Indigo Evolution (Silver Alaska)

Indigo Evolution (Silver Alaska)
Jangan Mati, Kucing Putih!


__ADS_3

Adu pertarungan masih terjadi di luar. Mereka bertujuh sama sekali tak mampu mengenai mata merah di belakang tubuh Harith.


"Bagaimanapun juga, kita harus mampu mengenai target! Ingat, bahwa rekan kita berada di dalam sana. Maka mari, kita berjuang sampai akhir untuk mampu mengeluarkan mereka dari dalam sana!" ucap Justice memprovokasi beberapa rekannya agar tidak parah semangat.


Harith berseringai memandangi mereka lalu tertawa kencang.


"Hahahaha... Hei, katakan padaku bagaimana kau mampu mengalahkan diriku? Kau, mengenai tubuhku saja tak mampu, dan aku tidak akan pernah membiarkan kalian mengenai target ini!" ucap Harith kepada mereka.


Tatapannya menggila bak seorang iblis yang kelaparan. Mata memerah itu membulat namun mulutnya masih setia berseringai menampakkan beberapa gigi taring tajam dalam mulutnya.


"Mari, menarilah bersamaku!" teriak Harith kepada mereka.


Secepat kilatan cahaya leonin kecil itu melompat ke arah mereka. Menancapkan beberapa pedangnya ke arah mereka. Jika tidak sempat menghindar mungkin mereka semua akan mati tadi.


"Sial, mana kita semakin menipis jika begini adanya!" pekik Riley sambil memandangi Harith yang masih berseringai.


Mikhail dan Elvas mulai memperhatikan Harith dengan seksama. Kemudian keduanya menyimpulkan sesuatu, sesuatu perihal sebuah kemungkinan yang mungkin akan membawa kemenangan kepada mereka.


"Coba lihat itu!" seru Elvas sambil menunjuk ke arah Harith.


Beberapa rekannya pun terdiam lalu memandangi satu objek yang Elvas tunjuk. Tanduk itu, Elvas merasakan bahwa segala pengaruh jahat ini berasal dari tanduk yang muncul di sisi kiri tubuh Harith.


"Bisakah kita mematahkannya?" tanya Elvas lagi kepada seluruh rekannya.


"Tapi, bahkan untuk menyentuhnya saja kita tak mampu!" ujar Riley terkejut, ia mencoba mengingatkan kembali tentang batas kemampuan mereka.


Elvas tersenyum mendengar itu, kemudian ia berseringai lalu menatap ke arah Riley.


"Maka akan kuberi tahu kau rencananya!" ucap Elvas pada Riley.


Elvas mematahkan sihir milik Debora yang masih tersambung kepada seluruh rekannya disini. Saat ini gantilah sihir kemampuan Elvas lah yang berada dalam kepala seluruh rekannya.


Dari sana mereka bisa melihat bagaimana serangan yang sudah Elvas susun. Riley tersenyum, dirinya dan Elvas saling bertatapan lalu mengangguk.


Beberapa rekannya mulai mengambil posisi sesuai dengan rencana yang Elvas susun. Dengan Riley yang di tempatkan di area paling belakang.


Seluruhnya mulai bersiap dengan senjata mereka. Kali ini letak pertahanan berada di tengah, bersama dengan Elvas juga disana. Sedangkan Justice ia berada di depan, lalu beberapa rekannya yang lain, mereka berada di sisi kiri dan kanan.


Harith menatap mereka masih dengan seringainya. Tatapan itu seperti sebuah tatapan yang meremehkan. Kuku-kuku panjang itu semakin memanjang. Nafasnya dibuang kasar, setelah itu ia berkata,


"Memangnya merubah posisi penyerangan semacam itu, kau pikir kalian mampu mengalahkanku?" tanya Harith padanya.


Hal itu membuat Elvas tersenyum, momen ini sudah pas untuknya.


Elvas dan Riley melompat ke atas. Dengan Elvas yang lompatnya lebih rendah daripada Riley. Ketika mereka berada di udara. Riley mulai melepas beberapa anak panahnya ke arah Harith.


"Tak berguna!" ucap Harith sambil menatap santai ke arah jutaan panah yang sedang mengarah ke arahnya.


Elvas juga melempar beberapa pedangnya ke arah Harith. Namun tak satu pun pedang mampu mengenainya. Pedang itu menancap di antara sisi-sisi tempatnya berdiri.


