
Kunjungan ke desa menemui neneknya adalah rutinitas tiap Minggu. Saat itu, beberapa wilayah di area barat sudah kejatuhan dua asteroid.
Debora sedang duduk manis di jok mobil bagian belakang. Netranya menatap ke arah jendela, memperhatikan salju yang masih turun.
Debora bersama ayahnya sedang dalam perjalanan pulang ke rumah mereka. Sudah sekitar dua hari Debora di tinggal di sana untuk menginap.
"Saljunya masih turun, Daddy!" ucap Debora kepada Daddynya.
"Ya, anakku salju masih turun! Apakah kau ingin membungkus makanan di sini? Kita bisa berhenti di toko roti atau semacamnya jika kau ingin?" ucap Daddynya kepada Debora.
Pria paruh baya itu memperhatikan anak perempuannya dari kaca spion di atasnya.
"Aku ingin, roti manis!" jawab Debora kepada Daddynya.
Anak itu mengutarakan keinginannya. Mendengar itu Daddy pun tersenyum lalu mengangguk.
Jalanan pedesaan di musim dingin cukup sepi. Jarak antara rumah ke rumah juga cukup jauh, hingga dari kejauhan di antara salju yang masih turun. Daddy nya melihat sebuah toko, rupanya itu adalah sebuah toko roti.
Sungguh bahagia sekali rasanya ketika melihat itu. Mobilnya mulai dikemudikan ke arah halaman toko itu, dan dihentikan di sana.
Di halaman itu hanya ada beberapa mobil dan motor. Ketika mereka keluar dari sana, mereka pun segera masuk ke dalam.
"Selamat datang, Tuan! Apakah anda ingin memesan sesuatu?" tanya seorang pelayan kepada Debora dan Daddynya yang baru saja masuk ke dalam.
Pelayan itu berdiri tepat di depan kasir. Setelah menyambut kedatangan mereka, netranya teralih kepada Debora yang cukup cantik menurutnya.
"Apakah kau ingin memesan, adik kecil?" tanyanya kepada Debora.
Etalase yang penuh dengan aneka ragam roti menarik perhatian Debora. Gadis itu mendekat ke arah etalase. Lantas netranya berbinar di sana. Begitu banyak ragam roti manis di dalam sana, memukau hasrat seorang gadis remaja.
"Wah, banyak sekali ini!" ucap Debora gembira, netranya tak henti-hentinya memandangi itu.
__ADS_1
Daddynya memperhatikan anak gadisnya itu. Melihatnya begitu sedang adalah kebahagian untuknya. Lantas ia tak mampu menahan tangannya terulur membelai lembut puncak kepala Debora.
Usapan lembut itu membuat Debora mengalihkan netranya tepat ke arah Daddynya.
"Daddy, aku mau ini! Lalu yang ini, untuk kakak di rumah!" ucap Debora kepada Daddynya.
Debora mengucapkan itu sambil menunjuk-nunjuk ke arah kue yang ia inginkan.
"Anak yang manis rupanya!" ucap pegawai itu lagi kepada Debora, pegawai itu tersenyum ia begitu senang melihat keberadaan Debora dan tingkahnya.
"Tolong ya!" ucap Daddynya kepada pegawai.
"Tentu saja Tuan, silahkan duduk terlebih dahulu! Kami akan menyiapkan pesanan anda!" ucap pegawai itu mempersilahkan mereka untuk duduk.
Mendengar itu, keduanya pun duduk di meja yang masih kosong. Banyak meja kosong di sini. Pengunjungnya juga tak banyak.
Suara siaran televisi menyita perhatian Debora. Televisi itu diletakkan di atas dinding penyanggah bangunan.
Berita di sana menjelaskan perihal kemunculan beberapa asteroid yang jatuh. Penyiar mengatakan bahwa ada sekitar tiga asteroid sudah jatuh di bumi. Bentuk mereka semua sama, ada keanehan yang terjadi ketika asteroid itu datang. Banyak manusia hilang saat malam menjelang.
Tepat di samping mereka ada sekitar tiga orang pengunjung. Debora melirik sekilas ke arah pengunjung itu, diam-diam ia mulai mencuri dengar pembahasan mereka.
