Indigo Evolution (Silver Alaska)

Indigo Evolution (Silver Alaska)
Kucing Putihku


__ADS_3

...Jika kau mencintaiku dengan satu degup jantungmu...


...Maka aku akan mencintaimu dengan ribuan degup jantungku...


...Cinta itu sederhana, yang rumit itu manusianya...



Pagi menjelang Rensuar. Saat ini terlihat dalam satu ruangan Rey masih terlelap disana. Cahaya mentari membobol masuk kedalam mencoba mengusiknya membangunkannya dari tidur lelapnya.


Pemuda berjubah putih itu masih asik menjelajah mimpinya. Di tambah ini adalah posisi paling nyaman untuknya. Terpejam di samping gadis yang begitu ia cintai dengan segenap hatinya.


Rey enggan melepas tautan tangan mereka sejak semalam. Baginya menggenggam tangan Debora adalah kebahagiaan.


Mungkin hal itulah yang membuatnya masih sibuk mengembara dalam pulau mimpi. Mungkin saja saat ini Arlert ini sedang memimpikan Debora tersayangnya disana.


Sebenarnya jikalau mereka berdua tidak memegang prinsip, untuk mengutarakan cinta mereka ketika dunia damai. Mungkin saat ini, peresmian hubungan mereka akan terjadi terjadi satu sama lain.


Cinta itu sederhana, yang rumit itu manusianya. Cinta itu keindahan, yang sulit di deskripsikan oleh frasa ataupun kosa kata. Asmara adalah bagian terindah dalam skenario takdir.


Sentuhan kecil di antara jari jemarinya itu membuat Debora terbangun pagi ini. Sepertinya mana miliknya sudah cukup pulih.



Debora mengerjapkan kedua matanya beberapa kali. Kepalanya berdenyut pelan itu membuatnya meringis kesakitan.


Debora beralih ke arah samping kiri tubuhnya. Ketika ia menunduk ia mendapati satu manusia yang sedang terlelap disampingnya. Seketika hatinya menghangat ketika melihat kehadiran manusia itu disana.


Pemuda pemilik Surai putih yang sama sepertinya. Siapa lagi itu jika bukan Rey Arlert. Debora sedikit mengingat kembali perihal dirinya yang sempat pingsan sebelum kejadian ini. Sebelumnya, Rey juga setia duduk di sampingnya menunggunya hingga ia sadar.


"Kau ini, selalu saja mampu menghangatkan hatiku!" Lirih Debora.


Tangan kanannya mulai menyentuh Surai putih milik Rey mengusapnya lembut. Ada satu momen yang paling Debora ingat sampai saat ini. Momen ketika Rey meletakkan kepalanya di atas pangkuannya.



Debora sedikit berpikir disini, mengapa Rey sering menunjukkan sifat manisnya untuknya. Apakah perasaannya juga sama sepertinya? Jika memang begitu, perihal untuk tidak menyatakan apa alasannya? Mengapa Rey tidak memberitahukan perihal isi hatinya padanya.


"Awhhh.." Ketika Debora menarik kembali tangan kanannya ia meringis kesakitan.


Luka di sikunya itu masih menganga. Sekalipun itu hanya goresan tetapi itu cukup dalam. Dan sepertinya Noella lupa memberinya obat. Wajar saja, sebab pasiennya sedang bertumpukan diluar sana.


Suara rintisan pelan itu sedikit mengusik tidur Rey. Pemuda itu berusaha membuka kedua matanya. Ketika Rey mendongak melihat ke arah Debora, gadis itu memperhatikan siku tangan kanannya.


"Debora, kau sudah bangun?" Tanya Rey lembut padanya.


Pemuda itu bertanya sambil merentangkan kedua tangannya mencoba meregangkan otot-otot nya.


"Kenapa kau disini?" Tanya Debora mencoba berbasa-basi.


Rey menatap heran ke arahnya. Pertanyaan macam apa yang Debora berikan padanya? Tentu saja ia akan berada disini jika Debora nya terluka.


