Indigo Evolution (Silver Alaska)

Indigo Evolution (Silver Alaska)
Kekasihku Kemana?


__ADS_3

Suara gemercik air di dalam kamar mandi tak lagi terdengar. Debora dengan balutan handuk kimono mulai keluar dari dalam sana. Wajahnya tampak segar sekali, ciri khas setelah mandi.


Sebelum Debora akan memasak. Ia lebih dulu melangkahkan kakinya menuju kamarnya. Ia ingin melihat Rey sebentar.


Ketika Debora sampai tepat di hadapan pintu kamarnya. Tangannya mulai terangkat membuka pintu kayu itu. Ketika pintu terbuka, Debora terkejut. Ia mematung sejenak sambil memutar bola matanya ke segala sisi kamar.


Di atas ranjang itu tadi ada Rey. Dia sedang tertidur pulas di sana. Tapi, di mana dia saat ini? Mengapa keberadaannya tak ada? Apakah Rey keluar dari kamar? Lantas, mengapa Debora sama sekali tidak menemukan keberadaannya tadi di bawah.


Debora menutup kembali pintu kamarnya. Di depan kamarnya adalah kamar Rey. Kamar mereka terletak bertetangga satu sama lain.


Pintu kamar itu tertutup rapat sama seperti semalam. Di sana Debora berinisiatif untuk masuk ke dalam. Debora mengetuk sejenak pintu kamar itu.


"Rey, apakah kau ada di dalam?" tanya Debora.


Satu kali dua kali bahkan tiga kali ketukan. Tak ada jawaban yang Debora dapatkan. Melihat tak ada respon untuknya. Debora pun memutuskan untuk masuk ke dalam Dan di sana dia juga tidak menemukan keberadaan Rey.


Kau di mana, Rey?. Ucap Debora dalam hatinya.


Pikirannya mulai tak karuan rasanya. Semalam, Rey mendadak tidak enak badan memang. Ditambah perkataan Noella dan Harith padanya perihal Rey. Apabila Rey belum mampu menemukan seluruh ingatan masa lalunya kembali. Maka Rey akan mati lagi nanti.


Mengingat itu semakin membuat Debora takut saja rasanya. Bahkan jika dalam kepalanya saat ini hanya dipenuhi ketakutan akan itu. Maka mungkin Debora saat ini sudah menangis.


Namun Debora tetap menyangkal hal itu. Dia berpikir mungkin saja Rey saat ini sedang keluar. Atau sedang menghirup udara pagi yang cukup segar.


Debora kembali masuk ke dalam kamarnya. Lalu ia mengganti bajunya. Pikirannya tidak akan tenang jika ia tidak menemukan keberadaan Rey sekarang. Tak lupa Debora juga membawa ponsel miliknya. Kemudian ia pun keluar dari dalam rumah miliknya.


_________


Sedangkan saat ini di kediaman Riley. Nampak, Justice dan Rey saling berhadapan. Dengan pedang kayu di tangan mereka. Ini sudah cukup lama bagi keduanya tidak bersenang-senang.


Riley duduk manis menghadap halaman. Di mana di sana berdiri Justice dan Rey yang akan beradu kemampuan. Nampak anak-anak mereka duduk di samping kiri kanan Riley, dan mereka juga sedang menikmati teh.

__ADS_1


"Ini sudah cukup lama bagi kita tidak berlatih!" ucap Justice berancang-ancang sambil menatap ke arah Rey.


"Benar sekali ya! Sepertinya aku sudah lama tidak membebaskan sisi liarku. Mengeksekusi sebrutal dahulu!" jawab Rey padanya.


Justice mengangguk, pedangnya mulai diayunkan. Tetapi tidak untuk menyerang Rey. Justice hanya melakukan itu untuk pemanasan. Begitu juga sebaliknya.


"Ayo mulai! Setelah itu giliranku nanti!" ucap Riley yang sudah tak sabar.


"Diamlah pemanah!" ucap Justice dan Rey bersamaan sambil menatap Riley.


Mendengar itu Riley terkejut. Sungguh dia geram sekali ketika mendengar itu. Perkataan dua orang manusia di hadapannya itu membuatnya kesal.


Tanpa berucap apapun. Riley pun meletakkan cangkir teh miliknya di atas meja. Nampak kedua anaknya menatap heran ke arah Riley.