"Memangnya untuk apa pedang yang kau lempar, hah? Bahkan mereka sama sekali tidak mampu menggoresku!" ucap Harith.


Ia menghempas seluruh panah milik Riley. Panah-panah itu melebur begitu saja akibat serangannya. Ketika keduanya kembali di posisi masing-masing. Rekannya yang berada di sisi kanan dan kiri mulai bergerak menyerang.


Mereka berdua berlari dengan sihirnya menghunuskan pedang tepat ke arah Harith disana.


"Lagi-lagi serangan yang sia-sia bodoh!" ucap Harith lagi, kembali ia menyerang beberapa manusia itu dengan sihirnya.


Namun Mikhail melindungi rekannya dari jarak jauh. Sihir pertahanan digunakan dalam jarak jauh cukup menguras mananya.


"Sudah kubilang, percuma!" ucap Harith lagi kepada mereka.


Ketika Harith menghempaskan beberapa manusia yang menyerangnya. Rupanya sejak tadi Justice juga ikut mendekat ke arahnya. Ketika Harith sedang sibuk menghalau serangan beberapa rekannya, Justice melompat ke arah Harith mengarahkan pedang miliknya ke arah tanduknya.


"Jangan sombong kau, oni!!!" teriak Justice kepada Harith yang masih membulatkan matanya terperangah menatap ke arah Justice yang sebentar lagi akan mengenainya.


Namun lagi-lagi Harith kembali berseringai. Ketika beberapa manusia yang menyerang sudah ia hempas, kedua tangannya sontak mengarah ke arah Justice mencoba menyerangnya.


Clashhhhh


"Aku sudah membacanya!" ucap Elvas, dari pedang-pedang yang ia buang muncul sulur yang menahan kedua tangan Harith untuk melakukan itu.


"Sial!!!" teriak Harith pada mereka.

__ADS_1


"Aaaaaaaaa!!!" teriak Harith menggila ketika serangan Justice sudah menyentuh tanduknya.


Ini keras dan Justice masih berusaha membelahnya. Hingga ketika tanduk itu parah, Harith jatuh bersimpuh. Tubuhnya memudar, rupanya itu bukan tubuh aslinya. Itu hanya sebuah kloning yang dikirim oleh Iblis seratus juta jiwa.


Riley berlari ke arah Justice. Dengan busurnya ia mulai mengarahkan anak panahnya ke arah mata-mata merah itu.


Ketika seluruh panah miliknya tertancap disana. Terbukalah jalan untuk mereka turun.


"Tak ada waktu, ayo selamatkan Rey!" ucap Riley pada seluruh rekannya.


Tubuhnya pun masuk begitu saja ke dalam pintu masuk itu. Beberapa rekannya pun mengikutinya, mereka masuk ke dalam Silver Alaska.


Setibanya di sana netra mereka mencari keberadaan Rey, Debora beserta Syena. Tempat itu gelap, juga mencekam.


"Terus mencari!" perintah Riley kepada seluruh rekannya.


Mereka bersama berlari menyusuri Silver Alaska yang luas itu. Tak lupa beberapa iblis mulai berdatangan ke arah mereka. Mencoba menghalau niat mereka untuk mencari keberadaan Rey. Ini mudah bagi mereka, sebab para iblis yang datang adalah para iblis rendahan.


Sementara di tempat lain Rey saat ini sedang terengah-engah begitupun dengan Barsh. Regenerasi miliknya bahkan melambat. Rey adalah lawan yang sangat kuat untuknya.


"Kau, guguk sialan yang membuat seluruh manusia di muka bumi ini menderita! Keparat, kau!" geram Rey kepada Barsh yang saat ini bersimpuh dengan pedang yang ia tancapkan di tanah, mencoba menahan tubuh besarnya itu.


Rey berjalan sambil membawa kedua pedangnya. Langkah kaki itu penuh dengan kemurkaan.


"Sekarang, berakhirlah sudah dirimu di tanganku, Barsh!" ucap Rey kepadanya.


Ujung pedangnya sudah mengarah tepat di hadapan Barsh. Barsh disana hanya tersenyum.


Ketika Rey mengayunkan pedangnya ke arah Barsh, iblis sialan itu tersenyum.


"Hahaha..." tawanya lirih.


Clashhhhhhhh


"Ughhhhh..."


