
Debora masih terlelap pagi ini. Jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi. Dan Rey sudah satu jam sibuk di dapur membuatkan sarapan mereka pagi ini.
Rey tidak tega membangunkan Debora yang masih terlelap mengarungi lautan mimpi. Mungkin dia semalam memang bekerja cukup berat. Rey tau Debora kelelahan semalam, ditambah dinginnya hujan semalam yang menerpanya.
"Ah, akhirnya sudah selesai! Berat juga masak dua menu pagi ini. Tapi kenapa kucing putih masih belum bangun juga?" ucap Rey sambil memperhatikan anak tangga berharap Debora turun dari atas sana.
Setelah menata seluruh makanannya di atas meja. Rey pun berinisiatif untuk naik, membangunkan Debora. Istirahat memang perlu tetapi manusia juga membutuhkan asupan bukan?
Rey berjalan menaiki anak tangga satu persatu. Hingga ia tiba di depan kamar Debora. Ketika akan membuka pintunya, Debora lebih dulu membukanya dari dalam.
Kesadaran yang masih belum pulih sepenuhnya membuat Debora sontak menabrak tubuh Rey. Debora memekik pelan. Debora mendongak ketika Rey memegang tubuhnya.
"Rey!" ucap Debora.
"Kau baru saja bangun?" tanya Rey sambil memperhatikan Debora.
Wajah khas bangun tidur itu didominasi dengan Surai yang acak-acakan.
"Iya, maaf ya, aku akan menyiapkan makanan sebentar! Kau pasti lapar, bukan?" tanya Debora menjauhkan tubuhnya dari Rey.
Namun Rey menahannya, membuat Debora tetap berhadapan dan dekat dengannya. Debora meletakkan kedua telapak tangannya di dada bidang Rey.
Kedua insan itu saling tatap satu sama lain. Rey yang sedikit menunduk saat menatap Debora, tinggi mereka tak sama. Rey lebih tinggi tubuhnya daripada Debora.
"Kenapa buru-buru, Kucing Putih?" tanya Rey lembut.
Debora menundukkan kepalanya tidak menjawab itu. Posisi ini hampir membuat dia mati kaku rasanya. Tapi dia juga senang sekali berada dekat dengan Rey dengan jarak seminim ini.
"Aku akan memasak untukmu!" jawab Debora padanya.
Rey tersenyum lalu mengarahkan dagu Debora agar menatapnya. Perlahan Debora kembali menatap Rey.
"Kau cantik sekali saat bangun tidur!" puji Rey padanya.
"Ahhh.. Jangan menggodaku!" rengek Debora berusaha berontak dari kukungan Rey.
__ADS_1
"Semalam aku sudah bilang padamu, bahwa aku menyayangimu. Jadi, Rey ini ingin menjadi bagian dari hidupmu mulai saat ini. Debora, apakah kau mau menerima Rey sebagai kekasihmu?" tanya Rey serius padanya.
Sebisa tertegun mendengar itu. Tak lama dia tersenyum tipis sambil menatap Rey.
Kau sudah menjadi kekasihku sejak dulu! Hanya saja, kau saja yang belum mengingatnya!. Ujar Debora dalam hatinya.
"Kau tidak menjawabku?" tanya Rey lagi padanya.
"Aku harus jawab apa ya?" tanya Debora kembali pada Rey dengan nada bercanda.
"Apakah kau mengizinkanku masuk menjadi salah satu orang penting dalam hatimu?" tanya Rey padanya.
Debora tidak menjawab itu. Dia hanya menunduk sambil mengangguk pelan. Jawaban itu membuat Rey bahagia rasanya. Pagi ini dia ingin sekali lagi mengecap manisnya bibir itu.
Ciuman yang dia lakukan bersama Debora benar-benar memabukkan. Gadis ini benar-benar membuatnya jatuh hati sepenuhnya. Debora adalah satu-satunya gadis yang bisa menjungkirbalikkan dunia Rey.
"Sayang.. " lirih Rey sambil mendekatkan wajahnya pada Debora.
Tentu saja Debora tidak menolak itu. Rey kekasihnya bukan? Ciuman lembut itu kembali terjadi. Tiap kali ciuman itu mereka lakukan. Rey kembali mengingat beberapa memori yang hilang.
