
Mobil milik Rey sudah sampai tepat di halaman gedung yang Elvas pesan. Ada banyak sekali mobil berdatangan di sana. Sepertinya benar kata Debora bahwa mereka adalah yang terakhir sampai.
"Daddy, kau benar-benar terlambat! Bahkan kita tidak memiliki tempat untuk memarkirkan mobil kita!" ucap Ken sambil menatap ke arah kaca. Melihat banyak mobil di sana yang sudah menempati area parkir.
"Daddy, apa kita tidak akan mendapatkan kue?" tanya Vinora pada Rey yang menyetir.
"Daddy, apakah kita akan pulang jika tidak mendapatkan tempat?" tanya Vince kali ini pada Rey.
Oke cukup, sejujurnya Rey di sini juga pusing dibuatnya. Memang benar tidak ada lahan kosong yang tersisa untuk mobilnya. Dan itu sudah membuat Rey pusing rasanya.
Sekarang ditambah ketiga anaknya yang memprovokasinya. Kupingnya memanas rasanya sungguh. Debora sedikit melirik ke arah Rey yang matanya sibuk mencari celah kosong.
Debora tersenyum kemudian. Ia tau bahwa Rey di sini sedang kesal. Tapi, itu salahnya juga tadi. Tak tega rasanya melihat suaminya yang frustasi di sampingnya. Debora menoleh ke belakang menatap ke arah anak-anaknya yang masih berisik.
"Sayang, kalian bisa turun dan masuk lebih dulu! Aku akan menghubungi Bibi Riley untuk menjemput kalian di gerbang masuk. Bagaimana?" ujar Debora pada ketiganya.
Sejenak ketiganya saling bertatapan satu sama lain. Sejak dari rumah mereka sudah terbayang-bayang akan kegembiraan yang akan mereka temukan di dalam pesta.
"Baiklah Mommy, kami akan turun lebih dulu dan menikmati pestanya!" ucap Ken.
"Iya benar!" jawab Vince dan Vinora serentak.
Kebahagian itu jelas terpampang di wajah mereka. Kemudian mereka bertiga turun dari dalam mobil. Debora mulai menghubungi Riley.
"Debora?" ucap Riley di seberang sana.
"Hai Riley, ketiga anakku akan masuk ke dalam lebih dulu. Aku boleh meminta tolong padamu untuk menyambut mereka. Tolong awasi mereka sebentar ya! Rey kesusahan mencari tempat parkir kosong!" jelas Debora pada Riley di sana.
Terdengar suara Riley yang membuang nafas kasar. Sepertinya dia kesal saat ini.
"Coba loud speaker ponselmu Debora!" perintah Riley padanya.
Debora menautkan alisnya mendengar perintah itu. Namun dia tetap menurutinya.
"*Sudah!" jawab Debora padanya.
__ADS_1
"Pak Arlert, mau sampai kapan kau terlambat terus menerus hah? Hormati pemilik acara dan datanglah tepat waktu lain kali*!" Ucap Riley murka.
Rey yang menyetir dan sibuk mencari tempat parkir pun terkejut mendengar itu. Bayangan ketika Riley marah tergambar jelas dalam kepalanya. Ngeri, memang.
"Ah.. Iya, maaf! Aku tadi sedang sakit perut!" jawab Rey asal padanya.
Ucapan itu sekejap membuat Riley mematikan teleponnya. Rey menatap Debora yang saat ini tertawa karenanya.
"Sayang kenapa kau tertawa?" tanya Rey padanya.
"Kau lucu! Jika aku marah padamu, kau tidak pernah setakut itu. Tapi jika Riley yang memarahimu semacam itu, kau bersikap demikian!" protes Debora padanya.
Rey tersenyum mendengar itu lalu menghentikan mobilnya.
"Rey, kenapa kau hentikan mobilnya di tengah jalan?" tanya Debora padanya.
"Aku frustasi sejak tadi tidak menemukan tempat, sayang!" ucap Rey menyerah.
"Lalu? Kau akan menghalangi jalan di sini begitu? Jika acara selesai nanti mobil-mobil akan kesusahan keluarnya. Jika mobilmu kau taruh di sini!" ucap Debora.
