
...Ketakutan adalah pengetahuan yang tidak lengkap...
...Ketakutan tidak ada di mana pun kecuali dalam pikiran...
...Dia yang telah mengatasi ketakutannya akan benar-benar bebas...
______________
Wushhhhhhhhhhh
Seakan muncul dari dalam tanah para Iblis dibalik tubuh Barsh mengaum muncul satu persatu tak ada habisnya. Rey memperhatikan Debora yang masih berkutat dengan pedangnya, tak ada lontaran ide yang ia berikan pada mereka gadis tipe pemikir, kapten mereka ini justru bungkam seakan tak ingin menyimpaikan apapun. Hanya tiga orang disini yang berpemikiran dangkal, Mikhail mampu merakit ide dengan sempurna jika saja keahliannya sama dengan Debora, minusnya adalah Mikhail bukan tipe pembaca gerakan, jika saja itu ada dalam dirinya mungkin profesi Debora dapat ia gantikan.
Krashhhhhhhhh
Adu pedang itu kembali terjadi antara Rey dan Barsh, seluruh rekannya kini juga sedang sibuk menghadapi puluhan Iblis yang datang mengancam nyawa mereka menangkis tiap serangan yang datang demi menjaga nyawa mereka tetap aman.
"Debora pikirkan sesuatu!"
Sringggggggg
Ditengah perseteruan itu Justice berteriak seraya masih melindungi dirinya.
"Kita bisa mati jika seperti ini caranya bahkan menggunakan mantra pun kita tidak akan sempat merapalnya. Ini terlalu banyak!"
Kali ini Mikhail juga ikut memprovokasi Debora. Saat ini entahlah apa yang terjadi pada gadis itu ia lebih memilih bungkam, bahkan bertarung diantara tengah mereka seakan meminta perlindungan, masa lalu itu sampai detik ini masih membawanya menjadi manusia pengecut.
Riley yang paham akan apa yang dirasakan Debora, sedaritadi Riley mencoba melindungi rekannya itu, sepertinya gadis itu memang belum siap untuk mati atau terlalu takut untuk mati.
Bruakkkkkkkkk
Barsh terhempas cukup jauh kebelakang setelah menerima serangan cukup kuat dari Rey. Disana Rey mulai mendekatinya lagi, namun apa ini ketika pedangnya hampir menebas leher Barsh guguk besar itu dengan licik berganti arah, melesat tepat kearah Debora juga Riley. Jarak mereka cukup jauh namun pergerakan Barsh menyamai gerakannya, Rey membulatkan mata ketika runcing pedang itu terhunus mengarah tepat ke arah Debora.
"Guguk sialan!" Umpat Rey dalam hatinya.
Brshhhhhhhhhhh
Rey bersyukur tatkala melihat Justice begitu tanggap menghadapi itu dengan aliran sihirnya, pedang itu seakan diberi sekat satu sekat untuk melindungi Debora dari kemungkinan celaka.
"Debora seluruh nyawa kami tergantung pada otakmu! Kau tau ahli perancang strategi, tipe pemikir, ahli pembaca gerakan adalah dirimu tapi mengapa saat genting seperti ini bahkan kau tak berguna, lebih tak berguna dibandingkan aku dan Rey!"
Clesssssssss
Umpatan demi umpatan Justice lontarkan untuk Debora, sungguh ini menjengkelkan, jika otak dari tim mereka pasif maka segala pekerjaan yang mereka tempuh tak akan berjalan atau mendapatkan hasil yang baik.
"Aku...ak...aku terlalu takut mati!"
Lirihnya kalimat memuakkan itu menyulut amarah Justice seketika, apa ini sebabnya, manusia ini memilih berada ditengah mereka seakan mencari perlindungan. Sialan, sungguh rasanya telapak tangan milik Justice ingin mencabik-cabiknya.
"Tak ada yang mampu diperdebatkan dalam pertempuran! Saat ini menjalankan misi juga melindungi rekan kita adah yang utama! Dia yang bertahan selama serangan ini adalah pemenang!"
Kali ini Riley berucap, Riley berada tepat dibelakang Justice mereka saling memunggungi satu sama lain saling melempar serangan pada Iblis-iblis disana yang mendekat.
Rey masih sibuk beradu mekanik dengan Barsh sungguh mana milik Barsh tak ada habisnya menurutnya, entah apakah para Iblis juga menggunakan mana atau tidak namun tenaganya sama sekali tak terkuras sungguh.
"Kau bisa membantuku?"
