
...Jika kamu berubah menjadi apa yang kamu takuti, ketakutanmu perlahan akan hilang...
...Aku tidak peduli apapun alasan mu, aku tidak akan pernah memaafkan mereka yang menyakiti teman-temanku...
_________
Sejak tadi didalam rimbunnya Belantara mereka berjalan sambil memperhatikan peta. Harith yang berada di barisan paling depan berhenti, sejenak netranya menatap lekat ke arah gulungan kertas yang ia bawa.
Telinga besar miliknya mulai bergerak. Mereka sudah menghabiskan sekitar setengah jam berjalan. Dari kejauhan beberapa meter, tepat dibelakang mereka. Terdengar suara sesuatu, mendekat ke arah mereka.
Harith adalah seorang Leonin, sejenis kucing. Pendengaran Leonin lebih tajam dibandingkan manusia. Bunyi dari arah belakang mereka semakin dekat, aura kelam itu menusuk menghunus kemari.
Sontak Harith berbalik, Noella diatas bahunya merubah dirinya menjadi seorang manusia. Kelakuan para petinggi didepannya itu, membuat seluruh rekan Rey terperangah.
"Ada apa Kaisar?" Tanya Debora sambil menatap Kaisarnya.
Axcel memberi aba-aba pada Mikhail, untuk lebih memperkuat kubah pertahanan mereka. Disana Mikhail kembali menggunakan kubah Ekstra miliknya. Kubah yang ia gunakan untuk melindungi seluruh rekannya, sebelum Dion mati.
Clingggg
Aura kubah yang semakin kuat, diiringi dengan membuatnya kedua mata Kaisarnya. Rupanya, dari arah depan mereka terlihat Syena dengan ranting-ranting pohon tajam miliknya.
Crashhhhhhhh
Bunyi itu membuat mereka terkejut, menatap ke arah depan. Rey disana kembali mengepalkan tangannya, adiknya sedang berada dihadapannya.
Syuthhhhhh
Rey mengeluarkan Baron dari dalam domain. Sambil netranya menatap lekat adiknya diluar sana, masih berupaya memukul pertahanan milik Mikhail.
"Syena!" Batin Rey.
Rey berjalan mendekati Syena, namun lagi-lagi Debora menahan pergelangan tangannya. Tindakan gegabah disini adalah bunuh diri, itulah yang Debora pikirkan saat ini.
"Lepaskan aku!" Perintah Rey masih menatap lekat adiknya yang semakin menggila disana.
"Minimalisir pertumpahan darah Rey!"
"Kalian berlindung saja didalam sini, masalah Syena biar aku saja yang tangani!"
Rey melepas cengkraman jari Debora dari pergelangan tangannya. Kilatan petir dari bawah kakinya, mengiringinya melompat ke arah Syena.
Crashhhhhh
Rey mempertemukan pedang miliknya dengan sihir adiknya. Disana kedua saudara itu saling menatap satu sama lain. Syena mundur setelah mendapat serangan dari Rey. Disana ia mulai menggunakan sihir miliknya yang lain.
"Autrom Abyass!"
Crashhhhh
Puluhan dahan meruncing terbuat dari cahaya dan petir melesat cepat ke arah Rey. Disana Rey menangkis seluruh serangan itu. Melihat Rey yang unggul disana, Syena sama sekali tak kehabisan ide.
"Autrom Abyass!"
Crashhhhh
Kali ini Syena menambah jumlah serangannya. Setelah seluruh dahan itu melesat ke arah Rey, Syena menurunkan dirinya dari udara.
Secepat kilat, Syena melesat tepat dibawah tubuh Rey menggunakan aliran petir di telapak kakinya. Rey membulatkan matanya, aksi adiknya ini tidak mampu ia terka rupanya.
"Accow Axlinow!"
Crastttttttt
Crashhhhh
Ketika Syena mengarahkan seluruh petirnya ke arah Rey. Debora dari dalam pertahanan menangkis serangannya, hal itu membuatnya sedikit terpental. Beruntungnya Rey menangkap tubuhnya.
"Debora!!!" Pekik Rey seraya memegangi tubuhnya.
Namun belum sempat Debora menjawab, Syena lagi-lagi meluncurkan serangannya. Kali ini semakin brutal. Hal itu membuat Debora dan Rey sedikit kuwalahan.
Bahkan Syena juga mampu menggunakan sulur cahaya. Dimana itu adalah kemampuan milik Debora. Namun anehnya disini, Syena sama sekali tak menggunakan pedang sebagai senjatanya.
Ditambah, sejak tadi Rey memperhatikan mata kiri adiknya yang terus bercahaya. Dari kejauhan suara sesuatu mulai muncul dari dalam belantara gelap.
