
...Pengalaman bukan jaminan untuk menang, karena tiap generasi akan selalu tumbuh lebih baik...
...Saat orang-orang menganggapmu tidak bisa apa-apa, jangan pedulikan...
...Karena yang bisa mengubah nasibmu adalah kamu, bukan orang lain...
__________
Benturan demi benturan itu membuat Dion tak sadarkan diri sekarang. Melihat itu Elvas berhenti, ia menarik kembali sulur-sulurnya. Sambil menatap ke arah tubuh Dion yang terkapar ia tersenyum, sepertinya ia bangga telah mengalahkan Dion dengan cara itu. Hitungan mundur tiga detik telah usai, cahaya itu membawa Dion kembali masuk kedalam ruangan itu.
Kali ini giliran Rey, ia menatap benci ke arah Elvas sekarang. Sebuah cahaya dari atas langit datang menyinarinya, cahaya itu membawa tubuhnya masuk menemui Elvas sekarang. Rey menunduk, tepat dihadapannya itu adalah genangan darah milik rekannya. Sejenak Rey bersimpuh ia menyentuhnya, Elvas memperhatikan itu.
"Kau pikir kami ini apa hah? Kau lempar kesana kemari seperti itu! Jika kau berniat membunuh, maka jangan ikuti perlombaan ini, Elvas!"
Rey berucap sambil berdiri, tangannya ia arahkan tepat ke arah Elvas, mengepalkannya. Darah milik Dion menetes begitu saja dari tangannya.
"Rekanku, tidak akan kalah sia-sia! Aku akan membuatmu merasakan apa yang ia rasakan setelah ini!"
Disana Elvas tersenyum, dari jubah yang Rey kenakan ia tau Rey adalah seorang pemula. Ia adalah Penyihir tingkat satu, beraninya ia mengucapkan hal semacam itu pada Elvas, yang tingkatannya jauh diatas dirinya.
"Hahahahaha... Kau, akan mengalahkan aku? Bahkan Musketeers tingkat tiga pun, pingsan setelah melawanku. Sekarang kau? Kau pikir divisi pertahanan itu selemah apa, sampai bisa kalah dari bocah tengik sepertimu?"
"Otak udang banyak cakap juga kau rupanya, senior semacam apa yang ada dihadapanku ini? Tidakkah kau paham kemanusiaan hah, lantas menghajarnya sampai seburuk itu, sekalipun kau mendapatkan piala. Manusia tidak akan menganggapmu sebagai seorang pemenang, melainkan seorang penjahat!"
"Mengapa kau peduli dengannya, dia bukan saudaramu! Dia orang lain!"
"Kalau saja Garena sialan ini bisa dimasuki sejak tadi, mungkin aku akan menghajarmu lebih awal!"
"Mengapa kau ingin menolongnya, dia hanya orang asing, jangan terlalu peduli pada mereka yang bukan siapa-siapa mu!"
"Aku akan menolongnya meski harus mengorbankan nyawa karena dia adalah temanku! Tanpa arah dan tujuan, tidak ada gunanya seseorang hidup di dunia ini. Kau, Aku, dan Dia adalah Musketeers! Tugas kita mengembalikan bumi seperti semula, kesombongan yang memakanmu itu membuatmu seperti iblis. Kuat tapi tak berhati, untuk apa? Kau sama saja seperti seorang Iblis!"
"Bocah, sekarang aku akan bertanya! Kau akan menyerah sekarang, atau nanti setelah babak belur?"
"Jika kau menungguku untuk menyerah, kau akan menungguku selamanya. Aku lebih baik mati dalam pertarungan daripada mati tanpa melakukan apa pun."
Ucapan itu membuat Elvas diam kali ini, bocah dihadapannya ini beraninya. Elvas mengeluarkan pedangnya kali ini, begitupun dengan Rey. Keduanya saling menatap satu sama lain.
"Bocah, akan ku ajari kau menghargai Seniormu!"
"Elvas, akan ku ajari kau menghargai manusia!"
Slatttttt.
Keduanya melesat cepat kali ini, bersamaan dengan itu sistem durasi diaktifkan. Ketika pedang mereka hampir bertemu, Rey mengubah arah geraknya, kali ini ia berpindah cepat ke belakang Elvas. Ketika ayunan pedang miliknya akan menyentuh Elvas, sebuah sulur dari dalam tanah menjulang ke arahnya.
"Dia merubah arah geraknya! Itu artinya, sebentar lagi dia akan mundur. Saat itu aku harus menyegel kekuatannya dalam domain."
Elvas berbalik kali ini, bersamaan dengan hancurnya sulur milik Elvas. Sekuat tenaga Elvas melesat ke arah Rey.
Syuthhhhh
Rey menghilangkan pedangnya saat itu juga, Elvas membulatkan matanya melihat itu.
"Abonoeraa Atrem Aveluska!"
