
Debora bersama dengan Rey di sampingnya berjalan ke arah ruangan Noella. Sebelumnya mereka sudah melaporkannya, segala hal yang mereka temukan juga titik kelemahan dari tentakel itu.
Namun, bukannya melawan Noella justru memilih untuk melakukan penundaan. Tentu saja, hal itu menyulut ambisi Rey yang haus peperangan.
Sejak tadi Debora berusaha mencegahnya, sebab apabila di biarkan maka mereka mungkin akan saling bentrok.
Namun begitulah Rey, ia yang begitu ambisius sama sekali tak ingin mendengarkan apa yang Debora katakan.
"Rey, dengarkan aku!" Ucap Debora lagi.
Langkahnya juga di percepat mencoba mengimbangi langkah kaki Rey yang berjalan dengan penuh ambisi.
"Rey kumohon dengarkan aku dulu!" Ucap Debora lagi.
"Rey!!!" Pekik Debora setengah berteriak.
Ketika pergelangan tangannya di cengkram oleh Debora, Rey berhenti. Kemudian ia berbalik menatap tepat ke arah Debora yang terengah-engah akibat ulahnya.
"Apa?" Tanya Rey singkat.
"Ku mohon, biarkan segala keputusan di ambil oleh para petinggi. Rey, Noella adalah kepalanya Rensuar. Segala keputusan yang berasal darinya mutlak Kau juga diriku disini hanyalah para pejuang. Pelindung, pasukannya, apa yang Noella putuskan tentunya untuk kebaikan kita Rey!" Jelas Debora lagi padanya.
Debora masih menatap penuh harap ke arah Rey. Sungguh, ia lelah berdebat dengan Rey yang seperti ini. Jika kehendaknya tidak di penuhi, Rey pasti akan begini.
Debora memahami itu sungguh. Rey ingin menyelamatkan dunia, namun ia harus membuang sifat gegabah nya itu.
Rey melepas cengkraman yang ada di pergelangan tangannya. Lantas ia mundur kemudian, ia bersandar di dinding. Ingatannya kembali berputar ketika ia mengalahkan Iblis kelabang bersama dengan Syena.
Demi Tuhan, sejak ia di perlihatkan perihal matinya seluruh anak-anak dalam panti asuhan. Juga para susternya, dendam dalam dadanya semakin membara.
Dirinya menjadi tidak sabaran dalam menyikapi sesuatu. Perihal para Iblis, Rey ingin sekali segera melenyapkannya.
"Debora... Sejujurnya ketika aku mengalahkan iblis kelabang bersama dengan Syena. Aku melihat tragedi dimana Suster Agarwa, saat itu dibunuh oleh iblis itu. Bahkan teriakan mereka sama sekali tak di gubris oleh iblis itu. Dia membantai seluruh adik-adik bahkan kakak-kakak ku di panti asuhan. Tiap kali aku mengingat itu, ada sesuatu disini yang membuncah. Ia ingin segera diluapkan, dan itu adalah hasrat pelenyapan!" Jelas Rey.
Ia menjelaskan sambil memegang dadanya. Mencoba menunjukkan pada Debora bahwasannya hatinya disini menyimpan banyak sekali amarah, dendam, juga segala kebencian.
Rey yang menunduk membuat Debora iba. Bukan hanya Rey saja disini yang kehilangan. Namun seluruh rekannya juga.
Mereka yang saat ini berjuang disini adalah manusia yang berasal dari kehilangan. Mereka yang saat ini berjuang adalah manusia yang rapuh yang menuntut kebebasan setiap harinya.
Namun Debora kembali tersenyum mengingat sudah banyak sekali pencapaian yang sudah mereka buat. Wilayah yang tadinya sempit sesak, perlahan mulai meluas dan Silver Alaska semakin menciut.
Debora merendahkan kepalanya sambil tersenyum ia menatap ke arah Rey yang menunduk disana. Rey yang melihat senyum itu pun terpaku, bukan sebab ia terpukau. Namun senyuman itu hangat, perlahan pelan namun pasti hatinya mulai tersentuh.
"Ada masa dimana kejayaan itu akan tumbuh. Namun, tak ada kejayaan yang diraih secara instan. Dunia itu penuh dengan tahap. Kita tidak akan mampu berjalan, berlari tanpa tertatih terlebih dahulu. Sama seperti apa yang sedang kita alami saat ini! Untuk mencapai segala pencapaian itu perlahan kita ibarat bayi, yang masih merangkak. Aku bersamamu bukan? Kita bersamamu, kita juga mencari sesuatu yang sama. Piala yang kita inginkan itu sama, kemenangan yang kita inginkan itu sama. Nama dari piala itu adalah, Kebebasan."
