
...Dongeng lebih dari benar: bukan karena dongeng memberi tahu kita bahwa naga itu ada...
...Tetapi karena dongeng memberi tahu kita bahwa naga dapat dikalahkan...
_____
Tepat seminggu sejak kepergian Dion. Rey sama sekali belum menyapa rekan-rekannya. Selama seminggu ini Rey bahkan tak ikut makan bersama mereka.
Hanya sebuah sapaan, juga jawaban iya dan tidak saja yang mampu Rey lontarkan. Pagi seperti biasa mereka akan sibuk menjalankan misi, mereka akan berada dimarkas bersama saat malam.
Namun kejadian itu merenggut seluruh karakter Rey yang ceria. Pertemuan antara dirinya dan adiknya, kematian Dion membawanya masuk dalam dekapan pedih yang luar biasa.
Malam ini mereka berempat sudah berkumpul diruang makan, suasana cukup hening malam ini. Hanya ada suara dentingan sendok dan garpu. Hanya ada suara tegukan air, juga kecapan indra pengecap.
Deppppp
Deppppp
Deppppp
Mereka menghentikan aktivitas mereka sejenak ketika melihat Rey baru saja menuruni anak tangga. Rey mengenakan jaket tebal, juga sebuah topi kupluk rajut berwarna abu-abu.
Tiap malam ia selalu keluar, menuju belantara tempat dimana para calon kstaria sihir mendirikan camp disana sebelum diterima masuk Rensuar.
Dekat area itu, kira-kira berjalan lima belas menit dari sana Riley mendirikan peternakannya. Disanalah Rey bersemayam selama seminggu saat malam.
"Rey?"
Sapa Debora ketika Rey melewati mereka. Rey hanya berhenti menatap mereka sembari melempar satu senyuman tipis. Sama sekali tak ada jawaban atas sapaan itu.
"Rey, aku memasak sup iga untukmu! Kau tak inginkah?"
Justice mencoba mencairkan suasana disana, dengan mengangkat semangkuk sup yang masih hangat menunjukkannya tepat ke arah Rey.
Sejujurnya hatinya merasa kehilangan Rey juga disini, ia rindu pertengkaran konyol yang sering terjadi antara dirinya dan Rey hampir setiap hari.
Sejenak Debora memperhatikan bola mata itu, masih sayu disana. Duka itu masih melekat dalam diri Rey. Riley disampingnya memilih diam kali ini, namun netra miliknya juga memperhatikan Rey disana.
"Terima kasih, aku tidak lapar!" Ujar Rey, lalu bergegas pergi meninggalkan rekannya.
Tertegun rasanya mendengar jawaban itu. Rey biasanya tak akan menolak hal-hal dari rekannya selama itu baik. Justice meletakkan kembali sup yang ada di tangannya, lalu menunduk.
"Dion adalah Musketeers hebat, aku kagum padanya. Untuk menjadi sebuah tameng demi melindungi nyawa lain, butuh satu keberanian yang teramat sangat besar."
Debora tersenyum miris mendengar ungkapan pahit dari suara Justice.
Rey pernah mengatakan padanya, bahwa Dion menyukainya. Debora menghargai itu, tapi hatinya hanya milik Rey seorang. Manusia lain sama sekali tak diizinkan olehnya untuk singgah.
"Kadang manusia harus sampai kepada titik kehilangan untuk mengerti arti sebuah kehadiran. Arti sebuah kehadiran akan terasa saat kehilangan telah merenggutnya." Ujar Mikhail.
Ini adalah ungkapan bela sungkawa terdalam dari dalam hati mereka. Dion memang tidak terlalu dekat dengan mereka.
Mereka baru saja saling mengenal. Mereka hanya mengenal sebatas sampul tanpa tau isinya. Hal yang membuat mereka takjub terperangah, adalah ketika Dion berlari ke arah Rey.
Hari itu mana miliknya sudah terkuras terlalu banyak. Ratusan iblis yang datang mengepung mereka membuat mereka mengeluarkan seluruh sisa tenaganya.
Tujuan mereka adalah menghalau para Iblis. Namun ketika Iblis itu habis tersapu, mana milik mereka tidak memadai untuk membantu Rey yang sedang terpaku disana.
Dari dalam pelindung, Dion berlari menggunakan sisa sihirnya. Melesat diiringi kilatan petir datang, menjadi sebuah tameng menggantikan kematian Rey saat itu.
Maut, adalah sesuatu yang paling ditakuti jiwa yang masih bernafas. Namun Dion, begitu Heroiknya manusia itu berlari seakan memiliki seribu nyawa lagi dalam dunia.
