
Malam panjang pun tiba. Saat ini Re sedang berdiri di lantai lima bersama jubah putihnya. Seluruh rekannya sudah terlelap hanya dirinya saja yang masih terjaga.
Ada alasan mengapa dirinya bangun saat ini. Sebab ia tak ingin seluruh rekannya tau kemanakah ia akan pergi.
Dari atas sana Rey pun melompat kebawah. Mengendap-endap membuka gerbang markas mereka. Ketika ia membukanya ia di kejutkan oleh keberadaan Syena yang baru saja pulang.
"Kakak?"
"Sttttttt..."
Rey menempatkan jari telunjuknya di bibirnya mencoba menyuruh Syena untuk diam.
"Kau akan kemana?" Tanya Syena pelan.
"Aku ada perlu sebentar, apakah kau ingin ikut?" Tanya Rey padanya.
"Kemana itu?"
"Kemanapun untuk melepas penat juga melampiaskan kekesalanku."
Jawabnya, merasa tertarik Syena pun mengangguk.
"Baiklah aku akan ikut!" Jawab Syena.
Kedua adik kakak itu malam ini pergi tanpa ada satu pun di antara rekannya yang tau.
Sebenarnya tujuan Rey saat ini adalah kastil sihir. Ia ingin mencari tau sesuatu di dalam perpustakaannya.
Rensuar memang baru saja di serang. Namun perlu kalian ketahui, perbaikan dengan sihir akan sangat cepat.
Rensuar yang luas ini yang tadinya penuh dengan pecahan bebatuan besar. Dalam waktu setengah jam sudah kembali pulih.
Mereka melewati belantara sebelum sampai ke kastil sihir. Malam seperti biasa seluruh tumbuhan disini seluruhnya bercahaya.
Ini akan otomatis muncul setiap malam dan redup ketika pagi menjelang. Suara burung hantu menggema mengiringi langkah mereka.
"Sebenarnya, ilegal tidak jika kita mengunjungi Rensuar saat malam?" Tanya Syena di tengah perjalanan mereka.
__ADS_1
Kedua matanya sesekali memperhatikan burung hantu juga beberapa tumbuhan yang menyala.
Kunang-kunang di atas mereka semakin menambah nuansa indah malam ini. Belum lagi pijakan rumput yang terinjak akan bercahaya.
"Sebenarnya iya, tapi Mikhail tiap malam jika ramuan di dalam markas kurang ia akan kemari. Tak ada hukuman untuknya!" Jelas Rey sambil mengingat kembali tentang salah satu rekannya.
"Begitu ya! Kakak Mikha itu baik sekali padaku. Tiap kali dia mengajakku berbelanja di kota, dia selalu menanyai apa yang ku inginkan!"
Rey kembali mengingat perihal perkataan Justice. Ketika Syena menjelaskan itu terlihat raut wajah bahagia disana. Dalam hatinya ia bertanya-tanya. Apakah Syena juga mulai menyukai Mikhail?
"Kau suka padanya?" Tanya Rey.
Hal itu membuat Syena terkejut. Namun ia menyentuh dadanya. Tersenyum tipis lalu menggeleng pelan.
"Memangnya rasa suka terhadap seseorang itu rasanya bagaimana?"
"Hahahaha..."
Dalam domain ketiga Baron tertawa saat mendengarnya. Sungguh Syena benar-benar sangat polos.
"Berhenti menertawakan adikku!"
Rey mencoba memperingati mereka di dalam domain.
"Hei Rey, kenapa kau tidak katakan saja bagaimana rasanya? Bagaimana rasanya ketika bermain lidah satu sama lain?" Ucap Dandelion tiba-tiba muncul.
Ketiga Baron mendengar ucapan Dandelion seketika diam. Humor mereka mendadak hilang ketika Dandelion berucap.
"Kenapa kalian diam?" Tanya Dandelion.
"Kau brutal!!!" Pekik mereka bersamaan.
"Ahh sudahlah... Lagi pula dia juga sudah cukup umur!"
Syuthhhhh
Sambil melambaikan tangannya Dandelion pun menghilang. Pada akhirnya Rey terfokus lagi pada pertanyaan Syena.
"Rasa suka itu rasanya... Jika kau mengingatnya kau akan senang. Dan jika dia tak ada kau akan merindukannya. Jika bersamanya, kau akan sangat nyaman. Dan jika dia bersama orang lain selain dirimu berdua, kau akan iri. Kurang lebih seperti itu Syena!"
Jelas Rey menjelaskan dengan hati-hati. Disana Syena sedikit berpikir.
__ADS_1
"Sepertinya begitu!" Jawab Syena jujur.
Hal itu membuat Rey bahagia sekali rasanya. Syena rupanya menyimpan perasaan yang serupa dengan Mikhail. Artinya perasaan mereka terbalas satu sama lain.
Lama berjalan akhirnya mereka sampai tepat di depan Kastil. Sejenak Rey memandangi kastil sihir. Lalu Rey menggenggam tangan Syena menuntunnya ikut masuk bersamanya.
"Kakak, ada keperluan apa kita kemari?" Tanya Syena padanya.
"Meditasi!" Jawab Rey singkat.
"Ahhh.. mana milikmu terkuras banyak ya?" Tanya Syena padanya.
"Iya, dan kita harus meditasi untuk mendapatkannya." Jawab Rey.
"Memangnya tempat yang paling bagus melakukan itu dimana?"
"Di atas atap! Sebab energi alam dan yang lainnya akan terserap cukup murni masuk ke dalam tubuh kita."
"Baiklah aku akan ikut!"
Mereka berdua berjalan ke arah menara tertinggi Rensuar. Disana ada satu tempat terbuka yang cukup luas. Jarang ada Muskeeters yang datang kesana.
Pertama kali Rey tau tempat itu. Itu adalah tempat paling menenangkan baginya. Tempat yang paling sempurna untuk menenangkan diri.
Sesampainya disana mereka berdua duduk bersila. Tubuh mereka pun melayang, kedua mata mereka terpejam. Meditasi pengumpulan mana pun di mulai.
"Paman Axcel..." Lirih Rey mencoba memanggil Axcel dengan kemampuan Baron Putihnya.
Jauh dari dalam kastil putih di depan benteng. Axcel yang masih terjaga mendengar itu.
Dari sana Rey mulai menjelaskan sesuatu pada Axcel. Tentang satu hal yang membuat Axcel kagum padanya.
Sebuah rencana besar perihal penyerangan terhadap Silver Alaska. Dari sana Axcel juga menyaksikan satu tragedi kelam yang yang akan menghancurkan juga menyelesaikan seluruh masalah di bumi ini.
Rupanya gambaran itu berasal dari campur tangan Sang Penguasa. Tanpa Rey ketahui, Sang Penguasa menyusupkan gambaran akhir perjuangan mereka.
Kebebasan akan tercapai. Tetapi akan ada hal besar yang hilang di akhir nantinya.
Gambaran itu juga sampai pada Noella. Tak hanya itu gambaran itu sampai pada Debora dalam tidurnya.
Didalam mimpi itu ia menyaksikan hal mengerikan. Sembari terpejam ia menangis. Mereka yang menyaksikan itu menangis.
__ADS_1
.____________