Indigo Evolution (Silver Alaska)

Indigo Evolution (Silver Alaska)
Lanjutkan untuk Kembali (Labirin)


__ADS_3

...Dalam segala hal yang ingin kau lakukan...


...Jangan mencoba yang terbaik,...


...lakukan yang terbaik...


...Jika kau bekerja keras dan kau melakukan yang terbaik, kau bisa melakukan apa saja...



________


.


.


Rey berlari diantara dahan-dahan pohon yang rimbun. Kegelapan menyertai langkahnya maju ke depan, sambil membawa Baron ditangannya kekuatan sihir dari dalam dirinya mengalir, merasuki Baronnya.


Drttttttttttt


Drttttttttttt


Bunyi petir itu menyelimuti pedangnya, tak jauh dari tempatnya seekor Iblis laba-laba terhempas ke-tanah. Iblis itu diam tak mampu bergerak sekarang sebab seluruh kakinya sudah terikat oleh sulur cahaya, kesempatan emas ini datangnya tidak dua kali, merasa jaraknya sudah cukup Rey melompat dari atas dahan. Mengarahkan pedangnya tepat ke arah Iblis itu.



Brukkkkkkkkkkkk


"Hoahhhhhhhhhhhh!!!"


Hempasan pedangnya menciptakan percikan petir bercabang, Rey melompat kedepan di iringi suara auman kesakitan dari diri Iblis itu. Mereka bersepuluh berseringai, ini adalah Iblis terakhir, jumlah poin mereka sudah seratus saat ini.



"Yeahhhhh!!! Seratus poin usai!!!"


Baxio dan Thera mengangkat tubuh Rey ke atas mereka bahagia. Berkat akal dan kemampuan Rey hanya dengan waktu tiga puluh menit, Asrama Elang Putih menyelesaikan misi mereka.


"Junior kita berotak cerdas rupanya!"


Rey tertawa bahagia mendengar itu, sanjungan rasanya sudah seperti makanan yang akan mengenyangkannya. Sementara dari dalam domain Baron menatap malas ke arah Rey.



"Aku yang membantumu tak pernah sedikitpun kau sanjung!"


Pernyataan itu membuat Rey terhenyak, rasanya tidak enak hati juga jika dirinya tak berterima kasih pada Baron dalam tubuhnya.


"Ahahahaha baik-baik! Terima kasih atas seluruh bantuanmu selama ini, Baron. Semoga kita tetap menjadi rekan, sampai dunia kembali pulih."


"Kau harus membawaku ke Lapu-lapu setelah perlombaan ini Rey. Aku butuh ditempa!"


"Kau bilang, kau bukan buatan Lapu-lapu?"


"Tapi aku tetap sebuah pedang Rey! Ibaratnya mereka sudah seperti orang tuaku!"


"Hahahahaha, kau bilang orang tua? Sosok sekecil itu kau bilang orang tua, lalu kau ini apa? Nenek Moyang?"


"Amee..."


"Hei, baiklah, aku tidak akan menghinamu! Mantra sebesar itu kau rapal, apa kau ingin membunuhku hah? Aku akan membawamu setelah perlombaan tuntas, kau tenang saja."


Disela-sela tawa kebahagian para rekannya, sebuah cahaya hijau mengelilingi mereka. Sekejap mereka berpindah tempat kembali ke lapangan awal mula mereka menjalankan misi.



"Huwahhhh Rey!!!"


Kali ini Justice hanyut dalam sorak tawa seluruh pendukung Elang putih. Justice mencengkram besi pembatas dihadapannya sambil menyorakkan nama Rey, satu tangannya ia gerakkan diatas kepalanya seakan ikut mendukung Rey.


"Dia heboh sekali ya!"


Kali ini Riley menatap aneh tepat ke arah Justice yang sedang berdiri membelakangi mereka.


