
...Alasan mengapa sangat menyakitkan untuk berpisah ...
...Adalah karena jiwa kita terhubung...
________
Justice mendengarkan seluruh keluhan hati Rey mengenai masa lalunya. Mereka saat ini telah sampai di Land White, bersandar dibawah pohon besar sembari menikmati rusa-rusa putih dari cahaya yang berlalu lalang, kadang seekor rusa cahaya itu mendekati mereka, rasanya berada disini sangat menenangkan. Teduh, sama sekali tak bising, suara-suara alam seakan menjadi nyanyian merdu bagi tiap jiwa yang berkunjung.
"Jadi kau dipelihara oleh Suster itu sampai sebesar ini Rey?"
Ujar Justice, Rey menatap kesal ke arah Justice. Bahasa apa itu, dipelihara, dia pikir Rey ini apa. Menyebalkan sekali manusia dihadapannya ini sungguh, gemas sekali rasanya ingin mencekik.
"Kau, bahasamu bisa tidak lebih halus lagi?"
Protes Rey padanya, Justice tertawa mendengar itu gema suaranya menggelegar.
"Jus, kenapa kencang sekali bahak tawamu itu?"
Protes Rey lagi padanya, kali ini Justice diam sambil menatapnya.
"Dasar, kucing putih!"
Ledek Justice padanya, Rey terkejut mendengar panggilan itu ditujukan padanya. Biasanya panggilan itu diberikan oleh Rey, pada Noella dan Debora.
"Kucing? Kau tak nampakkah aku tak berekor?"
Protes Rey lagi padanya, Justice tersenyum mendengar itu. Melihat Rey kembali tertawa rasanya sudah cukup baginya, sosok dihadapannya ini sangat ia segani, ia adalah sosok yang Justice anggap rival.
"Rey, apa kau pernah berfikir sesuatu mengenai takdir?"
Mendengar pertanyaan itu Rey diam, menatap serius ke arah Justice.
"Ada apa dengan takdir?"
Tanya Rey padanya, Justice mengangguk lalu kembali mempertemukan netranya dengan Rey.
"Kita lahir dalam satu hari. Kita mati dalam satu hari. Kita bisa berubah dalam satu hari. Dan kita bisa jatuh cinta dalam satu hari. Apa pun bisa terjadi hanya dalam satu hari. Rey, tiap waktu yang kita lewati untuk bernafas dan menempuh, sudahkah kita bersyukur untuk itu semua?"
Pertanyaan yang sungguh luar biasa, namun apa kaitannya dengan dirinya saat ini. Rey memaksa logikanya untuk paham, mengenai kalimat tanya yang ditujukan padanya itu. Disana Rey mulai memahami sesuatu, satu hal yang membuatnya kagum.
"Takdir memiliki dua cara untuk menghancurkan kita, dengan menolak keinginan kita dan dengan memenuhinya. Kamu bisa menjadi hebat hanya jika itu adalah takdirmu. Aku paham seluruh kalimat yang kau katakan, petuah itu, terlontar untukku agar manusia yang dililit kesedihan ini kembali mekar dan bahagia bukan?"
Ujar Rey, Justice tertawa benar sekali apa yang Rey cerna saat ini. Melihat orang yang ia anggap keluarga terpuruk, adalah kelemahan terbesar seorang Justice.
"Aku selalu bersyukur atas apa yang menimpaku, sekalipun pahit, perih itu yang datang. Dunia tidak selamanya manis, roda waktu berputar, jika kau hancur maka bangkitlah! Masalah tidak akan menghancurkanmu sampai mati, Tuhan paham batasanmu. Penguasa dari segala nasib, sebagai bidak, kita harus terus berjalan. Misi kita masih panjang!"
Bola mata sebiru safir itu menatap ke arah langit, begitupun dengan Justice. Benar, misi mereka masih panjang, waktu mereka untuk berlatih lalu menjadi unggul juga sangat panjang. Merenung memang bagian dari nasib, namun, merenunginya berkala dan panjang adalah benalu paling buruk dalam kehidupan.
Ditengah keheningan itu Rey dari balik tubuhnya yang bersandar merasakan sesuatu. Rey menengok ke arah Justice yang masih mematri langit, tenang sekali manusia ini.
"Jus, kau tak merasakan sesuatu?"
"Hah?"
"Jus, sungguh!"
