
Malam yang ditunggu pun tiba. Saat ini baik Debora dan Rey sudah siap dengan pakaian adat Jepang. Memang mereka tidak sedang berada di Jepang saat ini. Bumi sudah kembali normal dan mereka sama-sama berada di area Barat.
Kuil hanya akan ditemukan jauh dari kota letaknya. Hanya ada satu kuil di sini. Dan letaknya jauh dari perkotaan. Namun tak apa bagi mereka rasanya untuk datang ke sana.
Debora memperhatikan dirinya sejenak di depan kaca rias. Pantulan dirinya terbalut kimono berwarna pink yang pernah Rey berikan untuknya dulu masih menawan ia kenakan.
Debora merapikan sedikit surainya yang ia kuncir ke samping. Entah kenapa, ia teringat pada surainya yang putih dulu. Hal itu membuatnya tersenyum tatkala dia mengingat lagi panggilan kesayangan yang Rey berikan padanya.
Kucing putih, tiap kali nama itu Rey sebutkan selalu saja ada kesan bahagia melekat nyaman dalam hatinya. Hanya kalimat yang dikumandangkan, tetapi rasanya itu seperti menumbuhkan jutaan bunga di dalam hatinya. Luar biasa, membahagiakan.
Tokkkkk
Tokkkkk
Tokkkkk
Suara ketukan pintu membuat Debora mengalihkan pandangannya dari arah cermin. Ia tau siapakah yang datang mengetuk pintu dan berdiri di depan sana.
"Sepertinya sudah cukup penampilanku malam ini!" ucap Debora menatap cermin sekilas lalu bergegas menghampiri pintu.
Ketika Debora membukanya, rupanya tebakannya benar. Itu adalah Rey dengan setelan pakaian adat Jepang.
"Wah kau cantik sekali!" puji Rey padanya.
Debora hanya tersenyum menanggapi itu. Ia mengangguk kemudian.
"Kau juga sama, kau tampan!" puji Debora bergantian pada Rey.
Rey tersenyum mendengar pujian itu. Tangannya ia ulurkan mencoba menyambut Debora. Debora yang paham menerima uluran tangan itu. Mereka pun pergi menuruni anak tangga, menuju garasi dan menaiki mobil.
Sebab ingatan Rey masih belum sepenuhnya pulih dan dia juga tidak terlalu menghafal daerah ini. Maka malam ini sopirnya adalah Debora.
Perlu waktu satu jam untuk menuju Kuil itu. Sepanjang perjalanan hanya musik dari radio saja yang menemani mereka. Sebab semilir angin dari kaca yang dibuka membuat Rey tertidur.
__ADS_1
"Dasar mata kucing!" ucap Debora sambil terkekeh.
Rupanya kebiasaan Rey masih belum berubah. Pemuda itu masih sangat senang tidur.
Jalanan keluar dari area kota cukup sepi. Hanya ada beberapa mobil yang berlalu lalang. Tidak banyak dan tidak sepadat kota.
Tibalah mereka di depan kuil setelah satu jam. Ketika mesin mobil berhenti tepat di area tujuan, Rey pun membuka kedua matanya. Ia mengucek pelan kedua matanya lalu menatap ke samping ke arah Kuil.
Banyak orang yang datang ke tempat itu rupanya. Mereka datang berpasangan. Para lelaki menggendong wanitanya menaiki tangga menuju atas kuil.
"Kita sudah sampai, Rey!" ucap Debora padanya.
Rey mengangguk ia pun segera turun dari mobilnya bersama dengan Debora. Mereka berjalan beriringan masuk ke arah kuil.
Baru beberapa anak tangga mereka lewati. Debora diam sebentar, ia lelah rasanya. Rey berhenti memperhatikan Debora yang tertinggal sepuluh tangga dari tempatnya berdiri.
Terlihat di sana Debora mulai terengah-engah memaksa untuk tetap melangkah. Rey yang iba pun datang menghampirinya lalu berdiri tepat di hadapannya.
Ketika Debora menaiki anak tangga lagi, membuat tubuhnya saat ini sejajar dengan Rey. Rey langsung menggendongnya ala bridal Style. Debora terkejut melihat itu.
Entah kalimat darimana itu dagangannya? Manis sekali rasanya. Debora tersenyum sambil memandangi wajah Rey yang gigih tetap melangkah ke atas kuil.
Jika dahulu mereka memiliki kemampuan super. Sekarang tidak, sekarang yang tersisa adalah tenaga murni seorang manusia.
