
Malam semakin larut. Purnama semakin menampakkan dirinya. Anginnya cukup dingin cukup kencang juga. Rasanya nafsu makan Rey hilang.
Beberapa jam ini sejak tadi Ia hanya terduduk di sana sambil tetap mematri rembulan yang begitu indah. Sedangkan di lain tempat Debora baru saja keluar dari ruangan Noela.
Sejenak Debora menghela nafas sebab keputusan yang baru saja Noella ambil. Bagi Debora itu adalah keputusan yang sangat fatal.
Ia menunduk rasanya tak kuasa jika mengingat apa yang Noella katakan. Sambil berjalan ia berhenti tepat di balkon kastil. Disana ia menatap langit.
Rasanya ia merindukan bumi yang normal kembali. Kehidupan berdasarkan hukum peraturan, tak ada peperangan tak ada pembantaian manusia secara brutal. Segalanya begitu tenang.
Dalam kesunyian itu Debora memejamkan kedua matanya. Terpaan angin berhembus mengibarkan Surai putihnya. Sunyi, malam ini sunyi. Tak ada burung yang terbang di atas langit.
Disana hanya tersuguh bulan dan bintang. Dinginnya udara malam ini membuat Debora membukanya matanya kembali sambil memeluk erat tubuhnya sendiri.
Jika di ingat semakin mereka dewasa rasanya banyak sekali sifat rekannya yang berubah. Terutama pada Rey.
Sejenak Debora menyentuh syal merah yang Rey berikan padanya. Syal merah itu masih bersemayam di antara lehernya. Mencoba menjaganya agar tetap hangat.
Kehangatan itu sudah jarang sekali Debora dapatkan dari seorang Rey Arlert. Sejujurnya Debora merindukannya, namun tak ada gunanya baginya menikmati kehangatan itu jika dunia masih seperti ini.
Baik dirinya dan Rey sama-sama berambisi mewujudkan kebebasan manusia. Keduanya sama-sama kuat dan mampu menyisihkan sebentar perihal cinta mereka.
Berdirinya Debora disini dengan ingatan masa lalu kembali berputar. Tragedi itu kembali menghantuinya, tragedi dimana ia melihat saudaranya di bunuh juga ayahnya.
"Aku sudah memenuhi beberapa tugasku, Ayah! Aku akan segera membuat dunia pulih, maaf jika saat itu aku kabur. Maaf jika saat itu aku bahkan tak mampu menolong mu."
Sambil memandangi purnama Debora bergumam. Kemudian ia pun memilih pergi dari sana.
Di antara keindahan malam ini. Rey mengeluarkan sesuatu dari dalam domain. Sebuah alat musik, sudah lama ia tidak memainkannya. Dan ya, dia baru saja memungut itu dari salah satu rumah ketika perebutan wilayah.
Kira-kira ia menyimpannya dalam domain sekitar beberapa bulan lalu. Itu adalah sebuah biola, alat musik yang paling Rey sukai.
Rey ingat dimana saat itu ketika di panti asuhan. Dirinya dan Syena berada di dalam sebuah aula penuh dengan alat musik.
__ADS_1
Saat itu Suster Agarwa mengatakan. Bahwa aula itu adalah tempat mereka belajar alat musik. Susternya mampu menguasai beberapa alat musik termasuk biola.
Rey saat itu meminta pada Suster nya untuk mengajarinya alat musik ini. Bersama dengan Syena mereka belajar disana. Sampai Rey mampu menguasainya.
Hari ini di atas benteng sambil menatap ke depan ke arah kegelapan iblis yang tak kunjung sirna. Rey berdiri, ia mengapit pantat biola itu dengan dagunya.
Bow sudah berada di tangan kanannya. Sambil terpejam ia memainkan nada-nada itu dengan jari jemarinya.
Tarian jari jemari itu menghasilkan melodi pilu. Menggambarkan apa yang sedang terjadi padanya. Letak benteng berada cukup jauh dari kota.
Suaranya mungkin akan sampai di kastil putih. Dan benar saja, dari atas menaranya Noella memperhatikan itu. Axcel yang saat ini berada di sampingnya juga memperhatikan itu.
"Baron sedang frustasi!" Ucap Axcel.
"Ya benar!" Noella mengangguk, melodi ini pili sangat pilu hingga siapa saja yang mendengar mungkin akan menangis.
