
Pagi ini Rey dan Debora berjalan-jalan di taman kota. Bosan rasanya di rumah hanya duduk sambil menonton televisi saja.
Mereka berjalan berdampingan menyusuri sisi-sisi taman. Beberapa orang di sana ada yang duduk di atas bangku panjang taman. Rata-rata mereka yang berada di sini adalah sepasang kekasih.
Sejak tadi Rey sama sekali tidak melepaskan tautan tangannya dari Debora. Dengan penuh kebahagiaan dalam hati. Mereka berdua tidak letih berjalan mengarungi taman itu sekitar setengah jam. Lagu terindah mereka adalah canda tawanya.
"Rey, aku ingin itu!" ucap Debora sambil menunjuk ke arah penjual makanan manis.
Rey di sampingnya pun menoleh ke arah sesuatu yang Debora tunjuk. Itu adalah permen kapas. Rey tersenyum melihat itu. Tentu saja dia tidak akan menolak permintaan Debora.
Rey berjalan mendekati penjual permen kapas itu bersama dengan Debora di sampingnya. Mereka berhenti di sana.
"Tuan, aku ingin satu!" ucap Rey padanya.
"Baik, Tuan!" jawab penjual itu lalu membuatkan pesanan yang Rey minta.
Sambil menunggu, Debora memperhatikan beberapa manusia yang sedang singgah duduk di bangku taman. Tak hanya itu Debora juga memperhatikan keindahan isi taman yang sedang mereka singgahi ini.
Ada sesuatu yang menurut Debora cukup aneh di sini. Semakin lama dia berada di sini kepalanya semakin pusing. Debora memijat pelan keningnya. Kepalanya berat sekali rasanya.
"Kau kenapa Kucing Putih?" tanya Rey padanya.
Namun Debora tidak menjawab itu. Dia hanya mencengkram lengan tangan Rey. Mencoba meredam sakit yang saat ini menusuk kepalanya.
Debora kemudian menatap ke arah penjual permen kapas itu. Ketika netranya bertemu orang itu pandangannya sekejap berubah.
Perlahan orang itu wajahnya berubah menjadi satu sosok yang ia kenali. Satu sosok masa lalu sebelum bumi kembali pulih.
Rey terkejut melihat seluruh pemandangan taman ini sekejap berubah menjadi sebuah kubah yang mengukung dirinya, Debora beserta dengan penjual permen kapas itu.
"Debora ini ada apa?" tanya Rey padanya.
__ADS_1
Debora hanya mampu menyunggingkan senyum ketika melihat Harith saat ini berada tepat di hadapannya dengan Noella yang berwujud kucing bertengger di atas bahunya. Ketika Rey mengalihkan netranya ke depan dia terkejut.
"Siluman!" ucap Rey sambil memandanginya tak percaya.
Mendengar itu Noella perlahan merubah wujudnya menjadi seorang Elf. Sambil menatap Rey, Noella melipat kedua tangannya di dada.
"Hei, ini sudah bertahun-tahun aku tidak melihatmu Rey! Ternyata segalanya masih sama ketika kita bertemu untuk pertama kalinya. Satu kata yang kau sebut untuk kami adalah kalimat itu, Siluman!" ucap Noella dia kesal.
Rey hanya diam mendengar itu. Ia sama sekali tidak tau apa yang saat ini sedang Noella katakan. Refleks Rey mempererat genggaman tangannya pada Debora. Hal itu membuat Debora menoleh ke arah Rey. Tatapan Rey pada Harith dan Noella begitu serius.
"Siapapun kalian! Aku tidak akan membiarkan kalian menyakiti Debora!" ucap Rey pada keduanya.
Harith dan Noella yang mendengar itu pun terkekeh. Begitupun dengan Debora. Ia senang Rey melindunginya seperti ini. Tapi itu lucu juga baginya. Sebab Harith dan Noella sama sekali tidak memiliki niat jahat padanya.
"Kau tenang saja Rey! Kami tidak akan menyentuh Deboramu!" ucap Harith padanya.
"Sebenarnya, kedatangan kalian kemari ke sini untuk apa?" tanya Debora pada mereka.