"Kucing putih, apa maksudmu? Tentu saja aku kemari untuk menjagamu." Ucap Rey jujur.


Debora diam mendengar itu ia kembali fokus pada luka di sikunya. Melihat itu dari dalam domain Rey mengambil sesuatu. Itu adalah sebuah ramuan yang Mikhail berikan padanya semalam.


Clapppp

__ADS_1


Debora memperhatikan botol ramuan yang berada tepat di atas telapak tangan Rey saat ini.



"Itu milik siapa?" Tanya Debora penasaran.


Tanpa banyak berkata-kata Rey menarik lembut tangan kanan Debora. Sambil berdiri Rey membuka botol ramuan itu. Tepat di atas meja samping ranjang ada beberapa alat penanganan luka.


Rey mengambil beberapa kapas disana. Dengan telaten Rey mulai mengolesi luka itu dengan ramuannya. Debora memperhatikan raut wajah Rey yang begitu peduli padanya.


"Aku mendapatkan ini dari Mikhail! Semalam ketika seluruh rekan kita pulang, Mikhail beberapa jam setelahnya kembali lagi kesini membawa beberapa obat. Dia bilang itu adalah pesanan madam Geralda, lalu aku ingat dirimu yang terluka. Aku bicara padanya lalu dia memberiku botol ini. Mikhail mengatakan padaku untuk memberikannya ketika kau sadar." Jelas Rey padanya.


Debora mengangguk mendengar itu. Disana Rey masih sibuk membersihkan lukanya. Selang sepuluh menit setelahnya, cairan itu sudah di oleh merata disana.


Rey kembali duduk kali ini. Ramuan itu ia letakkan di atas meja samping ranjang Debora. Sambil melipat kedua tangannya Rey menatap ke arah Debora. Memandangi Debora dengan seksama.


Surai putih panjang yang menjuntai itu bisanya akan di kepang bawahnya. Atau jika tidak di kepang Debora pasti akan menguncir nya.


"Mengapa kau memandangiku semacam itu Arlert?"


Tanya Debora yang mulai risih dengan apa yang Rey lakukan padanya. Namun disana Rey tersenyum.



"Hei, aku heran mengapa surai milikmu bisa sama warnanya dengan milikku. Adakah penjelasan perihal itu untukku?" Tanya Rey pada Debora nya.


"Surai milikku sudah seperti ini sejak lahir Rey!" Jawab Debora apa adanya.


"Aku suka, kau terlihat menawan dengan surai putihmu. Kau cantik Debora!"


Bagaimana caranya menetralkan debaran jantungnya. Ini semua salah Rey membuatnya tak mampu berkutik di atas ranjangnya. Arlert benar-benar membuatnya bersemu dan mati kaku rasanya.


"Dia bersemu!" Ucap Baron Emas dalam domain.


Mendengar itu Rey berseringai. Waktu yang pas seperti ini jarang terjadi. Ruangan yang sepi tanpa ada pengganggu. Rasanya tak apa bukan jika ia bermain-main dengan kekasihnya ini disini.


"Debora.." Lirih Rey padanya. Namun Debora masih tetap diam.


"Kucing Putih..." Lirih Rey kedua kalinya. Kali ini Debora berpaling menatapnya.


Rasanya Rey ingin tertawa saja sekarang. Inilah kelemahan Debora yang paling ia sukai. Tiap kali ucapan atau perlakuan manis Rey berikan padanya, Debora akan selalu bersemu. Rey berdiri masih dengan senyumannya.



"Apa kau lapar?" Tanya Rey padanya. Debora mengangguk mendengar apa yang Rey katakan.


Perutnya ini sudah kosong sejak semalam. Ditambah mana nya sempat terkuras habis oleh kekuatan iblis.


"Kalau begitu, mari kita cari makanan di kota!" Ujar Rey menawarkan.


Debora hanya mengangguk menanggapi itu. Rey tersenyum melihat anggukan itu. Tanda persetujuan itu membuatnya sangat bahagia.


"Ayo Rey, aku lapar!" Ucap Debora setengah merengek.


