
Tidak terasa sudah enam bulan mereka tinggal bersama. Status mereka hanya seorang teman bagi Rey. Sekalipun terkadang hatinya merasa bahwa Debora adalah orang yang paling dekat dengannya di masa lalu.
Pertemanan mereka sepertinya cukup dekat. Terkadang tak jarang Rey mengecup puncak kepala Debora hingga membuatnya bersemu. Tak jarang pula dia memeluknya.
Seperti saat ini, Debora sedang memasak di dapur pagi ini. Harumnya masakannya semerbak menggugah selera siapa saja yang datang menghirupnya.
Debora mencoba mencicipi makanan hampir matang yang ia buat. Kaldunya sudah pas menurut Debora. Api mulai dia besarkan, sambil menunggu masakannya jadi ia mengaduk-aduknya.
Rey baru saja selesai mandi. Ketika ia keluar dari dalam kamarnya, ia melihat pintu kamar Debora yang terbuka. Lantas Rey tersenyum melihat itu. Kemudian ia turun ke bawah.
Harum masakan Debora mulai ia kenali. Perlahan dia datang menuju ke arah Dapur. Debora sedang membelakanginya saat ini, Rey berada di ambang pintu dapur lalu melipat tangannya dan bersandar.
Netranya memperhatikan gadis itu yang begitu cekatan mengolah tiap rempah-rempah di sana. Debora sedang memotong sesuatu. Rey tergugah rasanya ingin menopangkan dagunya pada bahu gadis itu.
Rey berjalan perlahan mendekatinya. Ketika sampai dekat dengannya, Rey memeluknya.
"Rey?" lirih Debora ketika menoleh ke samping melihat kepala Rey yang sudah bertengger di bahunya.
Ini sudah biasa baginya, jadi Debora membiarkannya. Toh, dia juga merasa nyaman diperlakukan seperti ini oleh Rey Arlert.
"Kau masak apa pagi ini?" tanya Rey sambil memperhatikan olahan makanan yang Debora masak.
"Apa ya? Sepertinya sup daging!" jawab Debora sambil masih mengiris sayuran.
"Kenapa sayurnya harus selalu banyak?" tanya Rey padanya.
"Sebab aku menyukainya!" jawab Debora.
"Tapi aku tidak!" jawab Rey berprotes.
"Aku juga memberi banyak daging di dalam sana. Kau menyukai daging bukan?" tanya Debora sambil memasukkan beberapa sayuran yang sudah ia potong.
Rey mengeratkan pelukannya pada Debora. Kepalanya ia tenggelamkan di bahu itu, menghirup aroma tubuh Debora yang wangi buatnya.
"Debora, aku menyayangimu!" ucap Rey pelan.
Jantungnya serasa di tumbuk saja sekarang. Debora benar-benar tidak percaya pagi ini ia dapat perkataan manis yang paling dia rindukan dari Rey.
"Kenapa tiba-tiba berbicara semacam itu?" tanya Debora padanya.
"Entahlah, tiap kali bersamamu ada sesuatu yang berbeda dalam hatiku. Aku ingin menghabiskan seluruh waktuku bersamamu! Aku ingin kau tetap berada di sampingku, jangan pergi ya! Sedetik saja aku tak mau pergi darimu!" jawab Rey.
Dia menangis kali ini. Debora tersenyum itu. Rasanya saat ini ia ingin mengatakan pada Rey. Bahwa memang dulu mereka dekat sekali sebagai manusia yang saling mencintai satu sama lain.
Debora menyentuh tangan kekar yang sedang melingkari perutnya. Masakannya sudah matang, Debora pun mematikan kompornya. Lalu menepuk pelan kepala Rey.
__ADS_1
"Rey, mari makan!" ucap Debora padanya.
Sebuah kecupan lembut Rey berikan pagi ini untuknya. Setelah mencium wajah Debora, Rey pun berjalan mendekati meja makan dan duduk di sana. Debora terkekeh setelah Rey melakukan itu padanya.
Debora mulai membawa makanannya ke meja makan. Menatanya di sana, sesudah seluruh makanan tertata rapi. Debora pun mengambilkan Rey makanan, lalu memberikannya pada Rey.
