
...Setiap bunga adalah jiwa yang mekar di alam...
...Keluarga adalah salah satu mahakarya alam...
__________
.
.
Rombongan kereta kencana datang dari langit, rombongan itu datang diiringi angin, berlomba-lomba menuju ke Asrama mereka. Kusir kecil didepannya adalah seorang Lapu-lapu, mereka sebagai seorang kusir mengendalikan seekor unicorn berwarna putih yang berada tepat didepan mereka.
Kaki-kaki mereka berlari diudara menciptakan cahaya keemasan. Rey menatap kagum ke arah langit begitupun dengan seluruh penghuni Asrama Elang Putih, memang sudah ada jadwal juga jamnya bagi mereka untuk keluar dari markas. Unicorn itu diatur langsung oleh Harith untuk menjemput para ksatrianya yang pemberani. Tepat ketika kencana itu berhenti dihadapan markas mereka, Lapu-lapu itu turun mereka melayang tepat dihadapan mereka memberi hormat. Tak lama kedua tangan mereka bergerak, merapal sebuah mantra selubung cahaya berwarna hijau itu mengiringi ayunan tangan mereka beserta rapalan mantra mereka.
Clingggggggggggg
Secercah cahaya keluar dari dalam gas mantra milik Lapu-lapu cahaya itu bagaikan hologram, membentuk wajah Harith yang tersenyum ke arah mereka.
"Hallo, Para Ksatria ku! Selamat malam, Aku mengirim rombongan Unicorn beserta kereta sebagai tumpangan kalian. Ini resmi dariku, untuk mengantar kalian tepat di aula besar Rensuar. Selamat menikmati perjalanan, sampai bertemu disana. Lagi, jangan lupa untuk mendaftarkan sepuluh manusia terbaik dalam asrama kalian, letakan tangan kalian diatas cawan suci api emas untuk mendaftar. Api akan menyeleksi, apakah kalian pantas melanjutkan lomba atau tidak. Terima kasih, selamat berjuang! Tiga divisi akan dipertemukan dalam satu ajang lomba untuk pertama kalinya, kuharap ketentraman kalian selama lomba selalu terjaga. Dari diriku juga Axcel, selamat menikmati perjalanan!"
Blushhhhhhh
Pesan hologram itu lenyap begitu saja menjadi asap tatkala apa yang diucapkan Harith berakhir. Rey dan Justice saling bertatapan, semangat mereka semakin membara rasanya segera mereka masuk kedalam kereta diikuti dengan tiga orang rekannya.
Kereta-kereta kencana itu mulai melayang, dari atas sana Rensuar yang cukup jauh itu terlihat jelas. Lihatlah malam ini tempat mereka belajar sihir itu terlihat indah, dengan hiasan warna cahaya emas disekelilingnya.
Diatasnya entah berapa juta lampion yang ditebarkan untuk menghiasi langit-langitnya. Seperti halnya lilin-lilin yang sering dilayangkan saat pelajaran sejarah, lampion dilayangkan tak diizinkan terbang menjauh dari atas Rensuar juga cukup indah. Beberapa peri kecil bertebangan mengiringi kereta mereka, dalam buku sejarah sihir para peri kecil itu nantinya akan berubah menjadi Elf sama seperti Noella.
Asrama para Ksatria dan Rensuar tempat mereka belajar letaknya memang tak terlalu jauh. Mereka tetap satu kesatuan hanya saja Harith memang membangunnya begitu, memisahkan mereka dengan jembatan dan hutan. Sudah lima belas menit mereka terbang kali ini laju kereta mereka menukik kebawah, sebuah tanda bahwa kereta akan melakukan pendaratan, benar saja beberapa detik kemudian tibalah mereka tepat didepan jembatan masuk Rensuar.
Rey juga keempat rekannya dibuat takjub sekali, jembatan bebatuan yang biasanya sering mereka lewati sekejap berubah rimbun namun tak menyeramkan. Belukar yang berada di sisi-sisinya mengeluarkan macam-macam warna cahaya, netra mereka serasa dimanjakan sekali.
