
...Jika kau ingin orang-orang percaya pada hal yang ingin kau lakukan...
...Hanya ada satu hal yang harus kamu lakukan...
...Jangan hanya mengatakannya saja, tapi lakukan dengan tindakanmu...
__________
Rey Arlert POV
Perjanjian berdarah yang sudah ku ambil beberapa saat lalu, menjadikan diriku hampir sekelas Guardian. Kemampuan regenerasi yang dimiliki pedang, rasanya cukup luar biasa untuk manusia sepertiku.
Diantara gelapnya Belantara, saat ini tubuhku duduk tepat diatas batu sambil menghadap ke arah tiga sosok sakti. Ketiga Baron Legendaris, dua diantara mereka meminta penjelasan perihal regenerasi yang kumiliki juga perihal kemampuan yang sering mengambil alih tubuhku. Baiklah, mungkin aku akan mulai menceritakannya.
Saat itu ketika kemampuan rekanku tak memadai, hanya diriku yang mampu meleburkan mereka para Iblis dalam jumlah besar. Pedang tempaan milik Lapu-lapu hanya istimewa pada peleburan. Namun tidak dengan dominasi sihir kuat didalamnya.
Ketika kami terkepung saat itu, separuh kesadaranku dalam domain Baron melihat sesuatu. Dari dalam domain Baron, aku melihat itu.
Titik cahaya berwarna merah menyala. Dia melayang berbentuk bulat besar. Sesuatu itu terletak tepat di belakang Baron. Menyala terang meskipun jaraknya jauh.
"Hei apa itu?" Tanyaku padanya dalam domain, telunjukku menunjuk ke arah bola besar itu.
Baron disana hanya melirik kecil kebelakang. Netranya seakan sudah biasa melihat keberadaan bola besar itu.
"Itu ya, jika aku jadi kau aku tidak akan memakainya!"
Baron menjawab sambil tetap duduk diatas singgasananya. Pria Tua itu disana menatapku yang masih terperangah menatap bola besar. Dari tatapannya padaku itu mengisyaratkan bahwa jangan coba-coba menggunakannya.
"Aku tidak mengerti apa itu disana, namun rasanya sesuatu didalam sana sedang memanggilku."
"Sesuatu didalam sana tidak sama denganku. Itulah mengapa domainnya denganku terpisah. Harith lebih sering menggunakan diriku daripadanya. Dia adalah kekuatan besar yang meminta jaminan. Itulah mengapa, dia berbahaya."
"Baron, disana kau lihat aku terlibat dalam pertempuran. Jadi serahkan saja sesuatu yang pamungkas, sesuatu yang mampu ku gunakan untuk melindungi mereka. Hanya itu!"
Raut wajah Baron sekejap berubah karena perkataanku. Mungkin ia takjub, atau mungkin disana ia masih menilai juga. menerka-nerka kemampuanku. Apakah aku sanggup memikulnya atau tidak. Tapi apapun yang berada didalam sana, jika itu bisa membantu seluruh rekanku aku akan mengambilnya.
Manusia mana yang tak akan menyerahkan dirinya sebagai sebuah tameng. Demi untuk menyelamatkan beberapa nyawa manusia, yang bahkan sudah di anggap keluarga.
Bagiku tak apa melangkah di garda depan. Menjadi tameng mereka yang ku cintai itu bukan apa-apa. Sebelumnya aku hanyalah skenario kosong.
Lalu mereka datang memiliki krayon mereka masing-masing. Aku yang ibaratnya sebuah lembaran kosong, perlahan dilukis. Merekalah pelangi yang menawan dalam lembaran skenarioku.
Rey Arlert, memang siapa dia tanpa mereka? Bahkan jika mereka tak ada, aku hanya seorang anak malang. Dibuang tak diharapkan, di telantarkan di depan panti asuhan. Aku bahkan tidak mengenali siapakah orang tuaku.
"Rey aku memahami segala hal yang kau rasakan. Aku takjub, gambaran mengenai skenariomu ini membuatku yakin! Kau akan tumbuh menjadi manusia yang kuat Rey?"
