Indigo Evolution (Silver Alaska)

Indigo Evolution (Silver Alaska)
Keberhasilan Merebut Wilayah


__ADS_3


"Kakak Riley luar biasa!"


Crashhhh


Ucap Syena di sela-sela pertempuran. Rey yang ada disana sembari melawan para iblis pun tertawa.


"Riley memang tidak ada duanya! Biarkan dia mengamuk di atas sana. Itu akan sangat menguntungkan kita disini!"


Crashhhhhh


Jutaan Iblis yang mendiami area itu punah satu persatu. Hingga pada akhirnya hanya menyisakan satu area rusak akibat peperangan.


Dengan sangat bangga Axcel menancapkan bendera Rensuar di area itu. Ini adalah area kekuasaan mereka saat ini. Mereka berhasil merebut satu wilayah.


Dalam seminggu pada akhirnya mereka berhasil merebut sekitar lima puluh persen wilayah. Daerah manusia yang tadinya tersudut sekita dua puluh persen luasnya dari bumi. Saat ini mengalami kemajuan.


Hanya membutuhkan waktu tujuh bulan bagi mereka melakukan itu. Manusia sudah tidak terlalu sesak lagi dalam wilayah sempit.


Iblis seratus juta jiwa juga masih diam tak ada pergerakan. Hal itu semakin membuat Rey semangat menuju kastil laknat tempat tinggalnya pelan-pelan.


Senja hari ini Rey berdiri dibatas benteng. Di belakangnya terlihat Debora menghampirinya. Jubah mereka berdebu akibat peperangan besar-besaran ini.


Letih memang, namun ini adalah keberhasilan besar. Debora berdiri di samping Rey, mereka bersama menatap ke arah area Silver Alaska yang semakin kecil luasnya.


"Mereka yang kurang ajar kelak akan binasa juga Debora!"


Tiba-tiba Rey berucap sambil menodongkan pedang Baron nya menunjuk ke arah Silver Alaska.


"Keberhasilan kita luar biasa! Tapi kau juga harus selalu mengingat, bahwa manusia juga mampu letih. Juga musuh kita kali ini, tidak bergerak bukan berarti tidak melawan. Kita harus sangat hati-hati!" Tutur Debora padanya.


"Kau benar!" Jawab Rey singkat.


"Kau tidak ingin kembali? Sebentar lagi perang, saatnya untuk mengisi perut." Ucap Debora padanya.


Rey menoleh ke samping menatap gadisnya itu, rupanya syal yang ia berikan masih melekat nyaman di leher itu.


"Mari pulang!" Ucap Rey.


Clashhhhh

__ADS_1


Rey memunculkan Dandelion nya. Senja ini membawa Debora pulang menggunakan Dandelion adalah hal bagus bagi Rey.


"Aku pulang sendiri saja Rey!" Ucap Debora mengurungkan niat Rey untuk menggendongnya.


Bukannya ia tak ingin, hanya saja Rensuar saat ini semakin luas. Dan siapa yang tidak akan mengenali Rey dengan Dandelion nya.


Baron putih ini begitu terkenal namanya, juga Debora pemimpin strategi terbaiknya Rensuar.


Debora hanya tidak ingin ada sorakan manusia non sihir dibawah sana yang menggodanya.


"Kau menyuruhku pulang, kau menjemput ku kemari untuk pulang bersamamu. Lalu mengapa saat ini kau menolak ajakanku?" Tanya Rey semakin mendekat ke arah Debora.


"Itu..."


"Sudahlah, lagi pula sebentar lagi gelap bukan! Aku akan membawamu dengan kecepatan piston! Kau tenang saja, tidak akan ada yang melihat kita. Aku akan menyetrum mereka yang berteriak pada kita nanti!"


Rey memotong ucapan Debora nya, lalu menggendongnya. Tak ada yang mampu Debora lakukan disini. Pada akhirnya ia pun pasrah berada dalam gendongan Rey.


Mereka berdua pun terbang kembali ke markas mereka untuk istirahat. Sebab pertempuran esok masih berlanjut.


Syena sejak tadi berada di atas benteng juga. Namun letaknya agak jauh dari Rey dan Debora. Ia sengaja disana memang untuk memakan manisannya.


Syena hanya memperhatikan itu. Ketika mereka berhenti di samping Syena, ia hanya menatapnya biasa.



"Kenapa kalian berlari?" Tanya Syena pada mereka.