"Ya, aku merasakan ketenangan batin setelah bertukar pikiran. Damai sekali!"
Ujar Justice, Rey menaikkan alisnya untuk sekedar menoleh kebelakang Rey sama sekali tak memiliki nyali. Dirinya yang kemari saat itu, adalah dirinya yang terpuruk mengingat kembali kenangan Syena dimasa lalu. Bagi Rey, ketika kenangan itu datang merengkuhnya dunia rasanya gelap, hanya ada hampa yang menyertainya. Tempat manapun yang ditujunya, bahkan sama sekali tak dipedulikan sekalipun tempat itu menyeramkan. Datangnya Rey ke satu tempat ketika terpuruk, dituntun oleh perasaanya.
Grekkkkkkkkk
Keduanya membulatkan mata tatkala mendengar bunyi dari balik tubuh mereka.
"Apa itu?"
Tanya mereka serentak saling menatap satu sama lain.
"Apakah itu setan Asia Rey?"
Lirih Justice, Rey memberi aba-aba padanya melalui jarinya menghitung mundur lalu menunjuk kebelakang. Seakan aba-aba itu tersirat, dalam hitungan ketika mari putar kepalamu kebelakang cari tau siapa itu dan apa. Hitungan ketika dari jarinya, serentak mereka memutar netranya melihat, ulah siapakah suara itu.
Weshhhhhh
"Uwahhhhhhhhhh, sialan!!! Wajah apa itu, besar sekali!"
Rey berteriak mundur, bersama dengan itu Justice pun mengikutinya. Dari dalam pohon itu muncul wajah yang sangat besar, bagaimana mereka tak terkejut melihat datangnya wajah itu, menerpa tepat dihadapan netra mereka, tatkala mereka menatapnya.
__ADS_1
"Huhuhuuu... kau mengganggu ketenangan ku anak muda?"
Ujar wajah itu, itu adalah Dumbo pohon penyimpan, juga pemberi buku abjad sihir beserta pedang Pembinasa pada calon-calon ksatria. Sebelum masuk Rensuar, para calon ksatria sihir akan datang kembari membawa abjad sihir yang cocok untuk mereka, tak lupa Dumbo juga memberi sebuah pedang Pembinasa.
Rey melotot mendengar apa yang Dumbo katakan, ia hendak berprotes namun Justice menahannya. Sambil tersenyum Justice mengatupkan tangannya, memberi hormat pada Dumbo. Disampingnya Rey menatap heran pada Rekannya ini, ada apa lagi sekarang, drama semacam apa lagi yang disuguhkan Justice saat ini.
"Dumbo yang terhormat, maafkan kelancangan Rey, Baron Putih ini telah mengganggumu ya."
Dumbo membuka matanya yang sayu ketika mendengar nama Baron Putih disebut.
"Baron?"
Tanya Dumbo tak percaya, mata besarnya itu seketika menatap Rey. Rey terkejut menerima tatapan mata sebesar itu ke arahnya, hatinya kalut, ia takut sekarang, apakah pohon sakral ini lapar? Apakah tatapan itu mengartikan bahwa ia sangat menginginkan Rey sebagai santapan.
"Iya, itu Baron Cahaya Legendaris milik Kaisar Putih!"
Ujar Justice lagi, Rey geram sekali rasanya. Terbesit pikiran ingin menendang Justice ke arah pohon itu, Rey juga memikirkan hasilnya jika Justice dilahap tepat saat itu.
"Ma..maafkan aku Baron! Ada kepentingan apa Anda kemari?"
Suara dari pohon itu terbata-bata, tersirat bahwa pohon itu sangat menghormati Baron Putih.
"Kami datang untuk bertamu, menghabiskan malam kami kemari."
Jelas Justice, disana ranting-ranting Dumbo mulai menyihir sesuatu tepat dibelakang Rey.
Wushhhh
Clinggggg
Hembusan angin menerpa tepat ke arah mereka, bersamaan dengan itu sebuah cahaya putih membentuk rumah dibelakang Rey. Rey dan Justice berbalik, mereka kagum melihat sebuah rumah kayu sederhana namun indah itu.
"Baron, kau bisa beristirahat didalam sana jika kau ingin."