Segan rasanya mereka menyaksikan hal itu. Rensuar hari itu menangis dihadapan satu jasad yang begitu berani. Satu pahlawan yang melindungi ikon penting Rensuar.
Rey Arlert, adalah lambang harapan. Satu-satunya manusia pemilik senjata legendaris. Pemuda dalam ramalan yang datang. Mengalahkan Iblis seratus juta jiwa.
Satu pahlawan yang menghadang ancaman, mencoba melindungi solusi dunia dengan menjadikan dirinya seorang tameng.
"Kita bisa menulis seribu kata perpisahan. Tapi yang kita rasakan hanya satu, yaitu kehilangan. Sebanyak apapun kita merasakan kehilangan, kita tidak diizinkan untuk menyerah pada kehidupan. Dunia ini masih kacau, dan kita sudah bersumpah." Ucap Debora.
Petuah dari dalam hatinya terlontar mewakili perasaannya saat ini.
"Aku merasa kehilangan Istiriku!" Ucap Justice asal.
Tatapan aneh dari Riley juga Debora melesat ke arahnya. Manusia ini, ucapannya membuat mereka berdua geli sungguh.
"Demi apapun, tolong kembalikan manusia mengesalkan itu seperti dulu! Meja makan ini sepi tanpanya!"
Ucapan Justice membuat Debora tersenyum. Ucapan itu benar adanya. Nyawa dalam pertemanan mereka yang paling bersinar, adalah Rey. Dia adalah sosok yang indah untuk dideskripsikan sifatnya.
Pribadi yang disegani seluruh manusia Rensuar. Sekalipun terkadang sering membuat onar, sekalipun para petinggi sering dibuat kesal, namun Arlert adalah yang terbaik disini.
__ADS_1
Tanpa berpikir panjang, Debora berjalan mendekati dapur kali ini. Tangannya mulai sibuk mencari sesuatu didalam rak.
Debora tersenyum ketika mendapati hal yang dicarinya, rupanya sebuah tepak makan. Usai menemukannya, Debora kembali berjalan mendekati meja makan. Disana tangannya kembali asik mengambil beberapa lauk pauk, ia taruh kedalam kotak makan itu.
Riley mengerti apa yang sedang Debora lakukan saat ini, gadis ini akan menemui Rey. Gadis ini akan membawa Rey kembali seperti dahulu.
"Istri yang seperti ini Jus! Ini baru Istri!"
Ucap Riley menyanjung Debora. Gadis yang berdiri itu bersemu mendengar itu, selalu saja begini.
"Kau ini bicara apa Riley?" Sangkal Debora, seraya masih mengambil beberapa lauk pauk disana.
"Kau pawang Rey, kami disini bukan apa-apa rasanya!" Ujar Riley lagi, Justice melipat tangannya mendengar itu.
"Aku mendoakan semoga Rey segera memahami perasaanmu, Debora!"
Ucapan terakhir dari Mikhail membuat semua merah itu semakin merayapi wajahnya.
Mungkin memang hanya Debora sajalah yang mampu. Keterikatan antara mereka benar-benar dekat.
Debora menghela nafas ketika kotak makan itu sudah terisi penuh. Kotak itu ia simpan kedalam Domainnya. Kembali, kedua netranya menatap lekat ke arah tiga orang rekannya.
"Kita harus belajar dari keterpurukan, bukan lari dari keadaan. Kesedihan itu pasti menyelimuti kita, namun jangan biarkan itu menetap. Dunia tidak akan berubah jika kita berhenti disini."
Petuah itu rasanya kembali menyulut api dalam dada mereka. Benar apa yang dikatakan Debora. Bumi sedang kacau, terpuruk terlalu lama itu tak perlu. Terpuruk berkepanjangan, tak akan merubah apapun yang telah ditetapkan.
Salju masih turun, namun disini Debora memutuskan untuk pergi menemui Rey. Baron itu memang harus disadarkan untuk bangkit kembali.
Rey adalah harapan, itulah mengapa Debora akan pergi kesana. Mengunjungi Rey yang masih terlarut dalam kesedihannya. Riley yakin hanya Debora saja yang mampu menangani ini.
_________
Buliran salju masih turun, malam ini cukup dingin, sunyi juga menyertai. Berungkali Debora menggosok telapak tangannya sendiri, mencoba meredakan dingin yang sedang mendekapnya. Deru nafas miliknya mengembun mengasap.
Dari kejauhan netranya mulai melihat lampu-lampu dari dalam tenda kecil. Beberapa anak lebih muda dari dirinya sedang berkumpul disana.
Ada yang sedang tidur didalam tenda, ada juga yang sedang sibuk memasak beberapa makanan. Ada yang sedang bercengkrama sambil menikmati teh dalam cangkir mereka.