Ketika Debora hendak turun dari ranjangnya Rey menahan tubuhnya. Rey menyentuh pundak gadis itu.


"Ada apa?" Tanya Debora padanya.

__ADS_1


Namun disana Rey menggeleng pelan. Jari jemari kekar miliknya mulai menyelinap di antara surainya yang jatuh menutupi matanya. Surai Debora terurai namun berantakan, sungguh Rey tak menyukai hal itu.


"Kucing putih, boleh ku bereskan ini sebentar?"


Ujar Rey sambil memandangi Surai putih milik Debora.


"Kau akan apa?" Tanya Debora padanya.


Gemas mendengar hal itu Rey pun menangkup wajah Debora begitu saja, memainkannya.


"Kucing Putih, coba lihat Surai milikmu yang berantakan ini! Kau tau aku membencinya, itu lah mengapa jika kau ingin pergi denganku sekalipun kau tak mandi. Suraimu harus tetap cantik! Sebab aku menyayangimu maka aku ingin kau berias rapi selagi pergi denganku."


Ucapan itu hangat sekali tulus dan dalam. Tak ada penolakan yang Debora berikan untuknya. Rey menyuruh Debora berbalik memunggunginya. Gadis itu hanya menurut saja.



Saat itu juga jari jemari Rey mulai aktif bermain di antara Surai putih Debora. Sejak dulu Rey memang sering mengepang Surai milik Syena. Hal itu Rey pelajari dari susternya.


Ketika Syena berusia lima tahun kepangan adalah hal yang paling Syena sukai. Akibatnya demi menyenangkan adiknya, Rey pun juga mempelajari cara mengepang rambut dari susternya.


Hanya butuh beberapa menit untuk Rey menyelesaikan kepangan itu. Hasilnya surai putih Debora sudah cukup rapi. Ketika Debora berbalik ke arahnya Rey pun tersenyum mengacungkan kedua jempol nya.


"Ayo kita pergi!" Ajak Rey lagi padanya.


Debora pun turun dari ranjangnya. Namun sepertinya kakinya masih lemas disana sehingga menyebabkan tubuhnya jatuh menabrak tubuh Rey.


"Naiklah!"


Ucap Rey mengubah posisinya memunggungi Debora lalu merendahkan sedikit tubuhnya. Tanpa banyak berpikir panjang, Debora juga tau perihal kapasitas energinya.


Debora pun mengalungkan kedua tangannya di antara leher Rey. Lalu menjatuhkan tubuhnya ke depan ke arah tubuh Rey. Detik kemudian Rey pun menggendong tubuh Debora di belakangnya.


"Katakan jika aku berat aku akan turun!"


Lirih Debora tepat di telinga Rey. Namun Rey hanya tersenyum menanggapi itu.


"Iya kau berat!" Ucap Rey padanya. Debora memicingkan matanya seketika.


"Kalau begitu turunkan aku!" Perintah Debora padanya.


Mereka sudah berjalan keluar dari dalam ruang rawat. Rupanya pagi ini pun Muskeeters kastil masih belum beroperasi.



"Mengapa harus ku turunkan dirimu, jika aku tau kau saja tak sanggup berjalan." Ujar Rey dengan nada meremehkan.


"Aku bisa!" Sangkal Debora, ha itu membuat Rey terkekeh.


"Kucing Putihku, sekalipun kau begitu mengesalkan! Aku tidak akan membiarkanmu terluka lagi!"


Lagi-lagi ucapan hangat itu kembali di lontarkan. Sebenarnya Debora sangat bahagia tiap kali berada di samping Rey.


Hanya saja ia mencoba bersikap netral, sebab ia tak ingin perasaannya nanti di pertanyakan. Ia percaya pada akhirnya nanti ada durasi yang tepat bagi mereka untuk mengungkapkan isi hati mereka satu sama lain.


...Jangan hanya menghitung apa yang telah hilang, tetapi pikirkan apa yang masih kita miliki...


__ADS_1


__ADS_2