Sementara mereka masih fokus dengan apa yang ada dihadapannya. Beberapa Khufra dari dalam hutan melayang, ada pengendara diatas Khufra-Khufra itu, mereka melayang menghiasi langit-langit dengan kembang api, kembang api yang dihasilkan dari sihir-sihir mereka. Kembang api ragam warna itu memercik menghiasi langit, membentuk beberapa kalimat bertuliskan Selamat datang, murid tahun pertama, beserta senior Musketeers lainnya. Selamat menikmati perayaan kami, mari bersenang-senang dan manjakan diri kalian.
Senyum mereka merekah takjub, tak henti-hentinya hal-hal luar biasa itu terjadi dihadapan mereka. Dalam kehancuran juga ada keindahan rupanya, Tuhan tidak mengizinkan manusianya selalu sakit dan menderita. Memang seberapa sakit alur takdir menghajar dirimu kau harus tetap melangkah selagi bernafas.
Tak berhenti disana kejutan ketiga datang lagi tatkala para penunggang Khufra berjajar rapi di atas sana. Debora melihat memperhatikan itu, ada sekitar lima puluh penunggang diatas sana mereka memakai seragam Elang Putih yang artinya para Musketeers ini adalah senior mereka, melihat dari lencana mereka, Musketeers ini adalah tingkat empat. Tak lama setelah mereka berjajar ribuan kunang-kunang datang turun dari langit menghampiri mereka. Sebelum turun memenuhi jembatan mengiringi para Ksatria masuk kunang-kunang itu membentuk beberapa huruf bertuliskan Silahkan Masuk.
Melihat itu mereka tak ragu lagi melangkah , dengan kebahagian dalam dadanya mereka berjalan masuk mengarungi dekorasi menakjubkan itu. Rey dan Justice teringat kembali rencananya, mereka segera berlari mendahului ketiga rekannya.
"Hei kalian! Mau kemana?"
Riley setengah berteriak saat menanyakan itu, dua manusia yang berada tak cukup jauh itu berpura-pura memegangi perutnya sambil tetap berlari dan menatap Riley mereka berteriak.
"Perut kami bermasalah, Riley!" Ujar Rey.
"Ingin muntah rasanya, kalian duluan saja!" Tambah Justice.
Mikhail menepuk keningnya ada-ada saja menurutnya, padahal beberapa saat lalu mereka terlihat masih baik-baik saja.
"Apa kau tak ingin memberi mereka ramuan?"
Tanya Debora pada Mikhail disampingnya mereka berbicara sambil berjalan.
__ADS_1
"Tidak, lagi pula kulihat itu tidak terlalu serius."
Plakkkkkk
Riley memukul pelan kepala Mikhail mendengar itu, sedang Mikhail langsung menatapnya heran.
"Dia itu rekanmu, keluarga kita juga bukan! Jangan anggap segalanya remeh disini!"
Ujar Riley, Debora tersenyum mendengar itu biarpun cara penyampaian Riley terkesan sarkasme namun apa yang ia katakan itu benar.
_____________
.
Dreppppp
Dreppppp
Rey bersama dengan Justice disampingnya mengendap-endap menyusuri remangnya lorong Rensuar. Disana sepi tak ada siapapun, karena memang seluruh manusia didalam Rensuar sudah memadatkan diri mereka didalam pesta besar.
Rey menyelinap untuk sesuatu disana, sesuatu yang paling mereka berdua inginkan, keinginan mereka untuk ikut berpacu adrenalin dalam perlombaan membuat mereka nekad menerobos masuk kedalam ruangan ramuan yang dikunci, milik madam Geralda juga Mikhail sering bereksperimen, sebut saja ruangan itu seperti UKS disini.
"Cepat Rey!"
Ujar Justice tatkala mereka berada tepat dihadapan pintu ruang ramuan itu. Rey susah payah menerangi gembok mantra yang mengunci ruangan ini. Ya, seluruh ruangan Rensuar yang tutup akan disegel dengan satu gembok kesatuan, dimana gembok itu hanya mampu dibuka dengan satu kesatuan mantra saja.
"Kau tak berotak Jus, sungguh! Apa yang harus ku rapal untuk membuka gembok sialan ini?"
Rey murka sambil menunjuk gembok itu, pasalnya tak ada lubang untuk menancapkan kunci disana. Gembok itu berbentuk bundar dari mantra, dan hanya akan terbuka oleh mantra. Justice memperhatikan itu, ia menyipitkan matanya lalu berseringai seakan itu mengatakan, sialan sungguh sialan si Harith ini.