"Hahaha... Kurasa sebelum ini mereka sempat berdebat, rupanya itu tidak bertahan lama ya." Ujar Debora.


"Bagaimana pertengkaran Suami Istri itu bisa bertahan lama?" Tambah Mikhail.


Mereka bertiga menatap bangga ke arah Rey dibawah sana. Terpampang jelas kebahagian itu menyertai dirinya, bersemayam tepat dalam wajahnya.


Axcel dari podiumnya turun, ia terbang melayang mengarah tepat ke arah Rey. Ketika tubuhnya sampai tepat dihadapan Rey, dari belakang divisi Elang Putih terlihat juga Divisi lain yang baru kembali.


Kehebohan atas keberhasilan ini masih bersuara, Axcel mengeluarkan sihir miliknya membentuk sebuah lingkaran kecil lalu melahapnya.



.


"Attention!!!"


Itulah yang disebut sihir gema, sebuah sihir berbentuk cincin terserah akan kau letakan dimana. Gema suara milik Axcel itu meredam suasana, mengubur suara yang tadinya riuh disana. Suasana hening kini tercipta fokus mereka masing-masing mengarah tepat ke arah lapangan.


"Selamat untuk ketiga Divisi dalam tahap pertama! Kalian berhasil!"


Prokkkkkk


Prokkkkkk


Ucapan itu mengundang tepukan tangan para penonton podium.


"Maka dengan ini, kalian akan melanjutkan kembali pada sesi kedua."


Grrrrrrrr


Axcel mengarahkan tangannya tepat dibelakang pesertanya, sebuah miniatur dimeja muncul menjulang ke atas dari dalam tanah. Miniatur itu terbuat dari tanah, para pesertanya berbalik maju mendekati labirin itu.

__ADS_1


"Itu adalah miniatur labirin, dimana didalam. miniatur itu kalian akan dihimbau untuk menemukan satu pecahan emblem Rensuar. Masing-masing orang hanya boleh mengambil satu, secara otomatis ketika emblem itu berada dalam tangan kalian, kalian akan tertarik kembali kemari. Ada sekitar sembilan emblem didalam sana, tandanya, siapa cepat dia dapat."



Syuthhhh


Kembali Axcel menggerakan tangannya beberapa botol ramuan Brolavor, muncul berada tepat dihadapan mereka.


Dari atas podium Debora sama sekali tak mengerti apa maksudnya itu. Untuk apa Brolavor digunakan disini, Mikhail juga terlihat berpikir disampingnya tidak dengan Riley yang menatap santai ke bawah sambil melahap camilannya.


"Menurutmu Brolavor digunakan dalam pertandingan ini, untuk apa?"


Mikhail mendengar pertanyaan Debora itu, rupanya apa yang dirinya pikirkan pun sama dengannya.


"Menurutmu, Brolavor adalah ramuan peningkat mana. Tandanya petinggi tau mana mereka terkuras disini, tapi jangka waktu ramuan itu hanya lima menit. Jika memang pertandingan ini hanya untuk mencari keberadaan emblem, maka menggunakan Brolavor atau sihir tak perlu disini. Namun jika para peserta di paksa meminumnya, artinya.."


Mereka berdua serentak seakan menemukan jawaban, sambil membulatkan mata keduanya saling bertatapan.


"Ada musuh tepat dipintu masuknya!"


Ujar keduanya serentak, ketika mereka kembali menatap Rey disana ramuan itu sudah diteguk habis oleh para peserta.


Glekkkkkkk


Rey mengusap beberapa cairan yang sedikit tumbuh diwajahnya itu, botol kosong ramuan miliknya ia buang begitu saja. Mereka kembali menatap Axcel, efek ramuan itu cepat seketika para Musketeers-nya merasakan mana nya pulih kembali.


"Brolavor ini, akan bertahan selama lima belas menit. Madam Geralda sudah merancangnya dengan sangat baik, maka manfaatkan lima belas menit itu mulai dari, sekarang!"


