis bersemayam disini, maka mereka akan mencium anyirnya darah dalam tubuh mereka.
"Apakah salah satu dari kalian, ada pemilik sihir Abjad G?"
Rey bertanya sembari netranya masih menatap jauh kedepan, ke arah gelapnya hutan.
"Ada satu orang, Perseus!" Ujar salah seorang dari rekannya.
"Apa lebih baik kita memperkenalkan diri dulu?"
Ujar Rey, namun salah satu dari mereka menggeleng seakan mengatakan itu tak perlu.
"Didalam sini cukup genting Rey, katakan apa keperluanmu dengan abjad sihirku?"
Tanyanya, ia adalah Perseus salah satu rekan Rey disini, pemegang abjad sihir G sama dengan milik Justice.
"Hahaha... oke, baiklah! Kau bisa mendatangkan hujan dari langitkan, Paman?"
Sebutan paman itu membuat Perseus geram rasanya, ingin rasanya ia mengamuk disini mengajak Rey berduel sebab tak terima dirinya disebut Paman. Namun tak ada waktu untuk memperkeruh keadaan, meskipun ini simulasi namun Iblisnya asli, banyak sesuatu yang bisa saja terjadi disini.
"Ya Rey, aku bisa! Tapi, untuk apa itu?"
Rey hanya tersenyum mendengar itu, ia mulai memusatkan petirnya pada telapak kakinya lalu berseringai pada Perseus.
"Lakukan ketika aku melesat ke atas sana Paman!"
Ujar Rey seraya menunjuk ke atas langit. Rey berancang-ancang sekarang, dalam hitungan detik bagaikan diangkat petir dari dalam tanah Rey melesat ke atas.
Dummmmmmmmm
"Lakukan!"
Perintah Dion, Perseus melalui sihirnya melompat terbang dengan cahaya biru dikakinya ia berada tepat diatas Rey saat ini.
"Grimore!"
Tesssssss
Tessssss
Merasakan rintikan hujan membasahi tubuhnya, Rey meggerakan tangannya, petir itu berpusat ditangannya, dari sini hutan Alaska terlihat jelas.
"Autrom!"
Drttttttttttttt
Drttttttttttttt
Buliran air turun sebagai rintik hujan itu jatuh, didalam air itu ada unsur petir Rey. Apabila buliran itu mengenai sesuatu, maka sesuatu itu akan tersengat petirnya. Dion memperhatikan itu, tak habis pikir rasanya. Apa yang dilakukan anak itu apa ia ingin membunuh delapan rekannya yang ada dibawah.
"Ini taktik! Hujan dan petir, ketenangan ini mencurigakan! Apa yang ia lakukan benar!"
Theo selaku pemilik sihir Abjad M mendongak ke atas, ia terpukau dengan cara berpikir Rey. Baron Putih itu, ingin musuh mendatangi mereka, mengusir ketenangan palsu ini. Membawa binasa masuk menghampiri mereka, lalu menyelesaikannya secara cepat.
"Mohetetrum!"
Syungggggggggg
Mantra pelindung milik Theo melindungi seluruh rekannya dari hujan listrik ini. Rey tersenyum melihat itu, rupanya tak perlu menjelaskan rencananya secara rinci memang.
"Hoahhhhhhhh!!!"
Suara teriakan dari depan pertahanan mereka membuat mereka bergidik ngeri. Rey dari atas sana melihat jelas makhluk itu, besar, bersayap, kira-kira ukurannya sekitar sepuluh meter. Makhluk itu muncul setelah terkena dampak hujan buatan mereka.
"Alaska!!! Ketenangan kami, makanan kami datang untuk disantap!"
Sosok itu berucap sembari berjalan mendekati mereka, suaranya besar menggema memenuhi kegelapan. Melihat itu Rey beserta Perseus turun.
"Woahhhhhh!!!"
Brukkkkkkkk
__ADS_1
Cakar-cakar itu terhempas tepat menginjak tempat mereka berdiri. Mereka yang sudah cukup terlatih menghindari itu dengan sangat cepat.
"Elluyna Ericros!"
