
"Riley!" ucap Debora ketika Riley sudah membukakan pintu rumahnya.
"Debora, kau di sini?" tanya Riley padanya.
Namun Debora tidak menjawabnya dia langsung berhambur memeluk Riley.
"Rey di mana? Apakah kau tau dia di mana? Semalam kami bersama dan pagi tadi masih ada. Ketika aku keluar dari dalam kamar mandi dia sudah tidak ada," ucap Debora hampir saja menangis.
Justice yang baru saja datang dari arah belakang pun terdiam. Ia menatap Debora yang sedang memeluk Riley di sana.
"Tenanglah! Kau bisa ceritakan ini dengan pelan-pelan di dalam. Aku dan Justice akan menjamumu!" ucap Riley.
Debora mengangguk ia pun melepaskan pelukannya. Riley menuntun Debora untuk masuk ke dalam. Mereka berada di ruang teh. Ruang di mana Riley dan Justice duduk tadi.
Di sana ada pohon sakura. Riley membawa benih dari tempat asalnya untuk ditanam di sini. Beruntungnya Sakura itu tumbuh begitu indah di halaman belakang rumahnya.
Justice sedang sibuk berada di dapur. Riley menyuruhnya membuat teh. Kedua gadis itu saat ini sedang berbincang di sana. Justice tidak terlalu ingin mendengar pembicaraan mereka.
"Apa perlu dibantu?" tanya Rey yang membuka sedikit pintu gudang.
"Tidak perlu! Aku sudah biasa membuatnya sendiri!" jawab Justice kedua tangannya tetap sibuk menyeduh teh.
Rey menghirup aroma teh itu. Wangi sekali, baunya. Rey yakin teh itu bukan berasal dari Negara Barat.
"Rupanya bukan hanya pohon Sakura dan budayanya saja yang dibawa kemari ya?" tanya Rey pada Justice yang sibuk.
Sambil menuang hasil seduhannya ke dalam cangkir. Justice menoleh ke arah Rey.
"Apa maksudnya?" tanya Justice padanya.
"Ya," Rey mengangguk.
"Bahkan seluruh makanan minuman dari Jepang pun juga dibawa kemari!" tambah Rey lagi.
Justice tersenyum mendengar itu. Benar, bahkan Riley sering memesan beberapa produk Jepang agar bisa ia nikmati di sini. Gadis itu mencintai negaranya. Tetapi dia akan tetap di sini bersama Justice dan kedua anak mereka sekarang.
Seduhan teh sudah selesai. Justice pun segera membawanya pada Riley. Ketika tiba di sana, Riley memberi isyarat pada Justice untuk duduk di sampingnya.
__ADS_1
Melihat itu Justice pun segera duduk di samping Riley. Justice meletakkan dua cangkir teh hangat di atas meja mereka. Kemudian ia di sana terpaksa mendengar seluruh keluh kesah Debora.
"Mungkin saja, apa yang dikatakan oleh Noella benar!" ucap Justice menimpali seluruh cerita yang sudah Debora katakan.
"Kenapa secepat itu? Padahal semalam kami masih bersama! Kenapa tidak ada pertanda apapun sebelum itu terjadi?" ujar Debora kali ini ia menangis.
"Kita sudah tidak memiliki ilmu sihir lagi, Debora! Kita bahkan tidak bisa berbicara pada Noella dan Harith untuk meminta penjelasan. Tetapi, mungkin jika kita datangi lokasi akhir di mana kau menguburkan benda kesayangan Rey. Mungkin jawaban akan bisa kita temukan di sana!" ujar Riley memberi nasihat.
Debora hampir melupakan itu. Tempat terakhir di mana dia mengubur jubah putih milik Rey. Rey memang gugur saat itu di wilayah Timur. Tetapi Debora membawa jubah putih agung itu ikut bersamanya untuk pulang.
Debora yang hancur saat itu berjalan ke arah satu tempat yang cukup mempesona indranya. Sebuah tebing dengan satu pohon di atasnya. Sebuah tebing yang langsung berhadapan tepat dengan laut.
Tepat di bawah pohon itu seluruh rekan perjuangannya mengantarnya. Mengubur satu-satunya benda terakhir Rey. Jubah Asrama Rensuar.
Saat itu Debora bertemu Rey ketika dia dan Elvas usai mendatangi tempat itu. Lalu mereka berdua menatap ke arah Laut. Ketika Debora pulang, satu keajaiban terjadi. Rey Arlert berdiri di hadapannya ketika dia pulang menyambutnya dengan ingatan kosong.
Mengingat itu, Debora pun menatap Riley. Benar, itu adalah usulan yang tepat baginya. Debora mengangguk mantap setelah mendengar itu.
"Riley kau benar! Mungkin saja setelah aku mendatangi tempat itu. Aku akan menemukan jawabannya!" ujar Debora.
Riley mengangguk sambil tersenyum. Inilah rencana mereka saat ini. Membawa Debora ke sana.
"Tentu saja, Debora! Kenapa tidak" jawab Riley mantap.
"Terima kasih Riley, kau benar-benar rekan yang baik!" ucap Debora pada Riley.