"Kucing garong itu, apa-apaan sebenarnya hah? Memangnya ada apa didalam ruang belajar ini sampai diberi mantra seketat ini. Kurang ajar sekali!"
Ujar Justice, Rey tersenyum mendengar itu umpatan kesal juga mulut kasar kawannya ini sungguh sama dengannya, mereka selalu sefrekuensi,sehati, sepaham. Itulah mengapa keduanya sering disebut-sebut sebagai couple goals oleh ketiga rekannya yang lain, termasuk Axcel.
"Hei hei, coba ingat-ingat! Mikhail sering pulang larut bukan, atau kadang jika salah satu dari kita sakit ia akan kemari malam-malam pun tak akan menjadi sebuah pantangan. Dia selalu kembali membawa sebotol ramuan untuk kita."
Clingggggggg
"Terkadang daya ingatmu itu patut di acungi jempol, sungguh Rey!"
Justice berbicara sambil mengeluarkan kembali buku ramuan milik Mikhail yang tadi dipinjamnya, apapun yang mereka miliki kadang selalu hilang, atau mendadak hitam. Kalian harus tau, bahwasannya tiap penyihir memiliki sebuah domain itu seperti sebuah ruang rahasia milik mereka, tersimpan di kesadaran lain, ibaratnya itu seperti sebuah koper berbentuk ruangan yang akan menyimpan dan menampung apapun termasuk mana mereka.
"Baik, akan ku cari dulu!"
Buku ramuan sihir itu melayang tepat dihadapan mereka sebuah cahaya hijau mengelilingi buku itu, ah, itu memang cahaya dari kekuatan Mikhail. Lembaran demi lembaran itu terbuka sendiri, netra mereka masing-masing fokus mencari keberadaan mantra sakral pembuka gembok keramat nan menyusahkan didepannya itu.
Cukup memakan waktu saat melakukan itu namun usaha membuahkan hasil bukan. Tibalah mereka dalam lembaran itu bertuliskan Mantra Kunci. Bagaikan memenangkan sebuah lotre mereka berdua saling menatap dan tersenyum. Mereka mulai menggerakkan tangan mereka, membuka tepat telapak tangan mereka mengarahkannya tepat dihadapan gembok itu.
"Expertpatrionom!"
Mereka merapal satu mantra itu bersama diiringi dengan senyuman yang merekah dalam wajah mereka.
Glekkkkk
Terjadi satu reaksi disana gembok berbentuk lingkaran itu mulai memudar, sekarang terlihat pintu ruangan ini pun tak terkunci tanpa basa-basi baik Justice dan Rey pun bersamaan masuk kedalam. Lihatlah kedua manusia ini ambisi juga tekad mereka kuat sekali.
Didalam pesta terlihat Riley sedang sibuk dengan beberapa daging dihadapannya, ia sudah habis lima piring disini sambil tetap mengunyah daging di piring ke enamnya. Debora yang berada disatu meja dengan Riley canggung rasanya, bukan karena Riley yang makan terlalu banyak namun karena banyak pasang mata yang memperhatikan mereka dikerenakan berapa tak manusiawinya Riley dalam menyantap daging-daging itu.
"Riley, kau bisa makan itu pelan-pelankan?"
Ujar Debora padanya, Riley yang masih fokus sambil tetap mengunyah itu hanya memejamkan matanya menikmati tiap suapan yang masuk kedalam mulutnya, terbuai menikmati tiap potongan daging Wagyu yang melewati kerongkongannya.
__ADS_1
"Hmmmm...Hmmm.... Umai!"
Ujar Rey seraya masih terpejam, baik Debora juga Mikhail yang duduk bersampingan terkejut mendengar apa yang diucapkan Riley mereka tak mengerti, bahasa apa itu.
"Itu bahasa apa?"
Tanya Debora disamping namun Mikhail hanya menyunggingkan senyuman. Apa yang baru saja Riley ucapkan adalah bahasa Jepang, bukankah ia berasal dari sana.
"Umai, itu bahasa Jepang!"
Ujar Mikhail singkat disana Debora mengangguk namun tetap saja sekalipun dirinya tau ia tak akan bisa menghentikan Riley dengan makanannya.
