
Gelapnya ruangan menandakan bahwa di dalam sana tidak ada kehidupan biasanya. Namun berbeda dengan disini.
Sekalipun hawa-hawa mencekam begitu makmur disini. Namun ada satu sosok tanpa nyawa bersemayam. Sosok itu diam cukup lama dengan kedua mata yang terpejam.
Perlahan sosok itu mulai membuka kedua matanya. Kembali ketika kedua mata itu terbuka, terjadi getaran hebat sekali. Yang menggetarkan area tempatnya tinggal.
Sudah bertahun-tahun ini ia diam. Duduk manis di atas singgasana nya sambil terpejam. Bukan karena ia takut pada apa yang berada di luar areanya.
Namun sebab, ada satu rencana yang akan ia lakukan. Yang serangannya nanti setara dengan apa yang sudah mereka orang luar lakukan terhadap areanya.
Barsh selaku salah satu anak buahnya datang membawa beberapa darah manusia dalam wadah. Sebelum menaiki anak tangga menuju singgasana, Barsh sedikit memberi hormat padanya.
"Tuanku!"
Ucapnya, benar, dialah iblis seratus juta jiwa. Dialah sosok yang ingin sekali Rey habisi.
"Ini sudah waktunya?" Lirih Barsh padanya.
Barsh datang menghampirinya ia bersimpuh menyerahkan beberapa darah dalam wadah ke arah Tuannya.
Iblis seratus juta jiwa itu melirik kecil ke arah nampan berisi wadah-wadah darah itu.
"Apakah ini darah manusia yang mati sejak lama?" Tanya Iblis seratus juta jiwa padanya.
Dengan penuh rasa takut Barsh mengangguk. Hal itu malah membuat Iblis seratus juta jiwa tertawa keras. Kemudian ia berdiri menggerakan kedua tangannya.
Brakkkkkk
Brakkkkkk
Gerakan itu memunculkan tentakel hitam dari bawah tanah. Tentakel hitam itu memenuhi Silver Alaska, panjang begitu besar bahkan sanggup meraup apa saja yang akan mendekati Silver Alaska.
"Dia tidak akan mampu mencapai areaku lagi! Kelakuannya sudah membuatku geram selama ini, tidak akan ada yang akan selamat ketika menyentuh tentakel ini. Sebab darah dalam tubuh mereka akan terserap, lalu manusia akan mati setelahnya." Jelas Iblis seratus juta jiwa pada Barsh.
"Luar biasa Tuan!" Ucap Barsh memuji sambil menunduk.
"Jadi apakah kita akan tetap diam?" Tanya Barsh padanya.
"Ya, kita tunggu lalat-lalat itu masuk ke dalam perangkap kita."
Barsh berseringai begitupun dengan Iblis seratus juta jiwa. Keduanya kembali dalam kegelapan menunggu serangan dari Rensuar yang akan datang merebut kembali area nya.
___________
Sementara itu di tempat lain sebelum penyerangan akan terjadi. Noella akan mengumpulkan beberapa pasukan, sekitar lima ratus orang.
Tidak ada para petinggi disini, hanya ada dirinya juga Axcel saja sebagai pembimbing mereka. Area yang akan mereka serang akan mereka susuri lebih dulu.
Ketika menurut mereka area itu tepat untuk di serang. Maka, satu Minggu kemudian Noella akan memulai rapat penyerangan.
"Ada tiga daerah yang akan kita taklukan! Utamanya adalah sisi kanan ini, jadi tolong amati ada apa saja disana. Lawan kita, iblis yang menghuni disana seperti apa rupanya katakan! Jangan ambil resiko dengan menyerang mereka. Sebab ini hanya pengamatan. Gunakan saja sihir penyamaran aura, beserta pertahanan."
Jelas Axcel pada mereka. Hologram Dena di atas meja mulai ia tunjuk beberapa kali sembari menjelaskan.
Pemimpin pasukan pengintai pun mengangguk. Ketika mereka mulai mengerti segeralah mereka berpamitan pergi dari sana.
Ada tiga pemimpin pasukan pengintai disini. Mereka rata-rata adalah Muskeeters tingkat empat. Ketiganya ini tentu saja Rey mengenalnya. Mereka adalah Jin, Theo, dan Wallace.
