Indigo Evolution (Silver Alaska)

Indigo Evolution (Silver Alaska)
Aku ingin Mengatakan Ini Sejak Dulu


__ADS_3

Debora dan dua orang rekannya berjalan menuju ke arah tebing. Mobil mereka diparkir cukup jauh dari area itu. Sehingga butuh waktu beberapa menit untuk berjalan menyusuri wilayah pantai hingga sampai pada tebing yang ingin mereka tuju.


Anginnya malam itu cukup kencang sehingga membuat Debora memeluk tubuhnya sendiri sambil berjalan. Justice merangkul Riley, mereka juga sama-sama berjalan menemani Debora.


Langitnya juga tidak mendung. Malam ini netral cuacanya cerah. Hanya anginnya saja yang berhembus kencang menerpa mereka.


"Dingin sekali malam ini, ya?" ujar Justice sambil menatap ke arah langit.


Riley manggut-manggut mendengar itu. Mereka masih berjalan.


"Iya, dingin! Tapi bintangnya cukup indah ya?" ucap Riley sambil menatap ke arah langit.


Mendengar pembicaraan dua orang temannya. Hal itu membuat Debora menatap ke arah langit. Cakrawala malam itu menakjubkan sekali. Seperti bukan bintang yang biasanya.


Debora berhenti sejenak memandangi langit itu. Hal itu membuat Riley dan Justice di belakangnya juga ikut berhenti. Mereka berdua memperhatikan Debora yang sedang memunggunginya.


Riley berinisiatif menggerakan telapak tangannya. Betapa terkejutnya Riley ketika melihat aliran sihir miliknya dulu kembali. Justice juga menyaksikan itu. Mereka kemudian menatap Debora kembali.


Surai blonde Debora perlahan berubah memutih. Jubah Muskeeters kini membalut tubuhnya. Hal itu juga terjadi pada Riley dan Justice. Melihat itu Debora pun menggeleng pelan.


"Apa kemampuan sihir kita kembali?" tanya Riley pelan.


Debora berbalik menatapnya. Matanya berair saat ini. Jika sihir ini kembali artinya para rekan langit sedang dekat bersama mereka. Pikiran Debora semakin tak karuan rasanya.


"Apakah mereka benar-benar akan mengambil Rey dariku?" ujar Debora bertanya pada kedua rekannya.


Melihat itu keduanya terdiam. Debora membalikkan tubuhnya berpaling dari Riley dan Justice. Sihir mereka kembali dalam sekejap.


Membuat Debora mengeluarkan kembali kekuatannya. Memakainya untuk memperpendek jarak antara dirinya dan tebing yang ingin ia tuju dengan cara terbang.


"Debora!" pekik Riley dan Justice bersamaan. Ketika melihat Debora terbang dengan sihirnya.

__ADS_1


Ini sudah cukup lama bagi mereka tidak menggunakan sihir. Namun tanpa berpikir panjang. Baik Riley dan Justice, keduanya pun mengikuti Debora. Terbang menuju ke arah tebing itu.


Sesampainya di sana terlihat Rey dengan balutan jubah putihnya. Surainya yang hitam kembali memutih. Dia membelakangi Debora.


Tubuh itu menghadap tepat ke arah pohon besar tempat di mana Debora menguburkan jubah milik Rey di sana. Pohon itu daun-daunnya bercahaya. Itu mantra sihir Biyokh.


Tubuh Rey juga bercahaya di sana. Cahaya itu datang dari langit menyinari tubuhnya. Dari pohon itu muncul sesuatu. Samar-samar dari cahaya pohon terbentuk satu sosok.


Seorang leonin dengan jubah putihnya terbang di udara sambil menatap mereka. Itu adalah, Axcel. Keberadaanya saat itu membuat ketiganya tertegun.


"Kenapa kau datang Paman Axcel?" tanya Debora padanya.


Namun Axcel hanya menunduk menatap ke arah Rey yang masih membelakanginya.


"Apakah kau akan mengambilnya dariku?" tanya Debora lagi pada Axcel.


Namun Axcel tetap diam di sana. Dia menatap ke arah Rey yang juga menatapnya.


Namun tidak, Axcel sama sekali tidak mendengarnya. Dia menggerakan kedua tangannya ke arah Rey. Tubuh bercahaya itu semakin terlilit oleh sulur-sulur cahaya.


Melihat itu Debora tidak tinggal diam. Dia berlari ke arah Rey yang masih membelakanginya. Debora berlari sambil menangis.


"Rey, jika kau masih mencintaiku berbaliklah! Jika kau masih mencintaiku, katakan itu padanya!" teriak Debora sambil terus berlari.


Hingga ketika dirinya sudah mendekati Rey. Debora langsung memeluknya. Menahan tubuh itu agar tidak pergi. Axcel kembali memperhatikan mereka.


Debora mengeratkan pelukannya di sana sambil terus terisak. Tidak, dia tidak ingin ditinggalkan lagi. Mereka berdua dulu susah payah masing-masing memendam perasaan mereka. Dan hanya memikirkan perihal kebebasan dunia.


