
Ketika purnama datang tandanya langit berganti gelap. Pertemuan itu membuat Debora bahagia, memang. Tetapi, melihat Rey yang saat ini tidak mengenalinya membuatnya sedikit sakit hati. Namun, Debora tidak tau apa saja yang sudah terjadi pada Rey sebelum datang kemari bukan?
Rumahnya memiliki tiga kamar kosong. Kamar Debora terletak di lantai dua. Ada dua kamar di lantai dua. Dan Rey, saat ini dia juga menggunakan kamar di lantai dua. Mereka sedang berada di ruangan berbeda.
Rey baru saja membersihkan tubuhnya. Ketika ia keluar dari dalam kamar mandi, terlihat dibatas ranjangnya sudah siap pakaian santai. Debora yang menyiapkan itu ketika Rey sudah berada di dalam kamar mandi.
Rey yang bertelanjang dada dengan handuk yang melilit di area bawahnya pun mengambil pakaian itu. Netranya mengarah ke arah pintu. Pintu itu tertutup rapat. Lalu ia mengedarkan pandangannya ke arah lain mencari keberadaan Debora.
Rey tidak ambil pusing perihal itu. Ia pun langsung memakai pakaian itu lalu berjalan mendekat ke arah pintu. Kamar itu berhadapan tepat dengan kamar Debora. Sejenak Rey terhenti menatap Debora yang berdiri membelakanginya sambil menatap langit.
Pintu kamar itu terbuka, entah mungkin Debora lupa menutupnya. Di sana Debora sedang berbicara dengan seseorang di dalam telepon. Pembicaraan mereka cukup serius.
Entah mengapa, tiap kali memandangi gadis itu Rey bahagia sekali. Ia senang, walaupun mereka tidak saling bercengkrama. Debora tadi juga mengatakan padanya, bahwa dia ini Rey Arlert dan dia memiliki adik di sini bernama Syena Arlert.
Debora berjanji kepada Rey bahwa ketika pagi menjelang dia akan mempertemukan Rey pada adiknya. Rey yang sama sekali tidak mengingat apapun hanya mampu mengangguk saja.
Panggilan telepon itu berakhir lalu Debora berbalik ingin mengembalikan ponsel itu. Namun dia mematung seketika ketika melihat Rey berdiri terpaku menatapnya dengan tatapan sayu.
Debora melempar senyum padanya, dan Rey di sana hanya melambaikan tangan. Rey tidak masuk ke dalam kamar Debora. Melihat itu, Debora pun berjalan meletakkan ponselnya di atas meja lalu mendekati Rey.
"Kau lapar, Rey?" tanya Debora lembut padanya.
Rey menggeleng sambil tersenyum lalu menunduk sejenak.
"Tidak, aku tidak lapar! Aku hanya, masih bingung saja. Kenapa aku bisa sampai kemari dan bagaimana kau mengenalku? Sedangkan aku saja tidak mengenalmu." ucap Rey.
"Suatu saat nanti, kau pasti akan ingat itu! Sekarang kita makan dulu ya!" ajak Debora sambil menarik lembut tangan Rey untuk mengikutinya.
Keduanya berjalan menuruni anak tangga menuju ke dapur. Di sana Debora menyuruh Rey untuk duduk. Rey menurut saja, ia duduk sambil memperhatikan Debora yang memasak untuknya. Gadis itu membelakanginya.
__ADS_1
"Kau ingin makan apa?" tanya Debora kepadanya tanpa menoleh.
"Ramen saja!" jawab Rey.
Jawaban itu membuat Debora tersenyum. Rey yang baru saja mengatakannya sontak juga terkejut. Entah mengapa, tiba-tiba dia memilih makanan itu.
"Baiklah, aku akan membuatkan itu untukmu!" ujar Debora sambil berbalik dan tersenyum.
Rey membalas senyuman itu. Debora mendekati lemari es mencari-cari bahan apa yang bisa dipakai untuk memasak ramen. Rupanya di sana tidak ada apapun selain buah-buahan.
Debora hampir menyerah saja rasanya, tetapi ketika tangannya menarik laci lemari es paling bawah dia menemukan itu. Sebuah Ramen instan yang hanya tinggal seduh. Ukuran porsinya juga cukup besar.