Tawaran itu membuat senyum mereka merekah seketika. Ucapan terima kasih tak henti-hentinya keduanya ucapkan. Mereka tak ambil pusing, masuk kedalam memutuskan untuk terlelap. Melawan Barsh dan Syena, cukup menguras mana mereka. Jika sepetang ini mereka menuntut memaksa kakinya melangkah pulang, maka percuma, itu malah semakin melelahkan.
"Rey, kau jangan sia-siakan botol ramuan yang kita ambil itu."
Justice kembali mengingatkan pada Rey, perihal ramuan yang mereka curi untuk kepentingan lomba itu.
"Ah iya, kau tenang saja! Jam lima kan?"
Tanya Rey, Justice mengangguk setelah kesepakatan itu mereka pun terlelap. Menjadi seorang pemegang Baron Putih, memiliki keuntungan sendiri rupanya. Apakah dengan gelar ini seluruh wilayah Rensuar akan menghormatinya, atau menurutinya. Pikiran-pikiran nakal itu terbesit dalam kepala Rey, sambil tersenyum ia menggelengkan kepalanya, lalu menutup matanya.
_________
Rey menggunakan membuka telapak tangannya, dari domain Rey mengambil sebuah jam tangan namun tak memakainya. Rey melirik tepat jarum jam itu, ini masih pukul empat pagi beberapa jam lagi matahari yang perkasa itu akan terbit. Rey mengembalikan kembali jam itu, sambil menatap Justice yang masih terlelap Rey menggunakan satu sihir hologram seperti yang Harith gunakan kemarin, saat mereka akan menaiki kencana.
Selesai dengan hal itu, Rey pun menyatukan sihirnya membentuk sebuah kristal cahaya berwarna emas, berbentuk kerucut, benda itu melayang dan Rey yakin Justice pasti tau itu apa. Rey mengambil jubahnya, memakainya lalu beranjak pergi dari Land White.
Setengah jam setelah kepergian Rey, Justice membuka matanya namun tak menemukan Rey disana, namun ada sebuah surat Mantra untuknya, dimana mantra itu bertuliskan pesan bahwa dia pergi ketempat Rensuar untuk menjenguk Debora. Rey juga mengatakan jam enam pagi nanti dia akan menunggunya di tempat pendaftaran lomba. Menerima penjelasan itu lega rasanya, rencana mereka sebagai peserta lomba tahun ini harus berhasil.
Kita kembali pada Rey yang duduk tepat disamping ranjang milik Debora. Rey memperhatikan gadis itu, disana sama sekali tak ada yang menjaga Debora.
"Padahal kau kemarin adalah manusia yang egois, tapi lihatlah! Perubahan itu secepat ini ya, aku senang melihat dirimu yang sekarang. Tapi, aku juga membencimu jika kau korbankan dirimu untukku, Debora."
Lirih Rey, seulas senyum itu terpatri dalam wajahnya. Rey sedikit mengingat kecil pertemuan antara dirinya dan Debora, lucu rasanya. Dua orang pemilik Surai putih ini, bertemu tepat didepan toilet. Namun senyuman Rey memudar seketika, ada sesuatu ketika dirinya hilang kendali saat itu. Sesuatu yang menawarkan hal baik untuknya, sesuatu yang memberi resiko tinggi untuk harapan dunia.
"Emmhhhh..."
Lenguhan dari bibir Debora membuat Rey tersadar dari lamunannya, netranya kembali menatap gadis itu. Disana terlihat Debora, mulai membuka matanya. Kelopak mata itu mengerjap mencoba mengumpulkan kesadarannya yang belum sepenuhnya pulih, Rey terdiam namun masih memperhatikan itu. Ketika mata mereka bertemu Rey tersenyum.
"Hai!"
Sapa Rey, Debora hanya mengangguk mendengar itu. Ia mencoba duduk, Rey disampingnya ikut membantu Debora duduk.
"Rey, apa kau baik-baik saja?"
Debora bertanya sembari mengucek matanya, Rey tak menjawab ia hanya mengangguk. Rey membuka telapak tangannya mengeluarkan sebuah bunga dari sana, bunga mawar merah.
Clingggggg
Debora membulatkan matanya ketika Rey menggenggam bunga itu. Rey memberikan bunga itu untuknya, Debora bertanya-tanya untuk apakah bunga mawar ini diberikan padanya.
"Ini untuk apa?"