"Okaasan mau apa?" tanya salah seorang anak Riley.


Riley tidak mendengar itu. Dia hanya berjalan masuk lebih dalam ke ruangannya. Sedangkan Justice dan Rey yang melihat itu hanya mampu mengangkat kedua bahunya. Mereka kembali bercakap-cakap dengan santainya tanpa memperdulikan Riley.


"Tapi kita sekarang hanya manusia biasa! Jadi ingat jangan terlalu keras memukul!" ucap Justice pada Rey.


"Kita petarung, kita setara dulu! Kau hanya hebat karena Baron saja!" ucap Justice tak terima.


Apa yang Justice katakan sontak membuat Rey tertawa. Mereka berdua saling tertawa satu sama lain. Hingga tidak menyadari saat ini Riley dengan busur dan anak panahnya sedang mengintai membidik mereka.


Clashhhhhh


"Hah!!!" pekik Justice dan Rey bersamaan ketika melihat tiga anak panah datang melewati tengah-tengah mereka.


Mereka saling membulatkan mata satu sama lain. Menatap ke arah tiga anak panah yang saat ini tertancap tepat di pohon besar samping mereka.


Rey dan Justice menelan ludah rasanya. Itu anak panah sungguhan. Jika saja anak panah itu mengenai mereka, mungkin mereka bisa saja terluka tadi.

__ADS_1


Setelah aksi itu berhasil. Suara sorakan anak-anak Riley mulai bersaut-sautan. Mereka memuji ke arah Riley yang saat ini masih berdiri sambil menatap Rey dan Justice di sana.


"Justice, Riley masih brutal?" tanya Rey pada Justice.


Justice mengangguk pelan. Keduanya saat ini menatap ke arah Riley yang masih menatap mereka.


"Itu salahmu, nada bicaramu meremehkannya tadi!" ucap Rey pada Justice.


"Kau juga!" ucap Justice tak ingin disalahkan.


"Ayo lawan aku!" ucap Riley yang berjalan menghampiri keduanya.


Melihat itu Rey dan Justice pun terdiam. Mereka kikuk rasanya ketika melihat Riley dengan mode brutalnya.


"Pemanah itu luar biasa! Kalian tidak akan selamat berulang kali di Medan tempur dulu. Jika tidak ada campur tangan para pemanah!" tutur Riley pada keduanya.


Bagaikan seorang bocah berusia lima tahun. Baik Rey dan Justice keduanya hanya mampu menunduk sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Mereka tidak ingin berurusan terlalu jauh dengan Riley.


"Ya Riley, kami salah! Maafkan kami!" ucap Rey pada Riley mencoba meredam amarahnya.


"Terlambat! Ayo kita latihan sekarang, hindari panah-panahku!" ucap Riley yang langsung mengambil beberapa anak panahnya lalu membidik tepat ke arah Justice dan Rey.


Melihat itu keduanya pun bersiap. Rasanya tidak mungkin mereka bisa menghindari permintaan Riley di sini. Riley tidak akan puas dan diam jika permintaannya tidak dituruti.


Keduanya mulai kembali memasang kuda-kuda. Latihan yang sudah sejak dulu lamanya tidak mereka pakai. Saat ini akan mereka pakai kembali.


Perbedaan antara dulu dan saat ini adalah. Mereka saat ini hanyalah seorang manusia biasa. Yang akan terluka jika tergores. Dan tidak ada penyembuhan instan menggunakan ramuan Alkemis.


Melainkan mereka hanya mampu disembuhkan oleh obat-obatan manusia. Dokter adalah tempat mereka datang ketika sakit. Bukan lagi para Lapu-lapu.


Ketika panah-panah itu mulai ditarik. Terkadang Rey dan Justice menghindar. Terkadang pula Justice dan Rey menangkisnya. Peraduan latihan itu terjadi cukup lama hingga senja datang.

__ADS_1


Hingga suara panggilan dari anak Riley membuat ketiganya berhenti. Ketika anak itu menyerahkan ponsel Riley. Mereka sontak terpaku melihat nama siapa yang tertera di sana.


Itu adalah nama Debora. Dan dia saat ini sedang berada di pintu masuk rumahnya. Riley dan Justice sontak menyuruh Rey untuk bersembunyi. Atau rencana mereka nanti pasti akan gagal.


__ADS_2