Rey tersenyum kemudian ia mengalihkan netranya ke arah lain. Terlalu lama terlarut dalam tatapan Debora akan membuatnya hanyut. Bukan saatnya baginya mengumbar mesra, namun sudah saatnya baginya untuk membuka kembali pintu kejayaan bumi satu persatu.
"Hmm.." Rey beralih dari hadapan Debora. Sedangkan Debora hanya memperhatikan itu. Punggung itu berhenti membelakanginya.
"Debora, terima kasih! Kau memang selalu mampu menghangatkan hatiku, tiap kali aku hilang kendali." Ucap Rey kemudian pergi.
__ADS_1
Debora hanya menarik sudut bibirnya mendengar itu. Tanpa sepatah katapun lagi Rey pun pergi meninggalkan Debora disana sendiri.
Di lain tempat tak jauh dari tempat mereka berasal Elvas sejak tadi sedang memperhatikan mereka. Tiap kali Rey berlaku kasar lalu kehilangan kendali pada Debora, Elvas ingin sekali menghajarnya.
Namun nyatanya ia sama sekali tak mampu melakukan itu. Elvas menunduk merutuki dirinya, namun ia tau sebanyak apapun Rey menyakiti Debora. Gadis bersurai putih itu tetap mencintai Rey.
Elvas membuang kasar nafasnya lalu menatap ke arah langit-langit. Tak lama ia pun tersenyum.
"Jika dia menyakitinya lagi, bolehkah aku merebutnya?" Tanya Elvas sembari menatap langit.
Pertanyaan itu membuatnya tertunduo lagi. Ia juga merasakan satu dendam sama tiap kali bertemu dengan musuh. Namun tidak bisa di pungkiri bahwa Rey lebih berani juga kuat daripadanya.
"Sudahlah..." Lirih Elvas lagi kemudian ia berbalik.
Suara langkah kaki mulai mengarah ke arahnya. Ketika Elvas berjalan ke arah suara langkah kaki itu, ia di pertemukan dengan Debora disana. Keduanya kemudian berhenti, dengan Debora yang tersenyum ke arahnya.
"Hallo, Elvas!" Sapa Debora. Elvas mengangguk tersenyum lalu kemudian kembali berjalan melewati Debora.
Melihat itu Debora pun berbalik menatap sebentar Elvas yang mulai menjauh darinya.
"Ada apa dengannya? Tidak biasanya dia hanya menyapaku seperti itu?" Ucap Debora.
Namun ia tidak ingin terlalu terlarut perihal itu. Debora pun segera melanjutkan langkahnya pergi ke arah ruangan Noella. Ada banyak hal yang harus ia diskusikan disana. Pembicaraan
__________
Sementara di tempat lain saat ini Riley dan Justice berada di satu meja yang sama. Mereka sedang berada di kota. Ada satu kedai makanan yang baru saja di buka. Makanan khas Jepang kesukaan Riley.
"Justice! Lihatlah itu, kedai udon, Sugoi!!!" Teriak Riley.
Justice hanya berbalik lalu menatapnya biasa. Dia adalah orang Barat tentu saja ia tidak terlalu mengenal apa itu udon dan makhluk apa itu.
"Apa itu?" Tanya Justice padanya sambil tetap memandangi kedai itu.
"Mie udon? Kau tak tau? Semacam Ramen, namun mie nya lebih tebal daripada Ramen." Jelas Riley.
Wajahnya masih tetap terpukau. Justice menoleh kesamping lagi-lagi ia harus berhadapan dengan sisi Riley yang seperti ini. Pasalnya tidak semua makanan Jepang bahkan tawar dalam lidah Justice.
Ia diingatkan kembali perihal waktu itu. Ketika mereka berhenti tepat di depan kedai makanan Jepang.
Ada satu makanan yang paling Justice benci. Namanya adalah Sashimi, benar-benar setelah memakannya ia seperti orang mabuk rasanya.
Semalaman dalam kamar perutnya sakit lidahnya keluh dan terus muntah di dalam toilet. Justice juga masih ingat, ketika Rey memakinya saat itu. Dalam keremangan kamar, juga perut yang mulas Rey berkata padanya. Apakah Justice sedang mengalami morning sickness.
