Indigo Evolution (Silver Alaska)

Indigo Evolution (Silver Alaska)
Rey di mana?


__ADS_3

Halaman kastil putih cukup besar dan megah. Di sana tertanam pohon sakura, musim gugur adalah momen indah untuk memandanginya. Ada satu momen yang akan sangat sayang apabila dilewatkan. Momen itu adalah momen ketika sakura-sakura berguguran.


Dua jam yang lalu gadis pemilik Surai putih ini sudah terbangun, dari tidur panjangnya selama enam bulan. Gadis ini adalah, Debora.


Ketika ia terbangun hanya ada beberapa Lapu-lapu di sana. Ia tidak menemukan rekannya ataupun siapapun.


Sebenarnya, para Lapu-lapu tidak memperbolehkan ia untuk berjalan sementara waktu. Namun, kemampuan merayunya membuat para Lapu-lapu tak sanggup menolak.


Para Lapu-lapu wanita mengingatkan padanya, untuk tidak keluar terlalu jauh dari kastil putih sebab kondisinya masih belum pulih total sekalipun luka di jantungnya tertutup.


Hembusan angin kencang itu membuat surainya berkibar. Debora sedikit menyipitkan netranya mencoba menghindari debu barangkali ada yang masuk ke dalam netranya.


Di antara hembusan angin itu juga membawa bunga-bunga sakura bertebaran menghempas ke arahnya. Seseorang dengan jubah putihnya baru saja sampai beberapa menit yang lalu.


Namun netranya terpaku, ia berhenti memandangi tubuh yang membelakanginya itu. Sungguh ia tak percaya rasanya, melihat gadis yang ia sukai bangun dari tidur panjangnya.


Perlahan ia mulai berjalan mendekatinya, pelan-pelan tanpa sepengetahuannya. Hingga ketika ia sudah berada tepat di belakangnya, tangannya terulur menyentuh pundak itu. Debora yang merasa ada seseorang di belakangnya pun berbalik, kemudian ia tersenyum.


"Hai Elvas!" ujar Debora kepadanya.


Senyuman yang luar biasa sekali bagi Elvas. Refleks, ia pun menarik masuk Debora ke dalam dekapannya. Debora sedikit memekik atas tindakan yang Elvas lakukan, ia terkejut atas itu sungguh.


"Kau lama sekali bangunnya!" ucapnya, namun Debora hanya tersenyum.


Pelukan itu erat sekali, dari sana Debora merasakan sesuatu. Rasa syukur dan takut bercampur menjadi satu dalam pelukan itu.


"Ya, maaf ya..." lirih Debora kemudian ia menjauhkan tubuhnya dari Elvas.


Mereka mulai bercengkrama satu sama lain perihal tragedi itu. Elvas juga mengatakan perihal Rey setelah tragedi itu.


Dalam percakapan itu Elvas terus saja menjelek-jelekkan nama Rey, namun Debora tetap diam. Sebab apabila ia membelanya, maka mungkin akan terjadi adu debat antara dirinya dan Elvas.


Debora tidak mau itu terjadi, kepalanya masih terlalu pusing untuk di hadapkan pada hal itu.


Cukup lama mereka mengobrol, tak lama suara langkah kaki lain mulai datang. Ketika Debora menoleh, itu adalah seluruh rekannya. Mereka berteriak memanggil nama Debora dari kejauhan lalu berlari ke arahnya memeluknya erat.


"Kau sudah sadar Debora!!!" teriak Riley menangis bahagia. Ia sangat terharu rasanya sungguh.


"Syukurlah!" ucap Syena.


"Kami hampir lelah rasanya menunggumu bangun Debora!" ucap Justice kepadanya.


"Syukurlah Debora!" tambah Mikhail kepadanya.


Debora membalas pelukan itu sembari mengusap lembut punggung mereka. Ada satu yang kurang menurutnya, ada satu orang yang tidak hadir di sini.


Dalam kepalanya Debora memikirkan keberadaan Elvas, yang masih menyimpan dendam kepada Rey akibat kegagalannya. Sejenak Debora mencoba mengubur rindunya kepada Rey di sini.