Syuthhhh
Syuthhhh
Mantra pembentuk kloning itu, memecah diri Rey menjadi tiga bagian. Bagian pertama sudah ditusuk oleh Elvas. Sempat dirinya girang melihat keberhasilan itu, namun ketika kloning itu menghilang Elvas sadar yang ia tusuk hanyalah sebuah ilusi. Sedangkan Rey dan kloningnya berada tepat di belakangnya kali ini.
"Ameeera Amoerra Abyas!"
Rey berucap bersamaan dengan kloningnya, mantra penghancur sekala besar itu mengirim jutaan petir beriringan cahaya ke arah Elvas. Melihat itu dari dalam tanah, Elvas membentuk perisai dari cahaya.
__ADS_1
"Leviousa! Tidak akan kubiarkan kau menang, bocah!"
Ambisi berapi-api merasuki diri Elvas. Ia menghilang tepat dibelakang Rey kali ini.
"Abiogolio!"
Crashhhhhhhh
Pedang milik Elvas membentur satu sekat, sekat itu datang dari langit. Seperti sebuah pelindung, bercahaya emas. Satu kloning milik Rey hilang akibat serangannya.
Elvas terengah-engah disana, sepertinya ia mulai kehilangan mananya.
"Sepertinya sudah saatnya kita, bertarung secara fisik."
Syuthhhhhh
Rey mengeluarkan pedangnya, namun kali ini pedang itu tak bercahaya. Elvas yang melihat itu berseringai, dalam pikirannya pertemuan antara pedang miliknya dan Rey adalah kekuatan. Ia bisa menyerap kekuatan pedang Rey, lalu mengembalikan serangannya.
"Hiahhhhhhhh!!!"
Crashhhhhhhhh
Keduanya berteriak sambil sama-sama melesat, ketika pedang mereka sama-sama bertemu. Elvas sama sekali tak merasakan apapun, sambil menahan serangan Rey ia menatap mata itu. Kelopak mata itu penuh dengan kebencian, kelopak mata itu penuh amarah.
"Ini pedang lain rupanya! Sial!!!"
Umpatan dalam hatinya itu diiringi dengan kekuatan pedang Rey yang semakin kuat menekannya. Kali ini Rey sedikit memberi keringanan pada Elvas, ia mundur tepat ke arah sekat miliknya yang berada tepat dibelakangnya.
"Arterna, Autrom!"
Brushhhhhhhh
"Aaaaaaaaa!!!"
Bruakkkkk
Peluruhan dari sekat perisai itu membawa cahaya melesat ke arah Elvas, hal itu membutakan matanya ia tak mampu melihat apapun. Bersamaan dengan itu tubuhnya di setrum berulang kali oleh petir-petir milik Rey. Tubuh Elvas terhempas menabrak tembok Garena.
"Uhukk!!!"
Krekkkk
Rey menginjak tangan Elvas yang berusaha mengangkat pedangnya lagi.
"Kubilang, untuk apa kuat jika tak berhati hah?"
Syuthhhhh
Rey kembali merubah pedangnya kali ini, pedangnya kembali bercahaya.
"Kau pikir aku tak akan tau, kau sejak tadi menggunakan dua domain untuk menyerap kekuatan lawanmu. Lalu melempar kembali kekuatan itu ke arah mereka? Menjadi kuat tidak selamanya menyenangkan. Ketika kau kuat, Kau menjadi sombong dan menarik diri."
Elvas tercengang mendengar itu, Rey berbicara sambil bola matanya bercahaya. Suara dari dalam tubuhnya itu menggema. Elvas dibuat merinding seketika, ia ingat satu ramalan yang berasal dari Lapu-lapu. Mengapa ia bisa melupakannya, pada akhirnya ia tau, manusia dihadapannya ini, bocah ini adalah anak dalam ramalan itu. Baron Putih Legendaris, Rey Arlert.
"Makhluk yang merusak sepertimu, makhluk tak berhati sepertimu! Seharusnya mati saja!"
'Mati?'
Kali ini Elvas dibuat ketakutan sungguh, Rey mengangkat pedangnya dengan kedua tangannya. Disana ia bersiap menusukkan pedang ke arah Elvas.
"Rey!"
Pekik Debora sembari berdiri, begitupun dengan rekannya. Sepertinya apa yang Debora takutkan terjadi lagi sekarang, kekuatan itu memakannya. Rey kembali memaksakan dirinya menggunakan kekuatan sihir tingkat atas.
"Paman Axcel?"
Kali ini Riley menoleh ke arah Leonin disampingnya itu. Namun Leonin itu sama sekali tak menggubris, ia hanya terpaku sambil menatap portal itu.
"Kau akan apa sekarang? Apa kau akan diam lalu menatap pembunuhan didepanmu itu?"