Rey membulatkan kedua matanya memekik menahan rasa sakit yang berasal dari sebuah pedang, yang menancap tepat dalam tubuhnya. Rey menunduk melihat ujung pedang itu terlumuri oleh darah miliknya, kemudian netranya beralih ke belakang menoleh mencoba mencari tahu.


"Aku tidak akan dikalahkan dengan mudah, Rey Arlert!" ucap Barsh kali ini mendongak.


Dengan tertatih ia pun juga ikut berdiri. Regenerasinya lambat, Barsh sekarat sama seperti Rey saat ini.


"Arlert..." lirih Debora yang masih terpejam.


Kemampuannya kepada Rey menghilang. Sudah payah Debora mencoba membuka kedua matanya. Samar-samar ia melihat itu, Rey sedang dieksekusi oleh ketiga iblis. Pedang yang menancap menembus tubuhnya itu membuat Debora begitu geram.


"Rey!!!" teriak Debora.


Brakkkkkk


Clashhhhh


Kedua tangannya mengeluarkan sebuah sihir yang setara dengan sihir milik Rey dan Syena. Kekuatan itu membuat beberapa iblis di sana tersapu habis oleh Debora.


Gadisnya itu saat ini, surainya berkibar bercahaya putih. Samar, Rey memperhatikan itu. Ia tidak tau apa yang terjadi kepada Debora, sampai mampu melakukan hal sekuat itu.


"Gadis sialan!" ucap Braun sambil menatap Debora yang sedang berjalan dengan pedangnya menghampiri mereka.


"Aku tidak peduli, sekarang bunuh Arlert lalu ambil pedang guardiannya!" ucap Rauw yang mulai menggila.


Beberapa kali ia menancapkan pedangnya pada tubuh Rey. Ketika Barsh akan menancapkan pedangnya juga ke arah jantung Rey, Debora berlari cepat ke arah Rey.


Clashhhhh


Debora menggerakan tangannya ke arah Ray dan Braun. Detik kemudian sulur-sulur miliknya mulai menghempaskan mereka. Tak hanya di hempasan, Debora juga melilit mereka menguncinya agar tetap diam.


Kali ini ia berlari ke arah Barsh. Mencoba mendahului kecepatan Barsh yang akan menusuk jantung Rey.


"Kucing Putih, jangan!!!" teriak Rey susah payah kepada Debora yang berlari.


Jlebbbbbbbb


"Hah!" Barsh terkejut ketika mendapati Debora yang lebih cepat darinya.

__ADS_1


Pedang Barsh tidak tertancap ke arah tubuh Rey. Namun pedang itu tertancap tepat ke arah jantung Debora.


Detik ketika pedang itu tertancap disana. Kemampuan besar yang tadi Debora miliki sekejap menghilang, kemampuan itu menghilang meninggalkan Debora yang memekik kesakitan.


Perlahan tubuh itu mulai limbung, Rey yang juga terluka menangkapnya. Sejenak netranya menatap pada wajah itu. Wajah yang begitu ia cintai, bola mata itu menatap teduh ke arah Rey.


"Kenapa?" lirih Rey padanya.


Namun Debora hanya tersenyum padanya. Lantas tangan kanannya terulur membelai lembut wajah Rey yang menangis karenanya.


"Jangan mati, kucing putih!" lirih Rey padanya.


"Jangan kalah, Rey..." lirih Debora kemudian ia mulai menutup matanya.


Melihat itu Rey mulai kehilangan kendali. Kepalanya yang tertunduk perlahan terangkat menatap tepat Barsh yang ada di depannya.


"Kau, sudah keterlaluan, keparat!" geram Rey.


Barsh juga kedua iblis disana terkejut mengetahui Rey masih mampu bertarung. Tubuh itu masih mengucurkan darah, bahkan regenerasinya juga melambat. Tubuh itu, masih tetap berdiri kokoh sekalipun mulutnya mengeluarkan darah. Aura kelam penuh amarah itu memenuhi tubuh Rey.


"Rey!!!" teriak beberapa rekan Rey yang baru saja datang.


Melihat itu, Barsh pun terkejut. Mereka tidak akan mampu melawan sebab kekuatan mereka sudah cukup terkuras. Di tambah tanpa bantuan iblis rendahan, maka tidak akan ada yang mampu menahan para rekan Rey melawannya secara bersamaan dan beruntun.


"Mundur!" teriak Barsh kemudian berbalik bergegas pergi dari sana.


Rauw dan Braun yang mendengar itupun juga melakukan hal sama. Mereka berlari pergi dari sana.