Ini adalah area camp. Para calon ksatria sihir tidak akan memijakkan kakinya kedalam Rensuar tanpa izin dari para Musketeers-nya
Rasanya ia sedikit teringat kembali, ketika dirinya masih belum menjadi seorang ksatria sihir, ketika gelar Musketeers belum ditujukan padanya. Para indigo akan di beri tempat khusus sebelum menjadi seorang Ksatria.
Mereka akan dipisahkan dari beberapa manusia tanpa kemampuan. Para indigo tidak akan tinggal didalam kota bersama mereka yang tidak berkemampuan.
Mereka diberi tempat tinggal didalam hutan. Tiap enam bulan sekali, pendaftaran calon kstaria sihir akan diadakan. Disanalah, dari hutan mereka menuju gerbang depan Rensuar.
Sekitar lima belas menit Debora berjalan menyusuri belantara. Saat ini Debora tepat berada diantara hamparan, sebuah hamparan rumput tertutup salju.
Hamparan itu cukup luas. Langkahnya berhenti sejenak ketika melihat satu manusia, dengan jubah sama seperti miliknya.
Satu manusia itu adalah Rey, ditengah hamparan, diterpa salju yang masih turun. Pemuda itu duduk bersila diatas batu besar. Debora memutuskan langkahnya untuk mendekati Rey.
"Mengapa kau kemari Debora?"
Debora menghentikan langkahnya sejenak ketika Rey mengajukan pertanyaan. Dalam hatinya ia bertanya-tanya, mengapa Rey tau dirinya disini sedangkan netra miliknya sama sekali tak berpaling melihatnya.
"Rey, bisakah aku duduk bersamamu malam ini?"
Rey tersenyum mendengar itu. Bagaimana ia mampu menolak salah satu belahan hatinya. Namun untuk sekedar menjawab pertanyaan darinya rasanya Rey tak ingin. Rey muak pada dirinya sendiri, ada banyak penyesalan hinggap memenuhi relung hatinya.
"Boleh aku duduk?" Tanya Debora lagi padanya.
Kali ini Debora berdiri tepat disamping Rey sambil menepuk batu yang Rey duduki. Rey hanya mengangguk tanpa sedikitpun menoleh ke arahnya. Mereka berdua diatas batu besar itu sama-sama menatap langit.
"Rey!"
Panggil Debora sembari masih menatap langit, Rey hanya menanggapi sapaan lirih itu dengan deheman.
"Aku ingin kau membagi seluruh beban dalam hatimu malam ini bersamaku." Ketulusan itu sedikit membuat hatinya bergetar.
"Aku tidak butuh siapapun untuk itu! Itu adalah milikku seorang, mengapa manusia lain harus ikut repot memikulnya bersamaku?" Jawab Rey.
"Karena kita keluarga!"
Jawaban itu membuat Rey tersentuh. ltu adalah satu jawaban yang benar. Mereka sudah tinggal selama beberapa tahun ini bersama, melewati segalanya bersama.
"Bila kegagalan itu bagaikan hujan dan keberhasilan bagaikan matahari, maka butuh keduanya untuk melihat pelangi. Tak ada kata terlambat untuk memulai, begitu juga untuk mengakhiri."
Kali ini Rey menatapnya, disana Debora juga ikut menatapnya. Pertemuan netra mereka malam ini mengukir sebuah senyuman.
Gadis ini singgah disampingnya membawa petuah yang indah. Rasanya Rey tertampar saat mendengarnya.
Melihat ketenangan hadir menyelimuti wajah Rey, dari dalam domain Debora menarik kotak makan yang dibawanya. Munculnya kotak makan itu membuat Rey heran.
__ADS_1
"Makanlah!"
Ucap Debora seraya menyerahkan kotak makan itu. Disana Debora masih tersenyum. Sungguh gadis ini manis sekali malam ini, tiap ucapan dan segala tingkahnya selalu mampu meluluhkan hatinya.
"Sepertinya sudah waktunya untukmu bangkit Rey!"
Suara dari dalam domain itu membuatnya cukup kesal malam ini. Selalu saja, tiap kali Rey menghabiskan waktu berdua bersama Debora, Kakek laknat ini selalu saja mengganggu.
"Iya aku tau, kau jangan mengganggu Honeymoon ku malam ini!"
"Honeymoon? Apa itu, coba jelaskan?"
"Sesuatu untuk membuat anak! Hahahaha.."
"Pendosa cabul semacammu ini, mengapa tak musnah saja! Kau belum menikahinya jangan berani kau cabuli dia!"
Rey tertawa mendengar itu, sontak Debora dihadapannya menatap heran ke arah Rey.
"Kenapa kau tertawa Rey?"