Mereka bertiga berjalan keluar dari area kastil putih. Di halaman para Khufra mereka sudah menunggu, begitu juga dengan para pasukan mereka.
Rey berjalan dari arah berlawanan. Pagi ini ia ada perlu sebentar dengan Noella. Keperluan itu sebenarnya milik Debora, sedangkan Rey hanya mengantarnya saja.
__ADS_1
"Divisi pengintai?" Lirih Rey, Debora juga memperhatikan mereka yang datang mendekat ke arahnya.
Ketiganya tersenyum ke arah Rey juga Debora. Lantas ketiganya berhenti sejenak, hal itu membuat Rey juga Debora berhenti. Rey mengajak mereka bersalaman.
"Baron Putih Legendaris, mau kemanakah kau?" Tanya Theo padanya.
"Aku sedang mengantar ketua tim kami. Ada sesuatu yang akan kami bicarakan bersama Noella di ruangannya." Jelas Rey sambil tersenyum.
"Kalian akan kemana?" Tanya Debora pada mereka.
"Kami di arahkan kembali ke area Silver Alaska. Misi pengintaian sebelum penyerangan dimulai." Jelas Theo.
"Berarti kira-kira sekitar seminggu atau mungkin lima hari lagi kita akan menyerang?" Tanya Debora.
Ketiganya mengangguk mengiyakan apa yang Debora katakan. Mendengar itu Rey pun memberi tanda hormat, dengan mengepalkan tangan kirinya meletakkannya di atas dada.
"Selamat bertugas ya! Kembalilah kalian dengan selamat. Berhati-hatilah!" Ucap Rey memberi semangat sambil tetap tersenyum.
Debora pun juga melakukan hal sama. Bisa di bilang mereka ini sudah seperti anggota militer saja bukan.
Melihat itu ketiganya pun mengangguk lantas menirukan apa yang mereka berdua lakukan. Setelah itu mereka pun pergi dari sana.
Melihat ketiga Muskeeters lain pergi, Debora dan Rey pun melanjutkan tugas mereka. Menuju ke arah ruangan Noella.
Tokkkk
Tokkk
Sebelum masuk ke dalam Debora lebih dulu mengetuk pintunya. Setelah itu barulah Rey membukanya.
"Kalian?" Ucap Noella sambil memandangi keduanya.
Axcel yang berdiri agak jauh dari tempat itu pun tersenyum.
"Kami tidak bertengkar!" Ucap Rey padanya.
"Kau memang tidak akan mampu jauh Debora mu Rey!" Ucap Axcel lagi.
Rey terhenyak kemudian bersemu, ia sedikit menunduk. Sial memang Leonin satu ini baginya.
"Ahhh... Sudahlah, aku kemari karena mengantarnya. Dia bilang ingin membicarakan sesuatu bersama kalian!" Ucap Rey melipat kedua tangannya lalu berpaling ke arah lain.
Debora terkekeh mendengar itu namun ia segera mendekati meja. Memberi salam kepada Noella.
"Duduklah Debora!" Ucap Noella mempersilahkan Debora duduk.
Debora duduk kemudian dari dalam domain ia mengeluarkan beberapa buku. Sebuah buku dimana ia akan menuangkan pengamatan juga rancangan taktik yang akan ia gunakan untuk berperang.
"Buku keramat!"
Lirih Rey, ia tau benar buku itu. Ia mengenalnya, tak jarang bagi Rey melihat Debora tak tidur semalaman sambil menghadap buku itu.
Jika Rey disini unggul dengan kekuatannya. Maka Debora, akan unggul dalam merancang taktik penyerangan. Ketika Debora mulai berbicara, mereka mulai diam memperhatikan apa yang Debora katakan.
_________
Syena baru saja selesai membantu Mikhail berbelanja. Perbekalan mereka di dalam markas semakin menepis. Ketika seluruh belanjaan itu sudah tertata rapi di dalam lemari es, Syena pun menarik kursi meja makan.
"Apa kau lapar Syena?" Tanya Mikhail padanya.
Namun Syena hanya menggeleng pelan. Markas sepi, dan pasukan pertahanan hari ini libur begitu juga pasukan Rey dan Syena. Itulah mengapa di dalam markas ini hanya ada mereka berdua.
