
...Kehidupan itu sama dengan langit terus berpindah dan bergerak...
...Langit takkan selamanya cerah dan salju takkan selamanya jatuh...
...
___________...
Usai acara sarapannya bersama seluruh rekannya, Rey berpisah dengan mereka didepan pintu masuk Land White. Berbekal semangat dari rekannya bersama dengan Dion, ia masuk kedalam sana sesuai dengan peta yang Harith berikan padanya.
Mereka berjalan diantara rerimbunan pohon putih. Garena Rensuar, tempat keramat terkenal sakral itu tak ada yang tau dimana letaknya. Hanya Kaisar putih saja, beserta para petinggi lainnya yang tau dimana itu.
Mengapa Garena itu disebut sakral, karena ajang peraduan didalamnya akan berlangsung sesuai dengan kapasitas waktu yang ditentukan, ajang itu akan melahap siapa saja didalamnya, tak memperbolehkan mereka keluar sebelum jam kesepakatan habis.
Artinya, jika seseorang didalam bertarung hingga sekarat, jika jam belum berbunyi kalian tidak akan bisa keluar dari sana. Orang-orang diluar pun tidak akan mampu masuk kedalam, untuk sekedar menolongnya.
Sesuai peta yang Harith berikan, Rey dan Dion berjalan menyusuri land white. Peta ini mengatakan bahwa letak tempat itu berada disekitar land white. Ketika mereka sampai ke titik itu, rupanya titik dalam peta itu adalah pohon itu. Dumbo, si pohon sakral didalam land white, pohon pertama yang akan para pemula sihir kunjungi. Disana Rey dan Dion saling menatap, seakan bertanya-tanya, mengapa peta mengarahkan mereka pada sebuah pohon, mengapa bukan portal.
"Lebih baik kita bertanya saja, Rey!"
Ucapan dari Dion membawa Rey mendekat ke arah Dumbo, pohon itu sepertinya masih tertidur.
"Dumbo! Kami membutuhkanmu!"
Ujar Rey tepat dihadapannya, bunyi-bunyi dahan dari pohon ini mulai bersuara. Tak butuh waktu lama, wajah dari dalam pohon itu keluar menyembul siap menyapa, siapakah yang datang dihadapannya.
"Hohoho... Tuan Baron, Anda kemari ya!"
Rey mengangguk sembari menunjukan peta yang diberikan Harith padanya.
"Ya memang tiap peserta diberi peta tempat yang berbeda, Garena ini begitu sakral Tuan. Aku berdoa semoga kemenangan memilihmu!"
"Terima kasih banyak atas doanya, sudah waktunya untuk kami berangkat. Bisakah kau menunjukan kami, dimana itu?"
Ujar Rey entah apa yang menyerang dirinya hari ini, perkataannya begitu santun dan sopan. Mungkinkah meletakkan dirinya dipangkuan Debora semalam membuatnya menjadi seperti ini.
"Portal itu, ada dalam diriku!"
Grekkkkkkkkk
Grekkkkkkkkk
Pohon besar itu terbelah, dari sana nampak sebuah portal berwarna emas. Rey menatap dalam portal itu, usai pembicaraannya dengan Baron semalam, juga perjanjian itu, tekadnya semakin membara. Rey ingin segera menggapai Syena, demi apapun, sekalipun nyawanya sendiri taruhannya, adiknya tetap satu prioritas penting dalam hidupnya.
Ini adalah hari pembuktian, Rey yakin piala juga kemenangan Asramanya berada dalam tangannya.
"Mari masuk, bawa pulang Piala!"
Ujar Rey pada Dion disampingnya, Rey berucap tanpa menatap. Bola matanya fokus tepat ke arah portal didepannya, Dion merasakan sesuatu dari dalam diri Rey. Semangat itu, Tekad itu berkobar lebih kencang dari biasanya.
__ADS_1
Ketika Rey melangkahkan kakinya mendekati portal, sesuatu dari dalam tanah keluar. Secercah cahaya emas itu menjulang, muncul tepat dihadapan mereka.
Wushhhhhhhhh
Sesuatu itu membuat keduanya berhenti, ketika secercah cahaya itu bergerak rupanya ia sedang membentuk sesuatu, sesuatu yang membuat Rey membulatkan matanya.
Tubuh itu, surai itu, wajah itu mengapa muncul dihadapannya, mengapa seperti nyata sekali. Rey menggerakan tangannya, perlahan masih dengan mata yang membulat ia ingin menyentuh sosok itu. Sosok dihadapannya ini, Syena.
"Syena!"
Sapaan dari Rey itu membuat sosok itu tersenyum ke arahnya, betapa bergetarnya hati Rey melihat senyum itu. Adik yang begitu ia cintai, adik yang gagal ia lindungi, apa ini nyata. Jika nyata rasanya ia ingin merengkuhnya sungguh, sambil mengucapkan beribu-ribu ucapan maaf padanya.