Kegiatan mereka terlihat seperti sepasang suami istri sekarang. Keduanya mulai melahap makanan mereka masing-masing sambil sesekali bercengkrama.
Setelah rasa lapar mereka hilang. Rey berdiri, lalu mengulurkan tangannya pada Debora. Rey mengajak Debora naik ke atas. Rey masuk ke dalam kamar Debora, lalu berjalan ke arah balkon. Ada ayunan panjang di sana, alasnya cukup empuk.
"Ayo duduk di sana!" ajak Rey sambil menunjuk ayunan itu.
Debora mengangguk kemudian dia duduk lebih dulu di sana. Ketika Debora sudah duduk di sana, Rey pun menjatuhkan kepalanya di atas pangkuan Debora. Tubuhnya mengarah ke samping menatap pemandangan syahdu kita dari atas sana.
Debora yang sempat terkejut kemudian tersenyum. Tangannya mulai aktif membelai puncak kepala Rey. Ia teringat kejadian masa lalu, di mana Rey sering sekali tidur di atas pangkuannya.
Jaman di mana bumi hampir hancur. Tetapi tetap indah atas kehadiran Rey di sampingnya. Demi apapun, Debora sangat mencintai pemuda ini. Pemuda yang sudah merebut hatinya dulu. Bahkan sampai saat ini.
Hanya Rey Arlert saja yang boleh menyentuhnya. Tidak ada orang lain selain Rey Arlert. Rasanya dunianya hanya berputar pada Rey Arlert seorang. Jatuh cinta itu buta, benar adanya.
Aku merindukanmu! Bahkan aku menantikan kau berkata padaku. Kucing putih, aku menyayangimu! Kucing Putih, aku sudah ingat segalanya! Rey, demi Tuhan aku selalu menantikan hal itu terjadi!. Lirih Debora dalam hatinya.
Hanya Tuhan saja yang mendengar jeritan hati itu. Semilir angin pagi itu membuat Rey terbuai rasanya. Hawa sejuk itu menghipnotisnya untuk terpejam sambil menikmati belaian tangan lembut yang saat ini mengusap kepalanya.
Dalam alam bawah sadar itu Rey bertemu seseorang. Seorang wanita berpakaian biarawati datang ke arahnya. Rey seperti berada di sebuah jalur. Satu jalur berwarna putih tak ada warna selain putih.
"Anakku, beruntunglah kau menerima kesempatan kedua di bumi. Anakku, sudahlah kau melihat dia yang begitu mencintaimu itu?" tanya Suster Agarwa padanya.
Hanya mendengar suaranya saja hati Rey bergetar rasanya. Setetes air mata turun dan dia hanya mampu terpaku menatap tepat ke arah suster itu. Suster Agarwa tersenyum melihat itu.
"Anda siapa? Kenapa saya menangis tiap kali mendengar suara anda? Apakah anda juga ada kaitannya denganku di masa lalu? Jika ingatanku dihapus, rasanya tidak akan adil bagi orang-orang yang mengenalku dahulu. Bukankah diriku yang sekarang akan menyakiti mereka?" tanya Rey sambil menangis.
Suster Agarwa mendekap tubuh Rey lembut, membelai-belai kepalanya. Berada dalam pelukan itu membuat Rey terkejut. Namun rasa nyaman yang luar biasa rasanya ingin meledak saja dari hatinya.
Rey membalas pelukan itu erat. Ada kerinduan yang menjerit ingin diluapkan. Dan pada akhirnya ketika ia mendapatkan pelukan ini, segala kerinduan itu tercurah rasanya.
"Nak, dunia itu kejam! Jika ada hal yang diberikan padamu, maka harus ada timbal baliknya untuk itu. Di mana ada kedatangan, di situ ada pula kehilangan. Rey Arlert, anakku, gadis itu sangat mencintaimu! Jangan pernah lepaskan dia! Sebab hatinyalah yang dulu berharap sangat tulus untuk kembalimu. Rey, berikan dia kebahagiaan! Selalu buat dia tersenyum! Nak, aku selalu mengawasimu di atas sana jadi segeralah jalani hidup panjang bersamanya setelah ini." Ucap Suster Agarwa.
Tubuh itu menghilang perlahan. Dalam dekapan yang semakin memudar, ada suara yang membuatnya membuka matanya kembali.
