Indigo Evolution (Silver Alaska)

Indigo Evolution (Silver Alaska)
Manusia yang Tidak Pernah Puas 2


__ADS_3

Matahari mulai lelah dengan tugasnya. Saat ini bergantian Purnama yang datang menampakkan dirinya, bertugas di angkasa menerangi malam yang gelap.


Rey berjalan dengan jubah lusuhnya. Ia tau, ia gila memang menghajar ribuan iblis disana seorang diri. Namun nyatanya hasrat lebih kuat daripadanya.


Belantara yang ia susuri adalah jalur menuju kastil sihir tempat dimana para Muskeeters tinggal.


Jalanan Nya sepi tak ada siapapun disini kecuali dirinya sendiri. Hanya ada burung hantu juga daun dan pepohonan yang bercahaya.


Hawanya begitu dingin, biasanya Rey akan menemui Dumbo. Tetapi perkataan adiknya juga roti manis yang ia nikmati membuatnya kembali pulang ke markas.


Sebelum ia sampai kesana. Rey sedikit mendengar suara manusia. Seperti sedang membicarakan sesuatu.


Rey mendengarkan suara itu dengan seksama. Ketika ia mengendap-endap mencari keberadaan suara itu ia di kejutkan dengan Debora juga Elvas di sampingnya.


Di depan danau mereka berdua duduk sambil menatap langit. Purnama indah disana.


"Sejak kapan ia dekat dengan Elvas?" Lirih Rey sambil tetap memperhatikan mereka.


"Lupakan saja Rey! Lagi pula jika memang dia mencintaimu, dia tidak akan menyakitimu bukan?"


Ucapan itu membuat Rey terdiam. Benar memang ia menyakiti Debora disini. Tetapi, sejujurnya itu bukan keinginannya. Tapi, tidak bisa di pungkiri bahwa dendamnya membutakan dirinya.


Rey hanya tidak sabar membalas kematian susternya. Hanya itu saja, geram membuatnya buta kehilangan arah. Keberhasilan semakin membuatnya haus ingin terus mencapai tujuannya.


"Jika kau datang untuk mengatakan itu, maka aku tidak akan menjawab apapun."


Suara lembut gadisnya membuat Rey terkejut. Ia masih setia menatap mereka berdua disana.


"Aku ini bawahanmu sekarang! Aku berada dalam pasukanmu sudah lama. Dan aku iba padamu! Seharusnya, mereka yang berulang kali menyakiti hati memang harus di tinggalkan!" Ucap Elvas lagi padanya.


Debora menoleh ke samping lalu berseringai.


"Perihal perpisahan, bukan aku yang menentukan!" Jawab Debora.


Elvas mengepalkan tangannya mendengar itu. Hatinya mengagumi Debora, jujur saja. Hingga rasanya tak sanggup melihat Debora berulang kali di sakiti oleh Rey.


"Kau memang sangat keras kepala!"


Elvas mengeluarkan sihirnya. Debora berancang-ancang menggerakan telapak tangannya mengarah pada Elvas disana.


Ketika sihir itu hendak menyentuh Debora. Rey secepat kilat menghadang itu melindungi kucing putih kesayangannya.


"Hei Gila kau!" Pekik Rey sambil menatapnya.


"Rey!!!" Pekik Debora dan Elvas bersamaan.


Clashhhh


Elvas mundur ke belakang menatap benci ke arah Rey. Ia mengepalkan kedua tangannya.


"Berani sekali kau menyerang Debora ku!" Ucap Rey geram.


Debora terkejut ketika mendengar pengakuan kepemilikan Rey atas dirinya. Sejak kapan ia menjadi milik Rey disini.


"Debora mu katamu? Sadar, kau sudah banyak menyakitinya. Kemana kau selama berbulan-bulan ini membuatnya menangis di belakang kastil sihir? Jika kau mencintainya, maka jangan sakiti dia! Bodoh!"'Ucap Elvas.

__ADS_1


Rey hanya diam mendengar itu. Sebab apa yang Elvas katakan benar, tak ada jawaban ataupun penyangkalan yang Rey katakan. Ia hanya diam menerima kebenaran yang memang begitu adanya.


"Aku akan merebutnya jika memang kau tak becus menjaganya!" Ucap Elvas lagi.


Rey tertegun mendengarnya, sontak ia memicingkan kedua matanya ke arah Elvas.


"Kau juga menyerangnya! Untuk apa hah?" Tanya Rey.


"Aku hanya berniat membebaskan dia dari neraka ini. Aku ingin membawanya bersamaku, melindunginya dari peperangan yang terus menyiksanya. Perhatikan luka-luka yang ia dapat! Apa kau peduli?" Tanya Elvas padanya.


Rey kembali terdiam disini. Rasanya tak mampu lagi ia mendengar ini. Di ingatkan atas kesalahannya adalah hal yang paling ia benci. Ia tau, maka ingatkan itu sekali.


Jika hal itu ia dengar terus menerus rasanya Rey ingin sekali menghukum dirinya sendiri.


Rey berbalik menghadap ke arah Debora. Kedua tangan gadis itu masih di penuhi sihir.


"Huh?" Debora terkejut mendapati Rey yang berbalik ke arahnya.


Merasa kesal dengan dirinya sendiri, Rey pun memegang kedua tangan itu lalu mengarahkannya pada dirinya.


