Indigo Evolution (Silver Alaska)

Indigo Evolution (Silver Alaska)
Kau Milikku Malam Ini


__ADS_3

"Kenapa kita di sini, malam-malam begini?" tanya Debora kepada Rey ketika mereka berdua sampai tepat di hamparan rumput luas.


Tempat ini letaknya berada tepat di belakang peternakan Riley. Rey tak menjawab itu, ia hanya menggenggam tangan kiri Debora sambil terus berjalan ke arah batu besar.


Apakah kalian mengingatnya? Tempat ini adalah tempat pertama, dimana sebelum ingatan Debora dihapus oleh Rey. Mereka berdua sempat menyatakan perasaan mereka satu sama lain.


Tempat ini adalah tempat pertama, dimana keduanya saling mengecap kehangatan bibir pasangan satu sama lain. Andai Debora mengingatnya, ia pasti tau apa maksud Rey membawanya kemari.


Namun sayangnya hal itu tidak akan mungkin. Sebab apapun kenangan manis yang Rey berikan padanya, jika saat itu Rey memilih menghapusnya. Maka Debora hanya akan ingat itu ketika Rey mati.


"Rey, untuk apa kita kemari?" kali ini Debora berhenti, kembali menanyakan perihal maksud Rey membawanya kemari.


Tentu saja, hal itu membuat Rey menghela nafas panjang. Kemudian ia berbalik menghadap ke arah Debora. Ketika kedua netra mereka saling bertemu Rey hanya berseringai licik.


"Aku tidak akan mencabulimu di sini! Kau tenang saja!" ujar Rey sembari mendekatkan wajahnya kepada Debora.


Hal itu membuat Debora membulatkan kedua matanya, sontak dengan salah satu tangannya yang menganggur ia mendorong wajah Rey menjauh darinya.


"Mesum!" pekik Debora padanya, Rey terkekeh mendengar itu.


Kembali ia membawa Debora mendekati batu besar. Rey melepaskan genggaman tangannya pada Debora, lalu duduk di atas batu itu. Debora mengikuti itu, ia juga duduk di sana.


Sunyi menyelimuti mereka sekejap. Keduanya sama-sama menatap langit. Langit malam dengan jutaan cakrawala. Langit malam, di iringi hembusan angin yang cukup membuat siapa saja manusia di sana sedikit kedinginan.


"Debora..." lirih Rey padanya, namun netranya masih menatap lekat ke arah langit.


"Ya, Rey!" satu jawaban lembut dari bibir gadis di sampingnya itu membuat hati Rey bergetar.


Rey tak tau harus mengatakan segalanya dari mana. Rey tau, kematiannya semakin dekat. Jika ia boleh jujur, sungguh ia tak mengharapkan kematian itu.


Sebelumnya ia memang akan melakukan apa saja demi kebebasan. Namun ketika hatinya terpaut pada gadis di sampingnya, egois mulai menjalari hatinya. Egois mulai memiliki keinginan untuk mundur dan tak ingin mati, meninggalkan Debora sendiri.

__ADS_1


"Kau melamun?" tanya Debora sambil menoleh ke arah Rey.


"Huh!" pekik Rey menoleh ke samping, hal itu membuat netra mereka kembali dipertemukan.


Tuhan, dekat sekali wajah mereka saat ini. Bola mata teduh itu seakan menghipnotis Rey di sana. Ia terdiam beberapa saat, mematri tiap lekuk wajah itu baik-baik. Wajah ini, adalah alasan untuknya tetap bernafas. Dia adalah salah satu hal terindah yang Rey miliki.


"Baron... Aku ingin menghabiskan waktuku bersamanya hari ini, bisakah aku egois sekali lagi?" tanya Rey kepada Baronnya.


Dari dalam domain mereka bertiga merasakan apa yang ada dalam hati Rey. Sejenak mereka menunduk, sedangkan Baron Hitam terlihat berulang kali berpaling menatap ke arah kiri sambil menghapus tiap tetesan air mata yang terjatuh.


"Bocah bodoh!" maki Baron Hitam padanya pelan.


Rey tersenyum dalam domain memperhatikan itu. Sambil menyentuh dadanya, ia kembali menatap penuh harap kepada Baron putihnya.


"Maaf ya, aku egois! Aku begitu mencintainya, jika pergi tanpa berpamitan itu adalah hal yang sangat tidak sopan Baron!" ujar Rey berseringai menatap lekat ke arah Baronnya.


Baron Emas terkekeh mendengar itu. Baron putih memberi satu anggukan kepada Rey. Anggukan itu sungguh, membuat Rey benar-benar bahagia.


Posisi mereka masih sama, hal itu membuat Rey kembali menatapnya. Rey mengulurkan tangan kanannya, memberikan belaian lembut di atas kepala Debora. Surai putihnya itu lembut sekali.


