
Setelah misinya selesai, Rey beserta dengan Justice di sampingnya saat ini sudah berada di dalam Kastil putih.
Mereka berdua berjalan menyusuri lorong-lorong kastil, beberapa kali sapaan dari para Muskeeters penjaga menyapa mereka, tentu saja mereka membalas sapaan itu diiringi dengan senyuman.
Tujuan mereka kemari adalah untuk melapor, bahwa apa yang Debora perintahkan padanya sudah terselesaikan. Sesekali Rey menepuk-nepuk perutnya sambil berjalan.
Sial rasanya menghabiskan waktu berjam-jam di desa itu. Mana juga tenaganya terkuras sudah, ini sudah malam, saatnya bagi mereka untuk menerima asupan. Namun nyatanya tugas masih mengelilingi mereka berdua.
"Aku lapar Just, sungguh!" ujar Rey menatap langit-langit.
"Aku juga, setelah lapor bagaimana jika kita berdua mampir ke kota?" tanya Justice kepada Rey, nada bicaranya begitu antusias,
"Huh," lirih Rey membuang kasar nafasnya, benar sekali apa yang Justice katakan.
"Ramen mungkin cocok untuk kita nikmati nanti!" ujar Rey kepadanya, hal itu tentu saja membuat Justice mengangguk.
Tibalah mereka tepat di depan pintu besar berwarna emas. Ini adalah ruang rapat, di mana Noella akan membahas segala pembahasan perihal Rensuar di sini.
Pintu itu terbuka otomatis ketika Rey dan Justice berhenti tepat di depannya. Cahaya terang di dalam sana menampakkan tiga orang wanita, salah satunya adalah seorang Elf.
Ya, mereka adalah Debora, Riley beserta Noella. Axcel tak ada di sini, mungkin ia sedang pergi bertugas. Ketiga wanita itu memperhatikan Rey beserta Justice yang baru saja tiba.
Rey dan Justice melangkah masuk ke dalam. Ketika mereka tepat di hadapan meja, mereka pun tersenyum.
"Noella, aku sudah mengalahkan iblis itu! Sekarang kota sisi kiri Rensuar sudah aman!" ujar Rey, ia duduk menghadap tepat ke arah Noella.
Noella tersenyum mendengar itu, dari dalam domain ia mengeluarkan sesuatu. Dua gelas minuman, dua gelas minuman itu melayang terbang ke arah Rey dan Justice. Kedua pemuda itu refleks menatapnya.
"Apa ini?" tanya keduanya bersamaan.
"Minumlah! Itu minuman pemulihan, aku tau kalian pasti lelah bukan?" ujar Noella kepada mereka berdua.
Sejenak Rey dan Justice bertatapan sejenak, namun tak lama mereka berdua menggenggam gelas itu meneguknya. Dahaga mereka terpuaskan sudah rasanya. Nikmat sungguh, ini semacam ramuan namun begitu segar rasanya.
"Wuihhh, apa ini? Nikmat sekali?" tanya Justice tak percaya, ia memperhatikan gelasnya yang sudah kosong. Hal itu membuat Noella berseringai,
"Itu semacam ramuan pemulihan dari angkasa! Tubuh kalian ringan bukan rasanya?" tanya Noella kepada keduanya.
__ADS_1
Baik Rey dan Justice mereka berdua mengangguk bersamaan, binar dalam wajah mereka terlihat jelas. Menunjukkan betapa terpukaunya mereka pada khasiat ramuan yang Noella berikan.
Gelas kosong itu menghilang secara otomatis. Noella menatap serius ke arah mereka kali ini. Melihat tatapan itu, Justice dan Rey pun juga ikut serius.
Kemudian, Debora dan Riley mereka berdua juga ikut duduk. Mereka berempat memperhatikan Noella kali ini. Sepertinya ada satu hal yang akan Elf ini sampaikan.
"Jadi, aku ingin membahas perihal penyerangan!" ujar Noella kepada mereka berempat.
"Tentu saja, silahkan!" jawab Rey ambil mengangguk.
Noella melipat kedua tangannya di meja, lalu menghela nafas panjang.
"Pembahasan ini harus lengkap, namun jika memang yang datang hanya ini. Kalian bisa menjelaskan pada Mikhail dan Syena nanti di markas. Baiklah, kita akan mulai," ujar Noella.
Empat manusia itu sudah memfokuskan rungunya untuk mendengar apa yang Noella katakan.
"Jadi, mendengar apa yang sudah Debora beserta Riley katakan. Sepertinya akan memungkinkan terjadi bentrok antara kita, dengan warga non sihir. Aku memahami ketakutan mereka, aku paham mereka pasti merasa nyawa mereka terancam. Maaf jika selama ini kalian harus memikul beban berat. Harapan para manusia itu, ada pada punggung kalian. Namun, ini takdir! Bolehkah sekali lagi aku meminta sesuatu kepada kalian, para Muskeeters-ku yang pemberani?" tanya Noella setelah menjelaskan panjang dan lebar perihal masalahnya.
Noella menatap penuh ke arah empat manusia yang sedang menatapnya. Debora hanya tersenyum tipis mendengar itu, begitupun dengan Riley.