Anggukan kepala mereka menandakan bahwa mereka siap.


Tingggggggggg


Bunyi jam entah dari mana asalnya menandakan waktu perlombaan dimulai. Mereka kembali berlari masuk kedalam portal.



Clingggggggg


Wushhhhhhhh


Mereka terkejut mendapati sesuatu berbentuk besar berdiri tepat dihadapan mereka. Sesuatu itu masih tenang tak bergerak, itu berbentuk wujud manusia, namun kulitnya hitam, giginya bertaring. Matanya masih terpejam, dalam miniatur itu mereka sama sekali tak menemukan keberadaan Iblis ini.


Bukan hanya mereka yang dibuat terkejut, Debora bahkan seluruh penonton dalam podium dibuat merinding. Kira-kira besarnya sekitar sepuluh meter, ketika sosok itu bangun dan berdiri.


"Bercanda ya?"


Baxio berucap sambil menatap sosok yang mulai terbangun itu, tubuh itu tinggi sekali.


Syutthhhhh


Baron putih kembali dalam genggaman Rey kali ini, sambil netranya tetap mematri Iblis itu Rey menyalurkan sihir autrom miliknya didalamnya.


"Jika labirin sebesar itu, lalu Iblisnya sebesar ini disini! Aku yakin, keberadaan emblem itu tidak disebar dalam labirin. Tetapi didalamnya!"


Ujar Rey seraya masih menatap lekat kepala Iblis diatasnya.


Pertanyaan Dion membuat Rey menatapnya, Rey berseringai padanya.


"Coba pikirkan alasan mengapa Brolavor diberikan pada kita!"



Wushhhhhhhh


Setelah mengatakan itu, Bersamaan dengan petir dikakinya Rey melesat tepat ke arah Iblis itu. Menyayat bagian tangannya, suara kesakitan dari Iblis itu seakan menjadi sebuah nyanyian bagi Rey untuk tetap maju dan maju. Sepotong tangan Iblis terjatuh beberapa peserta dibawah menghindar, para Musketeers lain mulai mencincang tubuh Iblis ini.


Bommmmmmm


Kegiatan mereka terhenti ketika sesuatu dari dalam tubuh Iblis ini menghempaskan mereka.


Bruakkkkkk


"Ughhh.."


Baik Rey juga para peserta lain memekik tatkala tubuh mereka menghatam dinding labirin. Tubuh Iblis yang terpotong perlahan mulai menyatu, bagian tubuh berjatuhan itu mulai menempel kembali pada empunya. Mereka, Para Musketeers sama sekali tak melihat benang kesempatan. Titik lemah Iblis ini dimana, mereka tak tau. Bahkan tebasan pedang milik mereka, juga Baron milik Rey tak mampu meleburkannya.


"Ini ada apa sebenarnya!"


Pekik Dion bersimpuh sambil netranya masih menatap lekat ke arah Iblis itu, mematri barangkali ada sesuatu yang dirinya temukan.


Dari dalam podium Debora memejamkan matanya, dirinya dan Rey terhubung saat ini. Disana ada dua orang pemilik sihir Abjad E, namun mengapa otak mereka sama sekali tak bekerja. Debora mencoba mencari-cari sesuatu dalam tubuh Iblis itu.


Jika seluruh bagian umumnya sama sekali tak mampu dileburkan, ada satu bagian yang belum disana. Bagian itu adalah Alat Vitalnya.


"Alat vitalnya!"


Ujar Rey bersamaan dengan Debora di podium, Baxio terhenyak benar sekali apa yang Rey katakan. Sementara kedua Divisi kembali menyerang tempat yang sia-sia, Rey memberikan informasi tentang titik lemahnya itu hanya pada seluruh rekannya. Mereka mengangguk mendengar itu, bersamaan dengan itu mereka berlari ke arah alat Vital Iblis itu.