Syuthhhhhhhh
Sosok itu menghilang ketika Rey menyentuhnya, disana Rey tersadar. Netranya mengarah ke arah Dion, rupanya Dion pun mengalami hal yang serupa. Dion melihat ibunya, ibunya yang dilahap Iblis itu berdiri dihadapannya tersenyum ke arahnya. Apa yang kalian rasakan jika seseorang yang sudah lama pergi, tiba-tiba muncul dihadapanmu lalu tersenyum. Seseorang itu adalah yang paling kau cintai, apa hati kalian tidak akan bergetar setelah melihatnya.
"Kenapa kita?"
Tanya mereka berdua serentak kebingungan, mereka tak memahami apa itu dan mengapa muncul dihadapan mereka.
"Ilusi portal, membaca segala hal dalam hatimu. Ia membaca kelemahan dirimu! Garena ini cukup ditakuti, karena sekalipun kalian didalam sana sekarat, jika batas waktu perjanjian belum usai. Tidak ada satupun yang bisa menghentikannya, ataupun menolongmu!"
Rey mengepalkan tangannya kuat, memori-memori tentang Syena merasuk dalam pikirannya. Dion disampingnya sedikit khawatir sekarang, mengapa seleksi akhir semenakutkan ini, bukankah itu artinya para petarung akan diberi kebebasan atas kekuatannya. Lepas kendali dan hampir membunuh, atau mungkin terbunuh, akan terjadi disini.
"Tapi bagaimana jika ada yang mati disini?"
"Kalian sudah tidak bisa mundur dari sini, ketika telapak tangan kalian diletakan diatas api pendaftaran. Itu adalah pertanda bahwa kalian mampu! Selamat berjuang!"
Kalimat dari Dumbo membuat Dion pasrah sekarang, Rey dengan tekad yang masih berapi-api maju, masuk kedalam portal itu.
Syuthhhhhhh
Tibalah Rey masuk didalam ruangan serba putih, tak ada apapun disini. Hanya ruangan kosong, dengan satu portal persegi diatas mereka. Portal persegi itu memperlihatkan dua orang yang sedang bertarung, rupanya ini adalah tempat menunggu giliran. Ada sembilan orang disini, mereka lah para peserta final.
"Apapun yang terjadi, mari lakukan yang terbaik!"
Rey kembali menyemangati Dion disampingnya.
"Pasti itu!"
Durasi waktu dalam Pertarungan ini adalah lima menit. Disana terlihat dua orang dalam pertarungan itu masih sama-sama unggul, mereka berdua petarung dari divisi yang berbeda. Abjad sihir mereka adalah B dan E, disini terlihat pengguna abjad E terlihat unggul. Sekalipun mereka dikenal memiliki ketahanan tubuh yang lemah, namun otak mereka cerdas. Mereka adalah para pembaca gerakan, perancang strategi.
Apa yang dikatakan Mikhail dulu sempat terbesit dalam pikiran Rey saat ini, saat itu dirinya menyaksikan pertarungan antara Debora dan Riley dalam seleksi. Mereka berdua bertaruh, tentang siapakah yang akan memenangkan pertandingan itu. Rey sempat menganggap remeh Debora, namun hasil akhir mengatakan hal lain, rupanya Debora lah yang keluar sebagai pemenang mengalahkan Riley.
Disana Mikhail membagikan resep cara menyerang Penyihir dengan Abjad E. Mereka harus diserang terus menerus secara beruntun, itu akan membuat mereka sulit fokus, tubuh mereka yang melayang menggunakan kekuatan, itu juga menghabiskan mana.
Jika gempuran terus menerus dilayangkan sedangkan otak mereka tak mampu mengeluarkan gagasan brilian, ditambah mana yang terus terkuras, itu akan melemahkannya, bahkan menjatuhkannya ke tanah, saat itulah waktunya melayangkan serangan pamungkasnya.
Disini abjad sihir B terlihat kewalahan, sulur-sulur cahaya dari bawah tanah terus menghajarnya. Akibatnya dirinya terus mundur dan mundur, fatal jika kakinya terlilit oleh itu.
__ADS_1
Rey memperhatikan sesuatu disana, jari telunjuk pemegang sihir E itu menyentuh udara, disana memercik satu cahaya. Ketika dirinya melompat ke atas, membawa pedangnya bersamanya. Sulur-sulur cahaya yang menggempur lawannya sama sekali tak berhenti, itu masih tetap ada, masih bergerak menyerang lawannya.
"Apakah kita bisa memusatkan sihir kita, tanpa mengendalikannya?"
Rey mengajukan pertanyaan pada Dion sekarang, Dion yang memperhatikan portal menatap ke arah Rey.
"Tentu saja bisa Rey! Namun ada durasi waktunya!"
Jawaban itu mengingatkan Rey pada beberapa kejadian akhir-akhir ini. Kejadian saat melawan Syena, saat itu, ketika sekat dari langit datang menghalau mereka, Syena menggunakan kesempatan itu untuk kabur. Namun sekat itu tak hilang ketika penyihirnya tak disana.
