
...Satu-satunya penjara nyata adalah ketakutan...
...Dan satu-satunya kebebasan nyata adalah kebebasan dari rasa takut...
Ajang perlombaan terakhir sudah dimulai. Debora juga beberapa rekannya berlari terbirit-birit masuk kedalam lapangan terbang. Mereka baru saja menyelesaikan beberapa misi didalam Rensuar.
Itulah mengapa ketika Syena masuk kedalam Land White, hanya Aum saja yang menemaninya. Apabila saat itu Debora dan rekannya tidak sibuk, pastilah mereka juga ikut menemani Syena masuk kedalam Land White.
"Ini sudah dimulai sepuluh menit lalu!" Pekik Mikhail. Mereka duduk tepat di podium paling atas.
Adu mekanik antar Musketeers terjadi disana. Rupanya hanya tinggal lima Musketeers yang belum bertarung.
"Syena belum dapat giliran?" Tanya Riley sambil memakan camilannya.
"Sepertinya belum!" Jawab Debora.
Mereka kembali menatap ke arah portal yang menunjukkan pertarungan itu. Elvas terlihat menjadi juara bertahan disana.
"Bedebah gila itu benar-benar akan berada di bagian akhir juga!" Ucap Justice menatap benci ke arah portal.
Terlihat disana Elvas tetap menjadi seorang juara bertahan. Beberapa Musketeers mulai mencibirnya di Podium. Mereka akui Elvas memang hebat dalam adu mekanik, hanya saja manusia penuh talenta kuat tanpa ada hati untuk apa. Lebih baik dia ditakdirkan menjadi iblis daripada manusia.
"Menyiksa sesama seakan adalah gema paling indah untuknya!" Salah seorang Musketeers yang duduk tepat di hadapan mereka mulai mencibir.
Akibatnya hal itu membuat Debora tersenyum puas. Kekuatannya di akui, tetapi keberadaannya sama sekali tidak diharga.
"Bahkan sekuat apapun dia, dunia tidak akan pernah mendukungnya." Lirih Debora sambil menatap ke arah portal.
Rey yang berada tepat diseberang mereka sejak tadi memperhatikan. Rekannya duduk manis disana sambil memperhatikan portal, bersiap menyaksikan Syena bertanding.
Duarrrrrrrr
Duarrrrrrr
"Akhhhhhhh!!!"
Suara teriakan dari arah gerbang masuk Rensuar seketika membuat para Musketeers disana berdiri. Terjadi ledakan beberapa kali sebelumnya lalu disusul suara teriakan pahit, pertanda bahwa sesuatu telah dimusnahkan.
"Ada apa ini Kaisar?" Tanya Axcel pada Harith disampingnya.
Sejenak Harith mulai memejamkan matanya mencoba melihat ada apa disana mengapa ada ledakan berkali-kali.
Netranya yang terhubung dengan Noella di Kastil Putih seketika dibuat tercengang. Serangan dari Silver Alaska, ini keterlaluan sungguh. Harith membuka kembali netranya lalu terbang ke atas langit.
"Para Musketeers ku yang pemberani, Rensuar telah diserang! Rombongan Iblis seratus juta jiwa datang mengepung kita dari berbagai sisi. Benteng uta kita sudah di jebol! Kuperintahkan, Para pemegang sihir pertahanan berkumpul di belakang para petarung. Buat benteng kalian, satukan kekuatan. Pemegang abjad Sihir E, kuperintahkan kalian menaiki para Khufra. Evakuasi warga secepatnya! Petarungku ahli serangan jarak jauh, naiki Khufra kalian lindungi para pemilik sihir Abjad E yang sedang mengevakuasi. Bawa mereka kembali kebawah tanah untuk berlindung!"
Penjelasan dari Harith seketika membuat seluruh Musketeers di lapangan berdiri. Mereka berhamburan pergi menjalankan tugas sesuai apa yang di perintahkan.
"Sial! Aku akan memanggil tubuh intiku!" Ucap Rey.
"Arlert, aku takut jika ini hanya pengecoh!" Ujar Axcel disampingnya.
"Syena! Dia masih ada didalam sana!" Ujar Rey yang baru sadar adiknya masih ada didalam Garena sakral itu.
Baik Axcel dan Harith keduanya saling menatap satu sama lain. Harith turun menghampiri Axcel disana, ketika tubuh kedua leonin itu sejajar merekapun mulai menyatukan telapak tangan mereka.
"Garena kami mohon untuk melepas mereka!"
Lirihan harapan dari kedua leonin itu seketika membuat Garena yang tadinya mengukung tanpa ada jalan keluar, sekejap terbuka. Rey menatap Axcel sekilas, lalu mengangguk.
"Sudah waktunya, Baron Putih Legendaris bersama Rey Arlert bertempur disini. Penguasaan ketiga pedang itu, jangan buat sia-sia Rey!" Ucap Axcel padanya.