Peluh membanjiri wajahnya, sesekali peluh itu menetes pada Debora. Melihat itu Debora mengeluarkan sesuatu dari dalam sakunya. Sebuah sapu tangan berwarna putih.
Perlahan peluh sebiji jagung itu mulai ia seka. Rey terdiam menatap Debora kali ini. Pandangan mereka bertemu, membuat Debora mengalihkan netranya ke arah lain.
"Kenapa kau berpaling?" tanya Rey padanya sambil masih berjalan.
"Aku hanya ingin melihat ke arah lain saja!" jawab Debora pada Rey. Hal itu membuat Rey terkekeh.
"Sentuhan lembut, dan aku menyukainya! Debora, akan perih jika peluhku mengenai matamu. Jadi, tetap sekalah! Aku akan terus berjalan sampai ke atas sana! Kau ingin melihat lampion bukan? Maka aku akan membawamu kesana untuk melihatnya!" ucap Rey padanya.
__ADS_1
Debora hanya tersenyum lalu mengangguk. Sembari Rey tetap melangkah maju, Debora juga sesekali menyeka peluhnya.
Sekitar setengah jam Rey berjalan menuju di atas kastil. Setibanya di sana Rey pun menurunkan Debora lalu mengatur nafasnya.
Di sana terlihat Riley dan Justice sudah ada di hadapan mereka. Debora yang melihat itupun segera menarik tangan Rey untuk ikut bersamanya. Mereka menghampiri Debora sekarang.
"Debora? Kau baru saja sampai? Lama sekali!" ucap Riley, keduanya saling memeluk satu sama lain.
"Iya, tadi sedikit macet!" jawab Debora padanya.
"Baiklah, sudah saatnya berdoa! Mari kita merapat!" ujar Riley.
Debora mengangguk mendengar itu. Riley menarik tangan Debora untuk mengikutinya. Baik Justice dan Rey yang masih lelah hanya mampu saling menatap. Hari ini mereka menjadi ojek para gadisnya.
"Kau masih hidup Rey?" tanya Justice padanya dengan nada lelahnya.
Rey yang sudah tak mampu berkata-kata lagi hanya mengangguk. Hari ini dia seperti dihajar saja rasanya. Justice mengangguk melihat itu lalu merangkul Rey.
"Jika acara ini diselenggarakan tiap hari, mungkin kita akan mati!" ucap Justice pada Rey.
"Kau benar!" jawab Rey.
Kemudian mereka berdua saling tertawa satu sama lain. Setelah melontarkan beberapa lelucon mereka berdua pun datang menghampiri pada gadisnya. Debora dan Riley saat ini duduk di bangku panjang. Mereka memejamkan kedua mata mereka sambil mengatupkan kedua tangan mereka.
Mereka sedang berdoa. Lantunan doa ala Jepang itu bahkan Justice dan Rey sama sekali tidak memahaminya. Namun karena mereka tidak ingin berprotes. Pada akhirnya mereka pun ikut memejamkan kedua matanya, mengatupkan tangan dan berdoa.
Setelah acara doa itu usai, mereka memulai beberapa ritual. Ada beberapa acara hiburan juga di sana. Setelah seluruh rangkaian acara selesai barulah acara pelepasan lampion.
Satu lampion untuk satu pasangan. Debora dan Rey sama-sama terpejam. Ada doa yang mereka panjatkan malam ini.
'Aku ingin dia dan ingatannya kembali pulih! Tuhan, aku merindukan Rey milikku. Maka, tolong kembalikan dia padaku! Aku mencintainya!' ucap Debora dalam batinnya.
'Aku selalu bahagia tiap kali bersamanya! Debora, seperti memiliki ikatan kuat denganku. Tuhan, jika dia memang orang berharga di masa lalu buatku. Maka aku ingin sekali mengingat segala hal tentangnya. Aku menyayanginya!' ucap Rey dalam hatinya.
__ADS_1
Dia itu diucapkan dengan penuh harap. Mereka berharap sesuatu yang sama. Namun ketika lampion dilepas, tidak ada yang terjadi di sana. Hanya langit indah dihiasi lampion. Tidak ada keajaiban atas Rey yang ingatannya kembali. Semuanya masih netral.
Entah sampai kapan Rey akan seperti ini. Debora dan rekannya hanya mampu berdoa. Semoga seluruh ingatan Rey kembali dengan cepat.