Indigo Evolution (Silver Alaska)

Indigo Evolution (Silver Alaska)
Manusia yang Disanjung


__ADS_3

...Pria dengan kemauan kuat disebut berpengaruh...


...Sementara wanita dengan kemauan kuat 'sungguh sesuatu'...


...Saking hebatnya tidak ada satu pun kata-kata yang bisa mewakilinya...



____________


.


.


Rey bangga sekali rasanya seakan memenangkan tiket lotre, berhadiah jutaan dolar sambil tertawa Rey menghadap tepat ke arah cawan suci itu. Justice dibelakangnya meringkuk, sialan sungguh sialan memang. Berulangkali ia mendekati Rey, mencoba menghentikan bahak tawanya yang berisik itu, namun belum sempat kakinya masuk kedalam lingkaran itu, ia terpental. Sudah sepuluh kali sihir dalam lingkaran pembatas itu melemparnya, menghempaskan ya ke dinding.


"Terkadang Leonin kecil itu psikopat juga!"


Batin Justice, sedikit mengingat bayangan tentang Harith. Leonin kecil putih itu imut memang jika kalian melihatnya secara langsung, namun siapa sangka kadang untuk memberi hukuman, atau paling tidak menjaga sesuatu dengan mantranya, ia akan memberikan mantra yang cukup menyiksa, salah satunya adalah mantra ini.



Brolavor yang ia ambil bersama Rey, didalam ruangan Lapu-lapu rasanya tak ada gunanya, Justice menatap sendu botol kosong dari Brolavor itu, mengapalah ia harus susah-susah jika pada akhirnya dirinya tidak ditakdirkan masuk sebagai seorang peserta. Kekecewaan itu semakin mengiris hatinya, tatkala sudah sekitar sepuluh menit rekannya yang gila itu terus tertawa tanpa henti dihadapannya. Terbesit pikiran ingin menendang tubuh itu sampai terjungkal.


"Rey, ini sudah sepuluh menit Rey!"



Pekik Justice, namun Rey yang bahagia seakan lupa dengan dunia, bahkan Justice yang berada dibelakangnya.


"Kau jangan mengganggu kebahagiaanku, Just!"


Ujar Rey tanpa menoleh sedikitpun ke arah Justice, disana Justice memasang muka masam seketika. Ia berdiri, rasanya ingin memberi manusia dihadapannya ini pelajaran.


Dreppppp


Dreppppp


Justice yang hendak ke arah Rey terhenti, tatkala mendengar suara langkah kaki masuk ke arah gerbang pendaftaran. Justice mengalihkan netranya mencoba mencari tau, siapakah pemilik langkah kaki itu.



"Justice, kau disini?"


Rupanya itu adalah Axcel bersama dengan Dion dibelakangnya. Dion adalah Musketeers tingkat tiga, pemilik abjad yang sama dengan Rey, mereka adalah tipe petarung jarak dekat. Dion terkejut sambil menatap heran ke arah Rey yang masih tertawa, namun tidak dengan Axcel. Ia tau apa yang terjadi disini mereka yang berhasil mendekati cawan suci, dan mereka yang masih bertahan dalam lingkaran pembatasnya tanpa terpental. Adalah mereka yang dipilih, juga di seleksi langsung oleh sistem mantra Kaisar Putih, Harith.


"Aku sudah tau dia pasti tertarik perlombaan ini!"


Ujar Axcel, disana Dion terkejut. Netranya menatap tak percaya ke arah Rey, bagaimana tidak? Seorang Musketeers muda, tingkat satu berdiri dihadapan cawan api emas, dimana mendekati lingkarannya saja membutuhkan mana yang teramat sangat besar. Namun Rey berdiri disana, sambil tertawa, tandanya manusia ini memliki kapasitas mana diluar rata-rata petarung pemula.


"Rekanku, adik kelasku rupanya!"


Ujar Dion seraya tersenyum, netranya tak sengaja menangkap sesuatu tergeletak diatas lantai. Dion tau itu apa, itu botol ramuan, ramuan Brolavor. Ramuan peningkat mana, namun hanya akan bertahan selama lima menit. Dion mendekati botol itu, Justice membelalakkan matanya melihat itu.


Sial, mengapa ia lupa membuang atau menghancurkan botol itu. Apa ini akhir dari kisahnya saat ini? Apakah Axcel akan mengeluarkannya dari Rensuar? Apakah ia akan d usir setelah ini, ragam pertanyaan itu bertebangan dalam kepalanya.


"Ini Brolavor?"