Kali ini Rey mencoba bertelepati dengan Baron dalam tubuhnya, karena Rey belum sepenuhnya menguasai teknik pedang miliknya ia meminta alternatif jalan pintas pada Baron untuk segera mengakhiri ini membantu ke empat rekannya itu kabur dari situasi kematian ini.
__ADS_1
"Aku sudah membantumu! Aku berada dalam tanganmu saat ini."
Ujar Baron padanya Rey berdecak kesal mendengar itu apa makhluk ini tak tau posisinya saat ini. Sungguh jika dia manusia Rey pasti akan mengajaknya bertarung akibat tak paham situasinya.
"Ayolah mengertilah kumohon! Aku harus menjadi kuat!"
Ujar Rey, ambisi besar itu turut Baron rasakan.
"Jika kau menggunakanku dengan kapasitas mamamu yang masih rendah, namun kau menginginkan kekuatanku yang lain, Rey kau bisa mati! Kau bisa ikut tertelan kekuatan itu layaknya apa yang terjadi pada Bembi dan Lunox!"
Rey berfikir sejenak mendengar itu, sekejap matanya kembali dibuat terkejut ketika aksi dari Barsh itu terulang lagi.
Jlebbbbbbbbbb
Pedang milik Barsh berhasil masuk menembus kulit Riley saat itu, seakan di aliri kekuatan lain Rey seketika berubah sepenuhnya. Aliran listrik yang mengaliri tubuhnya semakin kuat, kilatan petir dari Angkasa kian menyambar-nyambar ke arahnya berlomba-lomba memenuhi tubuh Rey. Cahaya dari dalam pedangnya itu kian membesar.
Drttttttttttttt
Drttttttttttttt
Riley tumbang dengan Debora berada dibelakangnya menangkap tubuhnya sigap agar tak terbentur di atas tanah.
Clashhhhhhhhh
Tebasan pedang cahaya bersamaan dengan petir itu terhempas, membentuk satu serangan melintang yang hampir mengenai Barsh. Namun dengan cepat Barsh menghindari hal itu, fatalnya serangan itu meleburkan seketika 400 pasukan Iblis.
"Uhukkkkk..."
Syena terbatuk, darah segar itu mengalir dari lubang hidungnya begitupun dengan batuknya yang di iringi darah. Rasanya mana miliknya hampir habis, ia akan mati jika memaksakan dirinya.
"Rey!"
"Pergilah kalian dari sini! Aku akan mengurus sisanya!"
Kalimat itu membuat seluruh rekannya membulatkan mata, kegilaan semacam apakah yang diucapkan Rey apa ia ingin bunuh diri.
"Tapi Rey kau jangan konyol!"
Drttttttttttttt
Drttttttttttttt
Sambaran petir di iringi kilatan cahaya yang kedua sekejap membinasakan seluruh Iblis yang tersisa disana kecuali dengan Barsh yang mengarahkan pedangnya sebagai tameng. Melihat itu Justice terhenyak, sontak ia segera menggendong Riley membawanya ke atas Khufra.
"Apa tak apa meninggalkan Rey sendiri disini?"
Sembari mereka berjalan mendekati tugangannya, Mikhai bertanya. Debora yang mengekori mereka hanya menunduk ia menyesal, ia malu, rasanya bercampur menjadi satu.
"Kau lihat dari perkataannya, itu bukan Rey! Tapi sosok Baron dalam tubuhnya. Aku tidak begitu paham mengenai apa yang terjadi sekarang, intinya aku percaya Rey mampu menghalaunya. Kita lari ke istana sekarang, berikan Riley pertolongan lalu minta kaisar datang kemari membawa Rey bersamanya."
Jelas Justice, Mikhail mengangguk mendengar itu segera mereka menaikan tubuh Riley di atas Khufra lalu pergi dari sana.
"Harith, sudah kubilang bulan padamu! Lihat apa yang terjadi sekarang!!!"
Noella naik pitam rasanya menyaksikan apa yang terjadi disana, Harith bangkit dari duduknya mengambil jubahnya lalu berlalu dari sana. Noella memandangi punggung yang pergi meninggalkannya itu ketika Noella akan mengejarnya, Harith sudah menghilang.
"Guguk besar bajingan!!!" Umpat Rey.
Sekalipun Baron saat ini yang menguasai tubuhnya namun rasanya sifat juga segala kekesalan Rey masih bisa mempengaruhi Baron.
"Hahahaha... Hanya itu kemampuanmu, tunduklah kau wahai Baron hina!"
__ADS_1
Kali ini tebasan pedang itu akan bertemu kembali beradu satu sama lain.
Krasssaassss
Gesekan pedang keduanya saling memercikan kekuatan, antara petir juga cahaya biru dari pedang Barsh.