Petuah darinya perlahan membuatku muak. Bukan karena aku benci padanya, tetapi saat ini diluar sana rekanku sedang berada dalam ambang kematian.
"Pak Tua, jadi bagaimana?!" Pekikku tak sabar.
Pertanyaan itu sekejap membuat Baron beserta singgasananya menghilang disana. Yang tersisa saat ini hanyalah bola besar itu. Pelan aku mendekat ke arah bola besar itu. Rasanya seperti sedang terhipnotis disini.
Dari bentuknya, bola itu seperti bola energi. Seperti mana, namun dia lebih besar. Ketika kakiku berjalan menghampirinya sambil tangan kananku terangkat ingin menyentuhnya. Baron mengajukan banyak sekali pertanyaan padaku.
Pertanyaan itu perihal kematian. Sesuatu hal yang ditakuti makhluk hidup. Namun selagi ia berucap kakiku tetap melangkah. Tekadku masih bulat ini semua untuk mereka.
"Rey apakah kau bersedia menyerahkan kehidupanmu? Itu adalah bom waktu untuk bunuh diri."
Sambil mendengar penjelasannya aku tersenyum. Sungguh tak apa jika memang demikian. Lagi pula aku adalah harapan bukan. Untuk apa penyanjungan atas namaku yang di segani, bila aku takut akan kematian.
Musketeers semacam apakah diriku jika bertingkah demikian. Tidak, itu bukan jiwanya seorang Rey. Sekalipun jalanan bumi ini berduri demi mengembalikan dunia, aku akan tetap berjalan menempuhnya.
"Tak apa, tak masalah! Lagi pula nantinya manusia juga akan menghadapi kematian. Jika tidak sekarang, maka mungkin besok!"
"Arlert, pertama kali kau menyentuhnya akan ada reaksi yang sangat kuat. Bola itu menyimpan gravitasi besar. Ia menyerap bagian dirimu yang hidup tiap kali kau menggunakannya. Dan itu pasti sangat menyakiti tubuh manusiamu."
"Seseorang tidak akan berjuang sekeras itu jika dia tidak menyukainya. Untuk mendapatkan kesuksesan, keberanianmu harus lebih besar daripada ketakutanmu. Jika kita masih sanggup melangkah mengapa tidak! Jika durasi menyuruhmu lari, maka larilah dan tempuhlah. Namun jangan berpikir melarikan diri dari masalahmu. Lari dan hadanglah, kalahkan, jangan kabur!"
"Kau tidak takut pada kematian, Rey?"
Pertanyaan darinya itu sudah membawa tubuhku tepat berada dekat dengan bola cahaya merah ini. Suara-suara seperti petir didalamnya mulai terdengar. Aura didalamnya tidak mampu kujelaskan.
Ini kelam, namun juga menenangkan. Sukar rasanya mendeskripsikan benda ini. Namun yang kurasakan saat berdiri dihadapannya adalah, kalut tak karuan.
Manusia diliputi ketakutan itu wajar bukan. Namun mau sampai kapan kita berada dalam level ini, keluar dari zona nyaman itu harus.
"Ketakutan bukanlah kejahatan. Itu memberi tahu apa kelemahanmu. Dan begitu tahu kelemahanmu, kamu bisa menjadi lebih kuat. Aku tidak peduli, walau aku harus mati untuk mengejar impianku."
Slepppp
Drttttttttttt
__ADS_1
Rasanya seperti tertarik kedalam. Ketika telapak tanganku menyentuhnya, kulit-kulit tubuhku mulai tertarik masuk kedalam bola itu. Suara Baron bahkan sudah tak kudengar lagi. Aku hanya mampu memekik, menahan seluruh rasa kit atas terkelupasnya kulit tanganku yang seakan di telan paksa, di cabut dari tubuhku.
Syuthhh
Tubuhku tertarik masuk kedalam bola itu. Ketika aku berada didalamnya, seluruh ruangan disana berwarna merah mencekam.