Jika Rey dikembalikan lagi padanya saat ini. Maka langit tidak berhak memisahkan mereka seperti ini. Hanya karena Rey tidak mampu mengingat segalanya. Mereka akan mengambilnya begitu saja.


"Sayang... Sudahkah kau tau bahwa kita dahulu sama-sama memendam perasaan kita? Kita dulu ikon terkuat dalam pasukan Harith. Rey, sebab kau adalah anak dalam ramalan itu. Kau menyisihkan cintamu padaku. Dan kau, hanya memikirkan perihal kebebasan dunia. Aku sama sepertimu! Sudah sejak dulu aku mencintaimu. Dulu aku memang tidak bisa egois! Sebab ada banyak nyawa yang harus diselamatkan. Begitu juga denganmu!" ujar Debora.

__ADS_1


Debora semakin menenggelamkan kepalanya pada punggung itu. Punggung seorang pemuda yang begitu ia cintai. Air matanya sejak tadi jatuh melimpah membasahi jubah milik Rey.


"Jangan pergi! Aku ingin kau tetap bersamaku! Jika menyangkut dirimu saat ini. Maka aku akan egois! Aku lelah sendirian di sini! Rey, aku mencintaimu!" ucap Debora padanya.


"Jangan pergi, tetaplah di sini! Sebab aku membutuhkanmu dan itu akan selalu terjadi. Aku siapa tanpamu Rey? Tanpamu aku akan layu hancur dan lapuk. Aku bukan manusia setegar apa yang kau pikirkan! Kau yang memberiku hati bagaimana bisa aku lepaskan? Jika aku kehilangan hatiku maka aku akan gila!" ucap Debora lagi.


Tangisnya semakin pecah saja saat ini. Rey yang sejak tadi membelakanginya juga ikut menangis. Kalimat itu indah sekali baginya. Dan baru kali ini dia mendengar itu dari Debora.


Beruntung sekali rasanya dicintai sedalam itu oleh gadis ini. Rey sudah tak sanggup lagi rasanya untuk bersandiwara.


"Kenapa aku harus pergi jika Deboraku di sini membutuhkanku?" tanya Rey mulai berbicara.


Debora yang mendengar itu pun tertegun. Rey berbalik ke arahnya. Di sana Rey pun menangkup wajah itu dengan telapak tangan kekarnya. Mereka saling bertatapan satu sama lain.


"Aku akan selalu berada di sampingmu. Sebab aku milikmu! Debora aku sudah mengingat segalanya. Perihal untuk pertama kalinya, kisah kita di mulai di depan toilet. Kita berkenalan di sana. Lalu aku juga mengingat waktu di mana aku menenangkanmu dulu. Di situ sepertinya aku berhasil mencuri hatimu. Aku juga ingat, ketika aku membawamu bersamaku. Kita berdua duduk di atas batu besar sambil memandangi langit. Dan saat itu, aku dan kau menyatakan masing-masing perasaannya. Lalu kuhapus ingatan itu darimu! Aku juga ingat ketika hari terakhir saat itu. Saat dimana..."


"Sudah!" ucap Debora memotong perkataan Rey.


Dia tidak ingin kembali diingatkan bahwa dialah yang membunuh Rey saat itu. Mendengar itu Rey hanya mampu tersenyum lalu mengeluarkan kotak perhiasan kecil yang baru saja dia beli di toko emas tadi.


"Debora, aku sudah lama ingin mengatakan ini! Aku bersyukur diberi kesempatan untuk hidup kembali. Maka, dalam hirupan nafasku yang ini! Kumohon biarkan aku memilikimu!" ucap Rey sambil membuka kotak perhiasan itu.


Debora memperhatikan isi dari kotak itu. Sebuah cincin berlian yang sangat indah. Debora tidak menjawabnya. Dia hanya menatap ke arah Rey saat ini lalu mengangguk.


Anggukan itu membuat Rey sangat bahagia. Axcel di sana pun tersenyum. Dari cahaya pohon itu terbentuk juga Harith dan Noella. Lapu-lapu juga dua guardian lainnya.


Namun itu bukanlah mereka. Itu adalah aliran sihir yang sengaja mereka bentuk menyerupai mereka. Sebab mereka sudah tidak bisa datang ke bumi semena-mena. Harus ada izin dari penguasa untuk kembali datang ke bumi.


Riley dan Justice tersenyum bahagia melihat itu. Sepertinya tidak akan lama lagi resepsi pernikahan akan segera di gelar. Pernikahan antara Debora dan Rey Arlert.


Setelah memakaikan cincin itu pada Debora. Rey langsung mengarahkan wajah itu ke arahnya. Mengecup bibir itu lembut. Malam itu di atas tebing dengan sihir dari para rekan langit, menyinari sepasang kekasih yang akan memulai penyatuan.

__ADS_1


Sebuah penyatuan suci yang akan mengikat mereka dengan ikrar sumpah setia satu sama lain sampai mati.


__ADS_2