Indigo Evolution (Silver Alaska)

Indigo Evolution (Silver Alaska)
Beberapa Tahun Lalu dan Sebuah Ramalan


__ADS_3

...Bagiku, bisa hidup untuk hari ini saja aku sudah bersyukur...


...Keberadaan orang bukanlah suatu dosa...



Para Iblis dalam Alaska sedang bersimpuh dihadapan onggokan daging. Semacam persembahan, diidepan daging itu berjajar gerobak berisi potongan tubuh manusia. Kematian Rey, juga mundurnya Harith beserta pasukannya dari dalam Silver Alaska cukup membawa kebahagian bagi Tuan mereka.


Atas perintah dari Tuan mereka pula, kelahiran generasi ke-9 dipercepat saat ini. Sudah ada sepuluh menit mereka bersimpuh. Tentakel dari dalam daging itu meraup, memangsa seluruh isi gerobak itu rata tak berbekas.


Kembalinya sulur itu masuk kedalam, membuka sebuah portal hitam. Dari dalam sana suara teriakan mengerikan berkumandang. Dibelakang para petinggi, Iblis rendahan mulai diliputi takut yang luar biasa. Aura ini lebih menakutkan dibandingkan para petinggi lain.



Kaki besar hitam itu mulai keluar dari sana. Tubuhnya yang kekar dengan duri-duri di dadanya mulai terpampang. Sambil membawa gada berduri, rambut menggimbal, juga empat mata pada wajahnya generasi ke-9 itu berteriak.


Teriakan itu seperti ungkapan rasa terima kasih, atas sanjungan juga penghormatannya. Iblis ini tak banyak bicara ia hanya mengaung dan mengaung. Akaza dan Barsh saling tatap satu sama lain.


"Tuan kita yang ini sepertinya tak mampu berbicara?" Akaza bertanya pada Barsh disampingnya.


"Benar!"


Barsh berdiri dari simpuhannya. Dari dalam telapak tangannya ia mengeluarkan sesuatu. Cawan berisi darah, itu adalah stok darah yang Syena berikan. pada mereka atas dasar hukuman.


Seperti biasanya cawan itu diberikan pada Iblis baru yang baru saja lahir. Iblis baru itu meneguk isi cawan itu lalu melempar cawan kosong itu asal. Habisnya isi cawan itu membuatnya lagi-lagi mengaung.


"Namanya adalah Helcurt!"


Barsh disana seperti memahami apa yang Helcurt katakan. Akaza dibawah sana beserta para petinggi lain berseringai mendengar itu.


"Selamat datang, Saudaraku Helcurt!" Ucap Akaza.


"Selamat datang Helcurt!"


Ucapan Akaza menuntun para petinggi juga Iblis rendahan melontarkan penyambutan. Mereka serentak berseru untuk Helcurt. Usai upacara kelahirannya tuntas. Sekejap Helcurt menghilang masuk kedalam tanah.


Generasi kesembilan mereka telah lahir. Artinya butuh satu generasi lagi bagi kaum Iblis untuk melakukan penyerangan terhadap populasi manusia yang semakin menipis.


Para Generasi adalah jantungnya Tuan. Terbentuknya mereka akan membuat Tuannya abadi. Tubuh Aslinya sama sekali tak memiliki titik lemah, jika generasi terbentuk.


Syarat atas kehancuran dirinya, adalah peleburan lebih dulu pada Generasinya. Namun itu tak mudah, sebab mereka adalah Iblis-iblis hebat.


Mungkin butuh keberanian untuk melawan mereka. Sebuah keberanian kuat, sebuah tekad tanpa rasa takut. Sebuah mental yang tidak takut pada kematian. Kehancuran dunia semakin dekat. Pemusnahan total dari para Iblis akan segera dilakukan.


Sepertinya Iblis seratus juta jiwa tak ingin menyia-nyiakan kesempatan atas kematian Rey. Dia yang juga mendengar ramalan, bahwa kelak akan ada manusia yang datang membunuhnya di buat lega saat ini. Manusia itu rupanya mati terlebih dahulu.