Debora tersipu rasanya diperlakukan seperti itu oleh Rey. Bahkan saat ini ia hanya mampu menunduk, sambil terpaku merasakan tiap sentuhan yang berikan di atas kepalanya.


"Kucing putih, aku senang sekali melihat dirimu yang sekarang! Kau begitu bijaksana, bahkan kau rela mengubur seluruh inginmu, perasaanmu dalam-dalam demi kebebasan dunia. Kau tau, apa yang kau lakukan juga sama sepertiku!" ujar Rey kepadanya.


Debora sama sekali tak mengerti apa yang Rey katakan. Namun logikanya bekerja dalam sekejap, menerka apa yang sedang Rey bicarakan.


'Apakah dia tau, aku mencintainya?'lirih Debora dalam hatinya.


"Aku ingin, kau hidup panjang! Aku ingin kau tetap memiliki sifat ini selamanya. Jangan berubah ya, aku menyukaimu yang seperti ini!" Rey kembali mengatakan tiap pesan yang ada dalam hatinya.


Debora harus mengetahui itu. Rey menangkup wajah Debora kali ini, kucing putih kesayangannya itu masih menunduk. Rey memperhatikan wajah itu, lalu tersenyum singkat.

__ADS_1


"Aku tidak ingin, menyerahkanmu kepada siapapun! Sebab, aku mencintaimu kucing putih!" ujar Rey memberitahu Debora perihal perasaannya.


Kalimat itu dalam sekejap membuat Debora mendongak, berani menatap tepat ke arah Rey saat ini. Satu senyuman dari Rey membuat air matanya menetes. Ia senang, bahagia, sedih, haru, seluruh perasaan itu bercampur menjadi satu memenuhi hatinya.


Debora mencengkram kuat jubah Rey, tepat di area dada. Tangan kanannya itu mengatakan, bahwa ia tidak ingin kehilangan Rey juga di sini. Debora kembali mengingat perihal mimpi itu, hal itu membuatnya semakin sakit rasanya.


"Jangan tinggalkan aku! Bisakah aku meminta itu padamu?" tanya Debora lirih kepada Rey.


Gadis itu terisak, air matanya semakin jatuh bercucuran. Rey hanya mampu memperhatikan itu, sambil tersenyum iba. Tak ada yang mampu ia lakukan untuk itu, sebab itu adalah keputusan dari Penguasa.


"Jawab aku Arlert! Bisakah kau menyetujui permintaanku? Bisakah takdir itu dirubah, Rey Arlert, kumohon!" ujar Debora lagi sambil terisak.


Rey benar-benar tak mampu melihat itu. Air mata jatuh dari kedua kelopak mata indah gadisnya, membuat Rey semakin lemah rasanya.


"Maaf ya, Debora! Tiap manusia akan menemui ajalnya, dan aku tau bahwa kau sudah ditakdirkan oleh Penguasa untuk membunuhku. Debora, lakukan itu! Sebab ada yang lebih penting daripada perasaan kita! Dunia, akan terbebas dari neraka setelah kita berkorban!" jelas Rey lagi padanya.


Lagi-lagi kenyataan pahit itu terdengar. Debora muak sekali mendengarnya. Tak kuasa menahan apa yang ia rasakan, Debora pun memilih masuk ke dalam pelukan Rey, memeluk tubuh itu kuat lalu menangis di sana.


"Maaf..." lirih Rey membalas pelukan itu sambil membelai pelan Surai putih Debora.


"Jangan bicara apa-apa lagi! Aku tak sanggup mendengar kenyataan itu Rey! Aku, aku tak mau kehilangan dirimu. Tapi..."


"Sudah! Mulai hari ini, mari kita terima itu dengan baik! Lakukan apa yang menjadi tugasmu, aku yakin semua akan indah pada waktunya!" ujar Rey memotong perkataan Debora.


Debora hanya bisa pasrah mendengar itu. Malam itu keduanya saling melupakan perasaan mereka satu sama lain.


Untuk terakhir kalinya, di bawah sinar purnama juga di tempat yang sama. Rey kembali mengecap manisnya bibir kekasihnya. Ciuman itu lembut sekali dalam. Malam itu mereka membicarakan perihal hatinya melalui ciuman.


Tibalah ketika Rey melepaskan ciuman itu, Debora kehilangan kesadarannya lagi. Rey menempatkan kepala Debora di atas pangkuannya, lalu mengecup keningnya lembut sambil berkata,


"Aku akan selalu bersamamu, sekalipun aku mati!"

__ADS_1


Ucapnya, sambil meneteskan air matanya. Tetesan air mata itu jatuh tepat di atas kening Debora.


__ADS_2