Rey ingin lebih tau segalanya. Dia pun semakin memperdalam ciumannya. Rey menghimpit Debora ke dinding sambil masih mencumbunya.
Perlahan ingatan itu mulai menampakkan satu wajah bahagia samar-samar. Seorang gadis bersurai putih tersenyum setelah diberikan sebuah kado.
Ketika gadis itu akan berbicara. Sakit di kepalanya semakin membuat Rey tersiksa. Namun Rey tetap bertahan, darah segar keluar dari dalam hidungnya.
Debora yang sejak tadi memejamkan kedua matanya kembali membukanya. Debora terkejut melihat darah segar mengucur deras dari hidung Rey. Refleks Debora pun menjauhkan Rey darinya. Ciuman mereka terlepas saat itu juga.
"Rey, kenapa?" tanya Debora sambil menangkup wajah Rey.
Rey hanya tersenyum lalu mengusap darah segar itu dengan tangannya. Dia menatap Debora.
"Aku tidak apa, kau tenang saja! Mari kita makan, Debora!" jawab Rey padanya.
Namun bola mata Debora masih memperhatikannya. Debora benar-benar khawatir rasanya. Ketika Rey menarik pergelangan tangannya, Debora hanya diam tak mau bergerak mengikuti Rey. Rey berbalik memperhatikan Debora yang masih diam di sana sambil menatapnya.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Rey padanya.
"Kau kenapa? Jika kau sakit mari kita pergi ke dokter sekarang!" jawab Debora.
"Hei, aku tidak apa kau tenang saja! Itu hanya mimisan biasa!" ucap Rey mencoba menenangkan Debora.
"Kau baru saja pulang! Aku tidak ingin kehilangan dirimu lagi. Sekarang ikut aku ke dokter ya!" ucap Debora padanya.
Hati Rey menghangat seketika. Ia tau Debora mengkhawatirkannya. Rey menghela nafas sebentar lalu menarik Debora ke arahnya memeluknya lagi.
"Sayang, aku tidak akan pergi lagi! Kau tenang saja, aku milikmu selamanya dan aku akan tetap berada di sini untukmu. Debora, aku mencintaimu! Aku sudah menyiapkan sarapan sebelum kau bangun. Jadi, jangan buat itu sia-sia. Sekarang, mari kita ke meja makan dan menyantapnya!" ucap Rey.
Ucapan terakhir Rey menjauhkan tubuhnya dari Debora lalu menggendongnya.
"Rey!" pekik Debora ketika berada dalam gendongan Rey.
"Apa?" tanya Rey santai tanpa menatapnya.
"Aku bisa berjalan sendiri!" jawab Debora padanya.
Rey menatapnya sebentar lalu mencium singkat kening kekasihnya. Lalu kembali fokus berjalan menatap ke depan. Debora bahagia sekali diperlakukan begitu hangat oleh Rey.
Setibanya di meja makan, Rey pun menurunkan Debora. Mereka duduk di kursi masing-masing saling berdampingan.
"Ini Rey yang memasaknya! Masakan ala restoran bintang lima. Aku tidak tau ini enak atau tidak! Aku bergerak sesuai apa yang kuingat. Jadi, jangan muntahkan makananku ya jika tidak enak!" ujar Rey dengan nada candanya.
Debora terkekeh mendengar lelucon itu. Rey memotong steak Wagyu besar itu, lalu memberikannya pada Debora.
"Matchanya tidak ada ya?" tanya Debora padanya.
"Ada, kau tenang saja aku tidak akan melupakan itu!"jawab Rey lalu mengambil wadah berisi matcha hangat, menuangkannya di gelas lalu memberikannya pada Debora.
"Segelas matcha untuk Kesayanganku! Pagi ini, kau adalah ratuku!" ucap Rey padanya.
"Terima kasih, aku tersanjung rasanya sungguh!" ucap Debora sambil menyeruput matchanya.
__ADS_1
Makanan sudah siap, mereka berdua pun mulai menyantapnya. Rey mendapatkan acungan jempol Debora untuknya. Debora bilang, masakan Rey luar biasa rasanya. Sambil ditemani canda tawa pagi itu mereka menikmati makanannya dengan bahagia. Pagi ini, adalah pagi yang indah bagi mereka berdua.