Axcel berbicara melalui telepati dengan Harith yang juga berada tak jauh dari dirinya. Mereka berdua sama-sama tak mampu melakukan apapun.
Tiga
Dua
__ADS_1
Satu
Krashhhhhhhh
Harith datang menghalau serangan itu, Elvas terhenyak melihat kaisarnya berada tepat dihadapannya.
Beruntungnya waktu durasi pertarungan mereka habis, bersamaan dengan itu Harith menggunakan mantra Leviousa untuk memindahkan tubuhnya.
"Hentikan, Baron!"
Ujar Harith, suara itu membawa Rey kembali sekarang. Disana ia bersimpuh, mencoba menahan tubuhnya dengan pedangnya. Harith berjalan mendekati Rey sekarang.
"Rey!"
"Kaisar!"
Untuk pertama kalinya Rey menyebut gelarnya, disana Harith dibuat tersenyum.
"Kaisar, aku ingin secepatnya ditugaskan ke Alaska!"
Lirihnya, mendengar itu Harith bersimpuh. Ia memegang bahu Rey, sambil tersenyum. Ia mengerti apa yang Rey rasakan saat ini, Harith paham Rey sangat ingin segera menyelamatkan Syena, lalu mengembalikan dunia kembali. Namun tanpa persiapan, pergi ke Alaska adalah bunuh diri.
"Arlert, tidak ada hal yang selesai dengan baik selama kita menggunakan emosi. Segala hal, harus diselesaikan sesuai rencana, berpikir, memperhitungkan segalanya, memperbaiki apa yang kurang dalam diri kita."
Ucapan itu sedikit menenangkan hati Rey saat ini.
"Tidak, aku harus segera pergi kesana!"
"Tinggal beberapa tahun lagi untuk menempamu menjadi kuat Rey! Lebih kuat dari ini!"
"Aku sudah sekuat ini, lalu kau ingin aku sekuat apa? Katakan.."
"Tiga tahun!"
Ucapan itu membuat Rey terhenti, sambil menatapnya Harith tersenyum.
"Musketeers hanya diizinkan pergi bersamaku ke Alaska ketika mereka berada ditingkat lima. Sementara ini hanya Axcel saja pendampingku, untukmu, aku akan memenuhi keinginanmu. Ketika kelompokmu berada dalam tingkatan tiga, aku akan membawamu bersamaku. Mari kita selamatkan adikmu! Aku harap kau menerima tawaran ini, Rey!"
"Aku hanya ingin melindungi mereka, walau harus menjalani penderitaan seperti apa pun."
"Aku paham itu Rey! Kau adalah orang yang mereka percayai, kau harus percaya pada dirimu sendiri. Takdir telah memilihmu, ini hanya masalah waktu Rey!"
ucapan Harith berhasil menenangkan Rey, itu membuatnya mengangguk ia menuruti ucapan Kaisarnya. Harith berdiri, kali ini mengulurkan tangannya membantu Rey berdiri. Dengan senang hati Rey menerima uluran tangan itu.
Harith melayangkan dirinya diudara kali ini, kedua tangannya ia gerakan ke atas.
"Atrem Leviousa!"
Wushhhhhhh
Seketika langit-langit Garena ini terkikis, menampakan birunya langit semesta yang indah pagi itu. Suara sorakan bahagia dari Asrama elang putih menyambut Rey. Axcel turun kebawah lapangan, menghampiri Harith juga Rey disana.
"Inilah, pemenang Rensuar Champion tahun pertama. Rey Arlert! Berikan tepuk tangan kalian untuknya!" Ujar Axcel
Sorakan itu semakin meriah ketika Axcel memberikan piala kemenangan lomba pada Rey. Disana rekannya juga ikut turun, sambil mengucapkan selamat atas kemenangan Rey mereka memeluknya.
Namun itu tidak berlaku untuk Justice dan Mikhail, mereka hanya mengacungkan kedua jempol nya untuk Rey. Hari itu, semua orang menyaksikan betapa tangguhnya Baron Putih. Mereka bukan hanya mengenal Rey dari ramalan, namun saat ini, hari ini mereka menyaksikan secara langsung betapa hebatnya kemampuan sihir dan pedang Baron milik Rey. Sepertinya jutaan sanjungan akan terus terlontar untuknya setelah ini.
...Seseorang akan menjadi kuat apabila melindungi seseorang yang dicintainya...
...Perang lahir dari keinginan kita untuk melindungi orang yang kita sayangi...
________
Ensiklopedia :
Apa itu Tropesfer?
Troposfer merupakan lapisan atmosfer yang paling dekat dengan bumi dan menempati lapisan atmosfer terendah. Troposfer memiliki ketebalan sekitar 16 km di khatulistiwa, sedangkan kutub ketebalannya mencapai 7-8 km. ketebalan rata-rata lapisan troposfer dari permukaan bumi yaitu 11 km.
__ADS_1