Debora berpikir sejenak. Sepertinya tadi mereka melewati bengkel. Sepertinya ada orang di sana. Terbesit pikiran dalam kepala Debora untuk memarkir mobil mereka di sana.
"Kita ke bengkel saja!" ucap Debora memberi usul.
Tanpa sepatah katapun Rey tau apa yang Debora pikirkan. Tadi, dia juga melihat keberadaan bengkel itu. Rey pun segera pergi dari halaman gedung itu. Dan bengkel itu letaknya tidak cukup jauh dari gedung itu.
Setibanya di sana Rey pun turun dari dalam mobil. Ada seorang kakek tua di sana. Dia duduk seorang diri sambil merakit sesuatu di depan mobil. Rey menghampirinya.
"Permisi Sir, apakah bengkel ini milikmu?" tanya Rey padanya.
Kakek tua itu berhenti dari aktivitasnya. Sambil tetap duduk membelakangi Rey, lelaki tua itu pun menoleh ke belakang.
Rey terkejut melihat wajah kakek tua itu. Salah satu matanya di tutup bak seorang bajak laut. Kakek tua itu hanya tersenyum padanya sambil mengangguk.
"Ya, bengkel ini milikku!" jawabnya pada Rey.
__ADS_1
Rey mengangguk mendengar itu. Sejenak dia menoleh ke arah Debora yang memandanginya di dalam mobil.
"Baiklah, Tuan, bolehkah aku memarkirkan mobil ini di sini? Aku akan membayar sewanya!" ucap Rey padanya.
Lelaki tua itu sejenak menoleh ke arah mobil Rey. Bola matanya menatap ke arah Debora di sana. Sesudah itu lelaki tua itu menatap Rey lagi.
"Tentu saja, silahkan! Kau memiliki istri yang sangat cantik rupanya!" ucap lelaki tua itu.
Rey tertegun mendengar itu. Rupanya Indra penglihatan lelaki tua ini cukup tajam juga.
"Terima kasih Tuan, baiklah saya tinggal dulu ya! Dan ini beberapa uang sebagai biaya sewa tempatnya!" ucap Rey sambil tersenyum ramah. Rey memberikan beberapa lembar uang itu pada lelaki tua itu.
"Kau bisa memberiku ini nanti!" jawab lelaki tua itu.
Rey diam mendengar itu. Ia kembali memasukkan lembaran uang itu ke dalam saku. Lalu Rey berpamitan pada lelaki tua itu. Rey kembali menghampiri Debora yang duduk di dalam mobil.
"Ada apa sayang? Kenapa lama sekali mengobrolmu?" tanya Debora pada Rey yang membukakan pintu mobil untuknya.
Namun Rey hanya menggeleng pelan. Rey mengulurkan tangannya pada Debora. Tentu saja Debora menyambut uluran tangan itu. Dari bengkel itu sampai ke gedung mereka berjalan.
Ketika mereka sudah masuk ke dalam gedung. Para tamu sudah berdansa masing-masing dengan pasangannya. Elvas selaku pemilik acara pun datang menghampiri Rey.
"Rey, kenapa kau baru sampai?" tanya Elvas padanya.
"Iya, tadi ada kendala sedikit! Maafkan aku yang terlambat ya!" jawab Rey padanya.
Elvas mengangguk kemudian mempersilahkan Rey untuk menikmati pestanya. Di sana sekalipun ada Aum di sampingnya. Elvas sama sekali tidak mengalihkan netranya pada Debora yang saat ini berdansa bersama Rey di altar.
Entah kenapa sekalipun dirinya sudah memiliki Aum. Masih ada sedikit rasa pada Debora sampai detik ini. Sebuah rasa di mana ia tak rela Debora bersanding bersama Rey.
"Sayang, apakah kau tidak ingin berdansa?" tanya Aum pada Elvas di sampingnya yang sedang melamun.
"Sayang!" panggil Aum lagi padanya.
Panggilan kedua itu membuat Elvas mengalihkan perhatiannya. Mendengar itu, Elvas pun mengangguk.
__ADS_1
Mereka berdua pun menuju ke altar dansa lalu berdansa bersama di sana. Seluruh tamu menikmati acara malam ini dengan kebahagiaan. Senang rasanya melihat mereka tertawa bersama menikmati pesta.