Iblis seratus juta jiwa sedikit mengingat pertemuan antara dirinya dan Harith, beberapa tahun lalu. Tiap kali memori ini datang, suara ramalan dari Lapu-lapu selalu memenuhi rungunya.


Ramalan mengenai seorang manusia dengan tiga pedang ditubuhnya. Manusia berambut putih menguasai tiga unsur alam semesta. Dalam ramalan juga disebutkan bahwa pemuda itu kelak akan menjatuhkan seluruh Iblis dibumi. Mengembalikan mereka dalam takdir tak kasat matanya.


_________


Beberapa Tahun yang Lalu



Garda bagian barat musnah total. Pertahanan militer disana sama sekali tak berfungsi. Serangan meriam berulang kali mengenai para Iblis. Namun nyatanya regenerasi mereka membuat mereka abadi. Bahkan tak mampu di kalahkan.


Manusia ahli pertahanan dibuat pusing kepalang. Banyak dari mereka berteriak mundur setelah menyaksikan beragam pembantaian sadis. Ada juga yang pasrah bersimpuh menyerahkan diri.


Mungkin mereka lelah berjuang tanpa ada hasil yang memuaskan. Salah seorang marinir merayap dengan tubuh yang terluka. Darah-darah segar itu membanjiri pakaiannya. Marinir itu menuju satu benteng yang masih tersisa, benteng area Timur.


Benteng itu masih belum diserang. Mungkin setelah gugurnya area Barat musnah. Juga manusia disana musnah, para Iblis akan berlari ke arah Timur. Mencari jatah nutrisi, juga melakukan beragam pelenyapan disana.


Jlebbbbb


"Akhhhhhh..."


Seorang Marinir yang terluka berteriak. Sebuah besi panjang tajam menembus kulit kakinya. Sontak manusia yang terluka itu berbalik. Rupanya tak jauh dari tempatnya berada, sesosok Iblis datang berjalan ke arahnya.


"Aku pasti mati!" Pikirnya.


Blukkkk



Secepat kilat Iblis yang tadinya jauh darinya melesat ke arahnya. Iblis itu duduk tepat di atas tubuhnya sambil berseringai. Ketidakberdayaan para manusia membuat mereka bahagia.


Taring-taring itu terpampang mengerikan. Juga kuku tangannya yang panjang masih berbau anyirnya darah. Sejenak Iblis itu menjilati darah-darah yang masih ada dalam tangannya.


"Percuma kau melarikan diri kemanapun! Sudah saat nya para manusia tunduk pada kami. Dan kami lah yang berhak berkuasa atas dunia." Ucap Iblis.


"Hahah.. padahal kau tinggal berdampingan dengan kami tanpa ada kendala. Kami tidak pernah mengusik kaummu! Namun kau, kau memang keji!"


"Keji adalah kalimat pujian bagi kami. Berapa kali pun kalian mengatakan hal itu pada kami. Maka hanya kebahagian sajalah yang kami rasakan."


"Aku tidak menyesal mati seburuk apapun. Bahkan semenyakitkan apapun, karena aku sudah berjuang!"


"Begitulah manusia, fana tak berguna! Bersiaplah menerima kematianmu!"

__ADS_1


Slatttttttt



"Huh?!" Iblis itu memekik ketika cakar miliknya hampir mengenai manusia sekarat itu.


Sabitan pedang dari seseorang membuat tangannya terpotong. Hal itu membuat Iblis itu refleks mundur kebelakang.


Jubah Putih, rambut putih dengan kedua pedang dalam tangannya menatap tajam ke arah Iblis itu.


"Kau, sungguh serakah sekali!"


Pemilik jubah ini adalah Harith. Dari garda bagian Timur ia datang mengarah kemari mencoba menyelamatkan beberapa manusia yang mungkin masih selamat.


"Kau akan mengalahkan ku? Dengan sebilah pedang?"


