
...Kepercayaan itu juga menghargai jarak antara satu sama lain...
...Tak ada kata terlambat untuk memulai ,begitu juga untuk mengakhiri...
"Apakah perlu kita arahkan mereka ke arah Kastil?"
Helcurt berbisik pelan disamping Trounum. Mereka yang berada cukup jauh dari rombongan Rey terpaku disana. Rombongan berbahaya didepannya itu pasti akan melenyapkan mereka.
Cleppp
"Apa kalian takut? Tidakkah kalian melihat para eksekutor ini, akan membuat kalian lebur!"
Rey berucap sambil menunjuk ke arah Trounum dan Helcurt. Debora memperhatikan pemuda yang sama sekali tak ia kenal itu, sifatnya sangat mirip Rey Arlert.
"Apa kau pikir kami takut? Kami tidak takut dan tidak akan pernah?"
Helcurt menjawab tiap apa yang Rey katakan tentang mereka. Rey tau benar, Iblis tidak akan pernah mengikuti ketakutan mereka. Makhluk tamak juga penuh kesombongan itu hanya akan senang apabila dipuji lebih hebat dari segala makhluk dalam bumi ini.
Mereka yang bercita-cita ingin menjadi dominan lalu abadi Menguasai bumi dengan keberingasan harus dileburkan kembali. Mereka harus berada dalam kodrat mereka yaitu ilusi yang tak nampak.
"Apa kalian masih memliki mana Brolavor yang cukup?" Rey bertanya pada Debora dibelakangnya.
"Kami membawanya, dan itu cukup!" Jawaban itu membuat Rey lega. Pertarungan harus terjadi disini.
Para generasi sudah berani menampakkan dirinya. Itu adalah kesempatan bagi mereka untuk meleburkannya. Ditambah seluruh rekannya juga adik terkasihnya Syena, berada disini. Hal itu pasti memudahkan tujuannya.
Srtttttt
"Apakah aku harus maju lebih dulu?" Tanya Syena tak sabar rasanya ingin menghantam dua Iblis didepannya. Kedua ranting sihir melayang diatas telapak tangannya.
"Syena, mungkin kita harus memulainya lebih dulu!"
Rey berbisik sambil menatap ke arah adiknya. Suara itu membuat Syena menoleh, pertemuan bola mata mereka menciptakan. satu senyuman.
Disana tersirat ambisi yang besar. Ambisi ingin melenyapkan seluruh kejahatan. Tanpa berucap hanya sebuah anggukan, baik Rey dan Syena keduanya mulai mengolah sihir terkuat mereka.
Mereka mengalirkan sihir itu kedalam senjata mereka. Detik ketika mereka kembali mengangguk, secepat kilat, kedua pemilik abjad sihir sama itu melesat ke arah Trounum dan Helcurt. Menciptakan satu benturan kekuatan yang teramat besar.
Crashhhhhhh
"Si buta pengkhinat!" Pekik Helcurt menangkis serangan dadakan yang Syena berikan.
"Tuan Helcurt, sudah waktunya kau belajar menjaga mulutmu padaku!" Geram Syena.
Pengendalian sihir rantingnya menggempur Helcurt terus menerus. Keduanya adalah penguasa sihir perasuk.
Selain Syena adalah pemilik sihir Abjad A. Mata kiri yang terkontaminasi membuatnya mampu memiliki sihir perasukan. Kemampuan itu pernah ia gunakan saat melawan Rey.
Ribuan mayat yang gugur di tanah lapang. Dengan sentuhan telapak tangannya di atas pundak mayat. Juga rapalan mantra miliknya membangunkan ribuan mayat disana, dengan benang yang menyatu dalam jari jemarinya.
Melalui benang itu, Syena mampu mengendalikan ribuan mayat itu dari jauh. Sama seperti kemampuan Helcurt mereka berdua adalah petarung jarak jauh yang lihai.
"Accow Axlinow!"
Crashhhhhh
Rey memusatkan petirnya kembali ke arah Trounum. Pada akhirnya ia berhasil mengenai Iblis itu. Jeritan kesakitannya membuat Rey bangga.
"Ameera Amoerra Abyas!!!"
Satu sihir pamungkas Rey alirkan kedalam pedang Baron Hitam miliknya. Itu menghempaskan Trounum ke bawah. Tubuh itu jatuh di atas ketinggian lima puluh meter. Jatuhnya tubuh itu membuat Rey terdiam di angkasa sambil menatap ke arah Trounum yang terhempas.
"Dua orang itu benar-benar liar!" Ucap Mikhail sambil menatap ke arah langit.
"Bukan waktunya memperhatikan hal itu, Mikha! Calon istrimu disana masih belum tuntas tugasnya!"