Hal itu sudah cukup membuktikan, sihir tanpa bisa dipusatkan atau diletakkan pada satu tempat sekalipun pemiliknya kabur, sihir itu masih akan ada menyusut dan hilang seiiring durasi waktunya. Dari hal itu Rey semakin yakin, bahwa sihir dan pedang memang kombinasi yang sempurna.
"Pelajaran tentang menaruh durasi pada sihir yang ditinggalkan, akan kau pelajari di tahun ketiga."
Mendengar jangka waktu yang cukup lama itu Rey tersenyum, ia yakin bahwa tanpa ada di tingkatan ketiga pun ia bisa. Perjanjian luar biasa itu sudah ia dapatkan, Baron bilang awalnya memang sangat menyakitkan namun lama-kelamaan seluruh kekuatan abjad sihir pedang akan Rey kuasa.
Ramalan para Lapu-lapu terhadapnya perlahan-lahan akan terbukti. Manusia yang sedang Baron tempati ini, menyimpan banyak hal yang membuat Baron takjub. Itulah yang mengakibatkan perjanjian itu muncul, saat Rey berada dalam keputusasaan, ketika dirinya muak tak mampu membantu ataupun menolong orang-orang yang ia cintai.
Harapan yang datang dari hati yang perih itu, membawa perjanjian itu datang kehadapan Rey. Dari dalam domain, Rey mengambil segala konsekuensi perjanjian itu dihadapan Baron, termasuk hasil akhir yang fatal setelahnya, Rey menerima itu semua.
Syuthhhh
Rey mengeluarkan Baronnya, sambil menunjuk ke arah portal, Rey berseringai.
"Lihat saja, hari ini akan kubuat Harith menuruti perkataanku!"
Ujarnya, terdapat banyak sekali ambisi dari dalam bola matanya, keyakinan itu kuat sekali terucap. Beberapa Musketeers tingkat tinggi disana meremehkan bahkan menertawakan apa yang Rey ucapkan. Sekalipun gelar Baron Putih Legendaris berada dalam dirinya, tetapi ia masihlah seorang bocah pemula bukan. Ilmu yang ia serap masih sangatlah rendah.
"Ucapanmu berlebihan bodoh!"
Hinaan Baron melalui telepati itu sama sekali tak meluruhkan semangatnya. Bocah ini masih tersenyum, bocah ini masih memeluk keyakinannya.
"Aku tidak peduli apa yang manusia katakan tentangku! Aku kuat, aku bisa meraih tujuanku secepatnya. Lagi pula aku tidak egois, perjuanganku ini untuk jutaan populasi manusia juga."
"Tapi tidak dengan mengatakan hal sesombong itu tentang Harith!"
Lihatlah betapa setianya Baron pada mantan majikannya itu, bukankah sekarang Tuannya adalah Rey. Mendengar itu Rey tersenyum, mungkin membuat Baron sedikit kesal pagi ini boleh juga, ia butuh hiburan sebelum pertarungannya dimulai.
"Baiklah-baiklah, mungkin memang kesannya berlebihan. Tapi sudah ku katakan, kau mau apa?"
Drtttttt
Rey terkejut ketika Baron menyengatnya melalui pedangnya. Sial sekali kakek tua itu. Baron dari dalam domainnya tersenyum usai melakukan itu, sambil menatap wajah Rey yang masih terkejut akan tindakannya, ia berucap.
"Aku tidak akan berprotes apa-apa lagi, aku hanya ingin mengatakan! Lakukan yang terbaik, maju, jangan mundur."
Rey tersenyum, semangat yang cukup sekali membuatnya bahagia. Rey mengembalikan Baron lagi kedalam domainnya, sambil berjalan ke arah tempat duduk yang kosong. Ia duduk disana sambil masih tersenyum, netranya kembali menatap portal itu. Dion dibuat heran akan tingkah Rey, ia masih tersenyum, sekalipun beberapa manusia dalam ruangan itu meremehkannya.
Dari banyak pertarungan didalam sana, beberapa yang kalah akan kembali ke ruangan ini. Lalu, beberapa Elf datang membawa tubuh terluka itu pergi dari sana. Mungkin mereka akan membawanya ke Istana, tempat Noella merawat Riley dulu. Satu orang yang masih unggul disana, berdiri melayang, ia sudah menumbangkan empat orang. Bukankah luar biasa, orang itu bernama Elvas, Dion sedikit menceritakan tentang Elvas, ia adalah Musketeers tingkat empat, anggota Fortressia, divisi pertahanan. Dikenal cukup tangguh memang, dari banyaknya para Musketeers divisi Fortressia, Elvas adalah satu-satunya Musketeers yang banyak sekali melenyapkan Iblis.
...Langit dan bumi mungkin bergerak, tapi hati ini tidak akan tergoyahkan...
__ADS_1
_______