Lebih fatalnya lagi saat itu aku pun kehilangan kedua tanganku. Kedua tanganku buntung dengan darah yang masih mengucur disana. Anehnya aku sama sekali tak merasakan sakit.
"Arlert, aku sudah banyak memperhatikanmu dari dalam sini."
Gema suara besar itu datang entah darimana asalnya. Pemilik suara itu bahkan mengenali namaku. Suara itu memenuhi ruangan ini. Sebenarnya siapa dia, lantas mengapa ruangan ini semengerikan ini.
"Arlert, manusia rupanya serakah juga ya?"
Sebuah tepukan dari balik tubuhku membuatku menoleh. Suara itu dekat tepat ditelingaku. Ketika aku membalikkan tubuhku rupanya tak ada siapapun disana.
Ketika aku membalikkan tubuh ku lagi. Sebuah singgasana dari pedang berada tak jauh dariku muncul, tadinya itu tak ada disana.
Singgasana itu terbuat dari jutaan pedang. Untuk menuju kesana ada sebuah tangga, ini sama seperti singgasana milik Baron. Namun pembedanya adalah, singgasana pedang milik Baron bercahaya putih. Sedangkan ini berwarna hitam pekat.
"Siapa kau?"
Aku membulatkan mataku tak percaya. Seorang pemuda berambut putih tersenyum ke arahku. Jubah miliknya berwarna biru, sambil disisi kepalanya ada sepasang tanduk.
Pemuda itu berseringai sambil membawa potongan sepasang tangan. Tunggu, itu tanganku, milikku bagaimana bisa ada padanya.
Disana Pemuda itu memamerkan potongan tanganku sambil masih berseringai. Potongan tangan itu masih mengucur darahnya, deras sekali. Dalam kepalaku aku bertanya-tanya, kapan dia memotongnya.
"Kau mencari ini bukan?" Tanyanya padaku.
"Bagaimana bisa potongan tubuhku berada padamu?"
Mendengar itu ia berdiri sambil mengangkat potongan kedua tanganku. Seringai itu masih tetap bersemayam dalam wajahnya.
"Kau sudah mengetuk ruangku, maka aku meminta balasan atas kelancanganmu itu. Sepanjang aku berada dalam domain ini, Baron laknat itu mengurungku. Dia bilang aku adalah ancaman bagi pengendali sihir. Tapi tanpa diriku, para penyihir tidak mungkin bisa bertindak jauh."
Segala apa yang ia ucapkan membuatku pusing sekarang. Dia bicara perihal apa sebenarnya, topik ini judulnya apa.
"Kau ini sedang membicarakan apa sebenarnya?"
"Otak udang ini mengesalkan juga rupanya."
syuthhhhhh
Ditengah perdebatan antara diriku dan dia di atas sana. Dari balik tubuhku muncul Baron ia berdiri disampingku.
"Dia adalah bagian diriku yang lain."
"Huh?"
Aku terkejut mendengar itu. Bagian dirinya yang lain katanya. Lantas apa yang membedakan mereka disini. Kuakui memang sosok Baron lain didepanku ini jauh lebih mengesalkan dibandingkan Baronku.
"Kau sedang membicarakan apa hah?"
Bagian diri Baron yang lain memperhatikanku dari atas sana. Sambil berkacak pinggang ia bertanya padaku dengan nada ketus.
"Baron Putih Saudaraku, ada hal yang harus kita bicarakan disini!"
Dari atas sana bagian diri Baron yang lain menyipitkan matanya.
"Kau, ingin bantuanku bukan?" Tanyanya dari atas sana.
"Ya, kami membutuhkan bantuanmu wahai Saudaraku!"
"Hahahahaha....hahaha...."
Bagian diri Baron yang lain tertawa menanggapi itu. Tubuhnya kembali duduk diatas singgasana dari pedang itu.
"Bukankah aku dikurung karena aku adalah kehancuran? Lantas mengapa kau, yang bersusah payah mengurungku meminta kekuatanku?" Ucap Bagian diri Baron yang lain.