Tanya Debora sambil memiringkan kepalanya. Surai putih terurainya jatuh berkibar begitu saja, Rey mengulurkan tangannya menyibak surai putih itu menyelipkannya disisi telinganya.
Mengapa rembulan malam ini begitu cantik menyinari manusia dihadapannya ini. Sambil menyibak surai lembut itu, Rey menerima kotak berisi makanan dari tangan Debora.
Usai melakukan hal itu, Rey kembali menatap kotak makannya. Ia sama sekali tak mempedulikan Debora, yang sedang bersemu disampingnya. Ulah singkatnya itu cukup membuat detak jantungnya hampir berlari rasanya.
"Apa kau sudah makan?" Tanya Rey sambil membuka kotak makan itu.
"Sudah, kami sudah makan bersama tadi. Meja makan sepi tanpamu Rey!"
Jawaban dari pertanyaannya membuat Rey mengulurkan kembali kotak makan itu pada Debora.
"Huh? Apa?" Tanya Debora heran, namun disana Rey hanya berseringai.
"Debo, aku akan makan dari tanganmu! Jadi, suapi aku ya, terima kasih sudah membawanya untukku."
Permintaan itu tak berat rasanya bagi Debora. Apapun untuk mengembalikan Rey seperti dulu lagi. Debora menerima kembali kotak makan itu, menu makan malam mereka malam ini adalah sup.
Dari dalam domainnya Debora mengambil sebuah sendok, santapan demi santapan malam ini membawa mereka semakin dekat. Hanya butuh sepuluh menit bagi Rey menghabiskan seluruh makanannya. Disana, Debora mulai mengembalikan kembali kotak makan itu kedalam domainnya.
"Ini lezat sekali, Terima kasih Debora!" Ucap Rey.
Rey turun dari atas batu itu, ia berdiri membelakangi Debora kali ini.
"Kita sudah cukup lama beristirahat, terima kasih karena kau sudah mengingatkanku kembali untuk berjuang."
Rey berucap sambil menatap langit-langit. Ucapan itu membawa Debora berjalan ke arahnya. Mereka berdiri sejajar sekarang.
Ada sesuatu dalam hati Rey, disana ia kembali mengingat perjanjian itu. Perjanjian dari dalam domain, antara dirinya dan Baron. Sesuatu itu membuat Rey ingin mengatakan satu hal pada Debora malam ini. Segala kalimat yang menumpuk dalam hatinya.
"Debora, bolehkah aku bertanya padamu?"
Rey berucap sambil menatapnya kali ini, hal itu membuat Debora melakukan hal sama. Netranya juga kembali menatap ke arah Rey.
"Jika suatu saat nanti aku pergi darimu, apa kau akan merindukanku?"
Kalimat semacam apa yang sedang Rey ucapkan malam ini. Tentu saja hatinya akan sangat merindukan pemuda ini. Namun untuk apa pertanyaan itu diucapkan padanya.
"Rey, kau sudah ku anggap sebagai keluargaku. Dan aku menyangimu!"
"Benarkah hanya sebatas keluarga?"
Pertanyaan itu semakin dalam rasanya. Rey seakan ingin menguak seluruh perasaan dari dalam hati Debora saat ini. Tak mampu menjawab hal itu, Debora hanya mengangguk.
"Debora, kau memerah! Kau menyukaiku ya?"
Pertanyaan itu membuat Debora berpaling sekarang. Perilaku salah tingkah itu membuat Rey tertawa. Disana Rey mengeluarkan sesuatu dari dalam domainnya, sebuah topi kupluk rajut milik adiknya.
Dengan lembut Rey memakaikan topi itu diatas kepala Debora. Mencoba melindungi Surai itu dari buliran salju yang masih turun.
"Kau dapat mati jika kau mau. Tapi jangan mati begitu mudah saat kau sedang bersamaku! Karena jika kau tiada, maka seseorang akan sangat sedih. Jangan pernah membahayakan dirimu lagi karenaku ya!"
Kali ini Rey berucap sambil mengusap wajahnya, kepala itu dekat sekali dengannya. Sempit rasanya jarak antara wajah mereka saat ini.
"Ahh sudahlah, ini sudah malam mari kita pulang!"
Rey menjauhkan dirinya dari Debora seraya merentangkan tangannya meregangkan otot-ototnya. Disana Debora terlihat masih mematung, atas apa yang Rey ucapkan padanya.
Malam ini, Rey sengaja menyerahkan satu-satunya kenangan milik adiknya pada Debora. Ada alasan mengapa ia melakukan hal itu padanya.
...Ada pelajaran besar dari 'Beauty and the Beast'...
...Bahwa sesuatu harus dicintai sebelum bisa dicintai...
__ADS_1
______