"Hei!!!" Teriak Barsh pada mereka.
Crashhhhhh
Suara tabrakan sihir mereka menciptakan bunyi yang cukup besar. Dari bawah para seluruh rekannya mulai keluar dari dalam pertahanan Mikhail. Mereka semua, berdiri tepat dibelakang Rey saat ini.
Bersamaan dengan itu satu Iblis generasi datang kesana. Suara dentuman sihir mereka, menyita perhatian salah seorang Generasi yang sedang berjaga diarea itu.
Generasi ini bernama Akaza. Akaza memicingkan matanya, melihat kawanan santapan yang sedang berdiri tepat dihadapannya. Dari atas pohon, Akaza menatap lekat ke arah mereka.
Akaza mengingat satu hal. Saudara sedarahnya Verozi, dibunuh oleh seorang manusia. Pemuda berambut putih, dengan pedang cahaya dalam tangannya.
__ADS_1
Urat-urat kemarahan itu mulai memenuhi keningnya. Akaza berseringai sambil menatap Rey disana.
"Sialan kau! Baru saja kau habisi saudaraku!"
Ucapan itu membuat Rey membulatkan matanya. Secepat kilat, tinju milik Akaza sudah berada dihadapan wajahnya.
"Huh?!" Pekik Rey, tak sempat rasanya menghindar.
Brakkkkk
Rey bersama seluruh rekannya terhempas kebelakang. Disana Rey terhempas menabrak sebuah pohon dibelakangnya.
"Ughhhh!" Pekik Rey, darah segar keluar dari dalam mulutnya.
"Rey!!!" Pekik Debora.
Crashhhhhhh
Ketika Debora akan membantunya, Barsh dengan cekatan menghalaunya. Pertarungan antara ke empat rekannya dan Barsh tidak bisa di elakan lagi.
"Kalian atasi anjing sialan ini!" Ujar Harith.
Bersama dengan Axcel disampingnya, Harith menghampiri Rey mencoba membantunya disana. Namun Syena yang tak memiliki tugas menghalau mereka. Dengan sangat terpaksa disini, Axcel dan Harith harus melewati Syena.
Para Musketeers sibuk dengan pertarungan mereka masing-masing. Iblis-iblis laknat ini datang ingin memangsa mereka. Serangan mereka semakin menggila.
"Aku sudah lama menunggumu datang, terlebih saat kau membunuh Generasi pertama kami."
Akaza yang geram mulai memusatkan sesuatu dalam kedua kepalan tangannya. Sihir itu berwarna biru muda, Rey disana menempatkan Baron didepannya, bersiap menerima serangan yang akan Akaza luncurkan.
"Matilah kau, Baron sialan!"
Krekkkkk
Kedua telapak kaki Akaza seakan memijak udara. Iblis itu menyerang dirinya melalui udara, pukulan tangannya sama sekali tak menyentuh kulitnya.
Pukulan itu menghantam udara. Hantaman diudara itu kuat, tangan Akaza seakan ada ribuan menyatu dengan udara yang dipukulnya.
"Hahahaha! Teruslah menangkis tanpa melawan, bodoh!"
Akaza yang merasa menang terus menerus meluncurkan serangan. Rey yang terpojok mulai kewalahan dibuatnya. Pada akhirnya, Rey kalah telak. Tinjuan udara itu berhasil menghantam ulu hatinya.
Buaghhhh
"Arghhhh!!! Uhukkk..."
Pekikan diiringi muntahan darah itu membuat tubuhnya terhempas kebelakang. Baron dalam domain mulai menyalurkan seluruh kekuatannya pada Rey.
Iblis dihadapan mereka ini kuat, tenaga juga kemampuannya luar biasa. Sambil memegang dadanya yang sakit, Rey menatap tajam ke arah Akaza.
"Akan kuberikan kau kematian yang indah, Rey! Ingat baik-baik wajah Verozi, sebelum dia mati karenamu!"
Mendengar itu Rey mengusap darah yang keluar dari dalam mulutnya. Ia tertawa menanggapi apa yang Akaza katakan.
Betapa kejinya Iblis ini membicarakan perihal kematian dihadapannya. Akaza dibuat semakin geram rasanya melihat hal itu.
"Kita akan bertarung dan menang untuk melindungi masa depan. Kau dengan rencana masa depanmu, dan Aku disini, dengan rencana masa depanku! Maka, mari kita bertaruh perihal siapakah pemenangnya disini. Sekalipun kita berdua mati disini, aku tak peduli!" Ucap Rey.
