Indigo Evolution (Silver Alaska)

Indigo Evolution (Silver Alaska)
Purnama Berdarah (Menceritakannya)


__ADS_3

Malam seperti biasa seluruh rekannya sudah terlelap masing-masing. Namun berbeda dengan Debora, ia masih di hantui perihal mimpi itu. Itu mengerikan, mimpi perihal masa depan yang harus mengorbankan darah.


Debora saat ini sedang duduk meringkuk di atas ranjangnya. Ia memandangi telapak tangannya yang kosong di antara remangnya kamar. Di sana Syena juga Riley susah terlelap, jam tepat menunjukkan pukul satu malam.


Pagi tadi, ia baru saja mengatakan perihal rencana pembahasan yang akan Noella paparkan. Pagi tadi juga, ia mengingat kembali mimpi itu.


"Enghhh..." lirih Riley berbalik ke samping, kedua netranya yang terpejam perlahan terbuka.


"Debora, kau belum tidur?" tanya Riley kepadanya.


Debora yang melamun pun beralih ke samping menatap ke arah Riley di sana. Kemudian ia menggeleng pelan. Riley mencoba bangun, ia duduk kemudian sambil mengucek matanya mengimpikan kesadarannya.


"Hoammm..." Riley menguap, lalu beralih ke samping lagi menatap ke arah Debora yang juga menatapnya.


"Aku tau, ada yang sedang mengganggu pikiranmu bukan? Orang cerdas sepertimu ini sudah terlalu banyak berpikir, jadi bagilah itu denganku jika kau ingin. Aku memang tidak secerdas dirimu, tetapi barangkali aku bisa memberi solusi. Itu akan melegakan dirimu setelah menceritakannya kepadaku!" ujar Riley kepadanya.


Debora tersenyum mendengar itu, kemudian bertanya melirik kecil ke arah Syena di sampingnya yang masih lelap tertidur menjelajahi mimpinya.


"Riley, ada sesuatu yang menggangguku! Ini perihal masa depan, juga Rey!" ujar Debora, ia mengusap lembut Surai milik Syena yang terlelap.


"Gadis ini, aku menyayanginya seperti adikku sendiri! Namun, aku juga menyayangi Rey! Aku tidak mampu kehilangan dia, Riley!" ujar Debora kepadanya.


"Tentang itu, aku sudah tau! Seluruh rekan kita juga sudah tau, kau dan dia saling mencintai." ujar Riley kepadanya hal itu membuat Debora tersenyum lalu menatapnya.


"Ya, aku mencintainya! Tapi, takdir sempat menunjukkan satu gambaran perihal masa depan." ujar Debora serius menatap Riley.

__ADS_1


Riley yang ditatap seperti itu pun mengernyitkan dahinya. Juga perihal perkataan Debora membuatnya sama sekali tak mengerti.


"Gambaran?" tanya Riley kepadanya tak percaya, lagi Debora pun mengangguk.


"Hanya mereka yang terhubung dengan Rey yang mampu melihat masa depan itu. Noella bilang, itu dari sang penguasa. Aku yakin, Syena juga sudah melihat itu!" jelas Debora lagi kepadanya.


"Apa itu?" tanya Riley antusias kini kepadanya.


"Dalam gambaran itu, Rey akan mati! Rey mati menyelesaikan seluruh tugasnya. Ada satu orang yang harus memenggal kepalanya saat itu, sebab jika ia dibiarkan hidup maka iblis seratus juta jiwa akan bangkit kembali. Itu adalah pertempuran paling beresiko Riley!" jelas Debora kali ini ia menunduk.


"Siapa manusia yang akan melakukan itu kepada Rey? Kita tidak akan membiarkannya bukan? Laku mengapa Rey ada kaitannya dengan iblis seratus juta jiwa beserta kebangkitannya?" tanya Riley lagi kepada Debora.


Hatinya ikut kalut sekarang. Debora yang menunduk perlahan kembali meneteskan air matanya, sambil terisak ia menatap tepat ke arah Riley.


Penjelasan pahit membuat Riley juga meneteskan air matanya. Benar-benar pilu dan tragis, itu berat pasti untuk Debora sebab hatinya begitu mencintai Rey di sana.