"Benar, bahkan tak jauh dari sini ada tiga desa yang sudah terkena dampaknya. Beberapa manusia mulai hilang, dan darah-darah mulai berceceran di jalanan." ujarnya lagi.
"Tapi aku mengambil bagian dari asteroid yang jatuh itu, lihatlah!" ucap salah seorang pengunjung dari dalam koper ia mulai mengeluarkan sesuatu yang tertutup oleh kain.
Entah mengapa ketika benda itu dikeluarkan Debora merasa sangat pusing. Ketika pengunjung pembawa benda itu mulai membuka kainnya, ada sesuatu yang keluar dari sana.
Bersamaan dengan itu Debora pun mengalihkan netranya ke arah kain itu. Suar itu melesat secara cepat ke arahnya. Hal itu pun membuat Debora pingsan seketika.
"Hah, anakku!" pekik Daddynya tak karuan ketika melihat Debora jatuh pingsan.
__ADS_1
Surai pirangnya itu perlahan mulai memutih bak uban orang tua. Daddynya berteriak-teriak berusaha mencari pertolongan, beberapa pengunjung di sana mulai membantu mereka.
Debora dibopong masuk ke dalam mobil. Lalu Daddynya pun membawanya pergi dari sana. Tujuannya adalah rumah sakit.
Setibanya di rumah sakit ketika diperiksa. Dokter sama sekali tak menemukan adanya penyakit ataupun gangguan dalam tubuh Debora.
Saat itu Debora pingsan mengalami koma sekitar satu bulan. Setelah ia terbangun dari tidur panjangnya, ia hanya duduk diam dalam kamar rawatnya.
Disana ia seorang diri tak ada siapapun. Tepat pukul tengah malam, lampu rumah sakit mulai meredup.
Di antara keremangan kamar itu, perlahan Debora memekik memegang kepalanya. Masih sangat pusing, masih sangat sakit.
Namun tiba-tiba sesuatu seperti menyuruhnya untuk membuka telapak tangannya, mengarahkannya tepat ke depan.
Debora hanya diam, ia tak ingin menuruti suara-suara yang muncul dalam kepalanya. Lantas Debora pun menoleh ke samping, ia membulatkan kedua matanya mendapati surainya tak lagi pirang seperti biasanya.
Dalam hatinya ia mulai bertanya-tanya. Sebenarnya apa yang terjadi padanya sampai ia harus dilarikan ke rumah sakit? Apa yang membuatnya berakhir di sini?
Debora pun mencoba mengingatnya sekalipun ingatan itu hanya samar-samar mengitari kepalanya. Ingatan itu perlahan mulai ia ingat kembali.
Sebelum ia kehilangan kesadarannya ia lihat suar itu datang ke arahnya. Lalu, seluruhnya gelap.
"Sebenarnya itu apa? Dan mengapa saat itu mengenaiku, segalanya menjadi gelap." lirih Debora menunduk mencekam selimutnya.
Debora memejamkan kedua matanya. Pusingnya masih sama rasanya, menusuk. Tak ingin memperburuk keadannya, Debora pun memilih untuk terlelap kembali.
Beberapa jam ketika matahari kembali terbit, Daddynya pun datang. Melihat putrinya yang sudah sadar ia terlihat sangat bahagia. Sehari setelah itu Debora pun di perbolehkan untuk pulang.
Suar itu adalah sedikit partikel Baron putih. Namun hanya sedikit yang ada dalam diri Debora. Lebih sedikit dari milik Syena. Inilah penyebab mengapa ia tak sadar bahwa ia memiliki kemampuan Baron.
Kemampuan itu hanya akan aktif ketika, Debora berada dalam situasi sulit. Tidak ada penguasaan yang mampu ia kuasai atas kekuatan Baron. Kekuatan itu mutlak muncul hanya secara refleks.
__ADS_1
Partikel itulah yang juga merubah Surai Debora menjadi putih seperti halnya milik Rey. Beruntung sekali rasanya kekuatan Baron aktif tepat pada waktunya.
Jika itu tidak terjadi, mungkin saat ini Rey bersama dengan seluruh rekannya tidak akan mampu selamat. Sebab apabila pedang dalam tubuh Rey diambil alih oleh para Iblis, itu akan menjadi akhir dari kehidupan manusia.