
...Jika kau ingin orang-orang percaya pada hal yang ingin kau lakukan, hanya ada satu hal yang harus kamu lakukan...
...Jangan hanya mengatakannya saja, tapi lakukan dengan tindakanmu...
Satu persatu para Muskeeters mulai di pulihkan. Bangunnya Noella juga para Lapu-lapu wanita, membuat mereka bekerja begitu aktif memberikan pertolongan pertama mereka.
Saat ini beberapa Muskeeters lain sudah ada yang tersadar dari kekuatan Cronus. Satu persatu dari mereka mulai terbebas.
Syena dan Rey saat ini sedang berada dalam satu ruangan. Dimana disan terdapat para rekannya masih terbaring belum membuka mata.
Terlihat disini Syena mulai jenuh. Sebab sudah ada tiga jam mereka disini saling diam dan hanya memandang tubuh terpejam para rekannya.
"Kakak, mengapa mereka masih belum bangun juga?"
Tanya Syena pada Rey yang duduk sambil melipat kedua tangannya.
"Hmm.. Entahlah, aku juga tidak mengerti ini! Tapi aku bersyukur mereka masih selamat disini."
Jawab Rey atas pertanyaan Syena. Syena menganggukkan kepalanya, lalu kakinya maju mendekat ke arah Debora yang masih terpejam disana.
Rey memperhatikan itu, adiknya itu diam disana sambil memperhatikan tubuh Debora.
"Ada apa Syena?" Tanya Rey penasaran.
"Kakak Debora terluka!" Jawab Syena tanpa menoleh namun telunjuknya mengarah ke arah siku-siku tangannya.
Rey berdiri sigap mendengar apa yang Syena katakan. Rey berjalan mendekati adiknya disana, lalu ikut berdiri disampingnya sambil menatap lekat ke arah Debora. Kedua bola matanya mencoba mencari-cari perihal luka yang sedang Syena bicarakan.
Ketika kedua netranya menemukannya, Rey menatapnya sendu. Sungguh, luka itu pasti sangat perih.
Ketika Rey memilih duduk disamping ranjang Debora. Seseorang dari ambang pintu datang setengah berteriak, memanggil nama Syena.
"Syena?!!" Panggilnya.
Kedua matanya mengeluarkan air mata. Ditambah ketika kedua matanya melihat tepat ke arah Syena. Terlihat jelas disana raut muka lega itu ada.
"Aum?" Tanya Syena tak percaya.
Keduanya sama-sama bersyukur dalam hati mereka. Sebab salah satu dari mereka sama-sama selamat, atas tragedi penyerangan yang baru saja terjadi..
"Uwahhh.. Itu menakutkan! Ku pikir kau akan mati tadi Syena!"
Aum berucap sambil memeluk Syena. Syena membalas pelukan itu sambil menepuk-nepuk punggung Aum mencoba menenangkan temannya itu.
__ADS_1
"Ya itu sulit di jelaskan memang Aum! Tapi, aku bersyukur kau selamat!" Ucap Syena padanya.
"Kakak Rey, apa kau juga baik-baik saja?"
Kali ini Aum mengalihkan pandangannya ke arah Rey. Disana Rey hanya mengangguk sambil tersenyum, tak ada jawaban yang Rey lontarkan hanya sebuah isyarat saja.
Syena yang paham bahwa Rey saat ini butuh waktu sendiri. Berinisiatif mengajak Aum pergi dari sana. Sebab akan baik apabila Rey memiliki waktu menenangkan pikirannya.
"Aum, bagaimana jika kita pergi sebentar?" Ajak Syena pada Aum.
"Kemana?" Tanya Aum padanya.
"Kemana saja, aku ingin memberitahumu sebuah cerita menarik!" Bujuk Syena.
Syena menoleh sebentar ke arah Rey yang juga menatapnya.
"Kakak aku akan pergi dulu ya!" Pamit Syena padanya.
Sebuah anggukan dari Rey membuat Syena lega. Tanpa banyak pertanyaan lagi, Syena pun menarik pergelangan tangan Aum lalu menuntunnya pergi dari ruangan itu.
Ketika kedua gadis itu pergi dari sana. Rey kembali menatap ke arah Debora. Tangannya terulur menyentuh lembut puncak kepala Debora disana.
Lihatlah, bahkan ketika kucing putih ini terpejam. Rasanya sangat menggemaskan sekali ekspresi bagi Rey.
"Luar biasa wajahmu ini selalu saja menawan!" Ucap Rey padanya.
Tangannya mulai usil memainkan Surai putih yang terurai itu disana. Baginya ini adalah kesempatan, sebab Debora masih terpejam.
Kembali, tiap kemesraan Rey umbar bersama Debora nya. Selalu ada saja komentar dari salah satu Baron dalam tubuhnya. Kali ini komentar itu dari Baron Hitam.