Namun ketika mereka sampai disana, kaki Iblis yang terpotong itu kembali menyatu. Lagi beberapa rekannya itu tertendang.


bruakkkkkkkkk


Mereka terhempas lagi ke arah baru labirin, enak orang itu terbatuk. Cairan merah itu keluar dari dalam mulut mereka, bersaman dengan keluarnya cairan merah itu tubuh mereka menghilang. Rey paham saat ini, ketika satu diantara mereka terkena serangan fatal, maka sistem akan menarik mereka kembali ke lapangan.


Asrama Elang Putih hanya tinggal empat orang. Rey dan Dion, juga Baxio dan Thera. Mereka mundur sejenak, berdiri tepat diatas batang pohon lalu memperhatikan pergerakan Iblis itu.


"Sialan Iblis ini!"


Gerutu Rey sambil menguatkan genggamannya pada Baron.


"Kita hanya berempat sekarang!" Ujar Rey.


"Mau bagaimana lagi, semua sudah terjadi bukan?" Ujar Dion.


"Kalau begitu akan kubuat serangan ini fatal terhadapnya, lalu serang bagian vitalnya?

__ADS_1


"Kau akan apa?"


"Berkorban!"


Ketika mengatakan itu Debora membuka matanya, ia menatap ke arah portal. Disana Rey sedang berlari ke arah Iblis itu.


"Ameera Amoerra Abyas!!!"



**Dummmmmmmmm


Bommmmmmm**


Gemuruh petir dari dalam pedangnya melesat ke arah tubuh Iblis. Tangan, kaki, juga kepalanya tertebas.


Brukkkkk


Iblis itu ambruk saat itu juga, dua divisi yang berada tepat di belakang Iblis itu, seketika pergi mundur ke arah dahan. Serangan Rey fatal, merusak seluruh labirin. Disana mereka tercengang rupanya dalam labirin itu tidak ada apapun. Emblem yang dibicarakan Axcel tak ada disana.


Ketika netra mereka kembali ke arah Iblis yang ambruk itu, rombongan Elang Putih menghunuskan pedang mereka tepat ke arah area vital Iblis.


"Arghhhhhhhhhhhhh!!!"


Gema suara kesakitan itu keras, kencang rungu mereka rasanya tak kuasa mendengar itu, sontak mereka menutup telinganya.



Bommmmmmmm


Tubuh itu meledak, potongan daging-daging dari dalam tubuh itu memenuhi udara. Dion mendapatkan sesuatu dari satu daging yang ia tebas, itu adalah emblem. Detik ketika emblem berada ditangannya ia menghilang.


Melihat itu, Rey menebas seluruh daging-daging itu ketika dirinya menemukan pecahan itu seseorang dari divisi lain mengambilnya lebih dulu. Rey terhenyak melihat itu, sialan orang itu sungguh. Rey kembali memotong daging-daging disana namun tetap tak menemukan apapun, sudah ada tujuh emblem yang terambil, hanya tinggal dua.


Rey menyerang bagian daging paling atas kali ini menusuknya, pada akhirnya emblem itu juga tertusuk pedangnya, sebelum seseorang mengambilnya Rey menarik pedangnya, sangking semangatnya Rey menyentuhkan emblem diujung pedangnya dengan tangannya, dorongan kuat darinya membuat tangannya tertusuk. Namun saat itu juga, Rey kembali tepat kedalam lapangan.


Syuthhhhhhhhh


Dion tersenyum mendapati Rey yang ikut kembali bersamanya. Regu mereka yang berhasil hanya dia orang, Rey dan Dion. Baxio dan Thera mereka kembali kesisi lain lapangan, seleksi kedua akhirnya menempatkan sembilan orang peserta yang akan menuju babak akhir perlombaan. Disana Axcel mengatakan bahwa perlombaan terakhir akan berlangsung besok, tepat pukul delapan pagi.


