
...Aku tahu betul bahwa diriku lemah!...
...Aku sangat mengerti kalau aku tidak akan bisa menang melawanmu!...
...Meski begitu aku harus melakukannya...
...Bukan masalah bisa menang atau tidak, tapi di sini aku harus bertarung melawanmu...
________
Syena POV
Aku berjalan diantara kabut-kabut putih. Pakaianku serba putih disini kosong sekali, hening tak ada apapun ataupun siapapun. Hanya diriku seorang, berkelana menyusuri ruang asing ini.
Apakah ini surga? Lantas mengapa kosong sekali, ataukah ini berkaitan dengan perbuatanku. Dibumi sebelum jiwaku terlepas dari ragaku, aku membantu para iblis laknat memangsa manusia. Memasok segala makanan juga nutrisi mereka.
Tapi jika benar aku mati artinya aku sudah bebas. Hanya mungkin kali ini aku akan menghadapi kemurkaan Tuhan padaku. Terbesit dalam pikiranku saat ini, apakah aku masih mampu menggunakan sihir disini. Aku mulai mengangkat tanganku juga lisanku merapal beberapa mantra. Rupanya aku tak mampu menggunakan sihir disini.
"Syena..."
Suara dari balik tubuhku membuatku terkejut. Rupanya disini ada orang selainku, ketika aku berbalik disana terlihat seorang wanita paru baya. Wanita itu berpakaian serba putih dengan salib ditangannya.
'Siapa dia?' Pikirku.
Disana wanita itu mengulurkan satu tangannya seakan mengajakku untuk ikut bersamanya. Dari sana sebel tubuhku mendekat, kelopak mataku memilih menjatuhkan air matanya. Hatiku rasanya bahagia sekali melihat sosok ini.
Depppp
Ketika tangan kami terpaut, wanita itu tersenyum ke arahku. Tuhan, ini hangat sekali rasanya. Aku seperti diperlakukan layaknya seorang anak, bahkan tangannya yang lembut itu mengusap kepalaku.
"Syena, apakah kau sudah makan dengan baik?" Tanyanya, suaranya menenangkan hatiku. Disana aku hanya mengangguk.
"Anda siapa?" Tanyaku padanya.
Wanita itu menangkup kepalaku sambil masih tersenyum. Lentik matanya menatap dalam mataku. Disana aku tau dia bukan orang jahat.
"Syena, apapun yang terjadi ditempatmu. Kau harus melindungi Pemuda itu. Dia manusia yang sangat mencintaimu."
"Siapakah yang Anda maksud?"
"Seorang pemuda yang membawamu lepas dari belenggu setan. Syena, mungkin hari ini memori itu rengut darimu. Namun, sayang, dia adalah manusia yang menebusmu dengan nyawanya."
Segala petuah ini, aku sungguh tidak mengerti. Namun bersamanya rasanya aku ingin lebih lama lagi.
"Aku tidak mengerti apa yang anda maksudkan disini. Namun rasanya ketika netraku melihat dirimu, aku senang!"
Wanita itu mengusap lagi suraiku. Kali ini wanita itu menangis namun masih tetap tersenyum.
__ADS_1
"Anakku... Suster selalu mendoakan kalian disana. Suster harap, kalian akan berhasil menempuh jalan dunia yang pahit ini. Suster sangat menyayangi kalian, anakku!"
Wanita ini memelukku pelukannya erat sekali. Salam tubuhnya yang menangis ini, ada banyak kasih sayang didalamnya. Aku merasakannya segala sentuhan murni, tulus dari hati.
Tetapi kenapa, bahkan aku pun sama sekali tak mengenalnya. Untuk pertanyaanku perihal dirinya pun sama sekali tak dijawab. Tanganku refleks membalas pelukan itu, bahkan diriku rasanya juga ikut hanyut dalam tiap perkataannya.
Ketika aku memejamkan mataku, dimensi ini sekejap hilang. Ketika aku membuka kembali mataku, aku terkejut melihat ruangan tempatku berada.
Beberapa kali mataku mengerjap mencoba mengenali dimanakah diriku sekarang. Aku memilih duduk saat ini, rupanya aku terbaring diatas ranjang. Kelambu-kelambu putih mengitari sekelilingku.
Sejenak suara dentingan semacam dari kaca terdengar. Suara itu dari luar, aku mencoba mengingat kembali. Bagaimana aku bisa dibawa kemari. Ketika aku mulai mengingatnya seseorang dari balik kelambu datang.
Tubuhku yang terbiasa siaga sekejap mundur meringkuk sambil tanganku siap menggunakan sihir ku.
"Hah?!"
Seorang gadis berambut putih terperangah melihat ke arahku.
"Hei Syena, kau sudah bangun?" Tanyanya lembut.
Aku hanya diam sambil terus menatapnya. Disana ia hanya tersenyum lalu mendekat ke arahku.
"Jangan mendekat!" Ucapku hal itu membuatnya berhenti, namun netranya masih menatapku sambil tetap tersenyum.
Sebenarnya gadis ini bodoh atau apa. Aku bahkan sudah memusatkan seluruh sihirku dalam kepalan tanganku. Mengapa ia tak membuat perlindungan barangkali refleks aku menyerangnya.
Syuthhhhh
Gadis bernama Debora ini mengulurkan makanan padaku. Aku hanya menatap bungkusan makanan ditangannya. Apakah tak apa menerima ini dari orang asing?
Krukkkkkkk
Betapa sialan sekali perutku sekarang. Mendengar suara dari dalam perutku gadis bernama Debora ini tertawa.
"Ambillah, tidak ada racun didalam sini! Aku baru saja membawanya dari rumah."