Brshhhhhhhhhhhhh
Jurus sihir lima pedang semesta. Dari dalam domainnya, Rey mengambil lima pedangnya. Tangannya bergerak kedepan. Lima pedang semesta dari balik tubuhnya mulai terhunus tepat ke arah Akaza.
"Rasanya semakin menarik ya, bocah!!!"
Slattttttttt
Keduanya sama-sama meluncur dengan serangan mereka masing-masing. Diantara kedua serangan pamungkas itu, dari dalam domain Rey mendengarkan suara seorang manusia. Suara dari masa lalu yang begitu Rey cintai.
Sosok itu adalah salah satu hal terindah yang pernah Rey miliki. Salah satu motivasi yang selalu Rey rindukan. Membaringkan kepalanya diatas pangkuan Susternya, Suster Agarwa.
"Suster, apa sebenarnya aku ini memang lemah? Seperti apa yang mereka bicarakan padaku?"
""Kau gagal tetapi masih bisa bangkit kembali, itulah menurutku arti kuat yang sebenarnya! Rey, kau memiliki tekad dan keberanian yang luar biasa. Itulah senjata pamungkasmu!"
"Mereka bilang keberadaan ku disini tidak diharapkan! Aku pergi kesana hanya untuk membantu temanku, aku melanggar seluruh aturan dan jam panti. Hanya untuk kalian! Hanya untuk roti gratis yang sedang dibagikan disana. Apa itu hal yang salah, Suster? Aku ingin membawa roti-roti itu kalian semua."
"Kamu tidak perlu menundukkan kepala. Kamu Hanya perlu memiliki hati yang peduli pada orang lain. Tidak semua mimpi dan harapan akan terwujud sesuai dengan keinginan kita. Rey, jika kau rasa tindakanmu itu benar tidak merugikan orang lain. Maka teruslah melangkah!"
Memori tiap kali dirinya dihina, tiap kali perlakuan kejam dunia memperoloknya perlahan melintasi kepalanya. Kehidupan dipanti asuhan keras, hanya susternya saja yang selalu berada disampingnya menguatkannya.
Juga, hanya Syena sajalah yang selalu datang padanya. Menghiburnya, tiap tingkah polos adik kecilnya itu selalu saja membuatnya gemas dan tertawa. Syena dan Suster Agarwa adalah hal terpenting bagi Rey.
Krashhhhhhh
Dentuman kekuatan sihir mereka meledak. Keduanya sama-sama beradu kuat disana. Tinjuan udara milik Akaza, bertemu dengan kekuatan Baron miliknya.
Langit di peraduan itu mengerjap beberapa kali. Kuatnya kekuatan itu adalah sebabnya. Cahaya sihir mereka yang beradu membuat tempat ini bak sebuah lampu disko.
"Matilah, kau Rey!!!" Teriak Akaza semakin menambah kekuatannya.
__ADS_1
"Leburlah kau Iblis sialan!!!"
Kedua belah pihak itu saling berteriak. Melalui sihir mereka mulai berlomba-lomba menjadi dominan. Syena yang masih sibuk dengan Axcel dan Harith, memilih memecah tubuhnya menjadi sepuluh bagian.
"Abonoeraa Atrem Aveluska!"
Syuthhhhh
Sepuluh kloning milik Syena berdiri tepat dihadapan Harith dan Axcel. Menggunakan jurus lima pedang semesta, Harith menghajar lima kloning Syena.
Syena mengarahkan dua kloning miliknya ke arah Rey. Kloning itu datang untuk membantu Akaza. Dalam peraduan itu dari bawah, Syena mulai menyerang Rey.
"Autrom!" Teriak Syena merapalkan sihirnya ke arah Rey.
Crashhhhhh
"Abiogolio!" Rey yang sigap, mendorong kekuatan pedangnya ke arah Akaza, lalu merapal mantra perisai cahaya.
Serangan milik Syena saat itu juga gagal. Akaza terhempas kebelakang, sekalipun tubuhnya babak belur akibat serangan itu. Namun Iblis mampu beregenerasi.
Rey yang gelap mata terbang ke arah Akaza. Pemulihannya memang cepat, namun membutuhkan durasi.
"Akan ku hancurkan kau beserta kegilaanmu ini!"
Rey mengayunkan pedangnya tepat ke arah Akaza. Dari atas langit salah seorang Generasi datang. Dia adalah Trounum, Iblis berwujud laba-laba dengan empat tangan tajamnya.
Jlebbbbbbb
"Uhukk.. Uhukk.."
Tangannya yang tajam itu menusuk tubuh Rey dari belakang. Tusukan itu menembus tubuhnya. Dibawah sana Debora membulatkan matanya. Ia tak percaya apa yang ia lihat saat ini. Diatas sana, Rey dikalahkan.