"Debora, kau harus membuatnya segera mengingatmu! Sebab, Penguasa memberi waktu padanya. Jika dalam satu tahun ingatan Rey tak pilih. Maka kami wajib membawanya kembali, Debora!" ucap Noella berbisik padanya.
Mendengar itu Debora terkejut. Debora menggenggam kuat tangan Rey. Kenapa harus dipisahkan lagi? Debora benar-benar muak rasanya. Noella melepaskan pelukannya lalu beralih ke arah Rey yang masih memperhatikannya.
"Kenapa kau menatapku seperti itu, Rey?" tanya Noella pada Rey.
"Aku heran saja, kenapa ada manusia dengan telinga lancip sepertimu? Kau bukan manusia, bukan?" tanya Rey padanya.
"Ya, aku bukan manusia memang! Aku berbeda dari kalian." jawab Noella padanya.
Ketika Rey akan berucap lagi. Harith dengan kemampuan sihirnya terbang ke arah Rey. Di sana Rey terdiam terpaku menatap Harith yang semakin dekat ke arahnya.
Ketika tubuh leonin itu sudah berada tepat di hadapan Rey. Harith tersenyum lalu mengarahkan telapak tangannya ke arah kening Rey. Harith menempelkan itu di sana.
__ADS_1
Baik Rey dan Harith keduanya memejamkan mata. Dalam kegelapan itu samar-samar Rey melihat. Perjuangan di masa lalu. Rey melihat dirinya sendiri mengalahkan beberapa makhluk menyeramkan.
Rey juga melihat bahwa dia berjuang tidak sendirian. Dia bersama beberapa orang manusia. Dan Rey melihat ada sekitar lima manusia selalu berada di sampingnya. Menemaninya menaklukkan para iblis.
Gambaran itu tiba-tiba berpindah pada saat itu. Saat di mana Debora diserang bimbang. Saat di mana Debora tangannya bergetar ketika akan menumpas habis Rey di sana.
Namun yang mampu Rey lihat hanyalah Surai putihnya. Rey hanya mampu menyaksikan itu dari kejauhan. Bahkan ketika gadis bersurai putih itu menoleh. Rey sama sekali tidak mampu melihat wajahnya.
Gambaran terakhir membuat Harith dan Rey membuka kembali kedua matanya. Setetes air mata turun begitu saja dari dalam kelopak mata Rey. Ia merasakan kesedihan yang ada dalam gambaran itu.
"Ada apa Rey?" tanya Debora pada Rey yang langsung menghapus air matanya.
"Tidak apa, hanya saja aku melihat beberapa gambaran tentang pertempuran." jawab Rey sambil terengah-engah.
Noella tersenyum memperhatikan itu. Harith baru saja membantu Rey mengingat segalanya. Sepertinya itu berhasil, namun pasti akan membutuhkan sedikit waktu bagi Rey agar mampu mengingatnya kembali.
"Baiklah, waktuku sudah habis di sini Debora! Aku pergi dulu ya!" ucap Noella pada Debora.
Debora hanya mengangguk mendengar itu. Bersama dengan Harith mereka berdua pun pergi dari sana. Sekejap kubah raksasa yang tadinya mengukung mereka bilang secara perlahan. Taman tempat mereka tadi berpijak pun mulai kembali.
"Debora, sebenarnya mereka itu siapa? Kenapa bisa ada Elf dan makhluk kerdil itu dalam dunia nyata?" tanya Rey sambil menoleh ke samping.
Namun Debora hanya tersenyum tipis. Tak ingin menjawab itu, Debora pun menarik tangan Rey untuk ikut bersamanya.
Kalo ini Debora ingin mengajak Rey pulang. Ada sesuatu yang ingin Debora tunjukkan pada Rey. Dalam hatinya ia berharap bahwa Rey akan mengingat segalanya setelah ini.
Ucapan Noella perihal durasi membuat Debora kalut rasanya. Sedangkan saat ini, Noella dan Harith sedang berada di portal untuk kembali ke bulan.
"Apa tidak apa jika aku mengatakan hal itu pada Debora?" tanya Noella pada Harith di sampingnya.
"Tidak apa! Kau tenang saja, Sayang!" jawab Harith masih fokus pada area depan portal.
__ADS_1