"Ameera Amoerra Abyas!!!"
Mantra penghancur bersekala besar itu masuk kedalam pedang milik Rey.
Bruakkkkkkkkk
Booommmmm
Barsh terhempas kebelakang menyapu tanah sampai pada detik tubuhnya terbentur kerasnya tembok Alaska. Disana Rey membabi buta, gelap mata menyerang tanpa ampun pada Barsh. Serigala itu terus mengelak dan mengelak rasanya ia terpojok kali ini. Begitupun di atas benteng Syena sudah kehabisan seluruh mananya, ia bersimpuh nafasnya tersengal-sengal.
Di tengah keputusasaan itu, juga Rey yang semakin menggila. Sebuah telapak kaki datang berpijak tepat disamping Syena, ketika Syena mengarahkan netranya terlihat sosok itu adalah Tuan mereka. Sosok yang paling ingin Rey habisi, sosok yang kehancurannya dinantikan dunia, Iblis seratus juta jiwa.
"Tuan?" Pekik Syena, namun wujud itu tak menjawab ia malah menghilang darisana.
Clinggggggg
Brshhhhhhh
Iblis seratus juta jiwa itu menangkis serangan Rey, Barsh terpental kembali terhempas menabrak tembok Alaska. Disana untuk pertama kalinya Rey dibuat merinding dengan aura hitam sosok ini. Hanya dengan satu tangkisan dari lengannya Rey terhempas kebelakang.
Bruakkkkkkkkk
Tubuh Rey menabrak sesuatu, sepasang tangan menangkap tubuhnya. Itu adalah Harith, akhirnya untuk pertama kalinya Rey bertemu juga menyaksikan sendiri rupa dari Iblis seratus juta jiwa. Tubuh berzirah hitam, mata hijau menyala, aura hitam menyelimuti terselubung memenuhi tubuhnya. Harith dibuat terkejut ketik melihat apa yang ada didalam tubuh sosok itu, tak mungkin, jika seperti ini keadaanya mereka pasti kalah.
Ketika Iblis itu menyerang mereka Harith menjadikan jubahnya sebagai tameng mengukung Rey didalamnya membawanya pergi dari sana.
"Leviousa!"
Mantra penghilang itu sekejap membawa mereka kabur darisana, detik kemudian mereka sampai tepat di Istana Putih. Terdengar dari belakang langkah kaki Mikhail, Justice dan Debora mendekat ke arahnya Rey yang akibat kekuatan yang ia pakai terlihat tak sadarkan diri disana. Justice membawa Riley dibelakang tubuhnya menggendongnya ia berteriak mencari keberadaan Noella. Mereka sempat melewati Rey, namun yang terpenting saat ini adalah Riley. Ketika keberadaan Noella diketahui, Noella dengan cepat membaringkan tubuh Riley di ranjangnya disana mereka bertiga disuruh menunggu diluar, bersamaan dengan tertutupnya pintu medis Harith datang membopong Rey.
"Apa dia tak apa?"
Kali ini Justice lebih dulu menghampiri Rey mengecek apa yang terjadi padanya.
"Dia tak apa! Kau tenang saja!" Ujar Harith.
"Sebenarnya apa yang terjadi padanya paman?"
Kali ini Mikhail mengajukan pertanyaan mengenai apa yang terjadi pada Rey. Mengapa manusia ini mampu mengeluarkan kekuatan sehebat itu sementara mana milik mereka masih rendah, lalu apakah tidak beresiko apa-apa pada tubuhnya setelah menggunakan itu.
"Dia teramat menyayangi kalian, dia adalah manusia yang paling kuat tak mampu kehilangan kalian yang sudah ia anggap sebagai keluarganya. Aku akan membawanya ke ruanganku."
Jelas Harith segera berlalu dari hadapan Riley dan rekannya. Mendengar ungkapan itu rasanya hati mereka menghangat, terutama pada Debora, rasanya ia seakan di tampar kedua rekannya berani mati untuknya namun mengapa sebegitu pengecutnya dirinya tak mampu memberikan hal setimpal.
...Semakin besar pilihan seseorang...
...Maka semakin besar pula pengorbanan yang harus ia berikan...
___________
Ensiklopedia :
Merkurius adalah planet terkecil di Tata Surya sekaligus yang terdekat dari Matahari. Periode revolusi planet ini merupakan yang terpendek dari semua planet di Tata Surya, yakni 87,79 hari.
Suhu di permukaan Merkurius masih bisa mencapai 427 derajat Celcius pada siang hari, tetapi bisa turun hingga minus 290 derajat Fahrenheit (minus 179 derajat Celcius) pada malam hari.
__ADS_1