Syuthhhh


"Kami abadi bocah!"


Iblis itu berseringai ia berlari sekencang-kencangnya menghampiri Harith disana. Melihat itu, Harith tersenyum. Ia begitu tenang disana bahkan sama sekali tak gemetar.


Ketika tubuh Iblis itu mendekatinya. Satu ayunan pedangnya sekejap memenggal kepalanya. Iblis itu jatuh tersungkur dengan kepala yang buntung. Disana tidak hanya itu, Iblis ini bahkan melebur menjadi abu.



Seseorang yang sedang sekarat disana dibuat terperangah akan bakatnya. Seseorang itu juga menatap aneh ke arahnya, pasalnya Harith tidak terlihat seperti seorang manusia.


Tubuhnya yang melayang, dengan dua telinga besar beserta ekor membuat manusia itu heran.


"Apa kau baik-baik saja?" Tanya Harith padanya.


Manusia itu mengangguk, Harith mengulang tangannya membantu manusia itu berdiri.


"Siapa kau?" Tanyanya.


"Aku jelas bukan dari duniamu! Sekarang pergilah, ada gerombolan maut yang sedang mengarah kemari!"


Harith berucap sambil memperhatikan gerombolan Iblis yang sedang mengarah kemari. Satu Iblis dengan aura kelam pekat berada ditengah gerombolan itu.


Iblis itu adalah Iblis seratus juta jiwa. Jumlah pelenyapannya atas manusia adalah yang tertinggi.


"Datanglah Para penguasa langit!" Lirihan dari Harith membuat manusia itu tercengang.


Dari atas langit sekejap muncul beberapa makhluk aneh lagi. Makhluk itu bertubuh kecil, duduk di sebuah pedang sambil menarik anak panahnya. Merasa ada sesuatu yang akan terjadi, manusia itu berusaha pergi dari sana. Ia mencoba menghindari adu mekanik yang akan terjadi.



Namun ada sesuatu disini, Iblis seratus juta jiwa itu memiliki pertahanan rupanya. Panah-panah itu tak berhenti menyerangnya. Iblis itu menggapai Harith, pertemuan pedang mereka satu sama lain beradu.


Harith terlihat unggul disini namun ia sama sekali tak mampu melukai Iblis itu dengan pedangnya. Hingga keduanya sama-sama bosan mungkin, mereka memilih mundur sejenak sambil masih saling menatap tajam. Disana Sang Iblis mengatakan pada Harith.


"Jika kau ingin mengembalikan dunia fana ini seperti dahulu. Maka kalahkanlah aku, dirumahku, Silver Alaska!"


Harith hanya diam disana sama sekali tak menanggapi apa yang Iblis itu ucapkan. Dari atas sana seorang Lapu-lapu yang duduk di atas pedang emas mendekati Harith. Lapu-lapu itu menatap tajam ke arah Iblis seratus jiwa.


"Akan ada manusia bersayap dengan tiga pedang dalam tubuhnya. Manusia itu nantinya berdiri dihadapanmu sebagai kematian! Dia adalah solusi dunia yang akan menghancurkanmu! Ketika ketiga Pedang bersedia memberi kekuatannya padanya, kau beserta seluruh pasukanmu, akan kembali pada kodratmu. Ilusi tak kasat mata, hilang, tak dianggap, dan selalu bernilai keji!"


Pernyataan itu membuat Iblis seratus juta jiwa menggertakkan giginya. Kebencian dalam dadanya semakin menguat. Namun tetap saja, sekalipun Harith tak mempu melukainya kekuatan mereka tetap setara.



Bahkan Iblis seratus juta jiwa juga memperhatikan. Harith memiliki kemampuan regenerasi sama sepertinya. Dari belakang tubuhnya seorang siluman serigala datang, menghampiri Iblis seratus juta jiwa.


"Tuanku, sudah waktunya kita kembali?" Pertanyaan darinya membuat Iblis seratus juta jiwa mengangguk.


"Tentu saja, Barsh!" Jawabnya.