"Karena penciptamu juga menginginkan hal itu!"
Aura sombong dari dalam diri Baron lain itu sekejap memudar. Setelah Baron Putih milikku mengatakan perihal Penguasa, dia bungkam. Sebenarnya aku tak tau menau perihal sosok Penguasa yang mereka bicarakan disini.
"Jadi Penguasa yang memerintahkanku?" Tanya bagian Baron lain tak percaya.
"Saudaraku, Penguasa sangat membenci kehancuran. Maka kembalikanlah kepercayaannya padamu, patuhlah dan mari kita bereskan bersama bumi yang hancur ini." Jawab Baron milikku.
"Kau ingin kekuatanku bukan, anak muda?"
Kali ini Baron lain itu menatapku ia menaikkan satu alisnya sambil melempar satu pertanyaan. Disana aku mengangguk mantap mengiyakan apa yang ia tanyakan.
"Pergilah!"
__ADS_1
Ucapan itu membuatku bingung rasanya. Mengapa ia menyuruhku pergi tanpa memberiku kekuatan.
"Dandelion?" Ucap Baron, rupanya namanya adalah Dandelion.
Syuttthhhh
Aku terkejut melihat cahaya kedua tanganku yang buntung mengeluarkan cahaya. Itu sulur, perlahan membentuk menyerupai tangan manusia.
"Huh, apa ini?" Tanya ku heran sembari masih menatapnya.
"Tiap kali kau menggunakan diriku. Kau akan kehilangan bagian tubuhmu yang hidup. Kekuatanku membutuhkan kehidupan untuk bekerja. Sekarang kau kehilangan sepasang tanganmu, ku gantikan itu dengan kekuatanku dalam sulur itu. Kalian hanya bisa mengajukan permintaan atas kekuatanku sebanyak enam kali. Lebih dari itu, kau akan mati!"
"Baiklah, aku setuju! Serahkan kekuatan itu padaku sekarang!"
"Sudah bodoh! Kembalilah dan gunakan!"
Rasanya semangat itu kembali memenuhi tubuhku. Perjanjian itu membuatku semakin bersemangat. Hari itu tiap kali diriku kehilangan kendali itu adalah perwujudan kekuatan Baron lain, yang masih belum mampu ku kendalikan.
Aku sudah meminta bantuannya sebanyak empat kali. Kesempatan milikku hanya tinggal dua. Dua kesempatan ini nantinya akan ku gunakan lagi, jika memang dunia menyuruhku menggunakannya maka akan ku gunakan.
___________
Tepat dihadapan tiga Baron Legendaris aku menceritakan segalanya. Tak ada satupun cerita yang ku lebihkan atau ku kurangi. Baron ku bersandar sambil mendengarkan ceritaku, dia lebih dulu tau segalanya tentangku daripada dua Baron lainnya.
"Mengejutkan, kau bahkan berani menggunakan kekuatan Dandelion?" Ucap Baron Hitam padaku.
"Sebenarnya apakah kalian juga memiliki sisi lain seperti Baron Putih?"
Rasa penasaran dalam pikirku semakin besar. Aku penasaran apakah mereka semua ini juga sama memiliki sisi lain. Pertanyaan dariku membuat Baron Emas mengangguk.
"Ya Rey, diantara kami hanya Baron cahaya lah yang tidak mampu berdamai dengan sisi lainnya." Jelas Baron Emas padaku.
Ada apa ini mengapa ada perbedaan diantara Baronku dan mereka.
"Lantas, apa untungnya jika kalian sudah berdamai?"
Pertanyaan dariku menarik perhatian Baron Hitam. Ia berdiri tepat dihadapanku sambil tersenyum.
Clashhhhh
"Maka kau akan memiliki sayap ini!"
Perkataan juga apa yang di tunjukkan oleh Baron Hitam, membuatku terperangah. Sepasang sayap hitam muncul dari balik punggungnya. Artinya tiap Guardian memiliki kemampuan terbang tanpa menggunakan sihir mereka, itu artinya mereka tidak perlu berupaya dengan mana milik mereka.
