Indigo Evolution (Silver Alaska)

Indigo Evolution (Silver Alaska)
Menemui Ingatan dan Sesuatu di Masa Lalu


__ADS_3

"Aku tidak bisa membunuhnya! Dia bagian dari diriku! Bagaimana aku bisa membunuhnya jika hatiku ada padanya? Kumohon Tuhan, jangan buat nasib sepedih ini padaku. Aku mencintai Rey Arlert!"


Suara itu berasal dari Debora yang saat ini sedang berdiri membelakangi Rey. Dia di sana, berdiri sambil membawa satu pedang.


Dengan Rey yang bersimpuh memunggunginya. Aura Rey begitu pekat hitam sekali rasanya. Hawanya benar-benar menyesakkan dada.


Namun, ada Rey lain yang berdiri di sisi agak jauh dari mereka. Rey dari masa depan, menengok kembali ke belakang perihal masa lalu. Dia yang baru saja terlelap di alam nyata dibawa kemari oleh sesuatu.


Sepertinya takdir ingin dia menengok perihal masa lalu yang saat ini terhapus dalam kepalanya. Itu adalah sebuah pertarungan besar dan Rey menyaksikannya dari awal.


"Bunuh dia Debora!" teriak Riley yang berada di belakang Debora.


Mereka tidak bisa maju mendekati Debora. Namun Debora bisa menembus satu sekat penghalang itu. Rey masih memperhatikan itu. Bahkan Rey juga melihat betapa pedihnya hati Debora saat itu. Dia menangis terisak di sana.


Dari sana Rey tau bahwa gadis itu sudah sejak dulu mencintainya. Rey paham kenapa untuk pertama kalinya ketika dia melihat Debora. Hatinya merasa sangat dekat sekali dengan gadis ini.


Aku tidak tau bahwa cintamu padaku sebesar ini. Kupikir hanya diriku saja yang memiliki cinta dalam nan tulus untukmu. Namun, ternyata dirimu juga begitu!. Ujar Rey dalam hatinya.


Terlihat di sana Debora berlari ke arah Rey sambil berteriak. Satu tebasan dari Debora menjatuhkan potongan kepala Rey ke atas tanah.


Setelah menebasnya, Debora seperti kehilangan tumpuannya. Tubuh itu bersimpuh di hadapan badan Rey yang sudah tak bernyawa. Raganya sudah tidak utuh. Sambil terisak Debora merangkak mendekati potongan kepala itu lalu memeluknya menciuminya lembut.


"Maafkan aku Rey... Maaf... tolong maafkan aku! Aku tidak tau harus berbuat apalagi! Dunia ini kejam, Rey!" ucap Debora terisak.


Para rekannya di belakang yang tadi sempat terhalang sekat pun mampu keluar. Mereka segera menghampiri Debora yang menangis di sana.


Rey dari masa lalu juga ikut menangis. Rupanya seperti ini kejadiannya. Kepada siapapun yang menunjukkan ini, Rey sangat berterima kasih. Pada akhirnya dia menemukan bagian dari masa lalunya.


Memori seketika berpindah lebih mundur lagi. Rey kembali diingatkan, bagaimana dia bisa berada di Rensuar menjadi seorang Muskeeters hebat.


Rey juga diperlihatkan segala memori yang ia habiskan bersama dengan seluruh rekannya selama bertahun-tahun dalam satu markas.


Ada beberapa makhluk yang asing bagi Rey. Namun perlahan dia mulai mengenalnya. Itu Harith,Noella dan Axcel. Rey mengingatnya, dua sosok yang dia temui beberapa jam lalu di taman adalah sosok raja dan ratu di masa lalu. Masa ketika bumi sedang hancur dan iblis berkuasa.


Rey juga di perlihatkan kejadian di mana dia kehilangan Syena. Dan di sana awal perjalanannya di mulai. Sesudah menyaksikan segala hal itu Rey terdiam, dia menyentuh dadanya.


"Jadi, setelah pertempuran itu aku mati? Lalu dihidupkan kembali oleh Tuhan? Itu luar biasa sekali, aku mencintai orang-orang ini Tuhan. Terima kasih sudah membawaku pulang pada mereka. Aku ingin membahagiakan Deboraku sekarang! Aku ingin segera bangun dari dalam mimpi ini lalu mengatakan segalanya!" ucap Rey menangis.

__ADS_1


Dia merindukan Kucing Putihnya. Namun ketika Rey memejamkan matanya mencoba kembali ke tempatnya, tidak terjadi apapun. Dia tetap di sana, tidak ada perubahan apapun yang terjadi.


"Rey, kenapa kau harus buru-buru?" tanya satu suara yang datang entah dari mana.


Rey menatap ke arah langit-langit yang memutih. Di sana tidak ada bulan atau pun bintang. Segalanya putih, tanpa batas, tanpa ujung.


"Siapa kau?" tanya Rey pada pemilik suara itu.


"Hahahaha... Kau tenang saja aku bukan orang jahat!" jawab suara itu pada Rey.


"Lalu kau siapa? Tunjukkan dirimu!" ucap Rey menantang pemilik suara. Rey tidak takut, sebab dia ingin tau siapa pemilik suara itu.