Suara itu adalah milik Debora yang saat ini berusaha membangunkannya. Wajah itu dekat sekali dengannya kali ini. Ketika kesadaran Rey mulai terkumpul, pesan dalam mimpinya itu menuntunnya menarik kepala Debora semakin dekat ke arahnya.
Rey mencium lembut bibir ranum itu. Mengecap kembali rasa manis memabukkan yang ada di sana. Sambil menciumnya, Rey perlahan merubah posisinya yang tadinya tertidur di pangkuan Debora menjadi duduk.
Rey menekan tengkuk Debora ke arahnya, mencoba memperdalam ciumannya. Dalam ciuman itu gambaran sesuatu perihal masa lalu pelan-pelan mulai muncul. Ini membuat kepalanya sakit, yang siap ingat adalah gambaran di mana saat itu ada dua orang duduk di atas batu besar saling berciuman satu sama lain.
__ADS_1
Rey melihat itu, namun ia sama sekali tidak melihat wajahnya. Wajah dari dua orang manusia yang duduk di atas batu itu tak ada. Ketika Rey melepaskan ciumannya, Rey menyatukan keningnya dengan Debora.
"Kucing Putih..." lirih Rey kepadanya.
Debora membulatkan kedua matanya mendengar itu. Panggilan itu, apakah Rey sudah mengingat segalanya?
"Iya?" tanya Debora penuh harap dalam hatinya.
"Adakah orang yang pernah memanggilmu begitu? Aku mendapatkan gambaran dalam kepalaku, juga suara yang mengatakan perihal kucing putih. Suara itu hanya menyebut namanya! Tidak ada yang lain!" jawab Rey.
Debora tersenyum, harapannya pupus seketika. Rupanya hanya gambaran, rupanya Rey masih belum mengingat segalanya.
Mendengar penjelasan itu, Debora pun memberikan satu kecupan lembut di kening Rey. Ia berterima kasih pada Tuhan atas kemajuan yang sudah ia berikan pada Rey.
Sesudah kecupan itu berakhir Debora kembali tersenyum ke arah Rey lalu mengusap-usap pelan pipinya.
"Rey, aku berangkat dulu ya!" ucap Debora berdiri.
"Mau kemana?" tanya Rey padanya.
"Aku harus ke panti jompo! Aku akan pulang malam, jadi jika kau ingin tidur lebih dulu tidurlah." ucap Debora.
Rey menatapnya kesal. Kenapa Debora harus pergi meninggalkannya sekarang? Padahal dia ingin sekali di temani Debora malam ini.
"Kenapa kau harus pulang malam?" tanya Rey padanya.
"Tugas di sana banyak!" jawab Debora padanya.
"Aku tidak mau kau tinggalkan sendiri di sini!" gerutu Rey padanya.
Debora terkekeh melihat tingkah lucu Rey di sini. Tidak biasa pemuda ini akan bersikap layaknya anak kecil.
"Memangnya kau mau ikut bersamaku?" tanya Debora, Rey menggeleng cepat.
"Aku akan menunggumu pulang! Atau aku bisa menjemputmu nanti jika kau ingin!" jawab Rey.
Debora mengangguk lalu bergegas pergi dari sana. Ketika ia akan berjalan Rey menarik pergelangan tangannya, membuat Debora berhenti seketika.
"Ada apa lagi Rey Arlert?" tanya Debora padanya.
Ketika menoleh Rey hanya tersenyum. Kemudian ia berdiri menghadap ke arah Debora. Kedua insan itu saling berhadapan satu sama lain. Hanya mata mereka yang bicara kali ini.
"Kucing Putih, hati-hati ya! Jika ada sesuatu di jalan, hubungi aku!" ujar Rey.
Debora tersenyum mendengar itu. Rey menariknya lagi ke arahnya lalu memeluknya.
__ADS_1
"Kucing Putih, berjanjilah untuk pulang! Sebab aku akan merindukanmu nanti!" ucap Rey lagi.
Dalam dekapan itu Debora tersenyum lalu ia mengangguk. Pelukan itu terjadi cukup lama, sampai akhirnya Rey pun melepaskannya. Debora pergi dari sana meninggalkan Rey seorang diri.