Riley mendekati sahabatnya itu lalu menenangkannya, memeluknya lembut. Di sana Debora semakin terisak.


"Masih berat rasanya sungguh!" lirih Debora lagi kepadanya.


"Aku tau ini berat Debora! Namun apabila saat itu Rey memilih mengorbankan dirinya demi kehidupan jutaan nyawa lain, demi kebebasan juga populasi manusia yang masih bernafas. Maka kita harus menghargainya, lakukan! Sekalipun itu berat, aku juga sama merasakan kepedihan itu. Debora, peperangan memang begini. Jika ada yang akan didapat, maka akan ada juga yang akan menghilang. Itu sudah biasa dalam peperangan!"


tutur Riley kepadanya, Debora tentu saja tau itu. Di sini ia perlahan-lahan sedang memantapkan hatinya sekalipun itu perih. Mencintai Baron putih legendaris ini benar-benar pedih.


Debora sangat berterima kasih kepada Rey Arlert. Sebab sudah mengukir banyak sekali kenangan manis bersamanya. Syal merah kesayangannya itu adalah hal terindah dari Rey yang pernah Debora miliki.

__ADS_1


Sampai saat ini ia masih berdoa. Semoga Tuhan senantiasa memantapkan juga meneguhkan hatinya ketika momen itu datang. Sebab apabila Debora nantinya mundur maka kebebasan tidak akan tercapai.


Mengapa harus Debora yang mampu mengakhiri nyawa Rey di sini? Sebab Debora lah yang paling murni di sini. Ia memiliki kekuatan Baron putih sekalipun lebih sedikit daripada Syena. Namun kekuatan Baron putihnya sama sekali tidak terkontaminasi oleh iblis-iblis laknat.


Dalam pelukan kecil itu malam ini hatinya kembali di tenangkan. Dalam pelukan kecil itu juga, Debora meminta kepada Riley untuk tetap diam dan menjaga rahasia itu. Sebab Noella mengatakan bahwa tidak ada yang boleh tau perihal itu. Namun jika ia tidak menceritakannya, maka Debora pun juga akan tersiksa.


"Terima kasih Riley, kau sudah mendengarkan ceritaku malam ini." ucap Debora kepadanya.


Pelukan mereka terlepas satu sama lain, dan Riley di sana tersenyum menanggapi itu lalu mengangguk. Ia tau betul, kepedihan dalam hati Debora masih belum sepenuhnya hilang. Namun jika takdir mengatakan demikian, maka manusia hanya mampu menerima.


Tidak ada yang mampu mengubah ketetapan Tuhan. Dan mereka hanyalah sebatas bidak. Mungkin di mata mereka ini tak adil, namun, biasanya akan ada rencana atau kado indah setelah kepedihan itu datang kepada mereka. Dan Riley mempercayai itu, ia sangat percaya itu.


"Ini sudah malam, lebih baik kita tidur lagi saja, Debora!" ucap Riley kepadanya sambil menguap.


"Dasar mata kucing kau!" ejek Debora kepadanya. Mendengar itu Riley hanya menaikkan satu alisnya.


"Sadarlah, di sini yang dipanggil kucing putih oleh Rey siapa! Kau bukan? Jadi, kaulah siluman kucing itu dan kaulah pemilik mata kucing itu!" ujar Riley memaparkan pembelaan.


Debora tertawa mendengar itu. Panggilan kucing putih yang sering sekali Rey ucapkan juga adalah kalimat terindah yang selalu Debora nantikan. Senang rasanya jika Rey memanggilnya seperti itu, itu adalah panggilan kesayangan Rey Arlert kepadanya.


"Sudahlah, ayo tidur! Besok libur, lebih baik kita pergi ke kota menikmati makanan Jepang!" ujar Riley segera berpindah ke samping ranjangnya, menarik selimutnya.


"Oyasuminasai!" ucap Riley lalu terlelap.


Debora dibuat tersenyum mendengar itu. Segera ia pun juga menarik selimutnya lalu ikut terlelap. Hatinya sedikit lega memang, namun tetap saja kepedihan itu Masih ada di sana.

__ADS_1


__ADS_2