
Di dalam kastilnya, Noella sembari memperhatikan pertempuran dari dalam bola kristal sakti miliknya sedikit mengomel. Pasalnya, sampai saat ini Axcel masih belum kembali.
Sebelum peperangan terjadi, Noella memang sengaja mengutus Axcel ke bulan. Sebab pedang miliknya hanya akan mampu di tempa oleh petinggi leonin. Dia Lapu-lapu tertua di bulan. Untuk menempa pedang mulia milik Axcel, memang terkadang membutuhkan waktu yang cukup lama.
"Lama sekali anak ini!" gerutu Noella sambil masih memperhatikan peperangan.
Para petinggi yang mengelilingi meja sontak tertawa mendengar itu. Noella seperti sedang menunggu kepulangan anaknya saja di sini.
"Mungkin portal bulan lalu lintasnya sedang padat!" canda Profesor Agasha kepadanya.
"Hah, tidak ada yang seperti itu di sana! Kendaraan saja kita tak ada apalagi lampu merah!" jawab Noella meladeni apa yang Profesor Agasha katakan.
"Hahahah... Sudahlah, kau tenang saja! Axcel pasti akan kembali!" ucap Madam Geralda menenangkan.
Setelah percakapan itu mereka kembali memejamkan kedua matanya. Tangan mereka sama-sama mengatup, jari telunjuk mereka di tempelkan satu sama lain.
Ini adalah upaya mereka juga di sini. Mengatur jalannya peperangan. Jadi, Debora di sana tidak berpikir sendiri. Sebab seluruh pikiran para petinggi menyatu juga padanya. Itulah mengapa tiap taktik yang ia putuskan benar-benar ampuh mengalahkan mereka nantinya.
Sedangkan di samping kanan dan kiri mereka ada para penempa pedang, para Lapu-lapu pria. Mereka membuat lingkaran portal untuk mengirim beberapa ramuan peningkat mana. Portal itu juga ada di bagian paling belakang pasukan Muskeeters.
Beberapa Muskeeters yang hampir mati, dibawa kesana satu persatu. Para Lapu-lapu wanita sibuk sebagian merawat para Muskeeters yang terluka. Sedang sebagian lagi, mereka sedang membuatkan ramuan mana. Pertarungan panjang ini benar-benar membuat mereka sibuk.
Di atas bulan sana Axcel sejak tadi memperhatikan bumi. Di belakangnya masih ada seorang Lapu-lapu tua yang sedang memangku pedang Axcel. Lapu-lapu itu menggosok bagian pedang miliknya pelan-pelan.
"Kakek cepatlah, aku sudah harus pulang ke bumi!" ujar Axcel seraya menoleh ke belakang tepat ke arah kakek tua berwujud Lapu-lapu itu.
Mendengar itu dengan kedua mata sipitnya, kakek itu menatap Axcel. Pandangannya yang rabun dipaksa menatap leonin kecil itu. Seketika kakek itu hanya tersenyum saja menanggapi apa yang Axcel katakan.
"Lenonin Axcel, kau tenang saja! Segalanya akan indah pada waktunya nanti!" ujar Lapu-lapu tua itu padanya.
Sambil menatapnya dengan tatapan aneh, Axcel hanya membuang kasar nafasnya. Kemudian dari ambang pintu ia berjalan mendekati kakek tua itu lalu bersimpuh. Sejenak ia memandangi pedang mulianya, lalu telapak tangan kecilnya menghentikan kakek tua itu.
"Sudah cukup ya! Terima kasih sudah merawat pedangku dengan baik selama ini. Saat ini pertempuran terakhir, dan aku harus membawa Harith dan dua guardian semesta kembali lagi kemari." jelas Axcel kepadanya.
Lapu-lapu tua itu tersenyum lalu mengangguk. Kegigihan yanga ada dalam diri Axcel membuatnya takjub sekarang. Leonin ini sudah cukup dewasa rupanya pemikirannya.
Lapu-lapu tua ini adalah dia yang pernah Harith dan Axcel temui dahulu. Yang sering meramalkan kejadian di masa depan. Dan tiap apa yang ia katakan akan selalu terjadi.
"Kau sudah cukup dewasa, ya!" puji Lapu-lapu tua itu kepadanya.
__ADS_1
Axcel berdiri dengan pedang di tangannya, sambil tersenyum ia pun berpamitan dengan kakek tua itu. Ketika tubuhnya sudah berada tepat di ambang pintu, ia menghilang.
Melaju di dalam portal menuju ke bumi, itulah tujuan Axcel saat ini. Dirinya dan pedangnya sudah siap menumpas kebejatan iblis di bumi.
"Aku akan membawamu pulang, Harith!" ujar Axcel sambil tersenyum.
Kembali ke peperangan, para Muskeeters masih sangat sibuk melawan iblis rendahan. Juga Debora dan rekannya yang saat ini mulai kewalahan. Brolavor milik mereka hampir habis, tersisa sekitar lima botol saat ini.
Clashhhhhh
Clashhhhhh
"Bagaimana, ketua tim? Apakah kau sudah cukup kelelahan melawan kami?" tanya Barsh kepada Debora yang mulai terengah-engah saat ini.
Debora hanya menyipitkan kedua netranya, sambil memegangi dadanya yang mulai sesak kali ini. Pergerakan dan perlawanan yang ia berikan memang cukup menguras tenaga. Kembali ia mengambil ramuan di dalam domainnya lalu meminumnya.
"Debora, apa kau tidak apa?" tanya Mikhail di belakangnya kepada Debora, ia mulai khawatir sekarang.