"Rey, harus mempelajari apa itu arti kesabaran! Aku iba, jujur saja!" Ucap Noella lagi. Axcel mengangguk, mereka tau benar apa saja yang sudah Rey alami.
"Apa kita akan membiarkannya seperti itu malam ini?" Tanya Axcel sambil memakan buah apel yang baru saja ia keluarkan dari dalam domain.
Keduanya hanya memperhatikan itu dari kejauhan. Jubah putih itu di antara keremangan malam sangat mencolok.
Sepasang mata mulai berair melihat apa yang sedang Rey lakukan disana. Debora hanya tersenyum iba. Tak ada yang mampu ia lakukan untuk mengusir kenangan pahit yang ada dalam hati Rey.
Sebab kenangan itu tidak mampu di hapus. Dia hanya akan tersimpan dalam sebuah perpustakaan besar dalam dirimu. Lalu kembali terbuka ketika angin kencang meniupnya.
Dan jika kenangan yang terbuka adalah kenangan pahit. Kita mungkin hanya mampu menangis menyesali. Atau mungkin mendoakan lalu belajar tabah. Namun, nyatanya manusia tidak akan pernah mampu mengembalikan apa yang hilang dalam dunia. Sebab pencipta saja yang mampu melakukan itu.
"Jika saja kau tidak menunjukkan maki an itu padaku saat itu. Aku ingin kesana lalu memelukmu, mengajakmu pulang bersamaku. Namun apa yang kau katakan padaku saat itu, membuatku sedikit takut mendekatimu. Aku masih terluka dengan perkataan itu, tapi aku, masih tetap mencintaimu walau begitu." Lirih Debora.
Lantas ia pun memilih duduk di salah satu pohon besar disana sambil menatap menikmati melodi yang Rey mainkan.
Malam pilu nya harus ditemani. Sebab jika tidak, Debora yang akan ketakutan jika sampai Rey tak berada dalam pengawasannya dalam kondisi ini.
__ADS_1
Sebab bisa saja Rey nanti akan memilih melampiaskan nya ke dalam Silver Alaska. Menjadi bayangan untuk Rey tak masalah baginya. Selalu berada di belakangnya memperhatikannya, berusaha menjaganya.
Tiga jam sudah terlewat dan Rey disana mulai berhenti. Pemuda itu mengembalikan lagi biolanya lalu terduduk memandangi arah depan dengan tatapan kosong.
"Huftft..." Rey menghela nafas lalu meregangkan tangan kanannya.
"Sudah cukup lama aku tidak bermain. Nyatanya ketika di mainkan lagi, cukup lelah juga tangan kanan ku." Lirih Rey lagi.
Debora tau, kekesalan itu sudah usai sepertinya. Ia pun segera pergi ke arah Rey saat ini. Dengan sihirnya Debora terbang menghampiri Rey yang duduk di atas benteng.
"Arlert..." Lirih Debora di belakangnya.
"Huh!" Rey menoleh kebelakang, terlihat Debora yang datang berjalan ke arahnya.
"Kau disini?" Tanya Rey padanya, Debora duduk di sampingnya mengangguk.
"Arlert, apa kau tak lapar?"
Pertanyaan itu membuat Rey tersenyum kemudian menggeleng.
"Jika kau ingin makan, makanlah! Lagi pula, masakan malam ini begitu lezat. Sebab Mikhail yang memasaknya!"
Rey menatap ke atas ke arah rembulan.
"Rey, mau kah kau menemaniku makan di kota? Aku sedang ingin makan ramen!"
"Kau ingin makan di kota? Kau belum makan?" Tanya Rey padanya.
Debora menggeleng pelan, hal itu membuat Rey menghela nafas lalu berdiri. Ia mengulurkan tangannya ke arah Debora. Dengan senang hati, Debora pun menyambut uluran tangan itu. Keduanya kemudian sama-sama berdiri.
"Ya sudah, ayo makan Debora!" Ucap Rey.
Debora mengangguk, ketika kedua tangan mereka mulai terpaut satu sama lain. Rapalan mantra Leviousa membawa tubuh mereka pergi masuk ke dalam kota.
__ADS_1
Kedua ramen tempat Rey memberikan Debora syal adalah tujuan mereka saat ini. Bahkan ketika sampai di kota, pautan tangan mereka sama sekali tak terlepas.
Debora sengaja membiarkan itu, sebab kehangatan tangan ini sudah jarang sekali ia dapatkan. Meski hanya memegang salah satu tangannya seperti ini, Debora sangat bahagia.