"Hoiiiiiiii!!!" teriak Rey kepada ketiganya.


Ketika Riley sampai tepat di belakangnya, Rey menyerahkan tubuh Debora padanya. Sebelum Rey mengejar mereka, ada satu tangan yang masih menahannya. Hal itu membuat Rey berhenti, kepalanya terarah menoleh kebelakang. Dan itu adalah tangan Debora.


"Balas dendamlah dengan santai!" lirih Debora pelan.


Hal itu membuat Rey bersimpuh seketika. Ia menutup kedua matanya dengan tangannya berteriak lalu menangis. Syena keluar dari dalam domain, ia juga lemas ia jatuh bersimpuh. Mikhail pun segera menghampiri Syena di sana.


Syena mengalihkan netranya ke arah Rey. Ia terkejut melihat keadaan Debora saat ini. Syena menatap sendu hal itu, dalam hatinya ia menyesal. Mungkin ini karenanya, sebab jika ia tidak terambil alih oleh iblis situasinya tidak akan seperti ini.


"Cepat bawa Debora ke Noella!" teriak Rey pada seluruh rekannya ia berdiri.


Namun Riley menunduk, ia ingat bahwa Debora adalah manusia biasa. Luka seperti ini, pasti tidak akan terselamatkan. Sekalipun Mikhail menggunakan ramuan, tetapi ketika jantung manusia ditusuk maka mereka pasti akan mati.


"Ayo, tolonglah! Cepat berangkat, Mikhail! Lakukan sesuatu!" ucap Rey masih menangis memohon kepada seluruh rekannya.


Namun ketika Rey melihat Mikhail tertunduk, sungguh tubuhnya lemas rasanya. Kemudian netranya kembali menatap Debora. Rey mendekatinya, membelai lembut surainya.


"Jangan tinggalkan aku kucing putih! Kumohon jangan pergi!" lirih Rey padanya.


Rey menciumi kepala Debora disana, tangan kanannya menggenggam erat tangan Debora yang melemas.


"Rey..." lirih Justice menatapnya sendu.


Ketika semua orang di sana menangis sesenggukan. Rey kembali di ingatkan perihal apa yang baru saja terjadi. Kekuatan yang baru saja Debora keluarkan. Rey yakin, itu ada kaitannya dengan Baron putih.


Perlahan Rey menjauhkan tubuhnya dari Debora lalu menatapnya lekat, netranya kemudian mencari-cari satu tanda. Kemudian Rey menemukan itu, asap kecil regenerasi dari luka Debora.


"Dia masih bisa diselamatkan!" lirih Rey kemudian menggendong tubuh Debora.


Melihat itu seluruh rekannya terdiam mereka terpaku tak tau apa yang Rey katakan. Kukungan tentakel hitam mulai hilang. Rey pun segera membawa Debora pergi dari sana, diikuti oleh beberapa rekannya.


Sekalipun darah dari dalam tubuhnya masih mengucur akibat luka yang masih menganga. Namun Rey tetap menggendong Debora, ia ingin membawanya secepatnya menemui Noella.


"Kucing putih, bernafaslah! Jangan mati, jangan tinggalkan Rey sendiri di sini. Jika kau mendengarku sayang, kumohon bertahanlah!" lirih Rey kepada Debora, ia berharap Debora mendengar segala jeritan hatinya.


Ini benar-benar membuat Rey hancur rasanya. Kucing putih yang begitu ia cintai terluka, dan Rey bahkan tak mampu melindunginya. Tragedi ini akan menjadi penyesalan paling besar untuknya.


Dari belakang, baik Syena juga beberapa rekannya menatap sendu ke arah Rey. Mereka paham, betapa hancurnya Rey saat ini.


Beberapa menit kemudian mereka pun sampai di kastil putih. Mereka tidak menggunakan mantra Leviousa, sebab mana milik mereka tidak cukup untuk melakukan itu. Pertarungan menguras habis seluruh kekuatan mereka.


Debora mulai ditangani di sana. Noella dengan kemampuannya mulai mengobati Debora. Ketika tubuh gadisnya sudah aman, Rey pun duduk di samping pintu rawat itu. Di sana ia mengatakan kepada rekannya, bahwa ia akan di sini sampai Debora sadar.


Tak ada yang mampu rekannya lakukan sekarang. Rey yang bersedia membuat mereka membiarkan apa yang ingin ia lakukan.

__ADS_1


__ADS_2