"Tidak apa, aku hanya baru saja membeli minuman dari kota. Dan aku bertemu dengan kakak Mikhail tadi! Jadi dia mentraktir kita Syena!" Ucap Aum.


Ia memunculkan minumannya dari dalam domain lalu memberikannya pada Syena. Aum kemudian duduk disusul dengan Mikhail di sampingnya.


"Kau tidak kembali ke markas Syena?" Tanya Mikhail padanya.


Brukkkk


Syena menjatuhkan tubuhnya tidur terlentang dengan roti manis yang masih berada di mulutnya.


Netranya menatap ke arah langit yang mulai menggelap. Tangan kanannya terangkat seakan ingin menyentuh langit.


"Udara kebebasan semakin dekat rasanya!" Lirih Syena.

__ADS_1


Mikhail dan Aum tersenyum mendengar itu. Benar sekali apa yang Syena katakan. Kemajuan mereka dalam penguasaan wilayah ini benar-benar cepat.


"Aku sedikit mengingat mereka yang mati sebelum kita sampai kesini! Terutama kaisar!" Ucap Aum.


"Dia tidak mati, dia hanya dia serap! Aku yakin Rey pasti mampu membawanya kembali." Tambah Mikhail.


"Semuanya tergantung pada kerja sama kita! Bukan hanya pada kakak Rey saja. Dia bukanlah satu-satunya tokoh utama disini. Sebab manusia hidup di takdirkan sebagai tokoh utama itu sendiri. Kita bergantung pada kekuatan kita sendiri." Jelas Syena.


"Seseorang akan benar-benar menjadi kuat ketika ingin melindungi sesuatu yang berharga. Menurutmu, apa yang memotivasi Baron Putih Legendaris itu hingga bertindak sejauh dan sekuat ini?" Kali ini Aum bertanya.


Pertanyaan yang ia tanyakan itu tentu saja membuat Mikhail dan Syena tersenyum.


"Kakak Rey, bertindak untuk kebebasan umat manusia. Juga mungkin karena manusia itu, dia yang sempat muncul dalam ingatan kami. Aku tidak terlalu mengenalnya, namun hatiku merasa dekat sekali dengan sosok itu. Rasanya hatiku seperti menyayanginya.."


"Aku juga menyayangimu anakku.."


Suara itu lagi-lagi membuat Syena terkejut. Ketika Syena mendongak ia melihat wanita itu. Wanita dengan pakaian Biarawati.


Ucapannya terpotong rasanya Syena tak sanggup meneruskannya. Kepalanya saat ini nyaman sekali, seperti berada di pangkuan seseorang.


Dan itulah yang ia lihat saat ini. Ia tidur dipangkuan Suster Agarwa, sambil di tatapan lembut oleh susternya. Tak lupa usapan halus juga memanjakan kepalanya.


"Anda..." Lirih Syena.


Satu senyuman dari suster itu membawanya hilang begitu saja dari hadapan Syena. Melihat itu, Syena pun kembali duduk lalu menunduk.


"Kakak Rey memiliki sesuatu yang indah, yang juga mengikuti ku. Namun aku masih tak mampu mengingatnya." Ucap Syena ia mengusap air matanya.


Aum dan Mikhail saling tatap satu sama lain. Mereka sama sekali tidak mengerti apa yang Syena katakan.


Namun keduanya mendekat ke arah Syena menepuk-nepuk pelan punggungnya menenangkannya.


Beberapa menit di atas sana, pada akhirnya mereka pun memutuskan untuk kembali ke markas.


Syena masih ingat dengan jelas wajah teduh itu. Wajah yang sangat-sangat damai juga menenangkan.


Sembari terbang ia kembali menyentuh hatinya. Tiap kali mengingatnya hatinya masih menghangat. Sosok itu datang dengan penuh ketulusan dan Syena mampu merasakannya. Lambat laun akan ada masa dimana Syena mengerti itu semua.


Pada saat itulah nanti ia juga akan kehilangan kekuatannya. Adik kecil yang Rey cintai ini suatu saat nanti akan datang padanya lalu memeluknya mengatakan pada Rey bahwa ia mengingat segalanya. Hal itu akan terjadi ketika Barsh berhasil di kalahkan oleh mereka. Lalu menyusahkan Syena yang hidup sebagai manusia normal tanpa sihir.


__ADS_1


__ADS_2