Ujar Dion memungutnya, netranya menatap ke arah Justice yang terlihat ketakutan itu. Ekspresi itu membuat Dion tersenyum licik, sepertinya pagi ini mengerjai adik kelasnya tak masalah bukan. Axcel yang tau itu mendekat ke arah Justice, leonin kecil itu tingginya sama saat ini dengan Justice yang meringkuk.


Pukkkkkk


Pukkkkkk


"Eh?"


Justice memekik, terkejut tatkala tangan mungil Axcel menepuk puncak kepalanya.


"Kau bisa mencobanya lagi tahun depan, lagi pula acara ini akan diselenggarakan tiap tahun."


Ujar Axcel padanya, Justice bersemu ia malu mengapa harus menepuk kepalanya semacam ini. Risih rasanya sungguh, segera ia menjauhkan dirinya dari Axcel.


"Kau menyentuhku?"


Pekik Justice padanya, Axcel hanya tersenyum. Sebelum berkata netranya melirik ke arah Dion, lalu menunjuk ke arah Rey. Dion mengerti isyarat untuk apakah itu, bersama dengan botol bekas Brolavor Dion menghadap ke arah Rey kali ini. Menggerakkan tangannya merapal satu mantra untuk membuat Rey diam.


"Adrium!"


Ucapnya, rapalan satu mantra itu membuat Rey bisu seketika. Rey terkejut, ia meraba-raba mulutnya mencoba memeriksa mengapa tak ada suara dari dalam sana, terbesit pikiran. Rey berbalik disana netranya mendapati Dion dan Axcel, menatapnya.


"Hei Rey, mau sampai kapan kau tertawa hah?"


Mendengar ucapan Dion, Rey paham ini ulah adalah ulahnya. Rey berucap, ia mengumpat, namun suara miliknya tak didengar siapapun. Axcel tertawa melihat itu, tak lama Dion mendekati Rey ia meletakkan tangannya diatas api emas itu.


"Adrium!"


Ucap Dion lagi, bersamaan dengan kedipan api diatas cawan.

__ADS_1


Tingggggg


Suara itu menandakan bahwa Dion diterima, sebagai peserta perlombaan ini. Rey tersenyum, rekannya ternyata orang-orang hebat. Dalam lembaran yang ditunjukkan Justice pada mereka, masing-masing Asrama akan mengirim sepuluh prajurit terbaik mereka untuk masuk dalam perlombaan itu.


"Wahhh kita rekan sekarang, Dion!"


Ujar Rey seraya mengulurkan tangannya, disana Dion tersenyum namun juga sedikit kesal, ia membalas uluran tangan Rey. Ada apa dengan bocah ini, tidakkah ia melihat Dion lebih tua darinya lantas mengapa Rey tidak menyebut namanya dengan hormat.


"Rey, aku Seniormu bukan?"


Ujar Dion seakan memberi kode pada Rey, namun Rey hanya mengangguk sambil tersenyum.


"Ya, aku tau!"


Ujar Rey polos seakan tak mengetahui kesalahannya.


"Lantas mengapa kau sebut namaku saja Rey?"


Tanya Dion padanya, Rey mengerutkan keningnya tak mengerti apa yang Dion ucapkan.


"Lantas aku harus memanggilmu apa? Kisana?"


Ujar Rey membantah, mendengar adu argumen dihadapannya Axcel dan Justice tertawa. Mereka paham betul sifat yang Rey miliki, adu argumen dengan Rey adalah hal yang paling melelahkan.



"Baron Putih Legendaris, kau bisa menyebutku dengan embel-embel senior bukan? Lalu beri namaku dibelakangnya!"


Geram Dion, namun Rey bersikap acuh seraya menggelengkan kepalanya.


"Aku tidak mau, aku tidak ingin! Baron tidak mau menuruti perintah siapapun, kecuali, perintah Harith, Axcel dan ketua tim ku, Debora!"


Rey mengatakan itu sambil menghitung tiap nama yang ia sebutkan. Dion semakin dibuat geram dengan hal itu, namun apa dayanya, ia bukan tandingan seorang Baron bukan. Ditambah gosip mengenai kekuatan Rey sudah beredar di seluruh Rensuar, senior mana yang tak takut padanya. Senior mana yang tak segan pada Rey beserta timnya, mereka masuk kemari setelah seleksi langsung diberi tempat terbaik, Asrama Elang Putih.


Divisi Crusher adalah yang terbaik dalam Rensuar. Divisi yang dibentuk untuk mengawal Harith masuk kedalam Alaska. Saat ini posisi Musketeers tingkat lima masih kosong, posisi itu untuk saat ini hanya Axcel saja yang mengemban. Mereka yang masih didalam Rensuar, rata-rata adalah Musketeers tingkat tiga dan empat itu adalah yang paling tinggi disini. Untuk masuk kedalam tingkatan kelima, mereka akan diberi tugas mandiri masuk secara perdana kedalam silver alaska selama satu hari, tugas yang diberikan nantinya adalah mencari keberadaan dua senjata langit yang masih hilang.