"Jadi apa kita harus membiarkan Riley makan sebanyak ini?"
Mikhail mengangguk kembali mendengar itu, tak apa bukan? Lagi pula acara semacam ini jarang sekali ada, mungkin karena Harith sedang baik saja sampai menyelenggarakan ini. Mungkin juga ini diselenggarakan atas keinginan Noella, merayunya untuk menghargai mereka para Ksatria sihir yang rela dan siap mati untuk Rensuar.
"Ah, Rey dan Justice kemana? Apakah kau melihatnya?"
Debora netranya mencari-cari keberadaan kedua temannya yang lain. Mengapa pergi ke toilet harus selama ini, apa tak apa membiarkan mereka berdua berkeliaran didalam Rensuar, pasalnya toilet Rensuar terletak didalam gedung pelajaran, sementara untuk siswa siswi sihir tahun pertama memang dihimbau untuk menggunakan toilet itu.
"Apa tak apa membiarkan mereka berdua berkeliaran?"
Tanya Debora pada Mikhail lagi, disana Mikhail hanya mengacungkan jempolnya. Lagi pula apa yang akan dilakukan kedua rekannya yang heboh itu, dalam Rensuar tak ada apapun.
Greppppp
"Hallo rekan!"
Dari belakang mereka, sepasang tangan hinggap tepat di tubuh Mikhail juga Debora. Mereka tak lain adalah Rey dan Justice yang baru saja kembali dari ruang ramuan, mereka menggunakan rapalan mantra Leviousa untuk kemari mempersingkat waktu.
"Hei kau darimana saja, Rey?"
Tanya Debora padanya, satu kursi kosong disamping Debora, Rey duduki begitu saja. Kali ini Rey tersenyum padanya.
"Apa kau mau berdansa denganku Debora?"
Ujar Rey seraya mengulurkan tangannya, Debora bersemu mendengar itu. Wajah mereka dekat sekali sungguh, hei tapi ada apa ini Rey hanya tersenyum padanya seperti biasanya namun mengapa jantungnya berdetak sekencang ini.
"Wahhhh Wagyu!!!" Ujar Justice riang.
Justice kagum melihat hidangan Wagyu yang memenuhi meja mereka, ia pun segera duduk dan menyantapnya.
"Sudah kau turuti saja Debora, dia sedang senang hatinya!"
Ujar Justice sembari masih menyantap makanannya, sejenak Debora menatap Justice yang begitu menikmati makanannya lalu kembali lagi menatap Rey menerima ajakannya. Rey menggenggam telapak tangan itu, tatkala berlabuh tepat diatas telapak tangannya menuntunnya ke altar bersamanya lalu berdansa disana, mereka bukan satu-satunya, ada banyak manusia yang juga menari disana.
____________
"Misimu adalah menyelinap! Cari tau kemampuan Baron Putih itu, cari tau juga tentang ke empat rekannya. Beritahu aku, denah benteng Rensuar! Penyerangan harus dilakukan secepatnya!"
"Baik Tuan, aku akan kerjakan!"
Syena dengan tudung yang menutupi kepalanya menatap lekat meriahnya pesta dibawah sana. Sembari menatap lekat pesta itu, ia mengingat tujuannya kemari ketika Iblis seratus juta jiwa yang juga Tuannya itu mempercayakan misi ini padanya. Lagi dan lagi, mata kiri miliknya polanya kembali bercahaya tiap kali dirinya berada dekat dengan Baron Putih itu.
"Aku tidak akan mengecewakan Tuanku! Tawamu akan segera berakhir sebentar lagi! Benteng yang kau lindungi beserta dengan rekan kesayanganmu itu, akan ku lenyapkan!"
Ujar Syena sembari telapak tangannya mengeluarkan cahaya keemasan. Ini buruk, sangat buruk pengaruh mantra juga pencucian otak yang dilakukan Iblis seratus juta jiwa padanya membuatnya benar-benar melupakan Rey.
...Perjalanan mungkin akan membawamu pada kesepian, kelelahan, dan bahaya...
...Namun, perjalanan juga akan membawamu pula pada kelokan yang hakiki...
...Jika alam hendak kau musnahkan, lalu dari mana kamu akan mendapatkan makanan dan tempat tinggal?...
__ADS_1
__________