Tanya Debora, Rey tersenyum masih mengulurkan bunganya pada Debora. Debora menghela nafas, tak lama ia menerimanya. Rey bangkit dari duduknya, sebentar lagi pukul lima, Justice pasti sudah menunggunya di ruang pendaftaran.
Greppp
__ADS_1
Debora menahan pergelangan tangan Rey, merasakan itu Rey berbalik menatapnya seakan bertanya ada apa, mengapa kau menahanku.
"Kau akan kemana?"
Tanya Debora, Rey melepaskan cengkraman tangan itu dari tangannya lalu tersenyum.
"Aku akan pergi ke ruang pendaftaran!"
Ujar Rey, Debora menghela nafasnya mendengar itu. Lagi dan lagi ambisi besar itu menguasai Rey saat ini, Debora sangat tidak yakin Rey akan lolos pendaftaran. Bagaimana api pendaftaran bisa berkedip dan bersuara, jika pendaftarnya adalah Musketeers tingkat satu.
"Kenapa?"
Tanya Rey ketika melihat Debora menghela nafas. Mendengar itu Debora tersenyum lalu menggeleng, rasanya tidak akan ada habisnya berdebat dengan Rey disini. Mungkin membiarkan Rey mencoba saat ini, itu adalah tindakan yang benar.
"Baiklah, semoga berhasil Rey!"
Yakin pada dirinya sendiri, Rey dengan cepat mengangguk pergi dari sana.
"Senang rasanya melihatmu kembali, Rey!"
Debora mengucapkan rasa syukur itu dari dalam hatinya, netra miliknya menatap punggung Rey yang mulai menjauh hilang dari jangkauannya.
__________
Disinilah Rey sekarang bersama dengan Justice, berdiri tepat dihadapan tiang, dengan cawan melayang memangku satu api emas.
"Wah, akhirnya!"
Ujar Justice sumringah, binar mata Rey tak henti-hentinya kagum saat ini. Ambisinya menjadi peserta lomba ini, sangatlah besar.
Keduanya sudah memegang botol ramuan mereka masing-masing.
"Ready Rey?" Ujar Justice.
"Ready Jus!"
Jawaban penuh ambisi itu mengiringi kemari mereka membuka tutup botol ramuan itu.
Ceshhhhhhhhh
Asap dari ramuan itu menguar, mereka menahan nafasnya sejenak. Lalu secara bersamaan, mereka meneguk habis ramuan itu.
"Hoekkkk!"
Mual rasanya, namun mereka berusaha menahannya. Efek mual itu beberapa detik menghilang, disana Rey dan Justice saling menatap lalu meletakkan tangan mereka tepat diatas api bercahaya emas itu.
Wushhhhhh
Api itu berkobar, membesar, namun beberapa detik kemudian menciut.
"Yeahhhh!" Sorak mereka berdua melakukan ritual tos.
"Wahahaha, diterimalah kita! Sudah kubilang bulan, kita pasti bisa!"
Ujar Justice bahagia, Rey sembari tersenyum mengangguk. Sekalipun pendaftaran mereka dilakukan dengan cara curang, namun mereka tetap bangga.
"Hari ini jam tiga sore bukan acaranya?"
Tanya Rey padanya, Justice mengangguk lalu berucap.
Buaghhhhhhhhh
Sebelum Justice berucap, sebuah kekuatan dari depan tak kasat oleh mata, mendorongnya, menjauh dari cawan api emas itu. Rey terkejut melihat itu, hanya dirinya saja yang tak terpental disini. Dari jauh, Justice memekik sembari memandangi Rey yang masih berdiri bertahan disana, mengapa hanya dirinya saja yang tak terpental.
"Sihir, sepertinya takut pada Baron!"
Ujar Rey pada Justice yang berada tak jauh dari tempatnya. Justice mendengus kesal mendengar itu, sangat membanggakan diri sekali manusia itu.
...Berusahalah untuk tidak menjadi manusia yang berhasil...
...Tapi berusahalah menjadi manusia yang berguna....
________
Ensiklopedia :
Apa itu Milky way?
Pada malam hari saat langit bersih tanpa paparan polusi udara dan cahaya, tak jarang Anda akan menemui gugusan bintang yang terhampar di langit. Gugusan bintang itu disebut sebagai Milky Way atau Bima Sakti,merupakan galaksi tempat Bumi yang dihuni manusia berada.
__ADS_1