__ADS_1


Di bawah pohon sakura mereka semua bercengkrama sampai senja datang. Matahari yang perlahan meredup membuat seluruh rekannya itu berdiri, mereka berpamitan kepada Debora untuk kembali ke markas, begitupun dengan Elvas.


Ketika Elvas pergi mendahului rekannya. Di sana hanya tersisa Riley beserta dengan Justice. Netranya masih mencari-cari keberadaan Rey barangkali pemuda yang ia cintai itu datang.


"Sepertinya kau sedang mencari Rey ya?"' tanya Riley kepada Debora.


Tangannya dilipat di dada, kemudian ia menatap lekat ke arah Debora. Mendengar itu Debora hanya tersenyum lalu mengangguk.


"Dia selalu datang kemari Debora! Tunggu saja, datangnya juga melebihi kami. Dia datang tiap pagi mengunjungimu, terkadang dia membelai kepalamu menciumnya lembut. Kurasa Rey, mencintaimu Debora!" jelas Riley kepadanya.


Penjelasan itu membuat Debora tersenyum, namun ia tertunduk.


"Kalian berdua rumit! Jika memang kalian saling mencintai, mengapa tidak jujur satu sama lain?" tanya Justice kepadanya.


Isi kepalanya yang minim membuatnya tak mampu mencerna, atas alasan apa kedua rekannya saling memendam perasaan. Bukankah sakit apabila hanya ditimbun saja.


Riley selaku teman satu kamarnya, hanya tersenyum. Ia tau jawaban atas itu. Riley menarik pergelangan tangan Justice.


"Apa?" tanya Justice kepada Riley ia menoleh.


"Itu masalah privasi, jangan ditanyakan lagi! Selagi hubungan keduanya baik, sebagai rekan kita tidak berhak mengkorek sesuatu yang privasi." jelas Riley kepadanya.


"Ya sudah, kami pergi ya Debora! Sebaiknya kau istirahat lagi!" ucap Riley kepadanya.


Debora mengangguk mendengar itu, dengan riang ia menarik pergelangan tangan Justice untuk mengikutinya.


Setengah jam ia berdiri di sana, sampai akhirnya malam pun tiba. Purnama indah di atas sana, cahaya lembutnya terpancar tepat ke arahnya.


Anginnya masih berhembus dengan tempo sama. Membawa sakura ikut jatuh perlahan, menerpa-nerpa dirinya. Sambil terpejam ia memegang area lehernya.


Biasanya di sana ada syal itu. Syal yang begitu ia sayangi dengan segenap hatinya. Pemberinya juga adalah orang yang paling Debora cintai.


"Rey, kau dimana?" lirih Debora mendongak ke atas langit, kedua netranya masih terpejam.


Suaranya begitu lirih, namun Rey yang baru saja tiba di kamar rawat Debora, mendadak tubuhnya terdiam. Suaranya memang tidak akan sampai kepada Rey yang berada di sana.


Namun, Rey merasakan panggilan itu dari hatinya. Di dalam sana, hangat sekali ketika Debora memanggilnya.


Kakinya kembali melangkah meninggalkan kamar rawat yang kosong tanpa keberadaan pasiennya. Ketika Rey berada tepat di halaman belakang itu, ia dibuat terpaku rasanya.


Rey diam di sana memandangi Debora yang sedang membelakanginya. Tuhan, malam ini hatinya begitu bahagia.


Gadisnya sudah sadar, dan saat ini berdiri tepat di sana. Surai yang berkibar itu, juga bunga-bunga sakura yang berjatuhan membuatnya melihat seorang Dewi rasanya.


Rey menyentuh dadanya, sesak, sungguh. Air matanya menetes namun perlahan ia mendekatinya, sambil menangis. Ini adalah wujud kebahagian yang tak mampu ia lukisan. Satu wujud kelegaan atas apa yang ada di hadapannya.


Tangan kekarnya terulur begitu saja, mendekap gadis itu dari belakang. Sambil masih menangis Rey menimpakan dagunya tepat di atas bahu Debora.