Lega rasanya ketika Debora menemukan itu. Segera ia pun membuatnya. Air panas dari dalam termos itu ia tuangkan ke wadah ramen. Bumbu di sana mulai ia taburkan, lalu dia tutup kembali.
Sembari menunggu, Debora juga membuatkan jamuan berupa minuman. Tentu saja minuman favoritnya. Segelas matcha hangat yang melegakan.
Selang beberapa menit kemudian makanan dan minuman sudah selesai. Debora membawanya ke arah Rey lalu menyajikannya.
"Makanlah, Rey!" ucap Debora kepadanya.
Rey memperhatikan makanan itu, baunya tidak asing memang. Dan ini juga makanan yang dia minta. Sumpit itu diletakkan tepat di atas Ramen. Rey mengambilnya lalu membukanya.
Ucap sedap itu menyeruak membuatnya tersenyum. Perutnya sudah lapar sepertinya, segera ia menyantap makanan itu. Dan satu suapan pertama membuatnya mengatakan dengan riang,
"Hmmm... Umai!!!" pekik Rey lalu melahap lagi makanannya dengan penuh semangat.
Debora tersenyum melihat itu.
Jika ini mimpi, tolong jangan bangunkan aku Tuhan!. Ujar Debora dalam hatinya. Ia senang, bahagia sekali melihat wajah pemuda ini lagi di sampingnya.
__ADS_1
Rey menghentikan makannya sejenak sambil tetap mengunyah makanan dalam mulutnya. Lalu netranya menatap ke arah Debora.
"Kenapa kau tidak makan juga?" tanya Rey kepadanya.
Debora menggelengkan kepalanya tersadar dari lamunannya. Suara Rey menyadarkannya.
"Aku tidak lapar!" jawab Debora padanya.
Rey menghela nafas panjang lalu berdiri menghampiri rak piring di sana. Ia mencari-cari keberadaan sumpit. Untungnya dia menemukannya, setelah itu Rey kembali duduk di samping Debora memberikan sumpit itu padanya.
"Makanlah bersamaku, Debora!" ucap Rey padanya.
Sekilas, ingatan tentang di mana mereka makan ramen berdua dulu terlintas. Debora tersenyum mendengar permintaan itu, lalu menerima sumpit itu. Ia makan bersama Rey dalam satu wadah. Canggung memang suasananya, maklum saja mereka sudah lama tidak bertemu.
Keduanya saling menikmati makanan itu. Hingga kejadian yang sama terulang lagi. Suapan terakhir mie ramen mereka terhubung satu sama lain ke dalam mulut mereka.
Melihat itu keduanya terkejut, perlahan netra mereka bertemu. Di sana untuk pertama kalinya Rey di buat terpanah. Betapa cantiknya bola mata gadis di hadapannya ini.
Tanpa sadar, Rey memakan pelan mie mereka yang masih terhubung. Hingga wajah mereka semakin dekat satu sama lain. Hipnotis atas nama asmara adalah yang bertanggung jawab ketika bibir mereka menyatu satu sama lain.
Debora memejamkan kedua matanya, dia benar-benar merindukan Arlert kesayangannya ini. Tanpa sadar Debora mengalungkan kedua tangannya pada Rey, membiarkan pemuda itu mengecap kasih untuk malam ini.
Mereka berciuman cukup lama, jika saja Debora tidak mendorong tubuh Rey ke belakang mungkin ciuman itu masih tetap berlanjut. Mereka terengah-engah, Rey menunduk dia benar-benar malu sekarang. Dia merasa bersalah sekarang.
"Ma..ma..maaf!" ucap Rey kepada Debora.
Debora tersenyum mendengar itu, lalu ia berdiri meraih kepala itu dan mencium puncak kepalanya lembut. Di sana Debora berbisik,
"Terima Kasih, sudah pulang! Aku akan selalu menunggumu selama apapun itu, sebab aku mencintaimu Rey Arlert!" lirih Debora diakhiri dengan jarinya yang mengacak-acak Surai milik Rey.
__ADS_1
Setelah melakukan itu ia pun pergi dari sana. Meninggalkan Rey sendiri terpaku menatap kepergiannya.
Rey menyentuh dadanya, di sana hangat sekali ketika Debora bersikap lembut padanya. Rey semakin yakin bahwa, gadis ini adalah orang penting dalam hidupnya.