Baxio senior tingkat empat selaku pemegang sihir Abjad E, mengeluarkan sulur-sulur cahayanya. Sulur itu melilit kaki burung elang hitam, Baxio berlari mengarah ke arah pepohonan melilitkan sulurnya disana untuk menahan pergerakan Iblis burung itu.
Rey berlari ke arah Iblis burung yang terperangkap itu, sambil membawa Baron ditangannya Rey menyalurkan kekuatannya, menyatukan itu kedalam pedangnya. Elemen petir itu membalut pedangnya, cahaya dari kilaunnya membuat para seniornya terkejut. Baru pertama kalinya mereka menyaksikan pemuda, yang ada dalam ramalan Lapu-lapu, bertarung bersama mereka disini.
"Mati kau!"
Brshhhhhhhhhhhhh
Tebasan pedang itu tepat mengenai kepala burung itu, namun apa ini, sekat lagi. Mengapa harus selalu ada sekat dalam pertempurannya, sayap kiri burung itu terangkat hendak menebas ke arah Rey.
"Gatsunmi Gelelio!"
Perseus memberi ilusi tsunaminya beserta dengan cahaya didalamnya, tujuannya untuk membutakan penglihatan burung itu.
"Elluyna Ericros!"
Syutthhhhhh
Bruakkkkkkkkk
Baxio dengan sulur cahayanya menjangkau tubuh Rey, menariknya ke arahnya melemparnya begitu saja. Tubuh Rey terhempas menabrak pohon di belakangnya, namun ia bangkit kemudian.
"Hei bocah! Kau bisa bersabar?"
Kali ini Dion murka, pasalnya cara Rey menyerang Iblis itu cukup sembrono. Rey bangkit berjalan mendekati Dion, dengan pedangnya Rey menunjuk ke arah burung itu.
"Benang kesempatan kita, terletak diantara kedua matanya! Jika seranganku tadi mengenainya, kepala burung itu pasti terhempas. Lantas kalian, bisa menusuk kedua bola matanya."
"Bola matanya?" Tanya Dion tak percaya.
"Benar, bagian paling mudah adalah matanya! Disana ada dua bukan?"
Kali ini Baxio bertanya sambil menatap Rey, anggukan kepala dari Rey membuat Baxio berseringai.
"Kalau begitu, arahkan kami Rey! Tiga petarung, dua sihir pertahanan, dua sihir Abjad E, satu sihir Abjad G ahli ilusi, dua sihir Abjad B tipe petarung jarak jauh."
Mendengar daftar abjad itu Rey menatap malas ke arah Baxio, benci rasanya ia pada manusia itu. Mengapa dalam pertarungan harus ada rentetan jadwal yang harus dihafal.
"Kau! Kau pikir kita sedang berbelanjakah! Rentetan sialan macam apa itu panjang sekali!"
Rey berteriak sembari menunjuk ke arah wajah Baxio, terkejut Baxio melotot mendengar itu. Syok rasanya melihat tangan Rey sedekat itu padanya, beraninya pemula ini menunjuk seorang senior.
"Hei, sudahlah! Kau ingin berdebat lalu mati konyol, atau bertahan sebagai seorang pemenang!"
Dion berucap seraya menangkis seluruh serangan sayap Iblis dengan Glenn yang juga tipe petarung.
Rancangan taktik yang matang itu membuat para senior Rey tercengang. Luar biasa, tipe petarung juga seorang pemikir. Mengapa rekan tim mereka yang pemula memiliki ide se-brilian ini.
Mereka mengeratkan genggaman mereka pada senjatanya, dua orang pemanah bergerak mundur, mereka bertengger diantara batang pohon. Thera berlari kesini kanan, membuat sulur cahaya, melilit kaki Iblis burung itu. Baxio juga Thera saling bertatapan, ketika panah-panah itu melesat ke arah Iblis itu keduanya serantak menarik sulur cahayanya.
Brukkkkkkkk
Burung itu terjatuh, tubuhnya semakin rendah. Benar saja, panah-panah itu tak mampu mengenai kepalanya.
"Gatsunmi Gelelio!"