"Kenapa kau selalu saja berprotes tiap kali aku mengumbar kemesraan hah? Lagi pula, aku sudah banyak berjuang. Sudah waktunya bagiku untuk bersenang-senang. Kau lihat sendiri bukan, betapa menawannya kucing putih milikku ini disini!"
Rey mencoba membanggakan Debora pada Baron Hitam. Hal itu membuat Baron hit geram rasanya.
"Kau benar-benar mengesalkan Rey!" Ucap Baron hit padanya.
"Terima kasih, itu memang daya tarikku!"
"Hei kalian! Cobalah bela aku disini! Mengapa kalian hanya berdiam diri saja? Mengapa kalian hanya mendengarkan?"
Kedua Baron lain disana berpura-pura menguap. Keduanya sedikit malas memulai perdebatan disini. Sebab mereka berdua sudah bosan rasanya melihat pertengkaran konyol antara Rey dan Baron hitamnya.
"Carilah seorang kekasih! Niscaya kau akan tau, betapa indahnya perasaan, ketika memilikinya."
Jawaban itu membuat Baron Hitam sedikit berpikir. Selama ia diciptakan, penguasa sama sekali tidak memberinya seorang pasangan. Padahal mereka, sekalipun pedang, namun mereka masih memiliki pemikiran sendiri.
"Isi pikiranmu aneh sungguh!"
__ADS_1
Pada akhirnya, Baron Emas yang sejak tadi diam bersuara. Bahkan ketika mereka berpikir, mereka pun juga saling terpaut. Itulah mengapa Baron Emas mampu membaca apa yang ada didalam pikiran Baron Hitam.
"Entahlah, pikiran macam apa itu? Kita ini memang di ciptakan untuk melajang! Maka nikmati itu!"
Kali ini Baron putih juga menimpali apa yang sedang mereka bicarakan.
"Bagaimana jika setelah ini kita meminta pada Sang Penguasa. Untuk menciptakan pedang perawan."
Rey tersenyum mendengar itu, perdebatan ketiga Baron ini lucu menurutnya. Jarang sekali mendengar mereka bertiga berdebat sekacau ini.
"Sudahlah, kalian terlalu berisik didalam sana sungguh! Diamlah, kalian merusak momen indah ku bersama kekasihku!" Protes Rey tak tahan.
Sungguh rasanya ingin meledak rasanya kepalanya saat ini. Memang itu adalah hiburan bagi Rey, namun jika perdebatan itu berdurasi panjang. Rey pun juga akan kesal saat mendengarnya.
Mendengar suara Rey berprotes, mereka bertiga sekejap diam. Lagi, Rey mematri wajah Debora yang masih terpejam disana.
Sejenak ia kembali diingatkan akan sesuatu. Sesuatu itu berkaitan dengan Harith. Sepertinya ada sesuatu yang penting yang harus mereka bahas. Perihal para Iblis beserta daerah terkontaminasi itu, Silver Alaska.
Sejenak Rey mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Netranya memeriksa satu persatu rekannya. Ketika yakin seluruh rekannya masih terpejam, netranya kembali menatap hangat ke arah Debora.
Rey mendekatkan tubuhnya pada Debora. Ia menundukkan kepalanya, mengarahkannya tepat mendekat ke arah kepala Debora.
Ketika jarak diantara mereka semakin menipis, Rey bisa melihat dengan jelas betapa anggunnya gadis yang ia cintai ini.
"Si Cabul ini! Benar-benar mencari-cari kesempatan!"
Persetan dengan apa yang Baron Hitam katakan, Rey tidak peduli. Satu kecupan lembut Rey berikan tepat di atas kening Debora. Setelah melakukan itu, Rey mengusap lagi surainya. Sembari jarak mereka masih dekat, Rey berucap.
"Kekasih putihku, sadarlah! Sebab aku merindukanmu! Cepatlah sadar Debora!"
Lirihnya, Rey pun menegakkan kembali tubuhnya lalu bergegas pergi dari sana. Ketika ruangan itu kosong, hanya ada pada rekannya yang masih terpejam.
Sejak tadi, Syena dan Aum bersembunyi di belakang ruangan itu. Disana ada jendela kecil, dan disana diam-diam mereka menyaksikan apa yang baru saja Rey lakukan tadi.
"Ini bukan tontonan untuk kita sebenarnya Syena. Kita masih bayi, mengapa harus menyaksikan hal itu?" Protes Aum sambil menutupi kedua mata Syena.
Namun disana Syena hanya tertawa. Sedangkan Aum, dia disana hanya menatap heran ke arah Syena.
"Mengapa kau tersenyum?" Tanya Aum padanya.
"Kita baru saja menyaksikan drama percintaan secara real dan gratis. Kau harus bangga seharusnya!" Jawab Syena padanya.
Aum hanya menggelengkan kepalanya mendengar apa yang Syena katakan.
...Impian manusia tidak akan pernah habis...
__ADS_1