
Anginnya berkibar cukup kencang. Hanya ada sekitar sepuluh orang yang berdiri tepat di atas benteng. Mereka menatap lekat ke arah Silver Alaska yang gelap suram seperti kota mati.
Rey membuka tudung kepalanya lalu ia tersenyum ini adalah sebuah senyuman yang menandakan betapa semangatnya ia pagi ini.
Di sampingnya berada Syena yang juga sedang menatap lekat ke arah Silver Alaska. Dari dalam domain Rey mengeluarkan pedang kesayangannya. Sebuah pedang bercahaya berwarna putih.
"Rey, sudahkah kau mengatur jam kesepakatanmu?" tanya Debora padanya.
Rey mengangguk netranya masih menatap ke arah Silver Alaska. Hatinya sudah sangat panas rasanya hasrat ini harus di tumpahkan.
"Aku sudah mengaturnya Debora, kau tenang saja!"
jawab Rey padanya. Debora mengangguk segera ia beralih ke arah Syena. Debora berdiri tepat di hadapan Syena, ia sedikit menunduk sambil memegang kedua bahu Syena.
"Syena, jangan terlalu memaksakan diri ya! Mundur jika memang kalian tak kuat menghadapinya,"
ucap Debora padanya, Syena juga mengangguk. Latihannya sudah cukup baginya, saatnya untuk kembali beraksi.
"Kakak tenang saja, aku pasti akan mundur!" jawab Syena.
Setelah cukup yakin keduanya sudah siap. Debora mundur kebelakang. Riley tentu saja masih duduk manis di atas Khufranya.
Justice juga sedang bersiap dengan pedangnya. Begitupun dengan Mikhail, Elvas dan yang lainnya. Debora juga mengeluarkan pedangnya.
Pedang miliknya ia angkat ke atas. Satu aba-aba darinya membuat Rey beserta Syena pergi dari sana. Kecepatan sihir mereka membawa mereka menuju ke arah Silver Alaska.
Ketika tubuh mereka mendekati area itu terlihat tentakel-tentakel itu kembali menyerang. Melihat itu Syena juga Rey memecah diri mereka menjadi sepuluh.
Seluruh kloning mereka berpasngan satu sama lain. Mereka mengarah ke tempat yang berbeda. Tiap sisi benteng iblis itu di tempati kloning mereka.
Sambil tetap menangkis mereka berdua berusaha mencari tentakel intinya. Tentakel dengan tanda merah di ujungnya persis seperti apa yang Debora katakan pada mereka. Durasi penyerangan ini berkisar selama lima menit dan jam kesepakatan sudah mereka atur satu sama lain.
"Syena, jangan terlalu berpacu pada tentakel yang sedang!" teriak Rey kepada Syena yang juga masih melawan menangkis segala serangan yang datang padanya.
Crashhhhhh
"Masalahnya, aku tidak menemukan keberadaan tentakel-tentakel besar. Semuanya sama!" Jawab Syena.
Pedang mereka masih saling menangkis tiap serangan yang datang. Di sela-sela tangkisan itu tubuh utama Syena mulai mengeluarkan satu sihir pamungkasnya.
__ADS_1
Tangannya bergerak menguras mana dari dalam domain. Mana-mana itu kini menjadi dahan meruncing berjuta-juta adanya di balik tubuhnya.
Netranya mengarah tepat ke arah bawah tepat ke arah tanah. Rey juga melakukan hal yang sama. Namun Rey melakukannya bersamaan dengan seluruh kloningnya.
Jutaan pedang dalam domain hasil tempaan para Lapu-lapu di keluarkan. Pedang itu diliputi petir dan cahaya.
"Jurus pedang semesta!" teriak Rey mengarahkan seluruh serangannya ke arah bawah.
Begitupun juga dengan Syena. Seluruh kekuatan mereka mengarah ke arah bawah. Dari atas benteng baik Elvas juga Debora dibuat takjub akan kekuatan mereka.
Mana milik kedua saudara itu benar-benar kuat luar biasa. Elvas tertunduk ia sedikit iri disini. Elvas mengepalkan tangannya kuat lalu netranya kembali mengarah ke arah Rey dan Syena disana. Dua manusia yang sedang bertaruh nyawa berjuang.
Crashhhhhhhh
Clashhhhhhhh
"Syena!!!" teriak Rey ke arah Syena.
Ketika kekuatan mereka menabrak tanah dimana di dalam area itu terletak banyak sekali tentakel. Bersamaan dengan itu serangan tentakel terhenti. Serangan dari bawah hilang secepat kilat.
Namun serangan itu muncul pada satu titik tepat di wilayah Silver Alaska. Tentakel itu muncul keluar ke atas membentuk sebuah kukungan layaknya penjara.
Ketika hal itu terjadi Rey dan Syena menarik kembali kesepuluh Kloningnya. Mereka menjadi satu dalam tubuh mereka.
"Sial!" ucap Rey geram, berbeda dengan Syena yang masih tetap tenang sambil memperhatikan seluruh tentakel yang berusaha menutup jalan keluar mereka.