Brushhhhhhhh
Perseus memanggil mantra Gatsunmi nya, mantra ilusi tsunami beserta cahaya itu ia arahkan tepat ke arah kepala Iblis itu.
Drepppppp
Drepppppp
Drepppppp
Rey berlari sekencang-kencangnya tak ingin menyia-nyiakan kesempatan emas ini.
"Yahhh Baron! Mari kita hajar burung Pipit sialan ini!"
Rey berteriak sembari melompat kebelakang burung itu, mengangkat pedangnya. Sebelum sayap burung itu menebasnya lagi, Rey lebih dulu mengayunkan pedangnya. Aliran listrik dari dalam pedangnya itu, menghempaskan kepala burung itu ketanah.
Bruakkkkkkkkk
Aliran listrik itu kuat, sangat kuat. Rey mundur ke arah pepohonan usai menebasnya, diantara batang pohon Rey melihat dua rekannya itu berlari sambil menghunuskan pedangnya. Ahli pertahanan dari atas udara melindungi pergerakan mereka. Serangan ini, berhasil.
Jlebbbbbbbbbbb
Kedua bola mata Iblis itu tertusuk pedang Dion juga Glenn.
"Aaaaaaaaaaaaa!!!"
"Woahhhhhhhhhh!!!"
Auman kesakitan membuat telinga mereka sakit rasanya. Sontak mereka menutup telinganya, sembari berkumpul disatu titik yang sama, mereka memperhatikan Iblis itu yang mulai melebur.
"Masih ada sembilan puluh sembilan Iblis lagi!"
Ujar Dion, ketika mengucapkan itu dari langit terlihat sebuah huruf dan angka. Dimana disana tertulis, membunuh Iblis besar nilainya adalah tiga puluh. Sedangkan pelenyapan Iblis kecil, nilainya adalah satu. Mereka bersorak senang usai membacanya, rasanya semangat dalam dada mereka semakin berkobar.
"Yeahhh! Mari kita cari lagi yang besar!"
__ADS_1
Rey bersorak seraya mengangkat tangannya, sembilan senior dibelakangnya itu ada yang tersenyum melihat tingkahnya. Ada pula yang menatap malas ke arahnya. Satu Iblis sebesar ini saja, sudah cukup banyak menguras tenaga, apalagi jika mereka membunuh yang besar lagi.
"Terbuat dari apa anak ini?"
Dion menggelengkan kepalanya, sembari melipat tangannya netranya memperhatikan Rey.
"Demi Piala!" Ujar Baxio sembari menghunuskan pedangnya.
"Demi Hadiah!" Tambah Theo.
Semangat mereka semakin berkobar akan kehadiran Rey bersama mereka. Bocah itu, seperti mentransfer banyak tenaga pada mereka.
"Asrama Elang Putih, pasti menang!" Teriak Rey.
Rey berlari menyusuri kegelapan dalam hutan, dibelakangnya sembilan rekannya mulai mengikutinya.
__________
Debora membuka matanya lalu tersenyum, Riley disampingnya memperhatikan Debora. Sejak tadi gadis disampingnya itu hanya terpejam, namun mengapa mendadak ketika membuka mata ia tersenyum. Apa yang lucu disini? Mikhail yang berada disamping Debora pun tau, apa yang terjadi disini. Gadis ini, ketika memeluk Rey tadi bukan hanya sekedar memeluk.
Itu sihir transfer pemikiran, dimana ketika pemilik kemampuan pembaca pergerakan membagi kekuatannya pada seseorang, selama waktu yang dirinya kehendaki. Itulah mengapa Rey, jadi secerdas itu disana.
"Membagi Sihirmu ya?"
Pertanyaan itu membuat Debora terkejut, sontak ia menatap ke arah Mikhail. Bagaimana rekannya ini tau, pasalnya ia membagi kekuatannya saat itu tanpa sepengetahuan mereka.
"Hah, Benarkah itu Debora?"
Riley disampingnya terkejut mendengar apa yang dikatakan Mikhail. Tertangkap basah rasanya, Debora pun menghela nafasnya.