"Rey!!!" Teriak Debora.
Sontak seluruh rekannya menatap ke atas. Baron putih legendaris dalam ramalan, hari ini gugur didepan mereka. Trounom diatas sana berulang kali menusuk tubuh Rey, jubah putih Rey yang berkibar mulai memerah. Darah segar itu mengucur deras jatuh ke atas tanah.
"Hei, apa-apaan ini! Rey!" Justice mengadah ke atas, menatap tak percaya pada apa yang ia lihat disana.
"Sialan mereka mengepungnya!" Pekik Riley tak terima.
"Tamatlah kita!" Ujar Mikhail, tangannya gemetar kali ini. Pembunuhan yang diterima rekannya sadis sekali.
Bruakkkkkkkk
"Uhukk....uhukkk... arghhh!"
Rey memekik tatkala tubuhnya yang ditusuk berulangkali, lalu di jatuhkan begitu saja di atas tanah. Syena yang melihat itu sedikit iba.
"Sekarang, giliran kalian yang akan merasakan kematian sepertinya!"
Trounum dari atas langit menatap geram ke arah mereka. Ketika dirinya beserta Akaza bersiap menyerang, dari dalam tanah muncul sebuah sulur hitam.
Sulur itu datang mengukung para Musketeers. Ketika Iblis-iblis itu, mendekati sulur hitam itu. Ketika mereka hendak memotongnya, tangan mereka terbakar.
Sulur ini diciptakan dengan mantra pelebur. Akaza, Barsh dan Trounum memilih mundur. Mereka mundur berdiri diantara dahan, didalam sana Syena berada.
Barsh mulai memberikan aba-aba pada Syena untuk menyerang. Namun Syena disana tak bergeming. Debora berjalan tertatih mendekati tubuh Rey yang terbaring tak berdaya disana.
Kukungan sulur hitam ini melindungi mereka. Harith selaku pemilik pedang Cahaya. Merasakan aura yang familiar dari dalam sulur ini, namun entah mengapa ia sama sekali tak mampu mengingatnya.
Rey yang terengah-engah sambil menahan seluruh luka dari dalam tubuhnya melirik kecil ke arah Debora yang tertatih.
Barsh yang tau ada yang aneh pada Syena saat ini. Memerintahkan kedua rekan Iblisnya untuk menyerang sulur hitam ini.
Dari atas dahan, ketiganya menyatukan sihir mereka. Ketika mantra mereka disatu padukan, aliran sihir luar biasa terbentuk disana.
Untuk pertama kalinya, Syena membuka salah satu matanya yang tertutup. Pola yang ada dalam matanya bersinar.
Darrrrrr
Terbukanya mata kiri Syena, bersamaan dengan luncuran kekuatan ketiga Iblis disana. Syena menghadang serangan mereka. Saat itu juga ketika Debora akan menyentuh Rey, disana Rey berucap padanya.
Sebelum sulur cahaya itu melilit tubuhnya, sesuatu bercahaya dengan lubang ditengahnya menariknya. Bersama dengan ledakan itu. Rey berucap pada Debora, ia mengatakan.
"Jaga Syena!"
Itu adalah kalimat terakhir yang Debora dengar dari Rey. Bersamaan dengan ledakan besar itu, sekejap seluruh Musketeers, beserta dengan Syena berada tepat diluar Silver Alaska.
Mereka terlempar begitu saja keluar dari dalam benteng Silver Alaska. Debora yang masih syok disana, begitupun dengan yang lain menatap lekat ke arah Syena. Gadis itu tersungkur tak sadarkan diri disana.
Debora mengadah ke atas, menatap ke arah langit Silver Alaska. Ledakan itu besar, akan sangat kecil kemungkinan Rey selamat disana. Debora meringkuk saat ini, ia menangis disana.
Riley mendekati Debora disana, ia menyentuh punggungnya. Mereka semua kehilangan harapan rasanya, begitupun dengan Harith yang masih terpaku menatap lekat benteng tinggi Silver Alaska.
Dengan sangat berat hati, mereka kembali pergi ke arah Rensuar. Membawa duka dalam hati mereka. Mikhail membawa Syena bersamanya, atas pesan yang Debora sampaikan sebelum ledakan Rey mengatakan padanya, untuk menjaga Syena dengan baik.
...Jika berkata selamat tinggal membuatmu sedih, maka aku akan tinggal di sisimu...
...Kegagalan seorang pria yang paling sulit yaitu ketika dia gagal untuk menghentikan air mata seorang wanita...
__ADS_1
_______