"Terima kasih!"
Rasanya tak ada pilihan lain sekarang lagi pula tubuhku juga cukup lemas rasanya. Dia bilang tubuhku terbaring disini sudah seminggu. Pantas saja lemas sekali rasanya selama seminggu tak ada asupan masuk dalam tubuhku.
Ketika aku sibuk mengunyah makananku. Debora disampingku mulai menarik kursi dekat meja. Ia menempatkan kursi itu disampingku, tubuhnya menghadap ke arahku saat ini. Sambil tetap menatapku ia menopang kepalanya diantara kedua tangannya.
"Apa lezat?" Tanyanya ramah padaku, sepertinya gadis ini ingin membangun pertemanan diantara kami. Aku tidak menjawab itu dengan suaraku, namun aku hanya mengangguk.
"Pagi ini aku yang membuatnya bersama salah satu rekanku, Riley!" Jelasnya padaku.
"Kita belum berkenalan secara formal ya?"
Kali ini ia berucap lagi sambil mengulurkan tangannya. Aku hanya diam disini, dalam hatiku sejujurnya aku takut.
Tubuhku berada di kawasan manusia. Sebelumnya aku adalah salah satu serdadu Iblis. Lantas mengapa para manusia ini begitu bodoh membawaku kemari. Aku bahkan masih seorang musuh, apa mereka akan mengeksekusi setelah ini.
__ADS_1
"Hei?"
Debora melambaikan tangannya ke arah netraku. Sontak aku yang sedang melamun terkejut, lalu kembali menatapnya.
"Kita tidak akan membunuhmu, kau tidak perlu khawatir." Ucap Debora bagaimana dia bisa mengerti isi pikiranku disini.
"Aku serdadu Iblis, bahkan aku sempat membunuh temanmu. Dua kali aku menghabisi nyawa temanmu."
"Syena dalam perang semuanya terjadi begitu cepat. Kau tetap manusia, kau sama seperti kami. Penyebab atas dirimu yang seperti ini mungkin kau tak tau, bahkan mungkin kau tak akan mengingatnya. Tapi bagiku, nyawamu sama nilainya dengan seluruh manusia lain. Kau jiwa yang patut diselamatkan dan diberi kesempatan."
Ucapan itu menggetarkan hatiku. Manusia sebaik ini rupanya. Lantas mengapa Iblis itu tega membunuh mereka. Rasanya untuk sekedar menatap mata gadis ini aku tak mampu. Ketulusannya mungkin akan membuatku cengeng nantinya.
"Apa kau ingin berteman denganku?"
Lagi-lagi kalimat itu membuatku terperangah. Gadis ini, sebenarnya apa yang dia inginkan dari pendosa sepertiku. Aku menelan sisa terakhir dari potongan makananku.
Lantas netraku menatap ke arah kedua telapak tanganku. Saat ini memang disana tak ada apapun. Debora disampingku hanya memperhatikan ia sama sekali tak bersuara usai menawarkan perihal pertemanan tadi.
"Sekalipun tanganku bersih dipandang, namun nyatanya bau anyir darah masih jelas tercium disini. Sepanjang waktu runguku bahkan masih mendengar, teriakan keputusasaan mereka sebelum mati. Aku mungkin tidak pantas untuk dimaafkan, tetapi, aku ingin hidup bebas semacam kalian.
Itu adalah seluruh beban dalam hatiku yang menumpuk. Kujelaskan segalanya dihadapan manusia ini. Percaya padanya rasanya tak masalah bagiku.
"Terimalah jabat tangan ini, lalu ketika kau menjadi temanku. Kita berdua akan menikmati segalanya bersama!"
Suara riangnya itu membuat tanganku terangkat menerima uluran tangannya. Ketika telapak tangan kami hari ini bersentuhan wajah miliknya masih tetap berseri.
"Jadi, apakah kau mau menjadi temanku Syena?" Tanyanya lagi.
"Iya, aku mau dan aku ingin!"
Jawaban mantap itu berasal dari hatiku. Disana untuk pertama kalinya hatiku bahagia. Lantas satu sunggingan senyum ku berikan padanya. Begitupun juga dengannya, dari dalam domain ia mengeluarkan lagi beberapa makanan memberikannya padaku.
Disampingku selagi aku masih mengunyah makananku ia berucap sekali lagi. Katanya, sebutlah dirinya dengan sebutan kakak. Karena aku lebih kecil darinya katanya. Perihal keputusan itu aku memberinya sebuah anggukan, pertanda bahwa aku menyetujui apa yang ia katakan.
...Jika ada hal yang ingin kau lindungi, cabutlah pedangmu dan lindungilah...
...Kau boleh menangis, kau boleh lari. Tapi jangan pernah menyerah...
...
...
________
Ensiklopedia :
Lubang hitam primordial adalah jenis lubang hitam hipotetis yang terbentuk segera setelah Big Bang. Pada awal alam semesta terbentuk, kepadatan tinggi dan kondisi heterogen dapat menyebabkan wilayah yang cukup padat mengalami keruntuhan gravitasi, membentuk lubang hitam.
Teori di balik asal usulnya pertama kali diamati secara mendalam oleh Stephen Hawking pada tahun 1971. Karena lubang hitam primordial tidak terbentuk dari keruntuhan gravitasi bintang, massanya bisa jauh di bawah massa bintang (c.2 × 10 30 kg ). Hawking menghitung bahwa lubang hitam purba dapat memiliki berat hanya 10-8 kg.
__ADS_1
Berikut adalah ilustrasi lubang hitam yang dibuat langsung oleh NASA.