Indigo Evolution (Silver Alaska)

Indigo Evolution (Silver Alaska)
Datangnya Para Eksekutor


__ADS_3

Baju zirah mereka sudah siap. Zirah itu melekat membalut tubuh mereka. Berbekal satu ramuan dari Mikhail dan Madam Geralda.


Tiap Muskeeters akan memiliki satu ramuan baru, peningkat mana selama satu jam. Ramuan itu masih baru dan itu adalah hasil rancangan dari Mikhail dan Madam Geralda.


Barisan udara terdiri dari kelompok pemanah, juga beberapa pemegang sihir Abjad E. Beberapa pasukan Debora bergabung di atas udara.


Tujuannya adalah selain untuk melindungi para pasukan dari atas melalui sulurnya, mereka juga akan mampu menganalisa keadaan secara akurat dari atas sana.


Pikiran juga pengelihatan mereka, digabung, yang artinya mereka akan mampu melihat seluruh hal yang terjadi dalam pertempuran.


Para penyerang jarak jauh, barisan itu di pimpin oleh Riley. Tugasnya adalah melindungi seluruh rekannya dari atas sana.


Sedangkan Syena dia memegang kendali atas penyerang jarak dekat, juga beberapa pasukan Justice. Dalam barisannya ada tipe penyerang jarak dekat, pemilik sihir abjad A, sepertinya dan Rey. Tak lupa juga ahli ilusi.


Debora menempatkan barisan Syena di posisi kedua setelah pasukan Rey. Pasukan Justice dibagi menjadi dua bagian. Beberapa dari mereka akan berada di pasukan Syena.


Sedangkan beberapa lagi, mereka akan berada di garda belakang. Dengan begitu ilusi pertahanan mereka akan besar areanya, menyatu satu sama lain.


Sementara pasukan Mikhail, tentu saja diletakkan di area tengah. Pertahanan kubah akan melindungi mereka semua dari Iblis-iblis gila.


Sekalipun mereka nanti mampu membobolnya, iblis itu juga tidak akan selamat. Sebab pertahanan ini suci, menyerap kemampuan mereka, belum lagi ilusi dari justice beserta pasukannya yang akan membuyarkan fokus mereka.


Bendera Rensuar berkibar gagah, mereka saat ini berdiri tepat di hadapan Silver Alaska. Sejenak Debora memandangi area itu dari atas langit. Tidak ada perlindungan, ini akan aneh rasanya sungguh. Debora tidak melihat adanya tentakel besar itu lagi.


Debora berbicara melalui kemampuannya, satu kemampuan yang hanya mampu didengar oleh seluruh pasukannya.


"Rey, bisakah kau memancingnya? Suasana ini terlalu terang untuk kita, terkadang ada jebakan yang siap melahap siapa saja secara tiba-tiba." lirih Debora melalui kemampuannya.


Rey mendengar itu, ia yang berada tepat di bagian depan tersenyum.


"Tentu saja, aku akan memancingnya keluar!" ucap Rey menjawab apa yang Debora katakan.


Dari atas langit Debora melihat kilatan petir beserta cahaya maha dahsyat itu turun ke tempat Rey. Tak lama, Debora melihat Rey terbang ke atas dengan banyak pedang di balik tubuhnya.


Pedang-pedang dengan kemampuan sihir itu mengarah tepat ke arah Silver Alaska. Bunyi ledakannya besar, pedang-pedang itu menghancurkan beberapa bagian Silver Alaska. Namun di sana masih tetap sunyi tak ada pergerakan.

__ADS_1


"Debora, kenapa tidak ada perlawanan di sana?" tanya Riley menatap tajam ke arah Silver Alaska. Debora di sampingnya masih terpaku, mencoba menganalisa keadaan yang terjadi.


"Ini terlalu tenang!" lirih Debora.


Di sela-sela pikirannya itu, Syena mulai mengatakan sesuatu. Mereka berbicara melalui kemampuan.


"Bolehkah aku mendekat kak? Mataku mungkin mampu membaca situasinya!" ujar Syena.


Debora tertegun mendengar itu. Tidak, dia tidak akan mengizinkan Syena mendekati area itu. Syena adalah yang paling rawan di sini, jika Syena di kendalikan maka akan terjadi hal buruk pada pasukan mereka. Saat ini, senjata terkuat milik Rensuar hanya Rey dan Syena saja.


"Tidak adik, kau diam saja di situ! Aku akan membaca situasinya dulu." tutur Debora.


Hal itu membuat Syena diam, ia menuruti apa kata Debora. Sebuah getaran hebat membuat mereka yang berada di bawah panik seketika. Debora juga ikut merasakan itu, netranya tak pernah lepas dari Silver Alaska.


Hingga, ketika netranya melihat cahaya merah yang menuju ke arah tanah. Satu aba-aba bergerak Debora teriakkan untuk para pasukannya.


"Di bawah tanah, menghindar!!!" teriak Debora.


Crashhhhhhhhhh


Mereka muncul dari dalam tanah bersama banyak tentakel. Di dalam tentakel itu mereka membawa banyak sekali pasukan mereka.


Ada beberapa di antara pasukan yang tidak sempat mengelak, ada juga yang mampu mengelak. Saat ini Rey beserta pasukannya yang berada di udara.


Beberapa pasukan yang sempat menghindar juga ikut berada di udara terbang bersamanya.