Debora hanya menggeleng pelan, ia tidak boleh lemah di sini. Peperangan ini kepalanya adalah dia. Jika dia tumbang, maka pasukan akan berdiri tanpa kepalanya. Debora tersenyum miring, ia benar-benar tidak boleh menyerah.
Sebab Rey dan Syena masih ada di sana. Rey melawan sesuatu yang lebih kuat daripadanya. Apapun untuk memenangkan pertempuran ini, ia akan menyerahkan apapun.
"Kita lanjutkan, kita bunuh Braun sialan itu!" ujar Debora melalui kemampuannya.
"Aku muak melihatmu sungguh! Kau kekasih Rey bukan? Akan aku lenyapkan kau sekarang!" ujar Braun.
Aliran sihir kelam mulai menyelimuti tubuhnya perlahan. Auranya begitu hitam, ketika Braun maju ke arah mereka Justice dan Elvas segera menyerangnya.
"Mati kau!!!" teriak Braun dengan cakar-cakar panjangnya menuju ke arah Debora.
Tubuhnya ketika akan diserang menghilang begitu cepat. Sehingga baik Justice dan Elvas meleset menyerangnya. Mereka membulatkan mata ketika melihat Debora terancam sekarang.
"Debora!" teriak kloning milik Rey.
Crashhhhhhh
Blushhhhhhh
Serangan itu mengenai kloning milik Rey, hingga mengakibatkan kloning itu menghilang. Tak lama, kloning milik Syena juga ikut serta membantu. Namun perlawanan cepat itu Braun berikan, sehingga seluruh kloning di sana hilang seketika dan menyisakan Debora saja tanpa perlindungan.
__ADS_1
"Kenapa kakiku tidak bisa digerakkan?" pikir Debora sambil menunduk memperhatikan kakinya.
Ketika Debora kembali menatap ke depan. Cakar tajam itu menuju tepat ke arahnya, namun serangan itu berhenti ditahan oleh sesuatu. Sebuah pedang dari seorang leonin, dan itu adalah Axcel yang baru saja datang.
"Menyerang orang yang lemah, ya? Bodoh!" ucap Axcel geram, lalu melawannya.
Hal itu tentu membuat Braun mundur sambil menangkis tiap serangan yang Axcel berikan. Justice dan Elvas menghela nafas lega ketika melihat Debora baik-baik saja.
Mereka kembali fokus kepada Barsh sekarang. Sejenak Barsh memperhatikan Braun yang mulai menjauh darinya. Ini situasi yang cukup buruk untuknya.
"Kalian memang sialan!" ujar Barsh memakai mereka.
"Guguk tidak berhak bicara!!!" teriak Justice menggila, ia berlari sekencang-kencangnya sambil mengangkat pedangnya ke arah Barsh.
Melihat itu tentu saja Barsh melakukan perlawanan. Elvas juga tak tinggal diam di sana, ia juga ikut menyerang. Sedang Debora ia hanya mengamati di sana. Ada sesuatu yang ia tangkap, setelah Braun menyerangnya tadi. Sepertinya ada sihir khusus yang mereka gunakan di sini.
Ditambah area ini adalah rumah mereka. Akan sangat menguntungkan bagi mereka berada dan menyerang di sini.
"Ada apa Debora?" tanya Mikhail kepadanya.
Debora menoleh ke arah Mikhail. Sepertinya membagi apa yang ia temukan bersama Mikhail adalah hal yang tepat.
"Aku melihat sesuatu yang tak wajar ketika iblis itu menyerangku! Kakiku tidak bisa bergerak, apakah ada sihir perlambatan waktu, atau mungkin sihir membuat orang kaku membeku dalam sekejap?" tanya Debora kepadanya.
Mikhail terkejut mendengar itu, logikanya mulai bekerja sekarang mencoba membantu Debora berpikir. Pertanyaan itu juga sampai kepada profesor Agasha di dalam kastil putih.
"Itu adalah sihir perlambatan! Pemiliknya akan menggunakan sihir itu, ketika lawannya menatap matanya. Bagaikan sebuah hipnotis, lawan akan diam dan bergerak lambat merespon sesuatu yang datang padanya. Perhatikan Axcel dan Braun sekarang! Bukankah dia menyerang tanpa melihat Braun? Dia menyerang mengikuti pergerakan kakinya, bagi seorang leonin hebat sepertinya itu adalah hal mudah. Namun tidak semua iblis mampu memiliki kemampuan itu!" jelas profesor Agasha dari dalam kastil.
Mendengar penjelasan dari profesor Agasha, Debora pun mengangguk. Pada intinya, saat ini ia harus membantu Axcel mengalahkan Braun terlebih dahulu. Sebab Braun yang kalah nanti, akan membuat mereka mampu fokus kepada Barsh.
"Kita akan membantu Paman Axcel! Ikutlah bersamaku, Mikhail!" ucap Debora kepadanya.
"Tapi bagaimana dengan Justice dan Elvas?" tanya Mikhail kepadanya.
"Percayakan Barsh kepada mereka!" jawab Debora lalu berlari ke arah Axcel di sana.
Hal itu membuat Mikhail membuang kasar nafasnya. Mau tak mau ia harus melindungi Debora di sini. Sebab gadis ini adalah penggerak Medan pertempuran. Mereka pun berlari ke arah Axcel, lalu membantunya di sana.
"Hei kau!" pekik Axcel ketika mendapati Debora di belakangnya.
__ADS_1
"Tak apa Paman, mari kita selesaikan ini dengan cepat!" ucap Debora kepadanya.
Mendengar itu Axcel pun mengerti. Ketiganya kemudian fokus kepada Braun di sana, melawannya secara bersamaan.