
...Aku akan menentukan masa depanku sendiri...
...Mereka yang tidak bisa menyusun rencana kehidupan mereka sendiri, tidak akan bisa hidup dengan baik...
Rey duduk di kursi yang disediakan Harith. Didepannya ada sebuah meja kecil, Rey meletakkan kakinya disana. Lelah rasanya menyusuri bawah tanah gelap dengan sulur Baron Hitam.
"Kenapa kakimu itu?" Protes Axcel disampingnya sambil menatap lekat kedua kaki Rey yang terbujur dibatas meja.
"Ha, Pertanyaan apa itu? Paman, aku lelah kau jangan berprotes padaku!"
Rasanya bagaikan ditampar saja. Kepala Axcel memanas emosinya sebentar lagi meledak rasanya melihat segala tingkah Rey Arlert ini.
"Kaisar, ijinkan aku memakinya dia keterlaluan!" Protes Axcel pada Harith di hadapannya.
"Tidak perlu memperpanjang masalah. Lagi pula, sudah lama sejak dia dianggap mati dia tidak berulah."
Nyatanya protesan yang Axcel lontarkan tidak di gubris oleh Harith, selaku pimpinan tertinggi Rensuar.
"Hahaha... Kau ditolak! Hakim mendukungku!" Ejek Rey pada Axcel disampingnya.
Mendengar itu Axcel pada akhirnya diam. Benar, tak ada gunanya memperpanjang suatu perdebatan yang tak ada artinya. Saat ini mereka berdua membutuhkan jawaban. Sebab Rey adalah pemuda yang ada didalam ramalan.
"Jadi Rey, bisakah kau menjelaskan padaku tentang isi kepalamu itu?" Tanya Harith padanya.
Rey tersenyum, Kaisarnya ini memang tipe leonin yang tak ingin basa-basi. Tetapi Rey merindukan Rensuar, ia dilayani sebentar.
"Kaisar, apakah jika aku menceritakan segala rencanaku. Kau, akan menuruti satu permintaanku?"
"Apa?!" Pekik Axcel, lagi-lagi ucapan Rey tak mampu ia terima.
Guardian tertinggi dihadapannya ini adalah temannya di Angkasa. Sudah sejak dulu mereka bersama, dan Axcel adalah leonin kepercayaan Harith. Axcel saja tidak pernah meminta apapun pada Harith. Ia bekerja disampingnya menemaninya dengan sukarela tanpa pamrih.
"Hei tenanglah, kau bertingkah sensitif sejak tadi padaku! Sebenarnya ada apa dengan dirimu?"
Rey mulai emosi rasanya saat ini. Sudah lama ia tak berdebat disini. Mengingat istri tak sah-nya itu sudah tidak tinggal satu atap dengannya. Bakar adu ocehan miliknya sudah lama tak ter-asah.
"Kau meminta sesuatu pada seorang guardian tertinggi? Rey, sopanlah sedikit!"
"Aku sudah bekerja keras, lagi pula aku hanya meminta hal yang sederhana." Ucap Rey mencoba membela dirinya sendiri.
Harith disana tersenyum melihat kedua sosok yang berbeda itu saling melempar argumennnya. Telinganya yang sensitif rasanya tak kuasa menampung segala suara dari dua makhluk dihadapannya ini.
"Katakan Rey!"
Satu perkataan itu membuat dua makhluk dihadapannya diam seketika.
__ADS_1
"Kau baik sekali kaisar!"
Puji Rey sambil menatapnya sedangkan Axcel membulatkan mata tak percaya ke arah Harith.
"Kaisar, ketiga pedang semesta itu. Tiga bulan ini memberiku makan batu. Aku lapar kaisar, aku ingin makan makanan manusia."
Rengekan itu membuat kedua leonin itu tertawa. Mereka tau benar apa yang Rey maksud itu. Itu adalah camilan para Lapu-lapu disana, bentuknya memang semacam batu tetapi rasanya tidak diragukan lagi.
"Kerikil Angkasa, itu nikmat sekali! Mengapa kau tak menyukainya?" Tanya Harith masih dengan tawanya.
"Lagi pula kau ini kloning, bagaimana makanan itu akan sampai padamu nanti?"
Rey menaikkan salah satu alisnya mendengar pertanyaan Axcel.
"Paman, selagi kloningku tidak diserang. Aku masih bisa makan dan minum disini. Dan itu tidak akan menjadi penyebab hilangnya kloningku. Hanya seranganlah yang mampu membuatku menghilang. Makanan dan minuman masih bisa kunikmati, dan rasanya akan sampai pada tubuh intiku jauh didalam Silver Alaska."
Penjelasan itu membuat Harith mengangguk. Istana Putih ini juga dihuni para manusia. Para Musketeers yang sigap menjaga siang dan malam disini.