"Justice, aku ingin mencobanya!!!" Ucap Riley menarik-narik tangannya layaknya seorang anak kecil.
"Riley, lebih baik kau simpan uang mu sayang. Sebab hari ini koki makan malam kita adalah Mikhail!"
"Aku tidak peduli, perutku mampu menampung banyak makanan hari ini."
"Jangan sebrutal ini sayang, nanti kau buncit!"
__ADS_1
"Tergantung padamu itu! Jika kau tak meledakkannya di dalamku, aku tidak akan buncit!"
"Hah!!!"
Pekik Justice, begitu cabulnya apa yang Riley katakan sungguh.
"Sayang kau bicara apa, ini di kota! Menjamahmu saja aku belum pernah!" Ucap Justice padanya.
Lantas Riley mendekat ke arahnya menarik kerah bajunya. Menabrakkan tubuh mereka satu sama lain. Beberapa orang disana sedikit curi-curi pandang menatap mereka.
"Riley..." Lirih Justice padanya.
"Makanlah bersamaku, maka malam ini akan ku berikan kau satu ciuman. Bukankah jarang bagimu mendapatkan bibirku disini?"
Justice menatap Riley yang mendongak. Dia baru saja mengatakan perihal ciuman. Sial rasanya, netranya benar-benar tak mampu beralih dari bibir kekasihnya. Melihat itu Riley merasa menang.
Riley mendorong tubuh Justice sehingga tubuh mereka saat ini terpisah. Sejenak Justice menatapnya tak percaya, gadisnya ini mampu melakukan hal yang nakal dan liar.
"Taruhannya adalah, jika kau mampu mengalahkan nafsu makanku disini. Kau akan mendapatkannya! Namun jika kau tak mampu mengalahkan diriku dalam makan udon. Kau akan membayar semuanya, tapi kau juga akan mendapatkan hadiah mu."
"Kau serius kan?"
"Tentu saja!"
"Ayo!!!"
Mereka pun berjalan menghampiri kedai udon itu.
Dan itulah saat ini yang membuat mereka terduduk disini. Lomba adu makanan itu pun di mulai. Riley sudah menghabiskan sekita tujuh porsi udon. Justice ia baru saja menghabiskan lima porsi udon.
Beberapa manusia disana bersorak menyemangati mereka berdua. Bahkan penjual udon yang baru saja buka, ia sampai terharu sebab nafsu makan mereka membuat dagangannya untung tentunya.
Tak hanya udon, mereka pun juga menghabiskan beberapa sake disana. Hingga Riley terdiam tak lagi menambah dalam porsi ke dua belasnya.
Sedangkan Justice ia sudah tak sanggup rasanya mengangangkat kepalanya, hanya gigauan saja yang terlontar disana. Justice hanya mampu menghabiskan sepuluh porsi udon.
Begitupun dengan Riley. Justice merogoh sakunya membayar pesanan mereka. Namun keduanya sama-sama tergeletak disana sambil menggigau.
Beberapa Manusia disana mulai mencari bantuan pada Muskeeters yang datang. Namun rupanya mereka tidak mengenal Riley dan Justice sebab berbeda divisi.
Pada akhirnya, tiap malam setelah seluruh tugas usai. Syena akan datang berkunjung ke kota bersama Aum untuk membeli roti manis kesukaannya.
Dalam toko Alkemis Aum bertemu dengan Mikhail. Mereka kembali berjalan bertiga menyusuri kota. Beberapa orang bergumul membuat mereka penasaran. Mereka pun berjalan menghampiri kerumunan orang itu.
Mata mereka membulat, mulut mereka menganga ketika menemuka Riley dan Justice yang mabuk. Terlelap, dengan kepala yang ditopang di atas meja.
"Ya, lagi-lagi seperti ini kelakuan mereka!" Gerutu Mikhail.
Mikhail mendekat ke arah mereka berdua yang masih mabuk. Syena membuang kasar nafasnya. Orang dewasa, jika terlibat cinta memang sedikit menyusahkan itulah yang saat ini berada dalam pikiran Syena.
"Mereka ini kapten pasukan! Bisa-bisa nya mabuk disini?" Gerutu Syena.
__ADS_1
Aum terkekeh mendengar itu. Ketiganya pun menyatukan tangan mereka. Mantra Leviousa kembali membawa tubuh mereka berada di depan gerbang Asrama.