Justice berlari sambil membawa pedangnya. Ia melesat ke arah angkasa mencoba membantu Syena disana.
__ADS_1
"Gatsunmi!"
Ketika Justice berdiri tepat dibelakang Helcurt. Sebuah mantra pengaktifan ilusi mulai ia berikan. Akibatnya Helcurt disana dibuat gila olehnya.
Rasanya Helcurt seperti berada didalam air. Ia seperti sedang tenggelam, itulah yang ia lihat saat ini. Justice mengacungkan jempolnya pada Syena.
Syena yang mengerti langsung menggerakan tangannya.
"Accow Axlinow!"
Darrrrrr
Petir milik Syena menyambar tepat ke arah tubuh Helcurt. Makhluk itu juga terhempas ke tanah saat ini.
"Diam dan tunggulah kami mengeksekusi sesuai perintah Kaisar!" Ucap Riley sambil menodongkan anak panahnya pada Helcurt yang tak berdaya.
"Hahaha... Kalian para manusia lucu! Hahaha... kalian begitu takut pada kematian, tetapi kalian menjual jiwa kalian dengan cara bertarung. Menempuh jalan kemari adalah bunuh diri!" Ujar Trounum.
Greppppp
Rey menginjakkan kakinya di atas dada Trounum sambil mengacungkan pedang tepat ke arah kepalanya.
"Kau yang tidak pernah merasakan kehangatan ikatan. Bagaimana mampu memahami itu? Isimu hanyalah kekejian semata. Tak ada kebajikan dalam tubuhmu. Miris sekali sungguh! Kau memang makhluk mati, tetapi kau sebelumnya juga pernah hidup! Harta karun paling berharga adalah keluargaku, dan mereka disini adalah jantungku."
Rasanya menjijikan bagi Trounum mendengar apa yang Rey ucapkan.
"Bahkan untuk melakukan itu kau harus mati, dan kau menyanggupinya. Luar biasa bodoh kau!"
Rey teringat sedikit momen ketika Trounum mencoba menyelamatkan Helcurt darinya. Secara tak langsung ada satu alasan mengapa Trounum melindunginya dan Rey ingin tau itu.
"Apa yang membuatmu datang mencoba melindunginya?"
Rey bertanya lagi pada Trounum seraya melirik kecil ke arah Helcurt yang juga tak berdaya disana.
"Karena prinsip kami!"
"Nah itu, seperti itulah kami!"
"Kau juga makhluk fana sama seperti kami!"
"Kami abadi!"
"Kau buta, jika kau abadi kau tidak akan lebur! Namun kau lebur, kau lebur jika mantra peleburan ku aktifkan sekarang."
Trounum semakin dibuat geram rasanya. Sudah cukup bagi Harith menyaksikan seluruh adegan ini. Ia memerintahkan pada Rey juga Syena disana untuk segera meleburkan iblis itu.
"Huh!" Pekik Baron emas membuka matanya. Rey disana terkejut begitupun dengan dua Baron lain dalam domain.
"Ada apa?" Tanya Rey penasaran. Baron tipe pendeteksi ini merasakan sesuatu yang besar datang ke arah mereka berada.
"Serangan Rey!" Ucap Baron emas memperingatkan.
"Dimana?" Tanya Rey lagi, bola matanya mulai mencari-cari keberadaan musuh lain disana.
Belum sempat mendapat jawaban, dari dalam tanah muncul Barsh, beserta para Generasi lain. Remuknya tanah itu membuat Rey beserta rekannya terkejut bukan main rasanya.
Serangan itu membuat rekannya mundur, sialnya rombongan Barsh mendapatkan Trounum juga Helcurt kembali. Sial, padahal mereka baru saja akan lenyap tadi. Namun sepertinya takdir mengatakan hal lain.
"Posisi ini tidak baik Kaisar!" Ucap Debora, Harith mengangguk mendengar itu.
Bertambahnya jumlah Iblis membuat Debora berpikir. Didepan mereka para iblis petinggi bukan sekedar iblis rendahan yang mampu mereka kalahkan dengan satu tebasaj pedang. Kemungkinan kalah bagi mereka akan sangat besar.
"Kalian pergilah! Tinggalkan aku disini!" Ucap Rey.
Ia tak mau ada korban dalam pertarungannya. Sambil menggenggam kuat pedangnya Rey yakin, ia mampu meleburkan rombangan iblis ini.
"Tidak, semuanya akan kembali masuk kedalam Rensuar! Tidak akan ku biarkan salah satu dari kalian mati disini!"