__ADS_1
Hanya Riley dan Justice saja saat ini yang sedang sibuk di Kastil sihir. Syena menopang dagunya, ia bosan sekarang.
Teringat sesuatu, Mikhail pun mengambilnya dari dalam lemari es. Sebungkus roti manis kesukaan Syena. Mikhail memberikan roti itu tepat di hadapan Syena.
"Kau tak memakannya?" Tanya Mikhail padanya.
Melihat itu Syena pun tersenyum singkat lalu mengambil bungkusan itu dari Mikhail.
"Kau akan kalah Syena..."
Degggggg
Iblis dalam mata kirinya itu berbicara. Adalah hal yang jarang sekali. Dia berbicara perihal kekalahan.
"Arghhhhhh..."
Lagi, Syena mendengar suara teriakan. Merasa ini adalah hal yang tidak biasa. Syena mengambil bungkusan itu bersamanya lalu bergegas pergi keluar dari markas.
Meninggalkan Mikhail seorang diri disana dengan banyak pertanyaan. Dari belakang Mikhail terus berteriak memanggilnya, namun Syena ia masih terus pergi.
Melihat itu, Mikhail pun segera menyusulnya. Syena terbang menggunakan sihir nya menuju ke arah benteng mereka yang paling depan.
Kilatan petir beserta cahaya itu membawanya berhenti tepat di atas benteng itu.
Area itu adalah area favoritnya. Tempat dimana ia akan sanggup menghabiskan waktu berjam-jam menikmati roti sambil memandangi langit.
Di area itu ia juga mampu melihat jelas Silver Alaska. Kota iblis itu masih sama. Dan Syena diam terpaku disana memperhatikan itu.
Dummmmmmmm
Syena membulatkan matanya melihat ledakan besar. Tentakel besar itu keluar dari dalam area itu. Mikhail yang baru saja sampai tertegun melihat itu.
"Makhluk apa itu yang baru saja muncul dari ledakan. Mengapa besar sekali jangkauannya?" Batin Syena.
Gambaran demi gambaran manusia yang mati disana memenuhi kepala Syena. Melihat itu Syena tak tinggal diam, ia segera pergi ke area itu.
"Syena!!!" Teriak Mikhail padanya.
Namun Persetan rasanya, Syena tidak peduli. Masih ada nyawa yang bisa ia selamatkan disana. Sekalipun hanya satu atau dua orang, namun cukup untuk menanyai mereka apa yang terjadi disana.
Setibanya di hadapan Silver Alaska. Syena bisa melihat dengan jelas. Bagaimana tentakel besar itu menyedot seluruh darah dalam tubuh manusia.
Manusia yang terkena itu mereka mengeriput. Merasa ini bahaya, menggunakan sihir gema Syena berteriak.
"Mundur!!!" Teriak Syena.
Seluruh pemimpin divisi pengintai seketika tertuju ke arah Syena. Syena adalah Muskeeters senior bagi mereka. Mendengar itu mereka berusaha mundur.
Namun tidak semudah itu tentunya. Tentakel-tentakel itu masih merayap mencari kehidupan untuk dimakannya.
Satu persatu Muskeeters gagal kabur. Melihat itu Syena berusaha membuka jalan. Menggunakan sihirnya ia mencoba membuka jalan bagi para Muskeeters yang kesulitan kabur dari sana.
"Sial kau!!!" Ucap Syena.
Sihirnya beradu dengan banyak tentakel yang semakin tumbuh. Bersama Mikhail di belakangnya yang melindunginya.
Hanya ada sekitar sepuluh Muskeeters mampu selamat menjauh dari depan Silver Alaska.
Merasa sudah cukup, Syena dan Mikhail pun pergi dari sana. Tentakel itu berusaha mengenai mereka namun tak mampu.
"Dia hanya mampu menjangkau area itu! Yang artinya, tentakel itu tidak akan mampu sampai ke Rensuar." Jelas Mikhail.
__ADS_1
Syena mengangguk ia paham apa yang Mikhail jelaskan. Segera setelah itu, dengan beberapa Muskeeters yang terluka mereka pun pergi dari sana.