__ADS_1


"Mengapa kau tidur lama sekali, Kucing Putih?" lirih Rey bertanya, ia menenggelamkan wajahnya di antara pundak itu.


Suara itu, suara manusia yang paling Debora rindukan. Kehangatan dari pelukan ini menghujani hatinya dengan ribuan bunga. Debora mencoba diam, ia ingin mendengarkan apa saja yang akan Rey katakan.


Tangan kanannya mengusap lembut kepala Rey yang berada di pundaknya. Sedangkan tangan kirinya menyentuh kedua tangan kekar yang melingkari perutnya.


"Aku hampir mati rasanya, ketika melihatmu dalam keadaan itu. Bukankah sudah kubilang berkali-kali. Jangan mati ketika kau bersamaku, jangan mati terlalu cepat!" lirih Rey lagi kepadanya, masih dengan Isak tangisnya.


Sungguh, Debora bahagia sekali tiap kali Rey memarahinya seperti ini. Ini adalah ungkapan paling indah bagi Debora, yang jarang sekali terlontar dari seorang Rey.


"Debora, aku..." lirih Rey ia tak melanjutkan perkataannya.


Sebab ia ingat bahwa jangan libatkan perasan di antara pertempuran ini. Jangan dulu, cinta yang terjalin nantinya akan membuat tugas utamanya terganggu. Manusia yang terlibat perasaan, terkadang akan lupa dengan tujuan mereka.


Mengingat itu membuat Rey membuang kasar nafasnya. Sedangkan Debora ia hanya tersenyum tipis.


"Mengapa tubuhmu panas sekali Rey?" lirih Debora bertanya kepada Rey.


Namun Rey hanya diam, kemudian ia menjauhkan tubuhnya dari Debora. Gadis itupun berbalik ke arahnya.


Debora membulatkan kedua netranya, ketika menemukan banyak sekali luka yang menganga di antara wajah Rey. Jubahnya juga sangat kotor.


"Kau darimana? Mengapa sampai terluka lagi?" tanya Debora kepadanya, nada bicaranya khawatir.


"Ini misi!" jawab Rey singkat.


Kedua netra mereka saling bertemu dan jawaban itu membuat Debora mengernyitkan dahinya.


"Misi bunuh diri lagi?" tanya Debora dengan nada kesalnya.


Rey terkekeh mendengar itu.


"Lihatlah, betapa menyebalkannya manusia ini!" jawab Debora kesal memperhatikan Rey yang masih tertawa.


"Baiklah, aku tidak akan tertawa! Tapi kucing putih, kau sangat lucu dengan ekspresi ini!" ujar Rey kepadanya, ia mulai memainkan wajah Debora mencubit pipinya.


"Arlert..." rengek Debora kepadanya.


Sungguh hal itu membuatnya semakin gemas. Tak kuasa rasanya jika diteruskan. Rey berhenti, dari dalam domain ia mengambil sesuatu. Itu adalah sebuah syal, syal yang selama ini Debora cari-cari keberadaannya.


Perlahan Rey memakaikan syal itu, mengitari leher Debora. Ketika usahanya usai, Rey pun mamandanginya. Sentuhan akhir di atas kepalanya membuat Debora bersemu, lagi, Rey memberikan satu ciuman lembut di sana. Terdengar satu bisikkan kecil di sana yang berkata,


"Maafkan aku Debora, aku menyayangimu..."


Sekalipun kalimat terakhir setelah permintaan maaf itu lebih dipelankan, namun Debora tetap menangkap maksudnya.


Perlahan Debora mulai memberanikan dirinya, memeluk Rey, menyamankan kepalanya di atas dada bidang itu. Dengan segenap perasaannya Rey pun membalas pelukan itu.

__ADS_1


Sebuah pelukan tulus dari sepasang kekasih yang mencintai secara bisu. Pelukan itu terjadi tepat di bawah sinar purnama, terjadi tepat di iringi bunga sakura yang berjatuhan. Bukankah mereka terlihat seperti seorang dewa dan Dewi? Ini terlalu indah untuk di saksikan!


__ADS_2