Di tengah situasi yang mencekam itu, sebuah suara mulai datang menggema menyerukan,
"Bagaimana Rey? Apakah kau mampu keluar dari dalam sini? Memang kalian berdua disini tidak akan mampu mati jika terkena tentakel ini. Aku yakin, seluruh rekanmu akan datang menolong dirimu. Maka, akan ku biarkan kau berada di dalam area ku selama mungkin!"
gema suara itu adalah milik Iblis seratus juta jiwa. Rey sangat mengenali suara itu. Amarah Syena mulai tersulut disini. Trisula sakral itu kembali di keluarkan. Syena menggenggamnya kuat, ketika ia hendak melawan Rey menahan pergelangan tangannya.
"Syena, jangan gegabah! Jika kita disini terus melawan maka kita akan kehabisan mana. Ketika penyihir kehabisan mana miliknya maka itu adalah hal yang sangat fatal. Kita seperti tidak memiliki senjata untuk melawannya, ibaratnya seperti itu!" jelas Rey padanya.
Namun disana Syena berseringai ia menjauhkan jari jemari Rey yang mencegahnya lalu berbalik lagi memperhatikan kukungan iblis yang sedang menjebaknya.
"Sedikit sial memang kita berada dalam situasi ini, kakak! tapi,"
Clashhhhhhh
__ADS_1
Syena melemparkan trisula miliknya ke arah tentakel itu. Ketika senjata miliknya tertancap disana sihirnya memudar lalu menghilangkan senjatanya. Hal itu membuat Syena tersenyum miring.
"Kemarin waktu kakak Debora menancapkan pedangnya. Pedangnya hanya di lempar namun tidak melebur. Yang artinya di dalam area ini kita memang tidak akan terbunuh, tetapi kita akan lemas lalu kalah jika bersentuhan dengannya. Sebab kubah gila ini menyerap mana!"
jelas Syena pada Rey netranya masih memperhatikan segala hal yang terjadi disana.
"Berdiam diri pun tidak akan mampu menghentikan ini kakak! Aku yakin, tubuh utamanya berada dalam kastil hitam. Biasanya dia akan bersemayam disana, ada kemungkinan dia mengendalikan ini dari sana!"
jelas Syena lagi pada Rey. Rey mengangguk sejenak ia menghela nafas. Kali ini ia mengeluarkan pedang Baron Emasnya tak lupa dengan Dandelion miliknya.
"Namun, jika kita menyerang ke arah kastil! Maka mungkin kita akan bertemu dengan beberapa para generasi yang masih hidup termasuk Barsh!"
jelas Rey, Syena mengerti itu. Bertemu Barsh adalah pantangannya, jika mereka berdua bertemu maka sudah di pastikan Syena pasti akan terambil alih lagi olehnya.
Sebab iblis kutukan masih berada dalam mata kirinya. Mungkin Syena berhasil mengusir iblis itu dari dalam domain Baron Cahaya dalam tubuhnya. Sehingga iblis itu tak mampu mengontrol kekuatan Syena.
Namun ketika dirinya bertemu lagi dengan Barsh. Hal itu masih tetap akan terjadi. Syena pasti akan di kendalikan lagi. Situasi yang cukup sulit bagi Arlert bersaudara ini.
Jika diam, maka tidak akan ada yang berubah disini. Sementara di atas benteng baik Riley beserta seluruh rekannya mereka terdiam terpaku menatap kejadian itu.
Debora berusaha menenangkan hatinya saat ini. Ia mencoba fokus kembali pada apa yang ada di hadapan matanya. Kukungan itu besar dan Rey berada di dalamnya.
"Debora, beri kami perintah!" ucap Justice kepada Debora.
"Sebentar, biarkan dia membaca situasinya dulu!" ucap Elvas kepada Justice.
"Sial cumi!" gerutu Riley ia mulai mengendalikan Khufra nya.
"Tunggu Riley!" ucap Debora pada Riley ketika Riley memilih pergi meninggalkan mereka.
"Bagaimana?" tanya Riley lagi pada Debora.
Sambil masih memandangi tentakel hitam itu Debora mengarahkan pedangnya ke arah tentakel itu.
"Kita akan berpencar dengan tim beranggotakan dua orang. Serang tentakel itu, sebelum itu.."
Debora mendekati Riley, Justice dan Mikhail. Di sana Debora meraih tangan mereka menyatukannya dengan tangannya. Tak lama sebuah cahaya muncul di atas tangan mereka.
"Apa yang aku pikirkan akan terhubung secara langsung kepada kalian. Dengan ini aku mampu melihat situasi kalian juga! Maka lakukan apa yang sudah ku-susun nanti!"
__ADS_1
Seluruh rekannya mengangguk mendengar itu. Tim yang berjumlah delapan orang itu pergi berpencar menjadi empat bagian. Mereka berpencar menuju ke arah Silver Alaska.
Dalam pertempuran ini ada banyak konspirasi yang harus Debora pecahkan. Ini adalah tantangan buatnya.