____________


Riley baru saja dari kantin Rensuar, sambil membawa nampan berisikan makanan Riley berjalan ke arah ruang medis. Tepat ketika dirinya sampai didepan pintunya, tangannya yang penuh itu tak bisa membuka pintunya.


Bruakkkkkkkkk


Riley menendang pintu ruang rawat itu dengan keras, itu membuatnya terbuka. Manusia yang sedang duduk bersandar dikepala ranjang, sambil membaca kitab sihir dihadapannya itu terkejut. Matanya membulat menatap tepat ke arah sumber suara itu.



Riley berucap seraya membawa makanan itu ke arah Debora yang masih terkejut menatapnya.


"Riley, bisakah kau masuk seperti seorang gadis yang anggun?"


Ujar Debora padanya, Riley menghela nafasnya mendengar itu. Ia melepas nampan yang dipegangnya, nampan itu melayang diudara seketika. Riley berjalan mendekati Debora, duduk disamping ranjangnya.


"Waktunya makan saudara perempuanku!"


Ujar Riley seraya tersenyum kearahnya namun Debora hanya mengangguk, lalu netranya kembali menatap buku abjad sihirnya. Riley kesal melihat tingkah laku rekannya itu, seakan tak menghargai apa yang ia ucapkan dan ia bawakan.


"Benyirou!"


Rapalan mantra milik Riley seketika membuat tubuh Debora terangkat.


"Riley! Turunkan aku!"


Ujar Debora, namun dari bawah Riley menggelengkan kepalanya.


"Habiskan makananmu atau aku akan tetap membuat seperti itu!"


Ujarnya, Debora menghela nafas mendengar itu. Ancaman itu terkesan tidak main-main, Rey dan Riley sifat mereka hampir sama jika sudah mencangkup keluarga.


"Baiklah, aku akan makan!"


Debora menyerah kali ini, ia mengembalikan buku sihirnya kembali dalam domainnya. Riley menggerakan kembali tangannya, membawa tubuh Debora yang melayang itu kembali duduk di ranjang.


Syuttthhhh


Kali ini Debora sudah duduk diatas ranjangnya, Riley menarik nampan yang masih melayang itu ke arahnya. Nampan itu berlabuh tepat di atas telapak tangannya. Debora memperhatikan menu makanan yang dibawa oleh Riley, makanan berkuah, sebenernya Debora tidak terlalu menyukainya. Namun, karena Riley sudah membawanya dengan susah payah Debora pun menerimanya.


"Makanlah, habiskan!"


Ujar Riley, Debora mengangguk. Namun tunggu, dalam nampan itu tak ada sendok dan garpu. Lantas, bagaimana ia akan memasukan hidangan itu dalam mulutnya. Riley menatap aneh ke arah Debora yang tak kunjung menyentuh makanannya, disana Debora juga menatap Riley.


"Riley!" Lirihnya.


"Ya, ada apa? Mengapa kau masih diam tak memakannya?"


Debora tersenyum simpul mendengar itu, ia menunjuk tepat ke arah nampannya.


"Bagaimana caraku makan jika tak ada perantaranya? Sendok dan Garpunya kemana?"

__ADS_1


Tanya Debora, Riley menepuk keningnya saat itu juga. Bagaimana ia bisa melupakan itu, mungkin kebiasaannya memberi makan ternak mempengaruhinya saat ini.


"Astaga aku melupakannya! Biasanya aku tidak memakai itu saat memberi makan ternakku."


"Riley, aku bukan seekor ternak!"


Protes Debora keduanya pun saling tertawa. Ditengah gurauan mereka dari ambang pintu terlihat Mikhail datang, sambil membawa botol ramuan ditangannya.



"Hei?"


Sapa Mikhail, Riley menoleh ke arah sumber suara itu. Bagaikan dibakar rasanya, hatinya geram sekali melihat manusia itu.


"Mikha, kau kemari?"


Tanya Riley yang masih berada disamping Debora. Merasakan aura kemarahan itu Debora diam, sepertinya akan terjadi pertumpahan sihir disini.


"Ah..emm... ya, tentu aku kemari! Aku membawakan obat untuk Debora!"


Mikhail dibuat gelagapan mendengar nada suara penuh mengintimidasi itu. Manusia ini suram sekali hari ini auranya, Riley berdiri lalu berjalan ke arahnya. Aura Sihir Abjad B itu menguar dari dalam dirinya, bebatuan dari dalam gedung ini mengelupas, perlahan kerikil-kerikil itu berada dibelakang tubuh Riley. Menyeramkan sekali, rasanya seperti sedang dihadang oleh malaikat maut.