Riley mengangguk mendengar itu. Kemudian ia menatap ke arah Justice dengan tatapan senang. Justice tau apa maksudnya itu. Rencana mereka sudah berhasil.
"Jadi kapan kita akan ke sana?" tanya Riley pada Debora.
"Malam ini!" jawab Debora.
"Baiklah, malam ini akan ke sana! Mari kita cari Rey bersama!" ucap Riley memantapkan tekad Debora.
"Apakah kita perlu menghubungi Mikhail dan Syena?" tanya Justice pada keduanya.
Sontak keduanya menggeleng cepat. Bukannya mereka tidak ingin mengajak mereka. Tetapi Syena memiliki bayi yang tidak bisa ditinggal sedikit pun olehnya.
__ADS_1
Sekalipun Rey adalah kakaknya. Tetapi Debora dan Riley tidak ingin mengambil resiko. Bagi Riley, biarlah nanti dia yang bercerita segala hal yang sudah terjadi pada Syena.
"Jangan, Syena ada buah hati baru!" ucap Riley padanya.
Debora mengangguk begitupun dengan Justice. Rey keluar dari kediaman Riley sambil mengendap-endap. Sedangkan Riley dan Debora mereka mulai melanjutkan percakapannya.
Sebelum senja warna jingganya mulai menghiasi langit. Rey berjalan menyusuri area kota. Ia bersemayam sebentar di toko perhiasan.
Rey memiliki satu bukti bahwa dia dulu adalah seorang Veteran Muskeeters. Bukti itu dia dapatkan dari Debora. Bukti itu berupa kartu tanda penduduk. Kartu itu berwarna emas.
Setelah melihat itu tanpa mengeluarkan uang sepeser pun. Penjual itu memberi apa yang Rey inginkan. Dengan sekotak perhiasan itu Rey akan menjadikan kucing putih kesayangannya itu miliknya malam ini.
Debora sudah cukup lama menunggunya. Debora sudah cukup merasakan kehilangan. Debora sudah waktunya untuk tersenyum dan bahagia bersamanya.
Senja itu dilalui dengan langkah kaki kebahagian. Dari kediaman Riley sampai ke area tempat di mana jubah miliknya dikuburkan. Rey berjalan, dan durasi waktu untuk sampai ke sana adalah satu jam.
Tidak melelahkan baginya melakukan perjalanan itu. Hingga ketika kakinya sudah sampai di sana. Langitnya mulai gelap. Rey terpaku sejenak menatap ke arah satu pohon. Terpaan angin malam itu dingin. Di hadapan pohon itu Rey tersenyum.
"Sayang, aku sudah sampai! Malam ini, aku berjanji akan menjadikanmu bagian dari hidupku. Sayang, maafkan aku jika datangku terlambat untukmu. Debora, kau adalah muara asmara Kesayanganku. Kau kehidupanku dan kau adalah tarikan nafasku. Debora, aku berjanji akan selalu membahagiakan dirimu. Kau milikku selamanya dan aku tidak akan pernah melepaskanmu! Tidak akan pernah kuserahkan dirimu pada siapapun. Hatimu hanya boleh menyerukan nama, Rey Arlert seorang!" ucap Rey pelan lirih dalam dan tulus.
Angin malam itu seakan membawa ucapannya merasuk. Pada Debora yang hendak memasuki mobil.
Bersama Riley dan Justice. Ketika tangannya akan membukanya, Debora tersenyum. Sesuatu yang hangat menerpanya seakan menunggunya di suatu tempat.
Di atas tebing itu Rey memejamkan kedua matanya. Lalu dalam hati dia menyebut memanggil satu nama yang selalu dia ingat sampai saat ini.
"Suster, aku akan menikah! Jika suster melihatku di sana, tolong doakan anakmu ini!" ucap Rey lirih.
Lagi, bukan hanya itu. Kali kedua adalah panggilan untuk leonin kecil yang saat ini duduk di bulan sana menatapnya bersama dengan Noella. Di belakang mereka ada Axcel yang juga ikut serta memperhatikan Rey.
"Kaisar dan Axcel, juga Noella! Aku ingin sekali kalian datang kemari! Aku ingin kalian ikut merayakan bahkan memberiku selamat. Jika bisa, tolong datanglah meski hanya sebentar!" ujar Riley lirih.
Ketiganya di atas sana tersenyum. Mereka tidak bisa datang semena-mena lagi di bumi. Tetapi, kekuatan mereka mungkin bisa membantu Rey merayakan acaranya malam ini.
Harith, Noella dan Axcel mereka bertiga memejamkan mata. Kemudian tangan mereka bergerak membuka portal. Dari sana mereka mulai memasukkan aliran kekuatan sihir mereka.
Ajaib dalam sekejap sihir itu datang ke arah pohon itu. Pohon itu bercahaya. Sama seperti hutan Rensuar dulu. Ketika Rey membuka kedua matanya, ia tersenyum.
__ADS_1
"Terima kasih, rekan langit!" ucap Rey sambil menatap ke arah langit dan tersenyum.