___________



Rey sedikit meringis ketika dirinya berjalan keluar dari dala lapangan, usai acara selesai. Para peserta tak diperbolehkan pergi, hanya para penonton saja yang boleh pergi lebih dulu. Didepan gerbang, terlihat Debora sambil bersandar didinding menunggu Rey, didepannya ada seekor Khufra.


"Melelahkan sekali!"


Ujar Rey sambil menatap langit, Debora memperhatikan tubuh yang keluar dari dalam lapangan terbang itu.


"Rey!"


Sapaan itu membuat Rey mengalihkan netranya, terlihat disampingnya seorang gadis sedang bersandar sambil melipat tangannya.


"Debora, kau tidak pulang?"


Debora menggeleng mendengar itu, dari dalam domainnya ia menarik sebuah jubah. Jubah Putih, simbol Elang Putih. Debora memakaikan Jubah itu pada Rey.



"Selamat ya, atas keberhasilanmu, aku senang kau kembali!"


Ucapnya sambil tersenyum, hal itu disambut Rey dengan senyuman. Netranya mencari-cari beberapa rekannya yang lain saat ini, Debora yang tau itu tersenyum.


"Mereka sudah lebih dulu ke Markas!"


"Lantas mengapa kau masih disini? Kau tak ikut pulang?"


Tanya Rey padanya, Debora menggelengkan kepalanya. Sepoian angin itu berhembus sedikit mengibarkan Surai putihnya, disana ada sesuatu yang Rey lihat dalam diri Debora, sesuatu yang indah. Tak lama Rey tersenyum sambil menatapnya, perlakuan yang hangat sekali, satu kata yang Rey pikirkan tentang gadis ini sekarang, Cantik. Ya, itulah yang saat ini berada dalam pikiran Rey.


Greppppp


Debora menarik pergelangan tangan Rey lembut. Menuntunnya ke arah Khufra, sebelum mereka naik ke atas Khufra dari belakang Rey seseorang berteriak menyapa Rey.


"Rey!"


Teriaknya, suara itu Rey mengenalinya. Sontak tubuhnya berbalik menghadap kebelakang, rupanya itu adalah Dion.


"Ada apa?"


Tanya Rey ketika Dion berada tepat dihadapannya, disana Dion memberikan sesuatu.


"Apa ini?"


Tanya Rey seraya menerimanya, Debora disampingnya juga ikut membaca itu tangan mereka masih terpaut.



"Hai Debora, bagaimana kabarmu?"


Sembari Rey yang masih terfokus membaca lembaran itu, Dion mencoba berinteraksi dengan Debora. Namun Debora hanya tersenyum singkat padanya.


"Baik!"


Meskipun hanya satu kata yang terbalas, rasanya bunga-bunga itu memenuhi hati Dion sekarang.


"Kau ingin jalan-jalan bersamaku?"


Tanya Dion lagi, Debora mengambil kertas dari tangan Rey. Kertas itu dipenuhi darah, telapak tangan Rey yang terluka masih belum sembuh. Mungkin karena mana yang ia gunakan selama pertandingan, cukup menguras kekuatan Baron juga, sehingga Baron menyembuhkan lukanya cukup lama. Debora meraih telapak tangan Rey yang terluka itu, lalu kembali menatap Dion.


"Rekanku sedang membutuhkan perawatan, dia terluka untuk kalian. Sementara, lebih baik para peserta lomba saling beristirahat untuk pertandingan besok yang menunggu."


Tutur kata yang begitu santun, Dion tersenyum mendengar itu, ia mengangguk. Debora menuntun Rey kembali ke arah Khufra. Debora naik lebih dulu, lalu Rey juga naik di belakangnya. Bersama satu Khufra malam ini, mereka terbang bersama menuju markas.


...Untuk mencapai hal-hal besar, kamu harus mengembangkan keyakinan, upaya, dan toleransimu...

__ADS_1



_________


__ADS_2