"Hei, kau akan apa Riley?"


Tanya Mikhail, namun Riley tak menjawab ia masih berjalan mendekati Mikhail.


"Kau, karenamu semalam yang pulang lebih dulu! Kami beurusan dengan guguk sialan itu lagi! Kau yang ahli pertahanan mendekur dengan nyaman diatas tempat tidur, sialan sekali kau!"


Murka Riley, Debora yang masih di ranjangnya itu masih tak melakukan apa-apa atas pertengkaran mereka. Menurutnya itu hal benar, Mikhail terlalu mementingkan dirinya sendiri. Sudah saatnya ia diberi pelajaran bukan.


Wushhhhhhh


Kerikil-kerikil itu terangkat bagikan anak panah. Mikhail membulatkan matanya melihat itu, Riley sudah gila sungguh. Mereka masih ada di area sekolah, mengapa harus membuat perdebatan konyol semacam ini. Serangan sihir dalam sekolah akan berakibat fatal, akan membuat kerugian.


"Hei hei! Ingat kita berada dalam wilayah belajar!"


Mikhail berusaha menyadarkan Riley yang gelap mata padanya. Namun tetap, sepertinya nihil.


"Persetan dengan sekolah, nyawa manusia lebih penting!"


Ujarnya, Mikhail tersenyum miris mendengar itu. Sepertinya ia harus mempertahankan nyawanya sekarang sampai bantuan datang membantunya.


Brukkkkkk


Kerikil-kerikil itu diarahkan tepat ke arah Mikhail saat itu juga.


"Mohetetrum!"



Secepat kilat Mikhail membuat pertahanan untuk dirinya sendiri. Sehingga kerikil milik Riley tak bisa menyentuhnya. Bersamaan dengan itu, Rey dan Justice datang dibelakangnya. Mereka tercengang melihat apa yang terjadi disini.


"Riley, sama gilanya sepertimu! Bantu aku!"


Ujar Mikhail seraya menahan serangan itu, ketika Rey dan Justice akan membantu, Riley memicingkan matanya tepat ke arah mereka.


"Berani kau bantu manusia ini, ku lempar kalian sebagai makanan Khufra malam ini."


Mendengar itu baik Justice juga Riley, nyali mereka menciut. Rapalan mantra mereka tak jadi digunakan, Debora dibelakangnya tertawa mendengar itu.


"Errium!"


Sudah cukup rasanya melihat ini, Debora mengeluarkan sulur cahaya miliknya menangkup kerikil-kerikil yang masih menghantam pertahanan Mikhail. Riley mengalihkan netranya kebelakang melihat Debora, namun Debora hanya tersenyum lalu mengangguk, seakan mengatakan ini sudah cukup Riley.


Riley menghentikan serangannya, mengembalikan kembali kerikil-kerikil itu ke asalnya. Bersamaan dengan itu Mikhail menarik lagi pelindungnya.


"Nah Mikha, itulah mengapa aku bilang padamu semalam. Ikutlah bersama kami! Kau malah pulang lebih dulu!" Ujar Rey merangkul Mikhail.


"Sudahlah Rey, ayo beritahu pada mereka."


Justice bosan mendengar basa-basi disini, pasalnya hatinya sudah sangat jengkel gagal sebagai seorang peserta, ditambah kekonyolan Rey di ruang pendaftaran tadi. Rey tersenyum mendengar itu, sambil merentangkan tangannya ia berteriak.


"Aku berhasil lolos sebagai peserta lomba tahun ini!"


Degggggggg


Bagaikan disambar petir rasanya, mereka membulatkan matanya seakan tak percaya. Namun tak lama hal itu membuat senyum Riley merekah, ia berlari menghampiri Rey memeluknya.



"Wahhhh Rey, selamat! Aku senang sekali mendengarnya, sesuai dengan keinginanmu ya!"


Ujar Riley, Rey membalas pelukan itu sembari tersenyum. Netranya menatap Debora yang masih duduk diranjangnya, gadis itu juga tersenyum ke arahnya. Namun sebenarnya ada sesuatu dibalik senyuman itu, ada rasa khawatir untuk Rey. Pertandingan terakhir dalam perlombaan ini, cukup ekstrim bagi Rey. Debora takut hal yang sama akan terjadi nantinya, lantas siapakah yang akan menyadarkan Rey nanti.


...Sehari tanpa tawa adalah hari yang sia-sia...


...Tertawa adalah bentuk joging internal...

__ADS_1



__ADS_2