Maka disini pun juga menyediakan makanan manusia, juga dapur untuk memasak makanan itu. Lalu memberikannya pada para Musketeers yang sedang bertugas.
"Noella!" Lirih Harith mencoba menghubungi Noella lewat telepati.
"Iya sayang?" Jawab Noella berbeda ruang dengannya.
"Bolehkah aku meminta bantuanmu sebentar?"
"Aku dan Axcel berada dalam ruangan privatku. Maukah kau membawakan beberapa makanan manusia kemari?"
"Tak biasanya kau meminta makanan manusia?"
"Sebab aku bukan manusia!"
"Lantas untuk siapakah itu?"
"Kemarilah, bawalah, maka kau akan tau siapakah yang datang kemari."
"Baiklah, aku akan datang!"
Harith kembali menatap ke arah Rey saat ini. Wajah itu terlihat bahagia sekali. Padahal ia tau, didalam Silver Alaska sedang runyam karenanya.
"Katakan padaku, sudah berapa banyak kepala Iblis yang kau penggal?" Tanya Harith pada Rey.
"Ratusan jika yang rendahan. Tetapi, untuk para generasi terkuat aku sudah menghabisi empat Iblis petinggi."
"Bagus Rey, mari kita selesaikan semuanya! Bumimu akan kembali seperti semula. Lakukan ini bersama, jangan memecah belah sendiri."
__ADS_1
Penuturan itu kembali membuat Rey tertawa. Baik Debora juga Kaisar keduanya sama. Keduanya tak mengerti apa yang Rey Arlert inginkan.
"Ahhh aku hanya akan bicara jika makananku datang! Sementara aku akan memilih untuk bungkam."
"Sepertinya, kita harus menyihir mantra Adrium dengan durasi selamanya untuknya." Ucap Axcel kesal.
"Dan sepertinya, aku pun juga harus memberikan Paman Axcel pelajaran dengan mantra Ameera Amoerra ku."
Sembari menunggu datangnya makanan, mereka bercengkrama. Namun tidak membahas tentang rencana Rey, hanya gurauan serta tawa saja yang ada disana.
Tak bisa dipungkiri lagi bahwa, kedua leonin ini juga merindukan seluruh tingkah Rey Arlert. Rensuar sepi tanpa kehadiran juga kenakalannya. Kekonyolannya juga kehebatannya yang disegani disini.
Tukkkkkkkk
Glekkkk
Selang lima belas menit pintu masuk ruangan Harith terbuka. Nampaklah disana seorang Elf dengan Surai putihnya. Itu adalah Noella, di belakang tubuhnya terdapat beberapa menu makanan, melayang terbang di udara.
"Maafkan aku jika cukup lama kalian menunggu!"
Noella masuk kedalam lalu menata beberapa makanan itu di atas meja, menggunakan sihir sulur. Jadi ia tak perlu menggunakan kedua tangannya.
"Wah!" Pekik Rey sumringah, menu yang tertera rata-rata adalah daging Wagyu kesukaannya.
Rasanya ia mulai merindukan masakan Debora saat ini. Sekalipun rasanya payah, tetapi jika itu dimasak dengan cinta rasanya akan sangat nikmat.
"Ittadakimasu!" Ucap Rey.
Itu adalah bahasa Jepang. Mungkin ia tau kata itu sebab jika Riley makan, ia akan sering melontarkan beberapa kalimat-kalimat Jepang.
Rey mengambil sumpitnya lalu melahap makanan itu. Noella yang masih tak tau siapakah manusia itu, menatap ke arah Harith meminta sebuah penjelasan.
"Iya Noella, dia Rey Arlert!" Jawaban itu membuat Noella terkejut.
Refleks netranya kembali menatap ke arah Rey tak percaya. Axcel disampingnya menopang kepalanya sambil memperhatikan Rey yang lahap memangsa makanannya.
"Wajahnya mungkin tidak akan mudah kita kenali! Tetapi, kelakuannya ini pasti mudah kita kenali. Lihatlah bahkan sama sekali tak ada perubahan padanya." Ucap Noella sambil masih memperhatikan Rey.
"Diamlah, kau jangan membicarakanku. Bagaimana nanti jika aku tersedak?" Protes Rey padanya.
"Aku tidak peduli!" Jawab Noella dan Axcel bersamaan.
Mereka seperti menyimpan dendam kesumat untuk Rey Arlert disana. Sebab hanya pada merekalah Rey Arlert berani.
Bahkan Rey berani menyebut Noella dengan julukan kucing putih. Rey hanya akan mendengarkan Harith, juga dua manusia yang penting dalam hidupnya. Mereka adalah Debora dan Syena.
...Kita akan bertarung dan menang untuk melindungi masa depan...
__ADS_1
...Berjuanglah sampai habis!...