Debora takut melihat kematian untuk yang kesekian kalinya. Untuk pertama kalinya Debora menyuruh pemuda asing yang sama sekali yang ia kenal Debora menyentuh bahu kekar Rey, mencoba memberitahu padanya bahwa ia tak sanggup melihat kematian.
__ADS_1
Barsh dibuat tertawa rasanya. Kalimat menggelikan itu bodoh rasanya. Jika manusia takut mati, lantas mengapa mereka memasuki Silver Alaska.
"Benar apa katanya, pergilah! Ini rumah kami, dan kalian pasti akan mati jika berlama-lama disini!"
Rey yang geram sama sekali tak mempedulikan ucapan Debora. Sejenak Barsh menatap Syena.
"Ughhh..." Pekik Syena, itu terjadi kemampuan sihir perasuk.
"Gawat!" Pekik Rey ia mendekati Syena lalu membawa tubuh ramping itu pada Mikhail. Rey meletakkan adiknya itu dalam gendongan Mikhail.
"Abiogolio!!!"
Aliran kekuatan dua kali lipat dibantu tiga Baron dalam domain ia kerahkan. Sekat berbentuk persegi datang mengukung seluruh rekannya.
"Bawa Syena pergi!" Ucap Rey pada mereka.
"Ikutlah Rey!" Perintah Harith.
Sebuah Nama orang mati disebutkan. Sontak Debora beserta seluruh rekannya menatap tak percaya ke arah Harith. Ini sudah sangat genting bagi Harith, membawa Rey kembali adalah hal benar.
"Rey?" Tanya Debora tak percaya lalu kembali mengalihkan netranya ke arah Rey.
"Bodoh!!!" Pekik Debora berlari keluar dari dalam perisai.
Crashhhhhh
"Debora!!!" Pekik seluruh rekannya didalam perisai. Rey membulatkan matanya tak percaya rasanya.
Serangan dari belakang tubuh Rey hampir mengenainya. Jika saja Debora tak datang menghalaunya.
"Baron Putih, tolong lakukan!" Ucap Rey.
"Kemampuanku tidak akan berguna untuk Axcel dan Harith, Rey!" Jawab Baron putih.
"Lakukan!!!"
Baron menghela nafas mendengar itu. Diiringi dengan sihir perpindahan tempat, disana Baron putih juga menyelipkan sebuah mantra penghapus ingatan. Mereka hanya akan mengingat segalanya ketika Rey mati nanti.
Syuthhhhhh
Dalam sekejap seluruh rekannya hilang dari sana meninggalkan Debora dan Rey berdua didalam Silver Alaska.
"Berani sekali kau mengangkat senjatamu kepada gadisku!" Geram Rey menatap tajam ke arah Trounum yang masih berusaha mengalahkan pertahanan Debora.
"Dandelion!!!" Pekik Rey memanggil satu nama sisi lain pedang.
Clashhhhhhh
Sepasang sayap kembali datang. Dari dalam domain Rey kembali mengeluarkan kekuatan terbesar yang seharusnya belum ia miliki, tentunya hal itu juga meminta persetujuan Dandelion. Sebuah perjanjian hari itu Rey lakukan lagi.
Tiga sihir murni ia gunakan. Dari balik tubuhnya muncul tiga pedang semesta. Tanpa berpikir lagi, Rey menghampiri Debora mengangkat tubuhnya lalu pergi dari sana.
Tiga pedang itu masih berada disana. Barsh yang geram memerintahkan seluruh generasi untuk mengejar Rey yang semakin menjauh.
Berlarinya mereka menghampiri Rey menciptakan satu sihir pedang datang melesat ke arah mereka. Sebuah sihir besar yang meleburkan dua Iblis seketika. Trounum dan Helcurt lebur ketika tebasan besar mengarah pada mereka. Tebasan itu berhenti ketika berhasil menghilangkan sesuatu.
"Uhukk..."
Rey terbatuk dan itu adalah cairan darah. Tetesan darah itu jatuh menetes sedikit melumuri pakaian Debora.
"Rey?" Tanya Debora sambil memperhatikan pemuda itu lekat.
"Diamlah, aku sedang berusaha menyelamatkanmu! Sudah kubilang bukan, Kau dapat mati jika kau mau. Tapi jangan mati begitu mudah saat kau sedang bersamaku! Kenapa kau masih bodoh?"
Kalimat itu membuat Debora bahagia, perasaanya campur aduk rasanya. Rey terus berlari menyusuri belantara, ketika ia melihat jurang markasnya Rey melompat masuk kedalam sana.
...Karena jika kau tiada, maka seseorang akan sangat sedih...
...Aku menyukaimu dengan rasa bukan dengan kata-kata...
__ADS_1