Sedangkan Justice, ia mengacak-acak surainya sambil membuang kasar nafasnya. Rey hanya tersenyum setelah mendengar apa yang Noella katakan.
Noella terkekeh mendengar apa yang Justice katakan. Tingkahnya setelah mengatakan itu serasa sangat pasrah. Lalu kemudian Noella menatap ke arah Rey, mencoba mencari tau jawaban Rey atas itu. Ketika bola mata keduanya bertemu, Rey hanya tersenyum.
"Kenapa lama sekali keputusanmu ini Noella? Jika kau meminta jawabanku, maka aku akan selalu mengatakan iya padamu. Nyawanya Arlert, hanya untuk kebebasan dunia. Dan aku bersedia menyerahkannya untuk itu!" jawab Rey mantap kepada Noella.
Noella tersentuh sekali mendengar itu. Bola mata Rey terlihat begitu tulus di sana, begitu berani. Debora yang duduk di kursinya hanya mampu membuang nafasnya pelan. Ini akan menjadi ujian paling berat untuk Debora nantinya.
Setelah menerima segala persetujuan dari empat ketua pasukan. Noella pun mulai memunculkan hologram yang ada pada mejanya. Sebelum mereka kembali menyimak apa yang Noella katakan, baik Rey juga Debora bertatapan sejenak.
Debora hanya melempar senyum padanya, sambil menghela nafas. Begitupun juga sebaliknya. Tatapan keduanya menyampaikan pesan masing-masing dan hanya mereka saja yang tau maksudnya.
Rey dan Debora kembali memperhatikan Noella. Elf itu mulai cekatan menunjukkan lokasi penyerangan, mengatur ide-ide serangan yang baik dan menguntungkan. Tak jarang pula, Debora di sana memberi saran.
Kedua tipe pemikir itu saling beradu argumen, sedangkan yang lain mereka hanya diam sambil memperhatikan. Sesekali mereka bertanya, dari seluruh diskusi itu sebuah strategi perang besar terancang.
Menghabiskan sekitar dua jam mereka duduk di sana. Setelah seluruh penjelasan usai, baik Debora beserta seluruh rekannya pun berpamitan kepada Noella. Mereka akan pergi kembali ke markas untuk istirahat.
__ADS_1
"Jam berapa ini?" tanya Justice sambil berjalan beriringan bersama ketiga rekannya.
"Sepertinya pukul sembilan malam!" jawab Rey kepadanya.
"Perut kita masih kosong, perlukah kita ke kota untuk makan?" tanya Justice lagi kepada mereka.
"Tidak perlu!" jawab mereka bertiga kompak, hal itu membuat Justice terkejut.
"Astaga, kalian memang bukan manusia!"ujar Justice lagi kepada mereka.
Ucapan itu sontak mengundang tatapan kematian ketiga rekannya, mengarah padanya. Seketika Justice diam lalu menunduk melihat itu.
Ketika mereka tiba tepat di balkon, Rey berhenti sejenak. Ketiga rekannya pun ikut berhenti, Rey memandangi langit.
"Kalian pulanglah!" ujar Rey kepada ketiga rekannya.
"Kau tak pulang?" tanya Justice kepadanya, Rey menoleh ke arahnya lalu tersenyum. Telunjuknya mengarah ke arah Riley dan Justice bergantian.
"Kalian berdua, aku ingin bicara dengan kucing putih!" jawab Rey kepada mereka.
Riley mengangguk mendengar itu, ia yang tau situasi macam apa yang Rey harapkan. Segera mengapit lengan Justice lalu menariknya.
"Ayo pergi sayang! Tinggalkan pasutri ini berdua!" ajak Riley kepada Justice.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Justice pun menurutinya. Debora hanya diam melihat kedua rekannya pergi meninggalkan dirinya dan Rey berdua di salah satu balkon kastil putih.
"Ada apa Rey?" tanya Debora kepadanya.
Rey berbalik menatap tepat ke arahnya lalu tersenyum.
"Aku ingin menghabiskan waktuku bersamamu, Debora! Kita akan sangat sibuk nanti di Medan perang. Peperangan tidak terjadi sehari. Kau tau bukan? Jadi, malam ini ikutlah bersamaku!" ajak Rey sambil mengulurkan tangannya kepada Debora.
Debora terpaku mendengar itu, hatinya menghangat dan netranya sama sekali tak mampu beralih dari uluran tangan yang Rey berikan untuknya.
Melihat itu, Rey pun meraih begitu saja tangan kiri Debora menariknya. Mengakibatkan tubuh itu menabrak tubuhnya, Debora memekik kecil atas apa yang Rey lakukan.
Dandelion kesayangannya sudah muncul, malam ini ia benar-benar ia ingin menghabiskan waktunya untuk Debora. Satu kepakan sayap Dandelion membawa Rey beserta Debora di dalam gendongannya pergi dari kastil putih.
__ADS_1
"Kalian pasangan yang serasi! Aku berdoa, semoga penguasa berbaik hati membuat hubungan kalian tetap berlanjut, Rey Arlert dan Debora Defanny!" ujar Noella yang saat ini berdiri tepat di atas balkon kamarnya.
Dari sana ia bisa melihat Rey beserta Debora yang baru saja pergi meninggalkan kastil putih.