"Tidak akan, Rey Arlert akan datang kemari!"
Syuthhhhh
Jawaban terakhir membuat kloning milik Rey menghilang. Bersamaan dengan itu tubuh intinya didalam jurang curam mulai membuka kedua matanya.
Clashhhhh
__ADS_1
Kepakan sayap Dandelion mengiringinya berdiri. Sambil menatap ke atas, Rey memunculkan Baron Hitam dan Putih dalam kedua tangannya. Tak lupa, Eldin Ring yang ia kenakan di jari manisnya.
"Sudah cukup kita mendekam didalam neraka ini! Rensuar membutuhkanku!" Ucap Rey Arlert.
"Tentu saja, mari kita bertempur!" Suara Baron Hitam disana menanggapinya penuh semangat.
"Kami datang sebagai legenda!!!" Baron Putih juga ikut bersemangat disana.
"Dandelion!"
Wushhhhhhhhh
Panggilan untuk sisi lain Baron seketika membawa tubuhnya melesat ke atas. Rey dengan kepakan sayapnya terbang dari dalam Silver Alaska ke arah Rensuar.
Lajunya sebanding dengan kilatan petir. Siapapun yang menyaksikannya niscaya mereka akan tercengang. Sulit membedakan antara manusia atau kilatan petir kah yang baru saja melesat itu.
Beberapa Iblis dari dalam Silver Alaska melihat itu. Cahaya super cepat melesat di atas angkasa. Barsh dari atas benteng juga melihatnya, namun ia sama sekali tak berasumsi bahwa kilatan cahaya itu adalah Rey.
Asumsinya hanya mengatakan bahwa itu adalah sesuatu yang berbahaya yang akan Tayuya dan Zekha hadapi disana. Perintah Tuannya memerintahkan bahwa kecuali Zekha dan Tayuya, para iblis tanpa perintah dilarang meninggalkan Silver Alaska.
Terlihat para Musketeers sedang sibuk dengan posisi mereka masing-masing. Pemegang sihir pertahanan berada tepat dibelakang para petarung. Berkali-kali bebatuan besar menimpa ke arah mereka. Itu bukan batu-batu biasa, baru diliputi sihir.
"Hahahaha... Larilah seperti seekor lalat!!!" Zekha berdiri tepat di atas piringan hitam di angkasa.
Berulang kali dengan kekuatannya ia melempari para Musketeers dengan banyak bebatuan besar. Rombongan manusia berusaha menyelamatkan diri sesuai arahan dari para pemegang abjad sihir E.
Riley memimpin pemagang abjad sihir B di atas khufranya. Mereka yang identik dengan panahnya mulai membidik satu persatu setan terbang yang mengganggu evakuasi.
"Ini terlalu banyak!!!" Ucap Debora disamping Riley. Ia baru saja menghampiri Riley setelah proses evakuasi bawah tanah.
"Benar Debora, Iblis-iblis gila ini benar-benar akan membunuh kita jika seperti ini!" Ucap Riley.
Anak-anak panah berhamburan di angkasa melesat masuk menembus tubuh Iblis-iblis yang terbang. Rensuar hancur rasanya, bebatuan-bebatuan besar mulai berhasil menembus pertahanan.
"Sialan mereka!!!" Justice disamping Mikhail mulai mengepalkan tangannya. Teriakan para manusia yang gugur saat itu membuatnya semakin geram.
"Kakak!!!"
Teriakan dari seseorang dibelakang tubuhnya membuat Debora menoleh. Rupanya itu Syena dengan Khufra nya.
"Huh!" Syena tertegun melihat pemandangan kehancuran yang menyeramkan ini.
Bahkan istana putih milik Harith runtuh hanya dam hitungan detik.
"Laknat sekali mereka ini!!!" Pekik Syena.
Syena menggerakan kedua tangannya mengarahkannya ke atas.
"Allkey!" Ucapnya, ribuan batu kerikil muncul tepat di atasnya. Batu-batu itu berhenti disana.
"Autrom!" Ucapnya lagi, petir-petir miliknya masuk kedalam baru itu. Batu petir ini akan menyambar siapa saja yang mengenainya.
Berulang kali Syena mengulangi mantranya hingga terbentuk jutaan kerikil saat ini. Dari dalam lubang hidungnya mulai mengeluarkan darah.
"Syen hentikan!" Debora menghampiri Syena dengan Khufranya.
"Tidak kakak!" Ucap Syena mantap, hal itu membuat Debora dan Riley saling menatap.
Sihir ini kekuatannya besar sekali.
"Menjauhlah dari Medan tempur! Prioritaskan manusia tanpa sihir. Aku petarung, aku akan berada disana bersama mereka." Ucap Syena.
Mereka kembali diingatkan saat itu. Semangat yang Syena ucapkan sama seperti Rey.