"Baiklah, cukup! Ya, aku membantu Rey! Semata-mata karena..."
"Karena kau mencintainya!"
Ceplos Justice sambil menatapnya, ketiga rekannya itu menatap dirinya begitu serius. Rasanya seperti diintrogasi sungguh, Debora bersemu mendengar itu. namun kepalanya menggeleng mencoba menolak seluruh tuduhan itu.
"Bukan, bukan! Semata-mata karena dia rekanku, dan aku ingin dia selamat. Sudah!"
Setengah berteriak Debora menjelaskan itu, lalu netranya kembali lagi menatap portal itu memperhatikan Rey yang bertarung disana.
"Tapi wajahmu memerah Debora!" Ujar Riley.
"Tidak!"
"Iya!"
Mendengar seluruh penyangkalan itu, ketiga rekannya tertawa lepas.
"Tolong!"
Debora menunduk kali ini, tak kuasa rasanya menatap wajah-wajah jail rekan-rekannya.
"Iya?" Jawab mereka serentak.
"Jangan katakan apapun pada Rey, jika aku membantunya!"
Kali ini Debora berkata, memberanikan diri mengucapkan itu sambil menatap mereka. Melihat ekspresi itu, ketiga rekannya semakin tertawa dibuatnya. Namun tak lama, mereka mengangguk menyetujui apa yang Debora katakan.
_____________
Dalam kegelapan Alaska yang sesungguhnya, disini Syena sedang bertarung dalam satu area. Ini adalah latihan yang tiap hari ia kerjakan, sebelum mendapat jatah makanan Syena akan bertarung. Atau ia tidak akan mendapatkan makanan sama sekali, jika Syena kalah, Barsh akan menghukumnya. Memukul, atau menendangnya namun sama sekali tak ada perlawanan dari Syena.
Tubuh manusianya seakan sudah tersetting, sebagai seorang pelayan yang tunduk dan patuh. Barsh duduk, sambil memperhatikan Syena yang bertarung disana, kemampuan sihir anak itu semakin membaik. Dari mantranya bahkan ia mampu membunuh tujuh ratus iblis. Iblis-iblis yang digunakan disini adalah mereka yang gagal, mereka yang gagal menjalankan misi akan di taruh disini sebagai bahan latihan para petarung tangguh Tuan mereka, Iblis seratus juta jiwa.
"Hiyahhhhhhh!!!"
Syena membentuk batang meruncing melalui sihirnya lalu menusukkan batang itu berulang kali ke arah tubuh Iblis dihadapannya. Ketika Iblis melebur, Syena bersimpuh terengah-engah, ini sudah di ujung kemampuannya. Barsh bangkit dari duduknya, melempar satu daging ke arah Syena. Melihat itu, Syena meraihnya lalu memakannya.
"Kau semakin kuat! Teruslah berada di posisi itu, jika perlu kau harus lampaui itu! Syena, Baron masih belum tertangkap. Dua senjata langit, juga masih belum berada dipihak kita. Alaska ini luas, milik kita! Tapi keberadaan dua pedang itu masih belum ditemukan!"
Sembari mendengar Barsh berucap, Syena melahap makanannya dengan cepat, gadis itu kelaparan.
"Apa yang membuat Tuan kita, tidak segera menyerang Istana Harith?"
Pertanyaan itu membuat Barsh mengepalkan tangannya.
"Tinggal beberapa tahun lagi, Tuan kita akan memasuki abad keabadian! Baik kau, juga mereka para musuh, tidak akan pernah bisa membunuhnya. Era Iblis akan segera dimulai!"
Ujarnya, Syena terhenyak mendengar itu. Daging yang ia pegang itu seketika jatuh, Barsh meninggalkannya sendiri disana. Syena menyentuh dadanya, didalam sana sesak sekali rasanya namun ia tak mengerti perasaan apa itu, dan mengapa ia merasakan ini. Salah satu pertanyaan yang membuat Syena, sulit menemukan jawabannya.
...Saat kita menaruh perspektif masa depan dalam setiap tindakan kita sekarang...
...Segala sesuatu jadi nampak sangat berbeda...
____________
__ADS_1