"Wah ini keren sekali!" Pujiku dengan mata berbinar.
"Itulah mengapa Baron Cahaya dan Harith menggunakan sihir ruang hampa selama ini. Itu adalah sihir kesatuan! Sebab mereka belum berdamai dengan sisi lain diri Baron. Harith dan Baron mencintai kedamaian, mereka berdua membenci kehancuran. Sisi lain kami haus akan kehancuran." Jelas Baron Emas.
"Lantas jika kalian sudah berdamai dengan mereka, apakah artinya kalian juga membiarkan sisi lain kalian melakukan kehancuran?"
Pertanyaan ku membuat Baron mengangguk. Buka kah guardian pecinta perdamaian. Lalu anggukan atas kehancuran ini apa artinya.
"Baron Hitam berdamai dengan sisi lainnya, membiarkan sisi lainnya menciptakan Black hole di Angkasa. Itu adalah kuburan angkasa, menarik benda apapun yang mendekat ke arahnya. Bahkan cahaya pun juga ikut tertarik kesana."
"Lalu kau, kehancuran semacam apa yang sisi lainmu berikan?"
"Dia menciptakan banyak segala matahari besar di semesta. Matahari itu kecil, ada banyak matahari lain yang lebih besar lagi. Matahari itu ancaman Rey, suatu saat entah kapan mungkin akan berdampak negatif."
Penjelasan darinya cukup panjang. Otakku yang pas-pasan mulai berprotes dan aku mulai menguap disini. Kali ini aku mendengarkan inti dari niatnya membawaku kemari. Ada sesuatu besar yang akan mereka lakukan denganku disini.
Belum sempat ku tahu perihal apakah itu. Tetapi apabila ditanya aku siap atau tidak. Maka jawabannya sederhana, aku selalu siap.
"Baiklah, jadi disini apa tugasku? Aku sudah menceritakan segalanya. Saatnya bagi kalian mengatakan rencana kalian padaku!"
Ucapan dariku membuat ketiganya saling bertatapan, seakan dari tatapan itu ada sebuah kesepakatan. Dimana beberapa detik setelah itu masing-masing dari mereka mengangguk lalu kembali menatapku.
"Kami akan masuk kedalam tubuhmu. Pelajari kekuatanku dan Baron Hitam." Jelas Baron Emas padaku.
"Ya Baiklah, itu tidak masalah!"
"Itu jelas masalah bodoh! Tubuh manusiamu ini tidak akan cukup mampu menampung kekuatan kami."
"Benar, dan aku adalah manusia yang rela menyerahkan tubuhku demi misi ini. Asalkan manusia bisa merasakan kebebasannya lagi."
Kalimat dariku membuat mereka diam sejenak. Tak lama Baron Emas mengulurkan tangannya, disana kami membuat sebuah kesepakatan baru.
Tentang latihan penguasaan juga durasi lamanya. Mereka menuntutku agar mahir menggunakan dua unsur kekuatan mereka yang berbeda. Tanpa ada sedikitpun bimbang dalam kepalaku, aku mengangguk menyetujuinya.
Mereka bilang padaku latihan akan dimulai besok. Tepat di kutub Utara yang dingin mereka mengajakku berlatih disana. Mereka bilang ketika ketiga pedang langit masuk kedalam tubuhku. Manusia sekelas Guardian akan terlahir dibumi. Katanya, rasanya akan seperti dilahirkan kembali.
Katanya Para Iblis tidak akan pernah mengunjungi area itu. Anggukan persetujuan dariku membuat ketiganya tersenyum. Awal dari ketiga pedang dalam genggaman tanganku akan dimulai.
...Pada dasarnya saat ini kita sedang berkembang dan kita tidak tahu batas potensi dalam diri kita...
...Meski kita sudah tahu batasnya, kita harus mengincar yang lebih tinggi...
__ADS_1
_________