Crashhhhhh


Rey menahan rasa sakit sihir penyerang milik Debora yang masuk ke dalam tubuhnya.


Debora yang terkejut pun menarik kembali sihirnya, menyisakan Rey dengan luka di perutnya yang mulai mengasap.


"Kau gila?" Tanya Debora padanya.


Elvas terkejut melihat itu, ia tidak menyangka Rey akan melakukan itu. Sekalipun pemegang sihir Abjad E di pandang lemah dengan kualitas mana nya. Namun sihir penyerangan mereka setara sakitnya dengan sihir abjad A.


Rey mengatakan itu sambil menatap lekat ke arah Debora nya. Apa yang Rey katakan membuat Debora tersentuh. Ia mencoba mengalihkan pandangannya dari Rey ke arah samping.


Kedua tangannya masih di pegang erat oleh Rey. Merasa perdebatan akan tetap berlanjut. Debora pun menarik tangannya, itu membawa Rey ikut bersamanya.


"Lebih baik kita istirahat! Sebab besok masih ada hari baru dengan banyak materi sihir baru."


Ucap Debora membawa Rey pergi bersamanya meninggalkan Elvas yang diam disana sendiri.


Ketika kedua sejoli itu pergi, Elvas pun menoleh ke atas. Di cabang pohon itu terduduk beberapa rekan Rey disana.


Ini adalah rencana mereka. Tanpa sepengetahuan Debora. Syena juga ada disana, sengaja memang mereka membuat situasi semacam ini.


"Kau hebat berakting, El!" Puji Justice turun dari pohon.


"Jangan lupa komisi ku!" Ucap Elvas mengingatkan.


"Bagaimana jika aku tukar dengan Khufra baru?" Tanya Riley menawarkan Khufra nya.


"Tidak aku tidak mau! Biayanya akan sangat mahal untuk aktingku ini! Jangan lupa!" Ucap Elvas lagi.


"Ya, baiklah kami akan membayarnya dengan makan gratis besok setelah seluruh tugas kami usai? Bagaimana?" Tanya Syena padanya.


Elvas mengacungkan kedua jempol nya menyetujui itu. Ia pun segera pergi dari sana.


"Ayo pulang kakak!" Ucap Syena menguap.

__ADS_1


Matanya benar-benar mengantuk sekarang rasanya. Mendengar itu Riley mengangguk begitupun dengan Mikhail. Mereka menyatukan tangan mereka, mantra Leviousa membawa mereka pergi dari sana.


_________


Sepanjang perjalanan Rey dan Debora hanya diam. Luka di perutnya masih berasap. Pemulihannya lambat sekali, hal itu membuat Debora khawatir.


"Jubahmu kotor sekali?" Tanya Debora padanya.


"Aku, baru saja selesai menghajar iblis di Silver Alaska lagi!"


"Kenapa kau kesana? Kau hanya akan membahayakan nyawamu!" Jelas Debora.


Rey berhenti, hal itu juga membuat Debora berhenti tentunya.


"Debora, bagaimana Elvas bisa menyukaimu?" Tanya Rey menunduk.


Mendengar itu Debora pun menuntun Rey ke salah satu pohon besar di Belantara. Mereka berdua duduk disana. Rey bersandar di pohon itu, sedangkan Debora berada di hadapannya.


Debora tidak menatap ke arah Rey namun ia memperhatikan luka yang ada di perut Rey. Luka yang masih menganga sekalipun sedang berusaha melakukan regenerasi.


Dari dalam domain Debora mengambil ramuan. Ramuan itu ia tuangkan di atas luka Rey.


"Kau belum menjawab ku?" Tanya Rey lagi.


"Apa yang perlu ku jawab disini?" Jawab Debora menatapnya kali ini.


"Bagaimana Elvas bisa menyukaimu?"


"Perihal hati, siapa yang tau? Lantas jika dia menyukaiku kenapa? Terserah padanya bukan..."


"Aku tidak mau!" Lirih Rey memotongnya.


"Ha?" Tanya Debora tidak terlalu mendengar apa yang Rey katakan.


"Kau bicara apa?" Tanya Debora padanya.


Namun Rey hanya menunduk ia mengepalkan kedua tangannya. Tanpa sepatah katapun ia membawa Debora masuk ke dalam pelukannya.


Rey memeluknya disana, berbulan-bulan ia menghilang mengasingkan diri di dalam Land White sebab tidak sepemikiran dengan rekannya.


"Lepaskan aku, kau terluka! Tidak akan baik jika kita seperti ini di hutan!" Ucap Debora memperingati.


Namun Rey malah semakin erat memeluknya membenamkan kepala Debora nyaman di atas dadanya.


Disana Debora mampu mendengar dengan jelas debaran tak beraturan jantung Rey.


Debora meletakkan tangannya di atas dada bidang itu lalu memilih terpejam menikmati hangatnya pelukan ini.


"Debora..." Lirih Rey lembut. Debora hanya berdehem saja menanggapi itu.


"Maaf..." Lirihnya lagi.


Debora hanya mengangguk mendengar itu. Di dalam hutan itu mereka berdua tertidur bersama di bawah pohon besar.


Kenyamanan membuat mereka lupa bahwa saat ini mereka sedang berada di dalam belantara, tempat dimana tiap pagi menjelang para Muskeeters sihir akan melewati area ini untuk berangkat ke kastil sihir.

__ADS_1


__ADS_2