Dalam kondisi sekacau ini mereka tidak bisa melibatkan hati. Sebab perintah adalah prioritas utama. Melindungi yang lemah adalah prioritas utama, dalam situasi ini mereka hanya perlu percaya satu sama lain.
Riley dan Debora kembali melanjutkan tugasnya. Syena mengarahkan Khufranya menuju ke arah garda depan, ia terbang diiringi dengan jutaan kerikil listrik di atasnya. Para petarung dibawahnya tercengang melihat itu, begitu pula Mikhail dan Justice.
__ADS_1
"Syena!!!" Ucap Keduanya tak percaya.
Crashhhh
"Fokus Mikha!!! Atau kau akan lenyap!!!" Justice berteriak sembari melawan para Iblis yang masuk. Ia berteriak ke arah Mikhail yang sempat teralih pandangannya.
Dengan gagah berani Syena berdiri tepat dihadapan para petarung tepatnya di atas mereka. Syena berdiri di atas Khufranya.
Terlihat Zekha dan Tayuya berseringai melihat kehadirannya. Di belakang mereka masih ada tiga ribu iblis. Sedangkan dua ribu iblis lain sudah masuk dalam Rensuar.
"Pengkhianat!" Ucap Tayuya berseringai ke arah Syena.
"Kau memilih kaum sampah seperti mereka! Padahal kami sudah baik merawatmu, Pengkhianat!" Tambah Zekha.
"Kalian menyiksaku, bukan merawatku!" Ucap Syena.
"Ameera Amoerra Abyas!" Teriak Syena.
"Huh!!!" Pekik kedua iblis disana.
Bebatuan dengan sihir listrik itu seketika kembali ke arah mereka. Bukan hanya sihir Syena saja yang menyerangnya namun bebatuan yang mereka lemparkan seketika kembali ke arah mereka.
Bebatuan itu berusaha menghindari para Musketeers dibawah sana, namun melesat cepat menyerang ke arah yang Syena inginkan.
Clashhhhhhhh
Drttttttttttttttt
Dua ribu iblis rendahan musnah seketika. Zekha dan Tayuya membuat mantra perlindungan secepatnya, mereka menyaksikan bagaimana para Iblis rendahan lebur akibat sihir Syena.
"Sialan kau!" Pekik Tayuya dan Zekha bersamaan.
Crashhhhhh
Kedua Iblis itu melesat ketika serangan Syena meredam. Syena yang terengah-engah itu terkejut, mendapati seorang pemuda berjubah putih dengan sayap dibelakang tubuhnya.
Inilah Rey Arlert, ia selalu menepati janjinya. Janji dimana dirinya tidak akan pernah membiarkan adiknya terluka lagi.
"Lawanmu adalah aku disini!" Ucap Rey ketika serangan mereka bertemu satu sama lain.
Kedua netra mereka bertemu sebentar tak lama kedua Iblis itu mundur. Jubah putih, rambut putih itu juga aliran sihir ini mereka berdua sangat mengenalinya. Wajah tercengang mereka semakin membuat Rey berseringai rasanya.
"Hahahaha... ada apa hah? Kalian terkejut?" Tanya Rey sembari menggaruk belakang kepalanya.
"Syena, kembalilah dan bantu para Musketeers mengevakuasi manusia tanpa sihir. Lindungi mereka, dan biarkan aku bertarung disini!" Ucap Rey pada Syena di belakangnya. Ia sama sekali tak menatap adiknya.
Syena menuruti apa yang Rey katakan. Aliran sihir milik Rey sama seperti miliknya. Pemuda bersayap ini, bukan seorang manusia lagi. Tapi dia, sudah menyandang gelar guardian saat ini.
Clashhhhh
Baik Harith dan Axcel mereka muncul tepat disamping Rey. Harith berada disamping kanan Rey, sedangkan Axcel disamping kirinya.
"Pergilah anak muda, utamakan manusia tanpa sihir! Selamatkan mereka!" Perintah kedua berasal dari Kaisar putih sekejap membuat Syena bergerak.
Gadis itu terbang bersama Khufra nya kembali ke arah para Musketeers. Pertahanan benteng mundur sesuai perintah Kaisar. Para manusia dibawah masuk ke dalam bawah tanah.
"Lihatlah betapa kerennya adikku menyelesaikan Iblis rendahan dengan satu kali serangan!" Puji Rey ia sedikit meregangkan ototnya.
"Kalian akan mati di tangan kami!" Ucap Zekha san Tayuya bersamaan.
"Aku muak mendengar itu, sekarang mari kita selesaikan!" Rey menatap tajam ke arah kedua Iblis itu.
Tangan kirinya terangkat ke arah langit. Bola panas seketika tercipta disana. Kekuatan itu sejenak membuat Harith dan Axcel tercengang. Namun keduanya kembali tersenyum, secepat ini Rey menguasai sihir murni.
...Dalam arti yang sebenarnya, kebebasan tidak bisa diberikan, itu harus dicapai...
__ADS_1