Serigala itu bernama Barsh, dia adalah generasi kelahiran yang utama. Dia adalah bagian dari Iblis seratus juta jiwa.


Sebuah portal hitam keluar dari belakang tubuh mereka. Harith diam disana memperhatikan kedua sosok keji itu memasuki portal. Beberapa detik setelah tubuh mereka masuk portal itupun menghilang.


Sejenak Harith menatap ke depan. Gedung-gedung besar itu terbakar, ceceran darah memercik dihalaman. Bagian tubuh manusia juga berceceran disana.


Beberapa manusia yang mati disana tak berdosa. Namun mereka di binasakan dengan cara yang keji. Harith meneteskan air matanya disana. Penyesalan demi penyesalan menjalar merayapi hatinya.


Lagi-lagi ia muak pada dirinya. Seandainya pertarungan konyol itu tidak terjadi, tidak akan ada hukuman ataupun kehidupan yang di paksa mati.


Jika segala hal ini usai, jeritan kematian manusia sebelum mati masih jelas terngiang dalam kepalanya. Rungunya perih tiap kali mendengar jeritan-jeritan itu.



"Leoninku, mengapa kau meratapi sesuatu yang usai Sayang?"


Melalui telepati Noella dalam kastil Timur berucap. Disana ia memperhatikan kekasihnya itu dari dalam bola kristal. Garda bagian Timur sudah Harith kuasai. Para penduduk langit datang dan turun ke bumi.


Mereka mengubah Garda bagian Timur bak Negeri dongeng. Pertahanan tembok sihir lima ratus meter melindungi sisa populasi manusia didalam sana.


Harith juga membangun Asrama Sihir, ia tau bahwa para Indigo di bumi berkaitan dengan suar asteroid. Suar itu meracuni dua sosok di bumi ini. Manusia penjelajah ghaib juga mereka yang ghaib. Membawa kontaminasi yang berbeda. Iblis berubah menjadi terlihat dan manusia berkemampuan sihir.

__ADS_1


"Noella, bagaimana netraku akan kuat menatap segala kekejian ini. Pembantaian ini keterlaluan, Noella!" Lirih Harith melalui telepati.


"Kau datang ke bumi bukan untuk meratap. Kau datang untuk mengurus dan mengubah, segala kesalahan yang sudah terjadi. Penyesalan itu memang akan selalu ada, tetapi mau sampai kapan itu. Apakah dengan itu bumi ini bisa berubah kembali tanpa adanya perlawanan?"


"Kau benar!"


"Garda bagian Barat belum sepenuhnya musnah! Mungkin kau bisa melindungi Area mereka dekat hutan. Ada pasukan dan kota kecil disana! Menempatkan beberapa Musketeers disana mungkin perlu!"


Harith terdiam mendengar itu, benar sekali apa yang Noella katakan disana. Garda bagian Timur masih ada, benteng kecil mereka dekat hutan masih ada. Disana mungkin masih ada tiga persen populasi manusia.


"Perintahkan beberapa Musketeers untuk datang kesana! Aku akan kembali sebentar membawa seorang Pria yang terluka!" Jelas Harith.


"Baiklah!".


Akhiran dari jawaban itu membawa Harith berbalik. Ia terbang datang mendekati Pemuda yang terluka itu. Disana ia merendahkan tubuhnya menyamai tingginya.


"Apa kau baik-baik saja? Masihkah kau mampu berjalan?"


"Tidak, kakiku sangat sakit Tuan!"


Pemuda itu berbicara sambil menahan sakit atas tusukan benda tajam yang menembus kulit kakinya. Disana Harith mengangguk, tangan mungilnya mulai bergerak. Sebuah cahaya putih sekejap menyinari luka manusia itu.


Perih, ini perih sekali bagi pemuda itu. Namun apa dayanya dirinya yang membutuhkan pertolongan disini. Sembari menahan sakit pemuda ini menggertakkan giginya, berharap mampu meredam rasa sakitnya.