Sosok kerdil datang begitu saja melalui portal. Dia bersila dan terbang berada tepat di belakang Rey saat ini.


"Hei, ini aku!" ucap sosok kerdil itu tak lain dan tak bukan adalah Harith.


Rey berbalik ke belakang dan ditemukannya Harith di sana sedang tersenyum padanya. Kedua mata Rey berair rasanya. Tidak ada lagi pertanyaan dalam kepalanya perihal sosok kecil ini. Dia mengenalnya sekarang. Mereka berdua rekan dulu ketika bumi sedang tidak baik-baik saja.


Mereka berdua adalah partner bertempur dulu. Mereka berdua adalah hal yang paling penting dalam kebebasan bumi saat ini. Mereka berdualah yang pernah bertaruh nyawa demi kebebasan manusia.


"Hai Rey! Apa kabar?" tanya Harith padanya.


"Harith! Bagaimana kabarmu?" tanya Rey padanya.


"Kenapa kau malah melempar pertanyaan sama padaku?" tanya Harith sambil menaikkan salah satu alisnya.


"Itu sudah biasa bukan? Dia orang dungu!" ucap satu suara menggema. Rey mengenal suara itu, itu adalah suara dari Baron Putihnya dulu.


"Di mana makhluk gila yang menyewa tubuhku itu? Kenapa dia tidak terlihat?" tanya Rey bercanda pada Harith.


Mendengar itu Harith pun tertawa. Nampak dari dalam domainnya, Baron putih menatap kesal ke arah Rey. Dia memang bisa melihat Rey. Tetapi Rey tidak akan bisa melihatnya.


"Kau merindukannya? Bukankah sepanjang satu tubuh bersamanya, kalian tidak akur?" tanya Harith padanya.


"Hahahaha... Benar sekali apa yang kau katakan! Tapi, dia tetaplah partnerku yang paling baik!" ucap Rey jujur.


Baron dan Dandelion yang berada dalam tubuh Harith tersenyum mendengar itu. Rey konyol memang, tetapi semakin bertambah usianya. Dari atas sana mereka memperhatikan sifat Rey yang lain. Pemuda itu semakin dewasa setelah diberi kesempatan kedua oleh Tuhan.

__ADS_1


"Aku senang sekali kau kembali Rey! Dan ingatlah, beradamu di sini itu karena doa mereka para rekanmu. Doa adikmu yang memintami pulang. Doa Debora yang ingin kau kembali. Doa Noella, doa para rekan langitmu. Rey Arlert, kesempatan ini jangan di sia-siakan ya! Ada satu hal yang belum kau selesaikan di bumi. Hal itu adalah, menikah!" ucap Harith sambil tersenyum.


Rey tertawa mendengar itu. Tentu saja dia tau siapa yang sedang Harith bicarakan. Itu adalah, Deboranya kekasihnya, belahan hatinya.


"Kau benar! Jadi, sebaiknya aku kembali saja! Aku sudah mengingat segalanya. Aku ingin segera menyampaikan berita baik ini pada kucing putih!" ucap Rey padanya.


Clinggggg


Seorang kakek tua yang juga melayang sambil duduk bersila muncul di samping Harith. Itu adalah Baron Putih. Tak lupa Dandelion juga ikut muncul di atas mereka.


"Payah sekali!" ucap Baron putih meremehkan Rey.


Rey menatap pria tua itu malas sekarang. Dia baru saja keluar dan dia menghina Rey.


"Baron kau, menghinaku?" tanya Rey padanya.


"Kau memang pantas dihina agar sadar Rey!" tambah Dandelion di atasnya.


"Sekarang apa lagi masalahnya?" tanya Rey padanya.


"Kau itu, seharusnya memberi dia kejutan! Bukan yang biasa-biasa saja. Bukan ketika kau bangun lalu mengatakan segalanya. Buatlah yang lebih bagus dari itu," ucap Baron putih dengan nada kesalnya.


Ah, baiklah! Rey mulai paham sekarang. Ia pun hanya mampu mengangguk lalu tersenyum dan mengacungkan jempolnya pada Dendelion dan Baron putih.


"Baiklah, aku paham apa yang kalian inginkan! Aku akan mencobanya! Jadi, bisakah kau memberitahuku bagaimana caranya keluar dari dalam sini?" tanya Rey padanya.


Harith mengangguk mendengar itu. Tentu saja dia akan membantu Rey keluar dari dalam sini.


"Baiklah, aku akan membantumu keluar dari dalam sini!" ucap Harith.


Harith menggerakkan kedua tangannya ke depan. Detik kemudian muncul lingkaran portal berwarna hitam.


"Masuklah ke dalam sana! Itu akan membawamu kembali!" perintah Harith sambil menunjuk ke arah portal.


Rey memperhatikan portal itu sejenak. Lalu ia kembali menatap Harith. Ia berjalan mendekatinya, ketika sudah dekat Rey pun memeluknya.


"Kaisar putih, terima kasih untuk semuanya! Aku pasti akan merindukanmu beserta dengan dua cecungukmu ini!" ujar Rey.

__ADS_1


Harith tertawa mendengar itu, ia menepuk-nepuk pelan bahu Rey. Ketika pelukan itu usai, Rey pun berbalik masuk ke dalam portal.


__ADS_2