Iblis gila itu mulai memangsa tiap Muskeeters yang tak sempat mengelak. Kali ini pijakan mereka tak ada, sebab apabila mereka menyentuh tentakel itu, maka mana, energi, juga darah mereka akan habis terserap.


"Rantai komando kacau!" ucap Justice sambil memperhatikan kejadian pembantaian yang terjadi di bawah sana.


Debora melihat ketiga petinggi itu di sana tak segan, membantai habis seluruh pasukannya. Debora mengepalkan kedua tangannya, ia benci sungguh. Namun ia tetap berusaha fokus agar menemukan jawaban solusi atas apa yang terjadi di sini.


Kemudian Debora berpikir, jika pijakan mereka hilang maka mereka tidak akan mampu bertempur dengan baik. Bertempur di udara akan menguras banyak mana. Maka, Debora berpaling ke arah Menara kegelapan.


Tempat di mana iblis seratus juta jiwa bersemayam. Debora sangat yakin bahwasannya iblis gila itu sedang berada di sana. Melalui pedangnya, Debora menghunuskan itu ke arah Menara kegelapan. Baik Rey dan Syena, mereka berdua menatap ke arah tempat yang Debora tunjuk.

__ADS_1


"Kita tidak bisa bertempur lama di atas udara. Sebab jika kita terbang, maka mana akan terkuras juga. Kecuali jika kita terbang dengan Khufra. Namun bertempur di atas Khufra, juga tidak efisien. Maka jalan satu-satunya adalah, mengalahkan induknya di sana!" jelas Debora kepada mereka.


Kemudian ia kembali menatap ke bawah. Pasukan mereka masih sigap melawan beberapa iblis. Debora memperhatikan jumlah pasukan iblis di sana. Jumlahnya tidak cukup banyak, yang artinya masih ada banyak iblis rendahan yang sedang di sembunyikan.


Dan mungkin Iblis seratus juta jiwa itu, menempatkan mereka di antara Belantara, demi menghambat para eksekutor yang akan menghabisinya.


"Rey Arlert bersama dengan Syena! Aku memerintahkan kalian untuk datang menemui Iblis seratus juta jiwa di sana. Bawalah beberapa pasukan kami, tinggalkan beberapa kloning kalian juga di sini. Tubuh utama kalian, harus mampu membawa keluar iblis itu. Sebab hanya iblis itulah, yang memiliki ke Dali atas tentakel besar itu. Adanya tentakel itu akan membuat kita tak mampu menyerang para iblis!" jelas Debora.


Rey membulatkan kedua matanya, Debora sudah gila sepertinya. Rey tau mereka sudah cukup kuat. Namun lawan mereka di sini adalah tiga iblis petinggi.


"Debora, kau yakin?" tanya Rey padanya.


Sejenak Debora menoleh padanya lalu mengangguk pasti. Ia yakin, bahkan sangat yakin.


"Selagi kau di sana, di sini juga ada kloningmu! Kau tetap bersamaku di sini sekalipun bayangan. Kami, pasti mampu mengalahkan mereka. Ditambah, Syena tidak boleh sampai berada di dekat Barsh. Itulah mengapa, Barsh akan melawan diriku dan Riley, juga kloningmu. Dan Mikhail, Justice, Elvas juga kloning Syena. Mereka akan menghadapi Braun dan Rauw di sana." jelas Debora.


Rey mengangguk mendengar itu. Bersama dengan adiknya, ia mulai membelah tubuhnya. Memunculkan lima kloning mereka.


"Baiklah, kami pergi kakak!" ucap Syena kepada Debora.


"Aku pergi, semoga kalian berhasil!" ucap Rey kali ini.


Dua orang itu terbang ke arah Menara kegelapan. Tempat di mana iblis seratus juta jiwa bersemayam di sana. Bersama dengan dua ribu pasukan, dengan sihir lengkap. Mereka mulai mengarungi belantara gelap.


Dan benar saja, apa yang Debora katakan. Dari dalam belantara gelap itu muncul, banyak sekali iblis rendahan. Mereka terbang ke angkasa dan mulai menghadang Rey beserta seluruh pasukannya.


Iblis-iblis ini jelas teri bagi Rey dan Syena. Satu sabitan sihir mereka, sudah mampu memusnahkan banyak sekali iblis. Sambil tetap melawan mereka juga terus memaksa maju.


Perbandingan antara pasukan mereka juga para iblis tidak sebanding. Namun Muskeeters tetap unggul di sini. Kegigihan mereka demi kebebasan terlihat jelas tersirat. Tak ada lagi rasa takut akan kematian. Mereka terus maju mendekati Menara kegelapan.


Sementara Rey di sana melawan mencoba mendekat. Iblis seratus juta jiwa di atas singgasananya murka. Ia benar-benar membenci keberadaan Rey Arlert di sini. Namun, satu ide licik terlintas begitu saja.


Iblis itu mui menggerakan tangannya ke depan. Merapal beberapa mantra. Tak lama kemudian, muncullah tiga sosok guardian yang ia serap. Para guardian itu penuh dengan kendalinya. Mereka bertiga bersimpuh tepat di hadapan Iblis seratus juta jiwa.


"Para ikon terkuat semesta! Aku perintahkan kalian, untuk membunuh Rey Arlert beserta dengan adiknya!" perintah Iblis seratus juta jiwa kepada ketiga Guardian.

__ADS_1


Bembi, Lunox beserta Harith mengangguk mengiyakan apa yang Iblis seratus juta jiwa perintahkan. Mereka pun segera pergi dari hadapan iblis itu.


__ADS_2