Syuthhhhh


Beberapa menit kemudian luka itu tertutup kembali setelah Harith mencabut benda tajam itu dari sana. Pemuda itu takjub terperangah dibuatnya. Ia yang tadinya tak percaya hal mistis, sekejap dibuat bungkam.


"Kau siapa Tuan?" Tanyanya pada Harith.


Harith tersenyum padanya sembari mengulurkan tangannya membantu Pemuda itu berdiri. Ketika pemuda itu berdiri ia membungkukkan tubuhnya, itu adalah ucapan hormat darinya untuk Harith.


"Terima kasih banyak, jika kau tak ada mungkin aku akan tewas tadi."


Pukkkk


"Kau tak akan tewas, karena kau terpilih sebagai salah satu Musketeers ku!"


Harith berucap sambil menepuk pelan bahu Pemuda itu. Pemuda itu mendongak mendengar apa yang Harith ucapkan. Musketeers katanya, jabatan semacam apakah itu.


"Para Indigo penjelajah ghaib. Kau yang memiliki mata penjelajah ghaib, adalah prajurit bagi bumimu. Katakan siapakah namamu anak muda?"


"Aku Dion!"


Syuthhhhhh


Harith menggerakan tangannya ke arah Dion. Sekejap sihir miliknya mengubah pakaian lusuh Dion menjadi sebuah jubah serba putih.


"Sihir?!" Pekik Dion tak percaya.


Selama ia bernafas dibumi sihir adalah suatu omong kosong. Itu tak nyata, dan manusia tak mempercayainya. Namun saat ini, kedua bola matanya menyaksikan itu jelas dan nyata.


"Selamat datang di Asrama Rensuar, Dion!"


Ucapan selamat datang itu membuat Dion tersenyum senang. Dalam hatinya ia tau mengapa Harith memilihnya disini. Bahkan dirinya sama sekali tak memiliki sihir.


"Aku bahkan tak memiliki bakat sihir dalam diriku Tuan!"


Mendengar itu Harith terbang ke belakang tubuh Dion.



"Sekarang, coba ikuti aba-aba ku!"


"Huh?"


"Lakukan saja, waktu kita terbatas disini!"


"Baiklah!"


"Gerakan tanganmu sesuai inginmu. Arahkan itu kedepan sana, lalu tarik nafas dalam-dalam, fokus, pusatkan segala pikiranmu didepan sana. Jangan lupa kata kuncinya adalah, Accow Axlinow!"


Dion mengangguk mendengar itu. Segera ia menggerakan tangannya sesuai apa yang dikatakan Harith. Kilatan petir dari dalam tangannya membuatnya takjub hari itu. Rupanya dia adalah manusia yang terpilih menjadi seorang Musketeers.


Namun ada satu kegagalan setelah dirinya menjadi seorang Musketeers saat itu. Bagian Garda bagian Barat yang terakhir diserang, para rekan Musketeers nya mati disana.


Dion yang gagal babak belur, ia kembali ke Benteng saat itu. Sambil membawa laporan pada Noella, bahwa ada beberapa manusia yang masih hidup disana.


Terlebih dua manusia didalam toko roti. Laporan itu sampai tepat pada Harith dalam ruangannya, merasa waktunya sudah terlambat Harith hanya bisa mengecek posisi mereka melalui kristalnya. Hari itu ketika netranya menemukan anak itu, ia tersenyum.


Aura bagian dalam dirinya terasa jelas dalam tubuh anak itu. Manusia dalam kristal itu adalah Rey beserta dengan adiknya. Dan Harith merasakan keberadaan Baron disana.


Bertepatan dengan hari itu juga, Rey yang berasal dari Garda Barat kehilangan adiknya. Itu terjadi satu bulan setelah perekrutan Dion.


...Banyak orang ingin melupakan masa lalu, tapi sedikit orang yang belajar dari masa lalu...


...Orang yang sudah mati dapat mengatakan lebih banyak hal dari yang bisa mereka lakukan...


__ADS_1


__ADS_2